Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2 = Istriku Yang Hilang>> Tergiur melihat badan sispek suami


__ADS_3

Pagi sudah menyapakan sinar mentari, yang telah masuk disela-sela jendela yang bergorden, hingga mengusik tidur nyenyakku untuk segera bangkit dari pembaringan. Hampir setengah jam habis membersihkan diri dengan mandi, kini aku telah siap dengan pakaian lama, yang dulu belum pernah terpakai sama sekali dibelikan oleh ibu mertua.



"Ana ... Ana?" suara Mas Adit memanggil dari kamar sebelah.


"Iya, ada apa?" teriakku menjawab.


"Kesini sebentar!" pekiknya menyuruh.


"Iya, tunggu sebentar."


Tangan yang sibuk menyiapkan beberapa peralatan untuk dibawa kepekerjaan. Terletak terbiar saja untuk mendahulukan panggilannya.


Ceklek, pintu kamarnya sudah kubuka.


"Ada apaan sih, Mas?" ucapku yang langsung nyelonong ingin masuk.


"Astagfirullah, Mas Adit!" teriakku kaget.


Membalikkan badan seketika. Jantung tiba-tiba tersontak kaget, ketika melihat suami sedang bertelanjang dada menggunakan kemeja putih yang sedang tak berkancing.


"Apaan sih, Ana! Ada yang aneh 'kah?."


"Hehehe. Tidak ada apa-apa, kok."


"Cepet ke sini. Tolong aku mengkancingkan baju. Tangan tidak bisa bergerak sebab sakit, nih!" suruhnya.


Baru kali ini aku masuk kekamar yang luas nyaman dan bersih milik suami, aroma penyejuk ruangan yang ada wewangiannya, membuat indra penciuman betah untuk terus berlama-lama menghirupnya.



"Kenapa kamu jalan begitu?" tanyanya heran.


Langkah perlahan-lahan mundur dengan posisi membelakangi.


"Hanya ingin berjalan begini saja, kok!" alasan konyol.

__ADS_1


"Tidak usah aneh-aneh berjalan begitu. Sekarang balikkan badan kamu, dan cepatlah datang kesini."


"Hhhh, iya ... iya." Akhirnya mengalah juga.


Deg ... deg, jantung sudah berdetak tak karuan dengan kencangnya, ketika melihat pemandangan didepan mata sekarang.


"Astagfirullah ... astagfirullah, kuatkan imanku!" Keraguan yang terus ingin mendekat.


Dengan tubuh gemetaran, kuhampiri Mas Adit yang sedang duduk dipinggiran kasur, dengan kepala berusaha berpaling ke arah lain saat mulai mendekatinya.


"Ayo, Ana! Cepetan ke sini bantuin, kita bisa terlambat nanti berangkat kerja," celotehnya tak sabar saat aku masih saja ragu.


"Iiii-iiyaaaaa."


Mata sudah melotot membulat, saat melihat badan yang sispek sempurna membentuk kotak-kotak milik Mas Adit.


Aduhainya, sungguh benar-benar mengoda iman. Akibat tak tahan lagi melihat tubuh kekarnya, berkali-kali aku terus tertegun dengan meneguk air liur ketika menatapnya.


Gleek ... gleek, air liur terus terteguk


Bau wangi sabun menyeruak tajam sekali dihidung, petanda dia baru saja habis selesai mandi. Keharumannya sungguh membuat diri ini terus terbuai akan kecanduan, agar terus menghirup tubuh ciri khasnya. Ternyata otakku kini berpikir mesum juga, akibat pemandangan yang telah sedikit mengoda imanku.


"Ekhemm ... heem. Ayo, cepatan! Lama sekali mengkancingkan baju saja!" perkataan Mas Adit, terdengar sudah kesal.


"I ... iya ... iya, Mas!" kekakuanku menjawab.


Nafas sudah sesak sedikit naik turun, dimana keringat terasa mulai bercucuran membasahi tubuh. Sebisa mungkin aku mencoba mengatur debaran jantung yang terus saja mengila.


"Kekonyolan apa yang kurasakan sekarang ini? Kenapa suhu badan kian terasa panas. Aduh, Jangan ... janganlah sampai aku goyah" tanyaku dalam hati.


"Heeeeh, Ana!." Hembusan nafasnya sudah menerpa poni rambut.


"Anaku sayang, cepetan dong kancingkan bajuku," keluhnya dengan nada selembut-lembutnya.



Tanpa diduga aku sudah tersentak kaget akibat panggilannya, sebab dari sembari tadi hanya melamunkan sesuatu yang aneh-aneh. Rasa akan menghirup wangi tubuhnya habis mandi, pikiran sudah terbayang-bayangkan sesuatu yang tak pantas dan sedikit mesum.

__ADS_1


"Hello, Ana," panggil Mas Adit lagi ketika masih saja tidak fokus.


"Aduh, bisa ngak sih sebenarnya kamu itu? Mengkancingkan baju saja tidak becus begini," Suara yang terdengar marah.


"Haiiich. Mas yang minta tolong, tapi kenapa kamu sekarang yang marah-marah," ucapku kesal sebab berbicara sedikit ada nada membentak.


"Eiich, jangan ngembek begitu, kenapa!" ujarnya membujuk sebab bibir sudah monyong.


"Ahh, terserah Mas Adit sajalah. Kalau perlu kancingkan baju sendiri, sono!" kata-kataku dalam kekesalan.


Aku melengos mencoba masa bodoh dengan berjalan ingin melenggang pergi, padahal sebenarnya diri ini cuma ingin menghindar, akibat mukaku sudah bersemu kian kemerahan sebab malu sudah datang, serta tak terkira lagi rasa debarannya.


"Tunggu dulu, Ana!" tangan Mas Adit yang tidak diperban, tiba-tiba mengengam tanganku sehingga sekarang terhentilah langkah ini.


Terlihat muka mas Adit sudah tertawa geli, melihatku sudah ngambek akibat ulahnya.


"Sini kamu!" Dengan sekali tarik begitu kuat tubuhku kini duduk dipangkuannya.


Tanpa keseimbangan lagi ketika dia menarik tangan, sekarang membuat diri ini benar-benar jatuh tepat menyentuh dada bidangnya. Kini mata kami sudah saling beradu menatap, dengan rasa penuh kegairahan dalam seutas ketajaman.


Detik-detik berikutnya sorot netranya sedang melihat ke arah wajahku. Begitu penuh pesona keindahan ketampanannya. Netra masih sama-sama sedang menatap penuh selidik, akan manisnya keromantisan kami sekarang.


"Ya tuhan, memalukan sekali. Wajahku sekarang benar-benar memerah dibuatnya. Oh tidak, kuatkan aku sekarang. Duh, kenapa harus tersipu-sipu sih! 'Kan jadi kepanasan akut begini. Ini gara-gara tergiur melihat badannya barusan," gumanku dalam hati yang sudah dag dig dug seer.


Tangannya yang putih dan halus yang tak terbungkus oleh perban, sekarang mulai mengusap pipiku yang sudah bersemu kemerahan akibat dilanda kegrogian yang bertubi-tubi.



"Oh tidak ... tidak. Jangan 'lah jantungku copot akibat ulahnya sekarang," Ketakutan yang tidak bisa lagi mengusai.


Perlahan namun pasti, tangannya kini beralih ke bawah, berusaha mengusap-usap bibir sexyku yang mungil.


"Duh, apa yang dilakukannya sekarang? Apa tidak berasa kalau aku kini begitu terbuai, sehingga seluruh badanku terasa terbakar. Oh jantung, jangan bersuara kencang-kencang, bisa gawat betul kalau aku salah tingkah begini," rancau hati kian tak terkontrol.



Telunjuk jempolnya terus saja mengusap perlahan lembut dibibir ini dan tak terhindarkan lagi, wajahnya kini mulai mendekati mukaku yang sekarang hanya menyisakan jarak beberapa centi. Tak terelakkan bibir kami hampir saja dan ... ?.

__ADS_1


__ADS_2