
"Aah ... ahh," Kekesalanku yang terus saja membanting setir kemudi mobil, akibat kesal tak dapat mengetahui keberadaan Ana.
Sudah seminggu Ana menghilang, dan aku tak tahu kabarnya, apakah dia masih hidup ataukah sudah meninggal.
"Ya Allah, apabila dia masih hidup berilah hamba petunjuk untuk segera menemukannya, tapi jika dia sudah meninggal, tunjukkan dimanakah kuburan maupun jasadnya," doaku dalam hati sudah berlinangan airmata.
Kuusap pelan airmata dengan segera, biar bapak mertua tak mengetahuinya, sebab aku tak ingin beliau tambah khawatir. Berat badanpun kini mulai turun dratis tak nafsu makan dikarenakan terlalu kuatnya pikiran memikirkan Ana.
Langkah begitu lemahnya saat ingin menginjakkan tanah, tulang-tulang terasa sekali ingin terlepas dari persendian. Entah sudah berapa langkah diri ini menyusuri jalan, rasanya langkah sudah tak kuat lagi untuk menapakki bumi. Padahal jarak dari mobil sampai restoran mertua tak terlalu jauh hanya dua puluh langkah saja sudah sampai, tapi berhubung rasa semangat yang tak bergairah, membuat diri inipun terpaksa terhenti untuk melangkah. Akhirnya akupun terduduk lemas di emperan restoran mertua, dengan tatapan kosong melihat ramainya jalanan yang sudah banyak mobil berlalu lalang.
"Adit, bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Ana?" tanya Mama yang sudah menghampiriku duduk melamun.
"Masih sama, Ma! Tak ada kemajuan tentang kabarnya," jawabku dengan bibir sudah bergetar, dan mata memerah mulai berkaca-kaca.
"Kamu harus sabar dan jangan berhenti menemukannya."
Mama memberi semangat, sambil mengendong Aliya untuk menyuapinya dengan bubur.
"Bagaimana Adit mau semangat, Ma! Jika petunjuk keberadaannya saja tidak ada," keluhku merasa putus asa.
"Mama tahu, Adit. Kamu begitu frustasi. Tapi disebalik itu semua, Mama yakin Allah akan menunjukkan jalan, sebab Allah diatas segala-galanya. Allah tidak akan pernah membuat umatnya menerima cobaan melebihi batas kemampuan umatnya, sebab kamu dan Ana kuat maka Allah memberi cobaan ini pada kalian," nasehat beliau.
"Iya, Ma. Adit akan berusaha lebih bersabar lagi."
__ADS_1
Shok, sedih, binggung, kini telah tercampur aduk semuanya jadi satu dalam perasaanku.
Mama dari sembari tadi hanya bisa berdiam berdiri disampingku, yang berusaha menenangkanku dengan semua nasehat dan kata-kata semangatnya.
"Kamu harus kuat, lebih tenang dan bersabar, ingat anakmu Aliya yang harus kamu perhatikan juga," imbuh beliau mengingatkan.
"Iya, Ma."
"Sekarang masuklah ke restoran, tidak enak dilihat orang duduk termenung disini. Dan nanti hiburlah bapak mertuamu dengan memberi semangat juga, dia terlihat begitu sedih sampai beberapa hari ini restorannya ditutup," imbuh perkataan Mama.
"Iya, Ma." Lesu ucapan.
Sampai didalam rumah, kami duduk diruang tamu, dan Mama menyerahkan Aliya untuk kugendong. Mama sudah melangkah ke dapur, lalu membawa segelas air putih.
"Adit, kamu minumlah inu dulu!" kata mama sambil menyodorkan air, yang dibawa beliau barusan.
Dengan satu tangan langsung mengambil air yang berada ditangan beliau.
Kemudian Aliya diambil alih lagi oleh Mama, lalu akupun meminum air itu sampai habis tandas, kemudian kuletakkan gelas yang kupegang tadi diatas meja. Badan terasa sangat lelah sekali, yang ditambah juga dengan pikiran kacau dan pusing.
"Ya Allah, aku mohon. Kabulkanlah permintaanku sekarang. Berilah petunjuk bagaimana diri ini harus mencari Ana lagi," Doaku dalam hati dengan wajah termenung kembali.
"Kamu jangan bersedih, Adit. Mamapun jadi ikut bersedih melihat keadaanmu yang kacau begini!"
Suara beliau sudah serak-serak basah, saat melihat mataku sudah sedikit mengeluarkan air bening.
Rasanya pikiran dan hati sudah tidak kuat, akibat menahan kesedihan dan cobaan ini.
__ADS_1
"Kamu harus kuat. Mama yakin, kita secepatnya akan menerima kabar baik tentang Ana!" Mama yang sudah menitikkan airmata pulak.
"Amin, Ma."
"Mama jangan ikutan menangis," ujarku sambil menghapus airmata beliau.
"Makasih, Adit. Mama merasa tidak tega saja, melihat keadaanmu yang terus-menerus seperti ini!" Walau repot mengendong beliau masih sempat mengelus-elus bahuku.
"Mama tenang saja, aku adalah anak kuat. Dulu Adit pernah diposisi seperti ini, bahkan lebih lama ditinggal Ana yaitu selama enam tahun," Kata-kataku berusaha memecah kesedihan diantara kami.
Namanya juga ditinggal orang tersayang, maka tak ada kata lain selain merasa sedih.
"Dulu beda kasusnya, Nak. Ana pergi ada bapaknya, dan sekarang dia pergi entah siapa yang menemaninya," lesunya jawaban Mama.
"Jangan bersedih lagi Ma, oke! Kita harus terus menerus berdoa agar Ana bisa cepat ditemukan dan ada petunjuk untuk kita semua agar semua terungkap," Balik memberi semangat.
"Iya, Nak. Harus itu."
Kini disudut bibir kami sudah ada senyuman. Walau terpaksa kami harus tetap menunjukkan wajah baik-baik saja. Terlalu larut dalam kesedihan juga tidak baik, sebab bukannya malah ketemu tapi malah pusing tujuh keliling sehingga terjadi kekacauan tak tahu dimana dia berada.
"Adit tak tahu bagaimana memulai mencarinya? Rasa-rasanya semua sudah buntu, dan tak ada satupun petunjuk untuk segera menemukan," jawabku lirih sudah frustasi.
"Sabar dan terus hadapi dengan kesabaran adalah kunci segalanya. Kita tunggu saja kabar baiknya." Lagi-lagi Mama bisa menenangkanku.
Anak sudah tidur pulas. Untung saja tidak rewel akibat tidak ada ibunya. Sangat bersyukur ada Mama yang terus saja ada waktu mengasuh. Pengalaman memiliki anak baru pertama kali, jadi kalau tidak dibantu istri pasti akan kewalahan jika mengasuh sendiri. Sekarang Ana tidak ada, dan beruntung Aliya tidak rewel ikut neneknya.
__ADS_1