Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kecewa hati


__ADS_3

Rasa sakit hati, kesal, marah, kecewa, kini telah menghampiriku. Bagaimana tidak, aku dan tuan Chris sudah berniat baik untuk menikah, namun orangtuanya menolak mentah-mentah secara kasar. Bukan aku tak senang atas keputusan mereka, tapi tak suka saja atas keangkuhan keluarga tuan Chris yang tega merendahkan diriku. Diri ini sadar sekali dari kalangan mana berasal, namun tak payah melakukan penghinaan segala. Aku juga manusia biasa yang punya perasaan dan hati, yaitu saat seseorang menghinaku pasti perasaan terluka juga.


"Aaah, sebal ... sebal. Kenapa mereka menghinaku seperti itu? Kalau memang tak merestui, ngak usah pakai menghina segala," Kekesalan dalam hati.


"Apakah kamu baik-baik saja, Karin?" tanya tuan Chris khawatir, saat dia sibuk menyetir mobil.


"Emm, aku baik-baik saja, tuan!" jawabku menganggukkan kepala.



Bukan aku tak menghormati tuan Chris yang sudah rela dihina orang tuanya, tapi aku sungguh kecewa sekali atas sikap mereka yang menghancurkan impian kami.


"Maafkan aku, Karin. Atas nama orang tua dan kesalahanku. Aku tak ada maksud untuk membawa kesana dengan cara mendengar kekasaran penghinaan mereka. Sungguh, aku saja sebagai anaknya tak menyangka jika orangtuaku bakalan berkata begitu," ucap lemah tuan Chris menyesal.


"Tidak apa-apa tuan. Aku ikhlas kok, kamu tahu sendiri bahwa aku ini adalah orang hina dan sudah dibuang, maka ucapan mereka mungkin benar adanya bahwa aku tak pantas bersama kamu. Derajat kita yang berbeda bagai bumi dan langit adalah salah satu alasan mereka, dan aku akan menerima itu dengan lapang dada sebab semua kenyataan memang benar adanya. Tuan tak payah merasa bersalah begitu. Kita buat santai dan lupakan ucapan mereka barusan. Kamu tak payah mengkhawatirkan diriku, karena diri ini sudah terbiasa dan kebal dengan penghinaan, jadi tuan Chris 'lah yang seharusnya sabar mempunyai orang tua yang selalu saja mengekang maupun tak menyayangi kamu sepenuhnya," Balik ucapku memberikan semangat.


"Terima kasih, Karin. Aku sudah terbiasa dengan itu. Setiap hari dari dulu-dulu, itu adalah makananku. Kamu juga jangan berlebihan memikirkan diriku, sebab aku baik-baik saja dengan itu," jawabnya santai.


"Iya, tuan. Aku paham. Tapi orang tau kamu tadi begitu marah dan murka, dengan mengancam ingin mengeluarkan dari daftar keluarga, dan itu sungguh membuatku tak enak hati, karena membantu diriku yang hina ini, kamu kena masalah dan kebencian dari orang tua. Maafkan aku tuan, tak sepatutnya kamu tadi membela dan menginginkanku, dan biarkanlah aku menangung beban masalah ini sendirian saja. Jangan libatkan kamu lagi, sebab aku takut ancaman itu akan benar-benar nyata," cakapku tak enak hati lagi.


"Kamu tenang saja, Karin. Papaku memang suka emosian, yang kadang-kadang akan mengancam seperti itu. Tidak usah khawatirkan itu, sebab orangtuaku tak akan tega melakukan itu pada anaknya sendiri," tutur lembut majikan mencoba menenangkanku.


"Tapi, tuan. Aku tetap khawatir, sebab selama ini hanya mereka 'lah yang menyayangi kamu. Sekarang setelah mengenalku, kamu jadi membangkang dan bermusuhan sama mereka, maafkan aku!" ucapku menyesal.


"Beneran, Karin. Aku ini orangnya nyantai saja. Tak usah pikirkan itu lagi, lebih baik kita pikirkan gimana bagusnya masa depan diriku dan dirimu, 'kan siapa tahu walau tanpa restu merekapun kita bisa menuju pelaminan," ujarnya ramah dengan senyum manis.


"Aku tahu sekali tuan menginginkan bersamaku, tapi kalau kita menikah tanpa restu orang tua kayaknya bakalan ngak bisa. Bukankah papa tuan nanti yang akan menjadi wali dalam pernikahan. Jadi tuan yang sabar-sabar saja untuk kita bisa bersama. Jangan sampai kita nanti sama-sama terjerumus dalam ikatan pernikahan siri. Aku selama ini sudah menyusahkan tuan Chris, jadi kedepannya juga tak mau menyusahkan kamu lagi. Biarlah kehidupanku yang penuh sengsara dan tak bahagia ini kutanggung sendiri. Maafkan aku tuan, bukan aku menolak tapi kemungkinan kita tak harus bersama lagi," jawabku dalam keraguan saat mobil yang mengantarku pulang sudah sampai rumah.


"Heeh, enggak ... enggak bisa begitu. Hmm, ya sudah. Kita pikirkan lagi dengan keadaan tenang dulu, sebab siapa tahu beberapa hari ini kita akan menemukan solusi dan rencana yang tepat agar kita bisa bersama. Yang jelas, walau kita untuk sementara waktu ini tak bisa menikah, jadikan aku sebagai panutan kamu untuk kehidupan masa depan nanti. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuanku walau kamu bukan istriku. Selamanya kamu akan tetap menjadi wanita yang kusayangi, walau kita tak terikat apapun," tegasnya jawaban tuan Chris.



"Iya, tuan. Terima kasih ... terima kasih. Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh engkau begitu baik sekali padaku, yang padahal aku tak pantas untukmu. Aku kini sampai tak mengerti kenapa kamu baik sekali padaku, disaat orang lain membenci dan menghinaku. Kamu adalah pria pertama yang tulus untuk menyayangiku, terima kasih!" cakapku sambil meneteskan bulir-bulir airmata yang mulai mengalir perlahan dipipi.

__ADS_1


"Kamu tak payah menanyakan ini itu. Yang jelas aku akan melindungi kamu sekuat tenaga dan selalu menyayangimu. Aku ikhlas dan tulus mencintaimu, jadi jangan pernah menanyakan ketulusan ini. Yang terpenting kamu sehat dan bahagia berada disisiku terus, itu sudah cukup membuatku senang," ujarnya yang kini menghapus airmataku menggunakan tangan lebarnya.


"Terima kasih, tuan. Kamu memang pria baik, yang akan selalu kuhormati dan sayangi juga," balasku menjawab dengan memberikan senyuman terindah padanya.


"Hmm, Ayo mampir kerumah," tawarku.


"Ngak usah deh kayaknya. Lain kali saja aku mampir, kamu ngak tersinggung 'kan?" tanyanya.


"Enggak, tuan. Mana ada aku tersinggung. Baiklah, ngak pa-pa. Aku memahami mungkin kamu capek saja," tutur lembutku sambil membelai lembut pipinya yang halus tanpa ada sedikitpun bulu yang menempel.


"Hmm, terima kasih atas pengertiannya."


"Iya. Kalau begitu aku turun sekarang dan untuk tuan hati-hati dijalan," cakapku pamit.


"Iya. Bye ... bye!" balik pamitnya melambaikan tangan saat aku sudah turun dari mobilnya.


"Bye ...bye, juga. Hati-hati," ujarku sebelum dia melenggang pergi.


"Assalamualaikum," Salamku ketika tangan sudah memutar knop pintu.


"Walaikumsalam," jawab ibu dan bapak kompak.


"Bapak sama ibu belum tidur lagi?" tanyaku sambil mencium tangan punggung mereka.


"Belum, nak. Kami sengaja belum tidur, sebab sedang menunggu kamu," jawab bu Fatimah.


"Memang ada apa, bu. Kok sampai menungguku selarut ini?" tanyaku sebab bingung.


"Kami menunggu kabar tentang kamu dan nak Chris," saut jawab bapak.


"Ooh."


"Gimana? Apakah orangtua nak Chris menerima atas rencana kalian untuk menikah?" imbuh tanya bapak.

__ADS_1


"Huufff, begitulah pak. Boleh dibilang ditolak mentah-mentah sebab kehamilan dan status Karin yang miskin," jawabku lesu dengan sedih.


"Kamu yang sabar, nak. Memang ngak mudah jika kita berhadapan dengan orang kaya, pasti awal-awal alasan mereka menolak adalah tentang harta, jadi kamu harus banyak-bayak ikhlas dan sabar," ucap ibu yang sudah mengelus-elus pelan bahuku.


"Iya, bu. Karin bisa memahami itu," jawabku membenarkan apa yang dikatakan ibu.


"Benar kata ibu kamu, Karin. Kamu harus sabar dalam semua hal ini. Memang tak mudah mendapatkan suami jika keadaan kamu sedang hamil pulak. Nak Chris adalah pemuda baik bisa menerima kamu apa adanya, walau keadaan kamu seperti ini. Dia patut dipertahankan, namun jika ditentang oleh orangtua, kalian tak payah membantah mereka dengan cara-cara diluar kebatasan. Jadi pesan bapak kamu jangan gegabah mengambil tindakan, dan teruslah menguasai ilmu sabar. Lagian kamu sekarang sedang hamil anak orang lain, dan itu tak serta merta kalian secepatnya bisa menikah karena itu dilarang agama. Sebelum anak kamu lahir duluan, barulah kalian nanti bisa melakukan pernikahan itu. Kamu harus menunggu ... menunggu semuanya dengan penuh kesabaran," ucap petuah bapak memberi nasehat.


"Iya, pak. Karin paham. Sebenarnya tuan Chris tak rela jika aku tak jadi pendampingnya, dan sekarang menginginkan secepatnya kami menikah. Tapi tadi aku sudah menjelaskan padanya tak payah buru-buru, sebab nikah tanpa wali orang tua itu tidak bisa, selama ayah kandungnya masih hidup. Aku tak mau dinikahinya secara siri ataupun diatas perjanjian kertas, sebab suatu saat akan merugikanku sebagai perempuan, jadi tadi aku memberi pengertian padanya untuk bersabar juga. Cinta dihati tak selamanya pudar, jika kita sama-sama saling menjaga," jelasku pada kedua orangtua angkat.


"Benar apa yang kamu katakan, nak. Kalian jangan terburu-buru dalam mengambil keputussan itu, sebab sesuatu yang tanpa direncanakan dan tergesa-gesa itu tak baik. Kalian masih muda harus banyak-benyak belajar, jangan terlalu gegabah mengambil tindakan. Walaupun orangtuanya telah menolak kamu, kamu harus tetap meyakinkan mereka sampai hati mereka benar-benar luluh untuk merestui, tapi jika kamu sudah berusaha namun tetap gagal, janganlah berputus asa, sebab tak ada hal yang mustahil jika kita mengusai ilmu kesabaran," imbuh ucap ibu ikut menasehati juga.


"Iya, bu, pak. Karin paham. Semoga saja jalinan asmara kami kedepannya akan lebih baik, tanpa ada halangan dan rintangan yang menghadang lagi, amin. Walau aku adalah orang miskin, tak akan pernah menyerah demi memperjuangakn cinta pada orang yang sudah banyak membantu dan tulus menyayangiku yaitu tuan Chris," ujarku penuh optimis dan semangat.


"Bagus, nak!" jawab ibu sambil mengelus perlahan rambut.


Saat cinta datang melanda, hati lagi-lagi terpatahkan.


Saat sayang itu muncul, lagi-lagi aku tak bisa mengapainya.


Kenapa orang-orang yang selalu kusayangi perlahan terus tak bisa kusentuh.


Nasib yang selalu ingin bahagia, harus kandas dipertengahan jalan, akibat hidupku sebagai orang yang tak berpunya.


Dulu aku mencintai satu cinta tapi tak serta merta kudapat, kini cinta terulang kembali dan lagi-lagi tak bisa kumiliki.


Apakah aku selamanya akan bernasib begini, saat hati menginginkan sentuhan cinta.


Wajah mereka yang selalu tersenyum manis, kini telah nampak kesuraman tak dapat kutatap lagi.


Duniaku telah hampa, tanpa ada lagi orang yang akan mengasihiku.


Tapi kesabaran telah menyakinkanku bahwa suatu saat nanti senyuman kebahagiaan akan mulai datang.

__ADS_1


__ADS_2