
Heran juga dengan diriku ini, tak kerja cuma jadi nyonya Adit saja, capeknya minta ampun tak ketulungan. Walau tak ada aktifitas yang berat kukerjakan, ternyata mengikuti tingkah polah anak, letih dan capek juga.
"Kamu kenapa? Dari tadi Mas lihat kamu memegang bahu belakang terus! Ada yang sakit 'kah?"
Suami habis selesai mandi, menggunakan handuk sebatas pinggang. Berjalan santai seperti tidak ada malu lagi.
"Gak ada apa-apa, sih Mas! Cuma pegal saja nih bahuku. Mungkin ini efek yang keseringan mengendong Aliya saja."
Tangan berusaha mengendorkan urat-urat yang terasa kaku.
"Kamu yang sabar, memang perjuangan menjadi seorang ibu itu tidak mudah, butuh tenaga exstra untuk mengasuh anak. Lagian kamu juga itu kenapa? Sudah ada suster yang dibayar untuk ngerawat anak kita, kamu capek-capek gendong dia terus," ujarnya yang kini sibuk ingin memakai baju.
"Memang sih, Mas! Cuma aku ingin lebih dekat sama Aliya, sebab aku tidak ingin anak kita lebih dekat sama orang lain, daripada orangtuanya sendiri," jelasku.
"Aku paham, tapi yang susah kamu juga dan terutama diriku," keluhnya tak senang.
Mendekat dan mulai memegang bahu. Jari-jari mulai bergerak memijit.
"Jadi ceritanya Mas itu marah? Terus siapa juga yang nyuruh Mas memijit bahuku, bukan aku 'kan? Mas sendiri yang tadi menaruh tangan dibahu," jawabku enteng, sambil tangan menepuk-nepuk bahu.
__ADS_1
"Hehehe, iya juga sih sayang. Aku cuma kasihan saja melihat kamu dari tadi mengoyangkan kepala ke kiri kanan, seperti orang yang benar-benar kecapek'an," ujarnya merasa sayang.
"Aku memang capek banget, Mas. Tapi semuanya dapat kutepis, dengan cara melihat tawa ceria Aliya anak kita, yang terlihat begitu bahagia bisa bermain denganku," jelasku.
Kini sudah berbalik menatap wajah suami. Wajahnya sangat teduh. Bisa merasakan jika dia begitu peduli akan kelelahan ini.
"Kamu sungguh istri idaman. Aku paham kasih sayangmu pada anak, takkan bisa teralih untuk orang lain. Cuma aku sarankan, jangan terlalu capek-capek, sebab kalau kamu sakit nanti siapa yang mengajak bermain anak kita," ujar suami.
"Iya ... iya, Mas."
"Sudah kita tidur saja, aku capek juga nih!" cakap Mas Adit melepaskan tangannya.
"Heeem."
Suara deguran mulai mendayu-dayu dikeheningan malam. Berusaha memejamkan mata dalam dekapan hangatnya.
"Kamu kenapa, sayang? Dari tadi Mas rasakan kamu bolak-balik terus, seperti orang yang lagi ngak bisa tidur saja! Sampai Mas sekarang ikut terbangun, tidak bisa tidur nyenyak juga," keluh Mas Adit.
"Hhhh, maaf Mas. Entah mengapa rasanya mataku sukar sekali ingin terpejam, apa mungkin ini efek memikirkan kak Nola," jawabku.
"Kenapa lagi?."
__ADS_1
"Entahlah Mas, aku jadi kepikiran sama dia."
"Masalah kak Nola biar aku saja yang akan menyelidiki suaminya, sebab pria itu sepertinya tidak bisa diremehkan begitu saja. Jadi kamu sekarang tidurlah sebab ini sudah malam, nanti kalau kurang tidur mata kamu yang bersinar indah itu, bisa-bisa seperti mata panda ngak cantik lagi," suruhnya yang kian memelukku erat.
"Hhhhh, iya deh, Mas!" jawabku jadi penurut, sambil menghembuskan nafas panjang.
Kami berduapun telah tidur dengan cara saling berpelukan, dan rasa nyaman begitu terasa padaku, sehingga membuat mata langsung saja terpejam dengan nyeyaknya.
Pagi sudah menyising mulai meninggikan teriknya, dan kami berdua sedang sarapan dimeja makan.
"Kamu nanti tidak usah ke perusahaan mengirimkan makanan, sebab hari ini banyak sekali meeting dengan perusahaan lain yang minta ketemuan diluar," jelas Mas Adit.
"Baiklah, Mas."
Mengunyah makanan masakan sendiri. Banyak menu yang terhidang.
"Paling-paling kalau tak ada kerjaan, bermain sampai puas dengan Aliya," imbuhku bertutur kata.
"Bagus itu, tapi mas cuma mengingatkan kamu jangan terlalu capek-capek," ucap mas Adit mengingatkan, sambil memasukkan makanan ke dalam mulu.
__ADS_1
"Siip dah."
Mas Adit sudah berangkat ke perusahaannya, dan kerjaanku sekarang ingin segera meluncur ke rumah mertua, untuk menemui anak tercinta.