
Lelahan airmata kasih sayang cukup lama tak terhenti, ketika yang tercinta tak berdaya merasakan sakit, akibat dari kesalahanku.
"Mas Adit, jangan menangis lagi!" Suara Ana yang tiba-tiba sudah bangun.
"Aku tidak menangis kok, sayang!" ucapku yang langsung mengelap airmata.
Lega rasanya sudah siuman. Dalam hati terus mengucap syukur.
"Gak menangis, kok pipinya basah," ujarnya lirih.
Heheehe. Senyuman mati kutuku.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang terasa sakit, yang belum diobati dokter?" tanyaku sedikit khawatir.
"Gak ada, Mas! Aku baik-baik saja," jawabnya lemah.
"Bantu aku duduk," suruhnya dengan mengulurkan tangan.
"Siap."
Dengan hati-hati kujalankan perintah Ana barusan. Karena lukanya baru saja dijahit, aku harus ekstra pelan-pelan membantunya duduk dipinggiran ranjang, dengan belakang badannya kuganjal dua bantal.
"Maafkan aku Ana, yang tak bisa menjagamu dengan baik, sehingga Salwa telah kejam sudah menyiksamu dalam penculikan itu," ungkapku.
"Gak pa-pa, Mas. Ini adalah ujian dalam musibah."
Suka sama sikapnya yang selalu baik dan tidak memperbesarkan masalah.
__ADS_1
"Aah, badanmu yang putih ini! Sekarang banyak luka lebam dan memar-memar biru," keluhku mengelus pipinya dan mengenggam erat tangannya.
"Sudah 'lah, Mas. Lupakan itu semua, biarlah semuanya menjadi kenangan. Kita harus bisa berlapang dada dan sabar atas perlakuannya. Dia melakukan itu semua sebab ada keinginannya yang tidak tercapai, yaitu hanya ingin bisa memilikimu, Mas! Kita harus memahami dia," ujarnya yang terlihat sabar, diiringi senyuman manisnya yang penuh kelembutan.
"Aku tahu, Ana. Bukankah sikap Salwa kemarin sudah keterlaluan padamu, apakah kamu tidak merasa marah ataupun dendam padanya gitu?" tanyaku penasaran.
"Aku cukup mengerti sikap Salwa, Mas! Walaupun dia menyayat kulitku dengan pisau, diri ini akan ikhlas dan pastinya tak akan marah padanya," terang penuh penjelasan.
Semakin dibuat kagum. Tidak salah dia menjadi pelengkap tulang rusukku. Ana wanita yang begitu sempurna, sampai akupun hanya bisa mengagumi saja.
"Lagian buat apa kita menyimpan dendam! Sebab dendam dibalas dengan dendam tak akan ada habisnya, justru akan menambah permusuhan yang akan kian manjadi-jadi, dan aku tak menginginkan itu, dikarenakan semua orang-orang disekitarku tak ingin terluka ataupun tersakiti," Kelogowoaan Ana berkata.
"Terima kasih atas ucapanmu barusan, sayang!" ujarku dengan mencium tangannya.
"Sama-sama, Mas. Itu yang terbaik bagi kita."
"Sungguh suatu keberutungan, Ana! Diriku memilikimu. Allah benar-benar tak salah telah menjodohkanmu padaku, terima kasih. Kau paling terindah dalam hati ini."
Langsung berdiri dan mendekatkan bibirku ke keningnya, untuk memberikan kecupan mesra.
"Sama-sama, Mas."
"Hidup haruslah menghindar dari dendam dan amarah, biar kita bisa tenang menjalani semua kehidupan ini," tuturnya diselingi dengan tanganku terus mengenggam erat tangannya, dan berkali-kali kudaratkan ciuman sayang.
"Gimana keadaan, Salwa?" tanyanya tiba-tiba.
"Aku belum tahu," jawabku singkat.
__ADS_1
"Kita akan menjenguknya nanti," tuturnya yang membuatku kaget.
"Tapi, Ana!" ucapku sedikit agak menolak.
"Gak ada tapi-tapian," jawabnya penuh penekanan.
"Hemm, gimana kalau dia akan mencelakaimu lagi!" Kekhawatiran.
"Tenang saja, Mas! Ana yakin, Salwa pasti tidak berani membuat ulah padaku lagi, selama kamu berada disisiku," tuturnya menjelaskan.
Mata sedikit memicing, sebab ada keraguan yang mendalam.
"Gimana?"
"Ragu, sebab dia itu wanita berbahaya."
"Insyallah, akan baik-baik saja. Berharap banyak perubahan pada dirinya."
"Amin. Baiklah kalau kamu bersikukuh menjeguk, Salwa!" ucapku menyetujui.
Sebelum dia memejamkan mata untuk istirahat, kukecup keningnya dengan penuh kasih sayang, dan tak lupa kunaikkan selimut hingga sebatas perut. Diriku tak mau menambah dosa lagi, untuk menaruh dendam pada Salwa. Diri inipun tak mampu berkata apa-apa lagi, kalau semua perkataan istri ada benarnya.
Selama dirumah sakit terus menunggu dan merawatnya. Kadang bergantian dengan mertua dan mertua, tapi mereka kadang sibuk sama urusan anak kami, jadi tidak bisa berlama-lama. Kerjaan sudah dihandle sama Rudi, cuma kalau ada kepentingan yang harus akulah yang mengurus Ana kutitipkan pada suster dulu.
"Apakah tindakan kita adalah benar mau menjenguk, Salwa? Tidak ingin kamu terluka lagi. Bagiku goresan dikulitmu sekarang sangat menusuk ragaku. Bagaikan seribu jarum terhujam, sangat sakit bila ada bekas luka itu. Semoga apa yang kamu ingin dan doa untuk dia benar-benar terjadi. Banyak harapan pada Salwa, agar bisa berubah total akan baik pada kita," Guman hati yang ragu.
Sikap Ana yang selalu merawat dan menjagaku dengan baik selama berumah tangga, maka aku harus berbalik menjaga dia dengan baik. Apalagi dalam keadaan sakit begini, selalu extra merawat penuh kehati-hatian.
__ADS_1
Mungkin bagi sebagian orang akan tabu atau malu jika seorang pria mengurus keperluan istri, baik menyuapi, memandikan, menyeka, bahkan menganti baju sekalipun. Aku harus berbeda. Dia berpeluh keringat mengurus semua dengan baik, maka harus membalas budi dengan baik dengan sepenuh ketulusan jiwa raga.
Tangan kasarnya tidak pernah lelah memberikan yang terbaik agar kehidupan dapat lebih baik juga. Bukan hanya dengan makan cinta membina rumah tangga, diantara suami istri harus bahu membahu tanpa pamrih mengurus rumah tangga menuju bahagia. Kelelahannya kadang bikin stres sebab mengurus semua, maka dengan mengajak bercanda dan jalan-jalan adalah cara jitu biar istri jadi awet bahagia dengan suami.