
Walau mas Adit sekarang tidak mengenaliku ini siapa? Bakti sebagai istri harus tetap terjaga. Dan kini aku telah disibukkan dengan menyiapkan beberapa makanan yang disukai suamiku tercinta, entah apa lagi yang akan dia katakan nanti, yang terpenting sekarang bisa merawatnya dulu.
Air asin yang keluar dari sudut mata berhasil membasahi wadah bekal. Semua penghinaan kemarin kembali terekam dalam pikiran. Tangan yang melemah, semampu mungkin harus terangkat untuk menghapusnya.
Ceklek, pintu kamar rawat inap mas Adit perlahan-lahan ingin kubuka.
"Wah ... wah, Salwa. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu kian hari kian cantik saja! Rasanya tambah sayang saja aku padamu," suara Mas Adit sedang bercengkrama dengan Salwa.
Aku tidak langsung mendekati mereka, dan hanya mendengarkan obrolan mereka diluar pintu yang sudah sedikit kubuka.
"Betulkah itu?" genitnya Salwa menjawab.
"Beneran sayang," sahut mas Adit dengan mesranya.
"Ya Allah, kenapa jadi begini. Apakah aku harus menelan kepahitan lagi seperti dulu," Dada mulai menohok sesak sekali. Keromantisan mereka terus mengema terdengar menyakitkan.
"Kalau begitu kapan kita akan melanjutkan hubungan kita lagi, yang kemarin-kemarin sempat putus dijalan?" Kemanjaan Salwa berucap lagi.
"Pokoknya secepatnya saja. Aku akan selalu menuruti semua keinginan kamu, dan hatiku masih sama seperti dulu yaitu mencintai kamu," ungkap isi hati mas Adit yang membuatku sampai terasa nyesek.
Rasa sakit sudah bergemuruh didada, yang makin lama kian memuncak tak bisa tertahan, sehingga bulir-bulir airmatapun tak terbendung lagi untuk tak menetes.
Seketika tubuh terasa lemah lunglai tak berdaya, yang sudah diiringi memanasnya hati akibat marah. Dan sekarang aku berusaha menetralkan keadaan jantung kembali, yang sempat berdebar hebat terasa sesak sakit sekali, disebabkan kaget atas perkataan mas Adit barusan.
__ADS_1
Kini kuusap airmata secepatnya, biar mereka tak mengetahuinya. Langkah kaki sudah maju untuk segera menghampiri mereka.
"Ekghem ... hmm," dehemanku.
Langkah sudah mendekati mereka berdua, dimana aku sudah bersikap acuh tak acuh, dan pura-pura tak mendengarkan perbincangan mereka barusan.
"Ini, Mas. Aku masakkan makanan kesukaan kamu," ujarku sambil tangan terulur memberikan makanan, yang sudah tertata rapi dalam rantang.
Bhug ... krontang ... krontang, rantang nasi sudah jatuh ditepis kuat oleh Salwa, sehingga nasi dan laukpun berserakan ke sembarang arah dilantai.
"Salwa?" pekikku marah.
"Kenapa? Kamu ngak suka, hah!" ketus ucap Salwa.
"Ciih, dasar. Kalau kamu tidak suka, cepetan pergi dari sini! Kami tidak sudi lagi melihat wajahmu, apalagi memakan makanan buatan kamu," imbuh marah Salwa.
"Iya, aku tak sudi juga melihat wajahmu," bentak mas Adit ikut-ikutan.
"Pergi kamu dari sini! Jangan pernah lagi kamu kesini, apalagi untuk membawa makanan," lengkingan suara mas Adit mengusir kasar.
__ADS_1
"Iya kamu ini! Sudah tahu Adit adalah orang kaya, mana mau dia memakan makanan buatanmu yang menjijikkan itu," imbuh ucap Salwa mengghinaku.
"Astagfirullah." Dada kuelus pelan.
Perih, sesak, sakit, rasa hatiku disaat ini, suami yang tercinta sudah membentak dan memarahiku.
Dan apalah dayaku sekarang ini, kupungut satu-persatu nasi dan lauk makan yang tak berbentuk lagi rupanya. Untuk kesekian kali, lagi dan lagi tetesan embun airmata tidak tertahan untuk tak menganak sungai.
"Ya Allah, apakah aku harus tetap bersabar menjalani semua ini. Ujian apa lagi ini? Padahal kemarin-kemarin kebahagiaan kami baru saja terajut," isak tangisku yang tertahan.
"Kenapa mas Adit begitu kejam dan tega padaku sekarang," Hati berbicara dengan tangisan sudah memilukan.
Mulut kubungkam rapat-rapat, agar suara tangisanku tak terdengar keluar oleh mereka.
Dan tanganku kini masih sibuk saja memunguti makanan, yang sudah jatuh untuk dimasukkan dalam rantang, serta tangan satunya sedang memegang perut, akibat tak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk membesarkan anak sendirian, tanpa mas Adit berada disisiku.
"Maafkan aku, Mas. Sebab telah lancang membawakan kamu makanan," Kesabaranku berucap diiringi dengan senyuman.
"Iya, cepetan pergi sana! Besok-besok jangan bawa makanan ke sini lagi, biar aku saja yang merawat Adit," celoteh Salwa yang sudah menyuapi mas Adit dengan mesranya.
Ternyata Salwa lebih gerak cepat membawakan bekal untuk suami tercinta.
__ADS_1
Langkah kaki sudah gontai menyeret, saat kekuatan tak bersemayam lagi dalam tubuh, tak henti-hentinya airmata terus saja menetes dengan tersedu-sedu. Sikap mas Adit yang cuek dan angkuh, membuat sakit hati kian hadir kembali, tapi demi anak yang kukandung sekarang, aku harus tetap ikhlas untuk berusaha melayaninya seperti hari-hari kemarin.