Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Penyamaran Jadi Pria


__ADS_3

Dert ... kring ... dert, kali ini panggilan yang ke kepuluhnya telah kuangkat. Sengaja tidak ingin mengeser tombol hijau itu.


[Heh ... ada apa lagi sih, Mas?]


[Kenapa tidak diangkat, sayang?]


[Gak kenapa-napa, cuma males saja berbicara sama kamu]


[Kamu marah 'kaaah?]


[Nggak]


[Wuuuih ... sewot amat jawabannya, kalau ngak marah terus apaan namanya?]


[Tahupun, kalau sedang marah! Masih pakai nanya pulak]


[Heeeh]


Hembusan nafasnya terdengar gemerubuk di handphoneku. Mungkin mas Adit sudah merasa letih, atas kesabarannya menghadapi kesewotanku.


[Maafkan mas ya, sayang! Mas gak bermaksud menyembunyikan ini semua. Sebab mas tahu, jika kamu diberitahu yang sebenarnya, pasti kamu akan marah besar, sebab kamu itu kelihatan ngak suka sama kak Nola]


[Tahupun! Tapi kenapa mas mau juga diajaknya?]


[Habisnya ini semua demi kepentingan perusahaan]


[Ooh ... jadi mas lebih mementingkan perusahaan daripada hatiku, gitu?]


[Bukan gitu, Ana! Mas lagi membangun kerjasama bersama perusahaannya, dan kami ingin memajukan kerjasama itu lebih maju lagi, dengan cara bertemu dengan pengusaha-pengusaha yang akan kami temui malam ini. Makanya aku tuh pamit dulu sama kamu, biar nanti tidak ada kesalahpaham dari kamu, yang bisa-bisa membuat kamu marah]


Penjelasannya yang masuk akal, dan aku mencoba menenangkan diri, supaya mas Adit tak curiga.



[Ya ... ya, aku paham. Terserah sama mas Adit sekarang mau ngapain, tapi awas saja kalau kamu berbuat macam-macam sama dia, bakal kuhancurkan apa yang kamu miliki]


Ancamku pura-pura marah.


[Hahahahha, sadis bener ancamannya. Memang kamu bisa hancurkan milik mas? Kamu saja gak ngerti masalah manajemen]


[Ciiih, jangan remehkan Ana, gitu lho! Gak itu aja yang dapat kuhancurkan, cinta, hubungan, harta, dan yang lebih utama diranjang. Semua dapat kuhancurkan bila aku mau, tapi dengan syarat mas Adit sudah nyeleweng]

__ADS_1


[Hihihihi, yang terakhir masalah ranjang, apaan tuh! Memang bisa?]


[Bisa 'lah, itu mah masalah gampang]


[Kamu aja kalau dekat mas selalu grogi dan bersemu merah, dan lebih utama klepek-klepek sama ciumanku, mau hancurkan? Gak salah?]


[Ciiih, sombong amat mentang-mentamg cowok. Pokoknya ada dech caranya, rahasia]


[Jadi penasaran, apa itu? Kalau mau terungkap, berarti mas harus cari perempuan lagi, dong!]


[Niiih, kepalan tinju kalau berani! Pasti akan cepat melayang]


[Hahahahha, enggak sayang. Cintaku hanya untukmu, kasih sayang ini akan terus terukir dihati, dan akan tercurah hanya untuk kau seorang]


Perkataannya barusan membuat hati klepek-klepek, akibat tersentuh mendengarkan tutur manisnya.


[Ya sudah. Yang penting mas sudah pamit dan meminta izin kamu, sekarang aku mau lanjut bekerja dulu, oke!]


[Heem, assalamualaikum]


[Walaikumsalam, bye ... bye sayang. Emuuuach]


Rasanya geli aja mendengar ciumannya barusan, dan baru kali ini itu terdengar, sehingga menimbulkan desiran aneh pada diriku.


Langkah demi selangkah kini sudah memasukki gedung, dan akupun tak membuang-buang waktu, untuk langsung menemui manajer pelayan acara pesta.


"Selamat sore, apakah ini dengan pak Ahmad?" tanyaku pada seseorang, yang sedang mengarahkan pelayan.


"Oh iya, saya sendiri! Ini ... pasti bu Ana 'kan?" tanyanya.


"Iya, bener. Ini saya," jawabku sambil mengulurkan tangan.


"Pak Rudi sudah menceritakan semua, jadi mari ikut saya sekarang," ujar pak Ahmad mengajakku, untuk mengikuti langkahnya.


Dan pada akhirnya kami sudah sampai ke sebuah ruangan khusus, yang sepertinya adalah ruang ganti pakaian.


"Bu Ana bisa masuk ke dalam, disana nanti akan ada perlengkapan anda untuk penyamaran," jelas beliau sambil membuka pintu ruangan, agar aku masuk.


"Iya, Pak."


"Kalau begitu saya permisi dulu, mau mengawasi yang lainnya. Kalau anda sudah selesai ganti pakaian, bisa bergabung dengan pelayan lainnya, dan apabila ada hal yang tidak dimengerti, nanti bisa mencari saya," tutur beliau pamit sambil menjelaskan.

__ADS_1


"Oh iya, Pak! Terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Tak membuang-buang waktu, langsung saja pakaian kuganti, dengan atasan kemeja putih, bawahan celana hitam, dasi kupu-kupu hitam, rambut palsu, sepatu khas cowok, serta tak lupa kumis, yang kini itu semua sudah melekat dibadanku. Terlihat perfeck sekali penyamaran ini, sampai akupun lupa bahwa aku adalah seorang wanita, sebab muka sudah begitu tampan.


"Eghem ... hemm ... cek ... cek. Silahkan nyonya dan tuan, ambillah minumannya," ucapku menganti pita suara menjadi pria, agar tak diketahui penyamaran.


Semua sudah lengkap, dan suarapun sudah berubah bisa menirukan suara pria. Sekarang aku sudah berjalan memasukki ruangan pesta, dan telihat sudah banyak sekali para tamu undangan datang.


Nampan berisi aneka rasa minuman, kini sudah bertengger kupegang, yang mencoba melangkah menawarkan kepada para tamu undangan. Mata terus saja fokus, untuk mencari sosok yang menjadi incaran.


Dan kini netra sudah melihat sekertaris Rudi clingak-clinguk seperti mencari seseorang, yang tampa banyak kata kuhampri dia.


"Ekehemm ... Hemm," dehemanku mendekatinya.


Tapi sekertaris Rudi seperti acuh tak mengenaliku.


"Egkheem ... hemm," untuk yang kedua kali mulut berdehem.


Wajahnya memicing, dan mengekspresikan mau menebak.


"Ana?" ucapnya tiba-tiba, dengan suara keras.



"Shuuuut," suruhku memelankan suara.


"Wah, penyamaranmu begitu sempurna, sampai aku tidak mengenali kamu," ucap sekertaris Rudi, yang memberikan acungan jempol.


"Gimana? Apa sudah ada incaran?"


"Mereka belum datang kayaknya, sebab sudah kucari berkeliling, tapi belum nampak batang hidung mereka," jawabku menjelaskan.


"Wah, aneh betul. Padahal pak bos tadi berangkatnya duluan, dari pada diriku. Apa jangan-jangan menjemput wanita itu dulu?" Kecurigaan sekertaris Rudi berbicara.


"Apakah itu benar? Wah ... wah, benar-benar mas Adit ini, mentang-mentang sudah kukasih izin pergi, main jemput orang saja," kekesalanku.


"Ya sudah kamu tenang dulu, jangan ada emosi, bisa-bisa semua rencana kamu akan gagal," respon Rudi menenangkanku.


"Heeeh, iya dech. Aman kok."

__ADS_1


Kutinggal sekertaris Rudi sendirian, sebab tidak enak aku adalah pelayan, tapi bisa ngobrol lama sama tamu. Langkah masih saja sibuk melayani, untuk memberikan tamu minuman.


__ADS_2