Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yng Hilang>> Kebingungan Istri Hilang


__ADS_3

Rasanya hidupku sudah tidak ada kekurangan lagi. Harta ada, istri cantikpun sudah kembali, ditambah lagi kehadiran bayi perempuan yang mungil telah bersama kami. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur, setelah perjuangan penuh kesedihan dan derita, sehingga akhirnya kami bisa bersatu kembali atas kuasa Allah SWT.


"Wah akhir-akhir ini keberuntungan telah menghampiri," sindir Rudi saat bersamaku di koridor perusahaan.



"Alhamdulillah Rud. Selain bisnis kita melesat maju, akhirnya masalah rumah tanggakupun bisa selesai dan bahagia," Kegembiraanku berucap pada Rudi.


"Alhamdulillah ya, Bos. Walau aku cuma bawahan dan teman, tapi dalam diri ini bisa ikut merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan. Ternyata perjuangan kamu yang sempat membuat frustasi, akhirnya bisa tercapai dan berakhir bahagia juga. Selamat 'lah, Bos. Ikut senang juga melihatnya," Sambung Rudi ikut merasakan.


"Oh ya, aku mau pulang dulu," pamitku yang sudah mengambil jas dikursi kebesaranku.


"Wah ... wah, kok buru-buru amat, sih. Belum waktunya pulang juga ini," keluh Rudi dengan mata melihat jam ditangannya.


"Ya elah, yang jadi bos disini siapa sih! Suka-suka mau pulang dan pergi itu semua hakku," responku menepuk bahunya.



"Hehehe, iya ... ya. Tak pikir akulah yang jadi bosnya, sehingga bisa mengatur-ngatur kayai kamu! Hahahahha," terangnya berkata yang tak tahu malu.


"Ciiih, dasar. Sudah kerja mau enak, makan mau gratisan, pacar mau banyak, sekarang mau jadi bos, mimpi kali!" ledekku tak suka.


"Sekali-kali punya mimpi tinggi, ngak pa-pa kaki. Yang tidak boleh tuh sudah bermimpi tapi tidak ada usaha, akhirnya frustasi dan putus asa, sebab impian tak bisa tercapai sesuai keinginan," Penjelasannya.


Rudi adalah orang paling enak diajak ngobrol. Setiap kami berbicara pasti ada saja bahan canda tawa. Kadang sikapnya super menyebalkan, tapi aku bisa memahami kalau dia masih belum menikah jadi bebas mau melakukan apapun itu.


"Eeh benar juga katamu. Banyak sekali orang-orang seperti kayak gitu sekarang. Mimpi tidak bisa jadi kenyataan, yang akhirnya pusing dan ujung-ujungnya bisa berakibat depresi dan bunuh diri. Seharusnya sebelum bermimpi tinggi harus berusaha dan melintasi rintangan itu walau terasa sulit dan harus bersusah payah dulu," imbuhku membenarkan.


"Nah, itu dia, Bos!" sahutnya.


"Udah ah, ngobrol sama kamu ujungnya ngak akan ada habisnya. Yang tadi rencananya mau pulang cepat, jadi terlambat gara-gara kamu." Sela-selaku menjawab.


"Cieleehh, yang lagi merasa bahagia, pengen cepat-cepat datang ke rumah saja. Heeeh .... hhhh, nasib ... nasib, beginilah kalau jadi bujangan, selalu ditinggal sendirian bagaikan tidak berguna," desah Rudi sambil mengejek.


"Hihihiihi, tahu saja kamu, Rud. Makanya cepetan nikah sono, biar tahu rasanya bahagia bersama istri itu gimana!" celetukku menasehati.


"Udah ah, aku beneran mau pergi dulu ini! Masalah perusahaan kuserahkan padamu dulu," ucapku berusaha pamit.


"Kali ini mimpi kamu jadi bos akan terwujud," imbuhku berucap.


"Hahahah, bener juga katamu, Bos! Tapi sayang banget dech. Hanya tujuh jam saja, tidak sampai tujuh tahun menduduki," ucap Rudi sedikit kecewa.


"He...he, itu memang pantas untuk kamu sekarang ini! Tapi semoga saja di waktu lain yang akan datang, Allah akan mengabulkan permintaan kamu untuk menjadi Bos beneran," ujarku menyemangati.


"Amiiin ... Amin. Kun fayakun, semoga terwujud. Terima kasih atas doanya."


"Sama-sama."


Langkah sudah melebar dan mulai ada intonasi tergesa-gesa agar secepatnya keluar dari perusahaan dan sampai rumah, tapi baru sesaat memegang knop pintu, handphone dalam kantong celana telah bergetar.


Drrrtt ... derrt. Kring ... kring, gawaiku terus saja berbunyi, dan disitu tertera nama bapak mertua.

__ADS_1


[Hallo pak, assalamualaikum]


[Walaikumsalam, nak]


[Ada apa ya pak, kok tumben-tumbennya menelpon?]


[Itu. Ana ... Ana, Adit?]


[Ada apa dengan, Ana?]


[Itu Adit. Ana dari pagi tadi bapak suruh ke pasar, tapi hampir siang begini belum datang-datang juga ke rumah]


Suara bapak mertua sudah terdengar khawatir sekali. Aneh juga, kemana istriku itu? Tidak biasa-biasanya akan terlambat selesai belanja.


[Bapak tenang dulu, oke! Mungkin Ana sedang mampir ke tempat lain, dan mungkin sebentar lagi akan pulang]


[Tapi Adit, selama ini Ana tidak pernah begitu. Kalau sudah beres pergi ke pasar dia selalu langsung pulang. Dan dari tadi bapak sudah menelponnya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban darinya. Bahkan handphonenya tersambung tapi tetap tidak diangkat]


[Baiklah pak, aku akan secepatnya pulang]


[Iya Adit. Kamu harus cepat-cepat pulang sekarang, sebab Aliya dari tadi rewel terus, mungkin sedang mencari ibunya]


[Ok ... ok, pak! Aku secepatnya akan meluncur ke sana]


Tut ... tut, bunyi gawaiku mengakhiri panggilan.


"Ada apa, Adit?" tanya Rudi dari belakangku.


"Astagfirullah hal adzim," ucapku kaget.



"Bikin kaget saja, tak pikir hantu yang tadi yang ngomong."


"Hantu mana ada siang-siang bolong begini!" balik jawab Rudi.


"Ada apaan sich, kok kamu kelihatan khawatir sekali?" tanya Rudi.


"Ana, Rudi! Kata bapak belum pulang dari pasar, padahal dari pagi hari telah dia berangkat." penjelasanku.


"Perasaanku kok tidak enak banget, yah!" imbuh ucapku dilanda kegelisahan.


"Lebih baik kamu secepatnya pulang dan mencarinya!" usul Rudi.


"Iya ini dari tadi mau pulang, tapi kamu selalu saja mengajak ngobrol, jadi terhambat lagi pergi pulangnya," keluh merasa dongkol.


"Hehhehe, maaf lagi 'lah, Bos."


"Ayo ikut aku pulang, siapa tahu aku nanti butuh bantuanmu," suruhku.


"Oke, sipp."

__ADS_1



Gas sudah kutancap sekuat-kuatnya agar sampai dirumah Ana, sebab tak dapat dipungkiri aku begitu sangat khawatir padanya sekarang ini.


Tak butuh waktu lama diri ini datang di restoran mertua. Terdengar nyaring sekali anakku menangis sampai dari luar, sehingga akupun secepatnya lari tergopoh-gopoh masuk kedalam rumah.


"Mama?" Kekagetanku.


"Mama, kok ada disini?" tanyaku binggung.


"Tadi mama mampir tujuannya mau menengok cucu, sebab entah mengapa perasaannya ngak enak banget. Pengen datang ke sini, dan ternyata benar sekali bahwa keluarga kamu sedang ada masalah," Penerangan beliau.



"Gimana, Pak. Apakah Ana sudah kembali?" tanyaku begitu khawatir.


"Belum, Adit." jawab beliau.


"Sudah kukerahkan pegawaiku mencari Ana di pasar, tapi dari tadi belum ada yang datang-datang juga," penjelasan mertua.


"Ayo Rudi, kita pergi ke pasar juga!" perintahku.


"Baik, bos."


"Kami pamit dulu Ma, Pak! Kalau Ana sudah datang hubungi aku, biar nanti ngak saling bersimpangan," penjelasan meminta.


"Baiklah, kalian hati-hati dijalan," ujar Bapak mengingatkan.



"Baik, Pak."


Tangan mereka berdua sudah kami cium penuh takzim.


Hampir satu jam lebih tanya sana-sini pada para penjual dipasar, dan hasilnya begitu tak memuaskan. Mereka tidak tahu menahu tentang Ana, walau fotonya sudah kutunjukkan. Rasanya kesal dan gelisah sudah tercampur jadi satu, sebab tak kunjung jua ada informasi dan ditemukannya mengenai Ana.


"Kita pulang dulu saja, Bos!" suruh Rudi.


"Tapi Rudi, kita belum menemukan Ana." keluhku menjawab.


"Aku tahu, Bos. Tapi sepertinya kita tidak akan dapat informasi apa-apa di pasar ini, sebab tak ada yang mengenal Ana. Lebih baik kita pulang dulu, memikirkannya dengan cara kepala dingin, dan langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya," usulan Rudi.


"Baiklah, kalau menurutmu itu yang terbaik," jawabku dengan lesu.


Kami semua sudah dibuat pusing, sebab Ana sampai waktu menjelang sore, belum juga ada kabar dan ditemukannya dimanakah dia?.


Untung juga ada mamaku, sehingga anakku bisa diatasi beliau dan tidak menangis lagi.


"Kalau Ana sampai magrib juga belum pulang, kita laporkan saja pada pihak kepolisian, biar mereka ikut juga mencari keberadaan Ana. Bagaimana, Pak?" tanyaku pada mertua.


"Baiklah, Adit. Bapak cuma bisa pasrah dan berdoa semoga Ana baik-baik saja," jawab beliau dengan mata sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Magribpun sudah datang, tapi Ana tak memunculkan wujudnya juga. Pada akhirnya kami semua kompak untuk melaporkan Ana atas kasus kehilangan orang.


Semua dirundung kesedihan termasuk juga diriku, sebab orang yamg kusayang sudah tak tahu dimanakah keberadaannya? Bagaimanakah kabarnya? Apakah dia baik-baik saja? Atau justru sedang kena musibah yang tak kuketahui nasibnya bagaimana sekarang.


__ADS_2