Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Ingin Menebak Jawaban


__ADS_3

Melihatnya ada rasa iba. Pasti dia begitu tersiksa atas kondisi ini. Waktu remaja, itu sangat lama


"Kalian pergilah, biarkan Putri istirahat. Setelah obat penenang yang saya kasih, dia akan tidur pulas nanti," terang pria pegawai.


"Baiklah. Terima kasih sudah mengizinkan kami untuk melihatnya," Kak Nola mewakili berkata.


"Iya, sama-sama."


"Ayo Ana, kita pergi dulu," ajak Kak Nola.


"Adit ... Adit ... Adit .... Adit!" Suara Putri pelan, disaat mulutnya terus saja merancau, memanggil nama yang sama persis seperti suamiku.


Mata Putri lama-lama sudah terpejam, tapi mulutnya masih saja mengoceh memanggil nama yang kukenal.


Aku begitu tak menyangka atas apa yang dikatakan Putri, yang mana pikiran kini sedang mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Aahhh ... apakah nama yang diucapkan Putri itu adalah nama mas Adit? Tapi kenapa hanya nama Adit yang dipanggilnya terus-menerus?" Hati sedang bertanya-tanya.


"Ada apa, Ana? Sepertinya kamu sedang ada yang dipikirkan?" tanya kak Nola.


Kami berdua sudah keluar. Menuju ke tempat parkiran mobil.


"Bener Kak, ada yang sedang kupikirkan, tentang nama yang dipanggil Putri tadi. Apakah yang dipanggil Adit, yang dia maksud tadi adalah suamiku mas Adit ya, Kak?" balik tanyaku pada kak Nola.


"Kamu ngak usah terlalu memikirkan itu, sebab kemungkinan namanya memang sama dengan suami kamu," ujar kak Nola mencoba menenangkanku.


"Mungkin saja, Kak!" responku balik.


Kami berdua akhirnya sudah pergi menjauh dari rumah sakit jiwa, dan kak Nola telah mengantarkanku ke rumah mertua, sebab memang tujuan pertama tadi adalah ingin bertemu dengan anakku Aliya.


Langkah seakan sudah gontai berat, sebab pikiran begitu kacau, yang mana sekarang mencoba memasuki rumah mertua.


Kling, suara gawai berbunyi, dan terlihat tertera nama mas Adit sedang mengirim pesan. Tangan tengah sibuk mengeser layar gawai, untuk segera melihat apa yang sedang dikirim suami.


[Ana kamu dimana?]


[Dirumah mama]


[Kamu sudah makan?]


[Belum]


[Kenapa belum? Ini sudah siang lho, sayang]


[Malas]


[Kok bisa? Kenapa malas, tinggal makan masuk mulut saja]

__ADS_1


[Gak nafsu]


Tut ... tut, kini gawai telah berbunyi berganti nada dering, tanda bahwa ada telepon masuk.


[Kamu kenapa? Kok ngak bisa nafsu makan?]


[Gak ada apa-apa, mas. Memang lagi tak bernafsu saja]


[Heeeeh, kalau sedang ngak bernafsu paksai'in supaya bisa makan, sebab nanti kamu bisa sakit]


[Iya]


[Kamu kenapa sih? Kayak orang lagi ngak semangat gitu?]


[Aku sudah bilang tadi, mas. Aku gak kenapa-napa, memang lagi gak mood makan saja]


[Ooh ya, sebentar dulu! Nanti mas akan lanjut pembicaraan kita, sebab Rudi kini tengah memanggil. Nanti akan kutelepon lagi, karena aku sekarang lagi meeting diluar]


[Ya]


Tut ... tut, suara panggilan diseberang, telah berhasil terputus.


Rasa malas membuat diriku hanya menemani anak bermain sebentar, dan selajutnya kerjaanku berbaring dalam kamar. Karena tak mau berpikiran yang aneh-aneh, mata berusaha kupejamkan, agar bisa menghilangkan semua prasangka yang menganggu pikiran.


Dengan mata terpejam, sekarang indra penciuman telah menghirup bau parfum kesukaan seseorang, dan tanpa terasa sudah ada sebuah tangan, yang telah mendekap mesra tubuhku dari belakang. Karena penasaran, kini badan segera berbalik mencoba melihat, apakah dugaanku benar bahwa yang sedang berada didekatku adalah suami.


"Emm," jawabku biasa saja.


"Mas kok ada disini? Katanya tadi sedang bertemu klien diluar?" keherananku bertanya.


"Cuma sebentar saja tadi ketemuannya, dan akhirnya aku meluncur ke sini untuk menemui kamu, sebab Mas merasa sangat khawatir padamu," jelasnya.


"Wah ... aku ternyata merepotkan kamu, maafkan aku, Mas!" ucapku tak enak hati.


"Gak pa-pa, sayang. Itu bukan salah kamu, sebab aku memang ingin bertemu kamu, sebab rinduku begitu mengebu," jawabnya.


"Benarkah?" tanyaku tak percaya.


"Bener sayang. Masak ngak percaya sih?" ujarnya sambil mentoel kecil hidung mancungku.



"Mas sudah membelikan kue coklat kesukaan kamu, dan beberapa lauk makan, jadi sekarang kamu pergi makan sana!" suruh mas Adit.


"Tapi, mas!" ujarku yang merasa masih malas.


"Gak ada tapi-tapian. Mas begitu khawatir sama keadaan kamu, sampai-sampai aku belain datang kesini cepat-cepat lho, jadi jangan ditolak lagi tuh makanan," cakapnya menerangkan.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, selalu saja merepotkanmu," balasan cakapku lemah.


"Kamu kenapa sih? Kayak ngak seperti biasanya, selalu ceria dan sering tersenyum. Ceritalah sama Mas, pasti kamu sekarang sedang ada yang dipikirkan," suruhnya.


"Aku baik-baik saja, Mas."


"Ya sudah, kalau kamu belum bisa cerita sekarang. Mungkin lain kali kamu akan terbuka, menceritakan apa yang menjadi beban pikiranmu sekarang," tegasnya menjawab.


"Iya Mas, maafkan aku."


"Kamu gak usah minta maaf, Mas selalu ada untukmu setiap kali membutuhkan. Diriku akan selalu melindungi, walaupun nyawa ini jadi taruhannya. Sebesar apapun masalah yang kamu hadapi, kamu harus berbagi pada suami kamu ini, sebab siapa tahu Mas bisa mencari jalan keluarnya. Tak baik jika kamu ada masalah dipendam sendiri, sebab kamu sendiri yang akan merasa pusing, dan akibatnya masalah tak akan selesai-selesai," nasehat suami.


"Emm."


"Sudah, kamu makan saja sekarang. Turuti permintaan Mas sekarang ini, kalau kamu tak mau Mas berlebihan khawatir lagi," imbuh perintahnya.


"Iya, Mas."


Aku dengan pasrah mengikuti perintah Mas Adit, yang masih memakai jas kantor. Dia terus memaksa, jadi tidak enak sendiri kalau tidak dituruti.


Untuk sementara ini diriku belum bisa menceritakan apa yang terjadi bersama kak Nola tadi, sebab aku tak mau Mas Adit bertambah beban, saat dia sendiri sedang sibuk dengan bebannya di perusahaan.


Mulut sedang sibuk mengunyah makanan, yang ditemani Mas Adit dengan memakan kue saja. Suami sudah menemani, karena ingin memastikan bahwa aku telah makan dengan lauk yang dibelinya. Mata Mas Adit menatapku penuh keheranan, namun aku berpura-pura tak tahu, jika dia sedang menatapku terus. Mungkin suami sudah begitu penasarannya, atas apa yang menjadi masalahku sekarang.


"Oh ya, Mas. Kamu sudah lama beneran kenal sama suami kak Nola yaitu Bowo?" tanyaku mencoba bertanya menguak sesuatu sebab rasa penasaran itu terus mengusik pikiran.



"Kenal. Dulu kami adalah teman akrab sekali, sampai kemana-mana selalu berdua, dan tak pernah jalan sendirian. Kenapa?" balik tanya Mas Adit.


"Gak kenapa-napa, cuma tanya saja, sebab aku penasaran sama pertemanan kalian," jawabku memungkiri.


"Berarti kamu kenal juga sama adeknya?" imbuhku bertanya.


"Kenal juga. Dia dulu waktu aku dan Bowo kelas 2 SMA, adeknya itu sudah kelas 1 SMA, yang boleh dikatakan dengan kakaknya itu cuma beda usia setahun saja," jawab mas Adit, dengan mulut masih sibuk mengunyah kue.


"Kalau Mas sama Bowo akrab, berarti sama adeknya juga akrab?" Kekepoanku bertanya.



"Betul itu."


Deg, hati terasa bergetar sakit, saat mendengar penuturan Mas Adit. Nasi yang sempat kulahap dengan lezatnya, kini cuma kuaduk-aduk tercampur baur jadi satu dengan kuah rendang.


"Astagfirullah Mas, apakah kamu yang telah menyebabkan Putri menjadi sakit?" guman hati bertanya-tanya.


Sungguh airmata terasa sebentar lagi akan terjun, sebab tak percaya apakah beneran mas Adit yang melakukan semuanya, atas sakitnya Putri sekarang.

__ADS_1


__ADS_2