
Rasa pusing akibat tak kunjungnya menemukan Karin, membuat pikiran kalut tak bisa berpikir jernih lagi. Kepala rasanya sudah berdetak nyut-nyutan dalam kamar Naya, saat diriku sedang menemani tidur lelapnya. Rasanya hidup sudah tidak bergairah lagi, tanpa ada kabar pujaan hati sampai saat ini.
Tok ... tok, suara pintu kamar diketuk seseorang.
"Masuk saja tidak dikunci," sautku menjawab.
Ceklek, pintu telah dibuka dan ternyata adalah Bapak angkat Karin.
"Ada apa, Pak?" tanyaku.
"Ada Chris yang ingin bertemu dengan kamu!" jawab Bapak.
"Baik, Pak. Aku akan segera kesana."
"Jangan lama-lama sebab katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan."
"Baiklah, Pak."
Setelah merapikan selimut yang dipakai Naya, tak berselang lama langsung saja aku menemui Chris.
"Gimana Adrian? Apakah ada kemajuan tentang Karin?" tanya Chris sambil meminum teh yang sudah tersedia.
"Belum."
"Entahlah, Chris. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi mengenai Karin?" jawabku dengan duduk tepat didepannya.
"Apakah ada yang kamu curigai? Teman atau saudara Karin mungkin?"
"Eem, rasa-rasanya kejadian ini ada sesuatu amarah dan dendam pada keluarga kalian," ungkap Chris menebak.
"Dendam? Amarah?" sahutku merasa kaget.
"Iya."
"Sepertinya ada bau-bau dendam terhadap keluarga kalian, pada kamu atau yang lainnya. Tidak mungkin Karin akan diculik tanpa ada jejak sama sekali, dan sepertinya pelaku ini adalah orang-orang terdekat kalian, sebab tahu seluk beluk keluarga dan kamu, sehingga dia dengan mudahnya melancarkan aksinya," urai Chris sudah merasa curiga.
"Bener juga katamu, Chris!" responku membenarkan.
"Ooh ya, ada satu orang yang menjadi kecurigaanku sekarang yaitu pada Yona, sebab gelagatnya akhir-akhir ini aneh sekali. Rasa-rasanya dia terlihat gencar mendekatiku terus, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun akan marah padanya" jelasku menjawab.
"Kalau begitu kita mata-matai saja dia, gimana?" ujar Chris memberi usulan.
"Bener juga katamu, Chris. Kenapa aku ngak kepikiran sampai situ!" sahutku kesal, sebab sudah merasa tidak berpikir dengan cermat.
"Bagaimana ya, kita mau memata-matai dan bisa masuk ke dalam rumahnya?" ucapku dengan mimik muka sedang berpikir keras.
"Rumah Yona jarang dibuka dan menerima tamu sembarangan, kecuali keluarga terdekatnya saja. Pasti kita akan kesusahan untuk memasukinya," uraiku menjelaskan.
"Bukankah kamu lebih mengenalnya lebih jauh sebelum Karin? Pasti ada satu titik kelemahannya, yang memungkinkan kita bisa mudah untuk masuk ke dalam rumahnya," sahut Chris.
"Emm, gimana ... gimana, ya!" jawabku sedang memutar otak.
"Coba kamu beli barang-barang kesukaannya, atau hal-hal yang berbau koleksi yang dia gemari? Lalu kita berpura-pura bertamu saja kerumahnya, pasti dia akan senang dan menerima kamu dengan baik. Bukankah dia sangat mencintaimu juga!" ide cemerlang Chris yang datang.
"Bener juga katamu, Chris."
"Baiklah sekarang juga kita akan berangkat, tapi kita harus membeli barang-barang untuknya dulu sebelum bertandang ke rumahnya," cakapku mengajak.
__ADS_1
"Emm, baiklah."
Ide Chris sangat membantu, sehingga kami berdua sekarang sudah berdiri untuk segera pamit menjalankan aksi.
"Pak ... Pak, kami ingin keluar dulu," teriakku ingin pamitan.
"Iya, kalian hati-hati," jawab beliau yang sudah kami cium tangan punggungnya.
"Memang mau kemana?" tanya Bapak yang sudah keluar dari belakang dapur.
"Kami ingin mencari tahu keberadaan Karin, Pak!" jawab Chris.
"Ooh, baiklah. Kalian hati-hati dan jaga diri dari bahaya, yang bisa saja mengancam sewaktu-waktu," pesan beliau.
"Baik, Pak!" jawabku bersamaan dengan Chris.
"Assalamualaikum!" ucapku.
"Waalaikumsalam, hati-hati."
"Iya, Pak."
Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku dan Chris secepatnya meluncur ingin ke rumah Yona. Ditengah perjalanan mobilku sudah terhenti, untuk membeli oleh-oleh untuk Yona yaitu beberapa potong pakaian, kue, serta camilan-camilan yang berbau cokelat persis seperti kesukaan Yona.
"Adrian, nanti kamu masuk sedirian bertamu ke dalam rumah Yona. Sementara aku akan pergi ke arah lain, sebab siapa tahu nanti ada tempat-tempat yang khusus untuk menyembunyikan Karin," perintah Chris memberi saran.
"Baik, Chris."
"Kalau bisa nanti kamu alihkan perhatiannya terus, biar diriku bisa lebih leluasa mencari dalam sekitar rumahnya," imbuh Chris.
"Siip pokoknya."
Setelah setengah jam lebih berkutat dalam jalanan, akhirnya kami berdua sampai juga ketempat tujuan.
Ting ... tong ... ting, kini aku berdiri memencet bel rumah Yona.
Ceklek, pintu sudah dibuka.
"Wah, Adrian. Kamu, kok ... kok?" sambutan Yona dengan wajah terlihat sumringah gembira.
"Emm."
"Tumben kamu kesini?" tanyanya penasaran.
"Memang ngak boleh 'kah?."
"Aku kangen sama kamu, nih. Lagian sudah lama tidak mengunjungi rumah kamu ini, jadi sekali-kali boleh 'kan aku datang berkunjung ke sini?," ujarku merayunya dengan tujuan mengalihkan perhatian Yona.
"Ooh, tentu ... tentu, yang pastinya boleh dong! Aku juga sangat-sangat merindukan kamu juga, kok!" Kegembiraannya berkata.
"Sudah lama kamu tidak main ke sini setelah kita berpisah dan pastinya semua itu gara-gara Karin, sehingga kamu sampai melupakankanku!" ucap nada Yona kecewa, tapi setelah itu tersenyum kembali.
"Hmm, maaf."
"Apa aku tidak diizikan masuk 'kah? Kok masih dibiarkan berdiri diluar," ujarku mengoda.
"Oh, iya ... ya, maaf."
"Kamu sih ngajak ngobrol terus, sampai kelupaaan mau menyuruh masuk. Ayo mari masuk!" tawarnya mempersilahkan.
"Iya, terima kasih."
__ADS_1
Chris yang sedang berancang-ancang bersembunyi, yaitu disebalik pohon mangga taman rumah Yona. Kini kuberi aba-aba dengan mengayunkan tanganku yang sebelah kanan terlipat dibelakang, untuk memberitahu Chris secepatnya keluar dari persembunyian. Terlihat Chris sudah berlari terbirit- birit ke arah samping rumah Yona. Sedangkan tangan kiriku masih sibuk merengkuh bahu Yona, untuk mengajaknya tetap fokus masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo Adrian, mari duduk!" tawarnya.
"Baiklah, terima kasih!" balasku.
Mata terus saja fokus menatap sekeliling rumah, mencoba melihat-lihat apakah ada tanda-tanda keberadaan Karin.
"Bik ... bik, ambilkan minum!" teriak suara Yona dengan melengkingnya
"Iya, Non. Baik," sahutan pembantunya dari dalam dapur.
"Ada apa, Adrian?" tanyaYona yang sudah menatapku agak curiga, saat netra terus berkeliling ke sekitaran area dalam rumahnya.
"E'eeh, ngak ada apa-apa kok, Yona. Cuma melihat keadaan sekeliling rumah kamu, yang ternyata masih saja sama seperti dulu tidak ada yang berubah sama sekali. Cuma ... cuma, itu?" tunjukku ke arah dinding, yang ada sebuah foto tergantung dengan ukuran super jumbo.
"Ooh, itu."
"Bukanlah itu fotoku dan kamu waktu sekolah SMA dulu?" imbuhku yang kembali terkenang masa lalu.
"Yaap, Adrian!" Suara kemanjaan Yona.
"Kenapa kamu masih menyimpannya? Bukankah aku sekarang sudah menjadi milik orang lain," tanyaku mencoba memancingnya sebab penasaran.
"Walau kamu milik orang lain, tapi aku 'kan masih mencintaimu," ujar Yona mendekatiku dan kemudian mencoba merangkul bahuku, tetapi secara lembut aku tepis tangannya itu.
"Maafkan aku, Yona!" responku menolak halus.
"Oh ... oh, gak pa-pa." Wajahnya kelihatan cemberut tapi berusaha ditutupi.
Kami sama-sama terdiam sejenak, yang mana pikiran masing-masing sedang melayang-layang berpikir.
"Ini Non, minumannya," ucap pembantu yang menyuguhkan minuman sirup rasa jeruk, dan beberapa kue yang sudah tertata rapi dalam toples.
"Terima kasih, Bik!" sahutku memberi senyuman.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Non, Tuan!" pamit pembantu Yona.
"Ke belakang ... belakang saja, tidak usah pamit-pamit segala," celetuk Yona marah-marah.
"Astagfirullahaladzim, biginikah sifat asli kamu selama ini, Yona? Padahal pembantu cuma pamit, tapi kamu malah bentak-bentak. Ternyata sifat egois dan pemarah kamu, tidak ada yang berubah dari dulu-dulu," hati terus saja berguman, akibat tak senang sifat Yona yang menurutku sudah keterlaluan kasar.
"Maafkan aku ya, Adrian! Ini gara-gara pembantu kampungan itu, jadinya aku agak emosi sedikit," tutur Yona yang sok drama.
"Eeem, gak pa-pa." Senyuman kecut tapi masih ramah telah kuberikan padanya.
Kecurigaanku sekarang bertambah kuat, ternyata sifat kasarnya selama ini masih melekat sama pada diri Yona. Dia bilang masih mencintaiku, jadi selama ini dia hanya berpura-pura mengikhlaskan aku pada Karin. Benar-benar 'dah Yona ini sungguh sangat keterlaluan.
"Maaf, aku permisi dulu mau menaruh sebentar barang-barang pemberian kamu ini," pamitnya ingin pergi
"Oh, iya. Silahkan."
"Ngak pa-pa 'kan ditinggal sebentar?" imbuhnya yang kelihatan tidak tega.
"Iya, ngak pa-pa, santai saja."
Sekarang akupun sudah sibuk berkeliling berjalan mencari tahu dirumahnya, dengan mata sudah selidik melihat sana-sini.
Kini langkah sedang sibuk mencari dari sudut ke sudut. Tanpa ada kecurigaan dari Yona, aku kini masih sibuk mengitip dari kamar ke kamar dengan alasan rindu bertandang pada rumahnya, sehingga kini bisa leluasa menyelidiki rumahnya.
__ADS_1