Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Memperkenalkan pada orang tua


__ADS_3

Rasa ingin menikahi Karin kini benar-benar mengebu sekali untuk secepatnya sampai pelaminan, hingga kini aku harus menemui kedua orangtuaku untuk meminta restu mereka.


"Semoga saja orangtua setuju atas rencanaku yang akan menikahi, Karin? Tapi, sifat kedua orangtuaku sangatlah pilih-pilih. Emmm ... apakah aku bisa meyakinkan mereka, bahwa Karin wanita yang terbaik untukku sekarang ini. Hhhh, semoga saja berhasil, amin ... amin," Hati bertanya-tanya untuk meminta restu.


Tin ... tin, klakson mobil kini kubunyikan untuk menjemput Karin, agar mau kuajak untuk menemui orangtua.


"Waaah, kamu ternyata cantik juga memakai gaun itu, Karin. Walau perut kamu sudah nampak membesar, tapi kamu tetap kelihatan cantik dan elegan," rancau hati yang kagum atas keelokan wajah si pujaan hati.


Cekliek, perlahan tangannya telah membuka mobilku yang sedang menunggu dia.


Wajah yang terpesona tak lepasnya untuk terus melihat keelokan paras ayunya, yang selalu memancarkan keindahan. Wangi harum parfumnya, ikut membuatku terbuai akan rasa kagum padanya. Rambut panjang yang hitam tergerai, menambah nilai plus atas aura kecantikannya. Senyum Karin begitu menawan, hingga tak bisa dipungkiri akupun kian meleleh, saat sumringah manis senyuman tertuju padaku sekarang.



Bibir merahnya yang alami, selalu terhiasi senyuman manis terindah bak gulali.


Wajah yang ayu sangat menyiratkan sebuah keindahan.


Tak jemu-jemu rasa hati ini, untuk selalu memandang pancar sinar cahaya kemanisannya.


Begitu menenggelamkan siapapun yang memandangnya, hingga bisa-bisa terbuai lupa akan diri sendiri.


"Tuan, hello ... tuan, ada apa?" tanya Karin saat aku tengah melamun menatapnya terus.


"Eeh'eeeh, he ... he, enggak kok. Aku hanya ... hanya kagum saja melihat wajahmu yang hari ini begitu cuuuantik banget," pujiku pada Karin.


"Benarkah? Masak sih, tuan? Aku hanya wanita kampungan yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan pacar kamu yang cantik-cantik itu," ucapnya merendah.


"Siapa bilang. Mereka memang cantik, tapi buat apa wajah cantik, tapi kelakuannya tak secantik dengan rupanya," jawabku santai sambil sibuk menyetir mobil yang mulai berjalan kerumah orang tuaku.


"Benar juga, sih. Oh ya tuan, apa ini adalah keputusan kamu yang benar adanya? Aku sekarang begitu grogi dan takut sekali untuk menghadapi keluarga kamu. Gimana kalau mereka tak suka padaku?" tanya Karin binggung.


"Kamu tenang saja, ada aku yang akan selalu menemani dibelakangmu selamanya. Aku berharap keputusan untuk menikahi kamu benar-benar akan jadi kenyataan, dengan restu orang tua nanti. Walau mereka tak bisa menerima kamu dengan baikpun, aku akan tetap bersama kamu selamanya, dan selalu menyimpan rasa cinta dalam hatiku," ungkapku jujur dengan cara mengenggam erat tangan Karin supaya dia tenang.


"Terima kasih, tuan. Aku tak bisa membalas semua kebaikan kamu, kecuali hanya ucapan terima kasih saja," ujar Karin tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Karin. Aku benar-benar tulus melakukan ini padamu, jadi kamu tak usah tak enak hati begitu. Oh ya, kalau kita sudah menikah, jangan lagi memanggil aku dengan sebutan tuan, panggil langsung nama saja yaitu Chris. Rasanya sungguh tak enak sekali didengar," pintaku.


"Iya, tuan. Eeh, maksudnya Chris!" jawabnya gugup.


Tak berselang lama, akhirnya kami sampai juga pada tempat tujuan. Rumah yang sudah kutinggalkan dua tahun lalu, kini akan kupijak lagi dengan situasi berbeda yaitu membawa calon menantu untuk mereka. Sungguh asing rasanya diri ini, ketika menapakki rumah yang pernah menjadi saksi bisu dari aku bayi sampai tumbuh jadi dewasa. Mungkin ini efek diriku yang sudah lama sekali tak pernah mengunjungi mereka lagi, saat diri ini sempat bertengkar hebat atas keputusanku menjadi model kemarin.



Ting ... tong ... ting, bel telah kutekan.


Ceklek, pintu dibuka dan kini menampakkan bibi pembantu yang membukanya.


"Tuan Chris? Tuan telah kembali?" sambut pembantu dengan sumringah tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Iya, bi. Mama sama papa ada 'kan dirumah?" tanyaku pada beliau.


"Oh ... oh, ada tuan. Mereka baru saja selesai makan malam," jawab beliau ramah.


"Ya sudah, kalau begitu aku langsung daja menemui mereka. Ayo Karin," ajakku.


"Iya tuan. Silahkan."


Langkah kini mulai memasuki rumah, dengan tangan sibuk mengandeng tangan Karin, supaya cepat-cepat bisa mengimbangi langkahku. Wajah Karin kelihatan binggung dan kagum atas rumah yang kumiliki, sebab memang boleh dikatakan rumah orangtuaku memang kalangan elite yang dimodifikasi seindah mungkin.


"Hai ma, pa!" sapaku saat mereka duduk santai disofa ruang tengah, dengan kesibukkan masing-masing yaitu membaca koran dan bermain gawai.


"Chris? Kamu?" Keterkejutan mama saat aku datang.


"Wah ... wah, akhirnya kamu kembali juga ke rumah yang membesarkan kamu ini," imbuh ucap beliau dengan senyum gembiranya.


"Iya, ternyata akhirnya kamu kembali juga kesini, nak!" jawab papa yang kelihatan senang juga atas kedatanganku.


"Tentu saja, aku tak akan lupa pada jasa dan rasa sayang kalian padaku," ucapku.


"Oh ya, pa, ma. Aku kesini ada tujuan tertentu, dengan membawa seseorang juga ikut kesini," imbuh kata-kataku menerangkan.


"Apa maksud kamu?" tanya heran mama saat tak melihat Karin, yang tengah bersembunyi dibelakang tubuhku.


"Aku membawa Karin ikut serta kesini, sebab ada hal penting yang ingin kubicarakan kepada kalian," terangku.


"Baik, tuan."


Kini Karin benar-banar muncul dihadapan mereka, dengan kepala tertunduk malu-malu.


"Bukankah dia ... dia ini? Dia ini adalah pembantu kamu? Tapi kenapa kamu bawa dia kesini, dan berpakaian aneh kayak orang kaya saja," ketus jawab mama.



"Benar dia adalah pembantuku. Oleh sebab itu aku kesini, ingin ada penjelasan yang akan kuberitahukan pada kalian, bahwa aku sangat mencintainya sekarang. Oleh sebab itu tujuanku kesini adalah meminta restu pada papa dan mama, untuk menerima Karin sebagai calon pengantinku," jelasku.


"Apa?" Keterjutan mama dan papa kompak.


"Kamu jangan bercanda dan gila, Chris!" jawab mama tak percaya.


"Aku beneran sungguh-sungguh atas apa yang kukatakan barusan, yaitu ingin menikahi Karin," ucapku memperjelas lagi.


"Ngak ... ngak bisa, kamu jangan seenak jidat kamu ngomong sembarangan, dan memutuskan semuanya sendirian," saut ucap papa tak setuju juga.


"Tapi, pa! Aku benar-benar mencintai Karin dan ingin menikahinya," jawabku berusaha membantah ucapan mereka.


Tanganku telah digenggam erat sekali oleh Karin, mungkin dia takut atas ketegangan kami yang mulai akan tercipta. Terasa sekali tangan Karin mulai dingin, tapi terasa ada keringatnya akibat rasa takutnya yang mulai menghampiri.


"Ngak ada tapian-tapian, Chris. Oh ya, mama perhatikan perut kamu kelihatan membuncit begitu, Karin. Ada apa ini sebenarnya?" tanya mama heran dengan mata mulai menyelidik tajam ke arah Karin, dari ujung kaki sampai kepala.

__ADS_1


"Ngak ada apa-apa kok, ma!" Pungkiran jawabku.


"Mana mungkin ngak ada apa-apa. Mama ini seorang perempuan juga, jadi bisa melihat dan membedakan. Apa kamu sudah hamil? Apakah alasan ini yang membuat anakku untuk memutuskan menikah dengan kamu segera?" Interogasi mama pada Karin.


"Iya, nyonya!" jawab jujur Karin dalam kegugupan.


"What? Dasar kamu ini, wanita licik yang tak ada akhlak. Mencoba memanfaatkan kehamilan kamu hanya ingin menikah dengan Chris," hina mama.


"Hentikan, ma!" bentakku tak suka.


"Karin bukanlah wanita yang seperti mama pikirkan, dia adalah wanita baik-baik, jadi jangan pernah menuduhnya sembarangan begitu. Niatku baik untuk menikahi dia, sebab ingin menyelamatkannya," terangku dalam kemarahan.


"Maksud kamu apa? Menyelamatkan apa? tanya papa binggung.


"Menyelamatkan atas kehamilan saya," jawab gamblang Karin.


"Apa? Apa maksudnya ini? Kalian jangan berbicara membingungkan kami," keluh ucap mama.


"Karin telah dinodai oleh orang lain, hingga kini aku berusaha bertanggung jawab untuk menikahinya," jelasku.


"Wow ... wow, super sekali Chris. Ternyata kamu tengah gila menjadi super penyelamat, untuk wanita yang tak jelas asal usulnya, dengan ditambah atas kehamilannya pulak. Kamu jangan harap mendapatkan restu kami, paham!" hina mama ditujukan padaku.


"Tapi, ma!" rengekku tak senang atas keputusan mereka.


"Benar, Chris. Kamu jangan gila mengambil keputusan ini. Mau ditaruh mana muka mama sama papa, saat orang lain mencemo'oh kami jika mengetahui anak kesayangan mereka, telah menikah dengan wanita yang hamil bukan dari kesalahan kamu," imbuh ucap papa tak setuju.


"Aaah, kalian ini. Kenapa bisa berpikiran sejauh itu. Harta, derajat dan harga dirilah yang selalu kalian banggakan selama ini. Apakah kalian selama ini tak pernah berpikir, akan kebahagiaan anak kalian satu-satunya ini, hah? Dari dulu aku selalu menghormati dan menyayangi kalian, tapi kalian selalu saja mengekangku dengan sejuta keinginan kalian itu. Apa kalian masih tak sadar, bahwa hampir saja kehilangan anak kalian ini, akibat keangkuhan kalian itu. Aku sangat kecewa sekali padamu, pa, ma. Saat aku menginginkan kasih sayang kalian, tapi kalian malah mematahkan semuanya demi harta," ucapku jujur sambil marah-marah.


"Plaaak, jangan asal bicara kamu," Kemarahan papa yang telah menampar kuat pipiku sebelah kanan.


"Apakah ini yang diajarkan wanita hamil ini padamu, agar mau membantah perkataan orang tua kamu? Dengar Chris, selamanya kami tak akan merestui pernikahan kalian, paham!" imbuh ancam papa.


"Tapi pa, aku benar-benar mencintai Karin, jadi tolong kali ini saja restui kami menikah, atau kamu akan kehilangan anakmu ini jika kalian tak mau menikahkan kami," ancamku balik.


"Apa? Aaah, dasar anak ini. Ternyata sudah berani melawan orangtuanya," ucap papa yang kini mau menampar pipiku lagi


"Hentikan, tuan. Jangan lakukan itu. Aku akan terima atas penolakan restu kalian ini, tapi tolong jangan lukai tuan Chris, sebab hatinya akan kian sakit hati, jika kasih sayang kalian kini telah berubah menjadi penyiksaan," pembelaan ucap Karin.


"Ciiieh, dasar perempuan hina. Pintar juga ternyata kamu berbicara," ketus jawab mama.


"Sudah ... sudah, ngak usah diperpanjang lagi. Jika kalian tetap tak mau merestui kami, maka aku akan menikahi Karin tanpa menunggu restu kalian lagi, paham!" Kekesalanku berkata.


"Apa? Haiiiist, dasar anak ini," jawab papa tak suka dengan sejuta menahan emosi.


Aku tak memperdulikan lagi ucapan papa, dan kini langsung menarik kuat tangan Karin, agar segera meninggalkan kedua orang tuaku yang sudah membuat hati kami kecewa.


"Menikahlah kamu, Chris. Sebab selamanya kami tak akan merestui kalian. Jika kamu menentangnya, ingatlah! Daftar nama kamu sebagai anak pewaris semua perusahaan dan harta, akan segera kami coret dari daftar keluarga," ancam papa berteriak saat kami sudah mendekati pintu keluar.


Aku tidak peduli atas ancaman itu lagi, sebab yang kupikirkan sekarang adalah membawa Karin pergi menjauh, agar tak mendengarkan kata-kata yang bikin sesak dan sakit hati saja.

__ADS_1


__ADS_2