Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Mencari Keberadaannya


__ADS_3

Kini aku berjalan mengendap-endap menyusuri pekarangan rumah Salwa.


Langkah terus saja sibuk berjalan lagi, dan kini menuju disamping rumah Salwa, dan tidak ada apa-apa disini, kecuali pepohonan yang rimbun berlebatkan daunnya. Kaki terus saja berjalan, dan sampai pada akhirnya mata melihat sebuah bangunan yang masih koko, tapi catnya kelihatan sudah memudar dan kelihatan kotor sekali, sebab disekitar bangunan itu banyak sekali sampah-sampah berserakan sekali, dan disekelilingnya ada hitam-hitam seperti habis dibakar.


Berbekal kenekatan, perlahan namun pasti langkah terus maju mendekati bangunan itu, yang terlihat sekali seperti gudang.


"Apakah Ana benar-benar ada sini, ya? Tapi gak mungkin Ana disini, kelihatan sangat kotor sekali tempat ini? Masak iya Salwa akan tega mengurung Ana disini?" ucapku dalam hati terus saja bertanya-tanya.


Terlihat gudang begitu ketat sekali ruangannya, tidak ada celah sama sekali untuk diriku mencoba mengintip apa yang ada didalamnya.



Kupegang pintu gudang itu, terlihat gembok begitu besar dan kuatnya terkunci, dan diri inipun tak serta merta untuk bisa membukanya langsung.


Kaki sekarang sudah memutar ke samping kanan gudang, dan tak kutemukan jua celah besar untuk mengintip. Akhirnya setelah memutar ke kiri, ada satu celah lubang kecil, yang dibawahnya ada jendela tapi naasnya lagi-lagi tertutup rapat yang tergembok dari luar. Terlihat lubang itu tinggi sekali, dan kulihat samping kiri kanan, tak ada benda yang membantuku untuk memanjat. Tak kehabisan akal, kini diri ini memutar ke depan lagi, dan terlihat ada kursi dari plastik dan meja dari kayu, tapi sudah buruk bentuknya, sehingga diri inipun datang keraguan untuk memakainya.


"Ya ampun, apa aku benar-benar akan menaiki ini!" gumanku dalam hati.


Dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan lagi, akhirnya meja dan kursi buruk ini kutumpuk jadi satu, dan sudah menjulang agak tinggi. Semoga saja tak terjadi apa-apa dan segera memudahkanku untuk melihat keadaan didalam.


"Ya Allah, bantulah hamba agar tidak jatuh memakai barang-barang ini, sebab aku melakukan ini dengan niatan baik, untuk mencari tahu keberadaan Ana," Doaku dalam hati, sebab maish ada keraguan saat ingin menaikinya.


"Huuuff, Bismilah." Hembusan nafasku yang panjang sambil diiringi doa.


Sekarang kaki sudah terasa bergetar sekali, saat menaiki bekakas yang sudah usang ini.


Mata terus saja fokus melihat keadaan dalam gudang, tapi didalamnya terlihat hanya ada kegelapan saja. Samar-samar terlihat hanya ada barang-barang yang saling bertumpukan. akupun tak menyerah begitu saja, yaitu saat netra terus saja sibuk melihat ke arah sekililing benda-benda sekitaran situ, sebab siapa tahu Ana ada diantaranya.


"Hei, siapa kamu?" teriak suara seorang perempuan.


"Mati aku!" Keterkejutanku saat ada yang memergokki.


Kaki langsung saja turun, dan berusaha lari kerena ada yang melihat.


"Hei, kamu siapa? Maling ya?" tanya perempuan yang memergokki, saat dirinya sedang membuang sampah.


"Bukan ... bukan kok, mbak. Saya ada keperluan hanya ingin memeriksa keadaan gudang ini saja!" jawabku saat si mbaknya sudah mencekal tangan.


Wajahnya tidak bisa kulihat dengan jelas, sebab sedang membelakangi dengan baju ditarik kuat. Takut jika sobek membuat kaki diam ditempat.


"Bohong kamu! Mana ada maling yang mau ngaku." Dia tidak percaya.


"Sumpah, Mbak. Aku ini orang baik-baik bukan maling."


"Halah, jangan bohong kamu, dan bagaimana kamu bisa masuk kesini! Kalau bukan maling? Atau kamu penjahat yang mau mencelakai," imbuh cakapnya yang masih tidak percaya.


"Beneran mbak, bukan ... bukan. Aku bukan maling apalagi penjahat seperti yang kamu tuduhkan!" jawabku mencoba menjelaskan.


"Kami jangan bohong. Semua orang kalau sudah kepergok banyak ngelesnya. Ya seperti kamu itu," celetuknya menuduh lagi.

__ADS_1


"Sumpah Mbak, aku beneran bukan maling, dan aku kesini hanya sedang mencari seseorang. Lihat tampangku ini! Apa ada wajah seperti penjahat maupun pencuri?" jelasku lagi.


Braaaak, suara keras dalam gudang seperti benda jatuh.


"Suara apaan itu, mbak?" tanyaku binggung.


"Entah?" jawabnya yang juga merasa aneh.


"Apakah ada seseorang didalam?" tanyaku dengan langkah sudah menghampiri pintu gudang.


"Eeeit, mau ngapain kamu?" cegah si mbaknya.


"Mau masuklah?" ketusku menjawab.


"Gak boleh. Kamu tidak boleh masuk, mengerti! Ini adalah kawasan yang dilarang sama majikanku," cegahnya berusaha menghalang-halangi.


"Enggak mau mbak. Memang kenapa sih? Apakah ada sesuatu tersembunyi didalam? Aku akan tetap masuk, paham!" bantahku yang sudah ngotot.



"Mungkin didalam hanya kucing. Sekarang pergi kamu ... cepetan pergi. Sebelum majikanku datang! Dan jika kamu ngotot, nanti bisa-bisa aku juga yang akan kena masalah dan semburan majikan."


Pembantu Salwa mulai merasa takut. Mungkin dia diamanahi untuk menjaga. Terlihat sekali pembantu Salwa sudah merasa gelisah, akibat diriku kekuh tak mau pergi, dan ingin membuka pintu gudang.


"Aaah, kamu cepetan 'lah pergi sana! Sebelum majikanku benar-benar kesini," ucapnya sambil menarik-narik bajuku.


"Enggak mau, Mbak. Aku benar-benar ingin masuk kedalam, sebab aku yakin pasti didalam ada orangnya!" tolakku yang masih kekuh tak mau pergi.


"Enggak," jawabku mantap.


"Tolong ... tolong. Ada orang yang mau berbuat jahat," teriak-teriak pembantu Dona menuduhku.


"Wah, kamu benar-benar sadis dan gila mbak," responku yang sudah mengambil ancang-amcang mau berlari, untuk segera menjauhi gudang.


"Biarin. Husss, pergi sana," usirnya.


"Awas, kalau ketemu."


Langkah sudah sekencang-kencangnya berlari terbirit-birit, di karenakan ketakutan yang bisa-bisa bakal ada pemukulan massal, akibat tuduhan palsu pembantu Salwa.


"Ada apa ... ada apa ini?" teriak Salwa saat bersimpangan denganku, yang sedang berlari.


"Hei, kamu? Siapa kamu? Tunggu kamu!" Cegah Salwa yang mencoba berbalik arah yang tadinya mau ke gudang sekarang malah mengejarku.


Namun pada kenyataanya Salwa tidak bisa mengejar, sebab tangan Adit sudah mencengkalnya supaya terhenti.


"Hhhhhhhhh," tarikan nafasku yang ngos-ngosan akibat lelah.


"Untung saja tidak ketahuan siapa diriku tadi, huuff ...huuf," ucapku yang menghembuskan nafas dalam-dalam akibat merasa tenang, saat diri ini sudah mendekati mobil Adit, yang terparkir agak jauh dari rumah Salwa.

__ADS_1


Perasaan sudah cukup merasa lega, sebab saat bertemu dengan Salwa tadi, untung dengan sigap wajah kututup dengan tangan.


"Semoga saja ... semoga saja, Salwa tadi tidak mengenaliku," guman dalam hati yang sudah masuk ke dalam mobil Adit.


Hampir lama juga menunggu Adit, yang tak kunjung-kunjung jua keluar dari rumah Salwa.


"Bagaimana kedaanmu?" tanya Adit saat lemah duduk dikursi mobil.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" balik tanyaku.


"Aku juga baik, maaf tadi agak lama keluar, sebab Salwa sempat curiga pada kita ,tapi dengan kelihaianku yang sudah merayunya, dia sepertinya mulai percaya lagi," penjelasan Adit.


"Bagus 'lah, kalau begitu. Bagaimana tadi? Ada petunjuk tidak didalam rumahnya?" tanyaku penasaran.


"Gak ada. Aman-aman saja didalam, dan sudah ketulusuri semuanya tapi masih saja tetap nihil," keluh Adit.



"Bagaimana dengan kamu?" tanyanya balik.


"Aku ada sedikit keanehan dalam gudang!" ujarku memberitahu.


"Wah, benarkah itu. Digudang tadi maksudnya?"


"Yap. Aku tidak bisa terlalu jelas melihat keadaan didalamnya sebab gelap, dan sepertinya tidak ada apa-apa didalamnya. Tapi yang jadi keanehanku ada suara didalam sana tadi, dan suara itu sempat terdengar begitu kuat seperti ada yang menjatuhkan sesuatu. Kalaupun binatang tidak akan sekuat itu, kalaupun hantu masak di siang-siang bolong begini ada hantunya," penjelasanku merasa ada kejanggalan.


"Benarkah itu?" tanya Adit tidak percaya juga.


"Benar, Adit. Tapi tadi keburu ketahuan sama pembantu Salwa, yang sudah berteriak-teriak kepadaku, sehingga diri inipun tidak bisa lebih tahu, ada apa sebenarnya didalam gudang itu?" Kekecewaanku berkata.


"Kalau begitu kita tunggu saja, dan tetap harus mengawasi rumahnya! Siapa tahu ada petunjuk lagi, dan saat Salwa lengah kita bisa beraksi lagi," ide Adit.


"Baiklah."


Entah apa yang kulakukan sekarang, yang jelas aku juga sangat mencinta Ana. Tapi disebalik itu semua, diriku sudah mengikhlaskan Ana bersama orang lain, sebab bagiku tiada guna lagi bila kita mencintai orang lain, tapi orang itu tak mencintai kita. Walau berusaha semaksimal mungkin mendapatkannya, tapi nak berkata apa lagi? Kalau jodohku bukan bersama dia. Dia teman yang sangat memperhatikanku saja, itu sudah cukup bagi diri ini merasa bahagia. Bagiku teman selamanya akan bisa awet, dibandingkan dengan cinta yang telah terjadi, sebab bisa-bisa menghancurkan hubungan pertemanan yang sudah terjalin, setelah sekian lama bersama.


Sudah lama sekali aku dan Adit menunggu dalam mobil, tapi belum ada tanda-tanda pergerakan dari Salwa.


"Ayo masuk ... ayo masuk," teriak-teriak Salwa menyuruh seseorang.


"Edo ... Edo. Lihat ... lihat? Bukankah itu Ana?" ucap Adit memukul-mukul lenganku, saat mata sayu-sayu sudah mulai mengantuk.


Dengan kasar nampak Salwa sudsh mendorong-dorong kasar Ana. Samar-samar tangan Ana terikat, dengan wajah tertutupkan oleh rambut tergerai acak-acakkan. Walau kami tidak jelas apakah itu benar Ana atau bukan, tapi dari poster tubuh kami yakin adalah wanita yang ingin kami selamatkan.


"Hemm, mana ... mana?" jawabku kaget dengan mata langsung terbelalak, dan hilanglah seketika rasa ngantuk itu.


"Itu ... tuh?" ucap Adit antusias.


"Ayo kita turun?" ajak Adit.

__ADS_1


"Tunggu! Jangan gegabah. Bisa ... bisa kita malah gagal menyelamatkan Ana. Kita tungu saja dia lengah," suruhku sudah kebingungan.


"Baik ... baik," kegugupan Adit menjawab tidak sabar.


__ADS_2