
Sambil menunggu kedatangannya, mata kini menerawang ke arah jalanan yang telah ramai berlalu lalangnya kendaraan, sehingga kini sudah teringat bayang-bayang akan penghianatan teman, dan sungguh itu sangat mengecewakan hati.
"Aah ... apakah aku telah salah mempercayaimu, Kak? Sudah lama kita tidak bertemu, dan ternyata kamu telah banyak berubah menjadi kejam begini!" guman hati yang kecewa.
Tok ... tok, pintu ruanganku telah diketuk.
"Masuk," suruhku.
"Hai Adit! Gimana kabar kamu?" sapa Kak Nola, yang kini kelihatan tambah cantik dan sexy.
"Aku baik, Kak. Kalau kamu?" balik tanyaku menyapa.
"Aku juga baik."
"Waaaah ... tumben-tumbennya kamu menyuruhku kesini, ada apaan nih? Biasanya aku lho, yang perlu sama kamu, dan datang sendiri ke sini?" Basa-basinya yang memuakkan.
Berbicara seperti biasa agar dia tidak curiga. Wajah dan sikap kubuat sesantai mungkin.
"Gak ada apa-apa sih, Kak. Cuma kangen saja ngobrol sama kamu, sebab siapa tahu ada info lagi dari Kakak tentang memajukan dan menambah terkenal perusahaan," jelasku.
"Ooh, kalau masalah itu sementara ini belum ada perusahaan yang bisa diajak kerjasama. Akupun sekarang sedang mencari juga, tapi susah mau mencari mitra kerja yang bagus, mereka maunya untung banyak, ngak kayak perusahaan kamu untung dibagi sama rata 50%. Aku benar-benar senang atas kerja sama bersama kamu, sehingga perusahaan punyakupun melejit tenar, gara-gara bergabung sama perusahaan kamu. Sungguh merk-merk pakaian kamu top no 1, yang tiada tandingannya," jelasnya memuji.
"Aah ... biasa saja Kak, semua berkat kerja keras saja," jawabku santai.
"Ooh ya, ngomong-ngomong bagaimana tentang kualitas kain dari perusahaanku? Puas tidak mereka? aku sangat penasaran nih!" ucapnya yang kepo.
__ADS_1
Obrolan masih pura-pura. Ingin mencari sesuatu, yang siapa tahu Kak Nola nanti telah salah berkata sehingga aku bisa menguak semuanya.
"Entah. Akupun tidak tahu, sebab itu semua bagian karyawan yang menangani, dan aku hanya menerima uang dan tinggal tanda tangan saja."
"Ooh."
"Kamu kelihatannya dari tadi memperhatikanku dengan tatapan tajam? Hayo kenapa? Naksir 'kah?" ucapnya kepedean.
"Gak kok Kak, aku gak akan tergoda sama siapapun, sebab cintaku hanya pada istri seorang."
"Wah ... aku salut kepadamu, ternyata kamu type cowok yang setia, benar-benar beruntung istri kamu itu," pujinya lagi.
"Heem," seyuman kecut menghargai, yang kini kuberikan padanya.
Tatapan mata menyorot begitu tajam. Kebencian dan kemarahan jadi satu. Masih bisa mengontrol semuanya sebab tidak ingin gegabah dalam bertindak.
"Kenapa sih, Adit? Kamu kayak kelihatan gak suka, sebab dari tadi terlihat kamu memperhatikanku secara tajam? Ada yang anehkah pada diriku?" tanya yang risih.
"Gak kok, Kak. Aku hanya kagum saja sama kecantikanmu, yang ternyata masih awet muda sampai sekarang," alihnya pembicaraanku.
Ucapan sudah kubelokkan, agar dia tambah tak curiga. Sebenarnya aku memang sedang memperhatikan, sebab ingin melihat gerak-gerik tingkah dan mulut Kak Nola, yang siapa tahu bisa memberikan jawaban atas kebohongannya selama ini padaku.
"Kerjaan kamu dari tadi seperti tidak fokus, dan hanya memperhatikanku saja?" perasaannya yang tak enak akibat kutatap.
"Iya nih, aku lagi tak fokus. Dikarenakan perusahanku sedang ada masalah," ucapku berusaha memancing.
"Memang ada masalah apa? Siapa tahu aku bisa membantu kamu," kepura-puraannya yang memuakkan.
Tanpa menjawab pertanyaannya, langkah sekarang menuju meja kebesaranku, untuk mengambil paper bag yang berisikan pakaian yang dibawa mama sama Ana kemarin.
__ADS_1
"Ini kak!" kuberikan paper bag padanya.
"Apa ini?" tanyanya binggung.
"Buka aja, dan lihatlah!" suruhku.
Tangan kak Nola kini sibuk mengambil pakaian itu, dan terlihat wajahnya sedikit berubah seperti kaget, tak seceria lagi ketika dia baru datang tadi.
"Apa ini, Adit?" tanyanya pura-pura tak tahu.
"Itu adalah kain yang menjadikan masalah diperusahaan, dan sekarang pihakku tidak tahu siapakah yang telah membuat onar, dan seperti mau menjatuhkan usaha yang sudah maju," terangku berkata.
"Benarkah?" tanyanya pura-pura kaget.
"Kalau aku ketemu pelaku yang melakukan ini, pasti akan kucincang-cincang seperti daging, sehingga bisa mudah kutusuk-tusuk seperti sate. Braaaak," Gebrakku dimeja pura-pura kesal.
Terlihat wajah kak Nola sudah beringsut ciut, seperti takut atas ucapanku barusan.
"Mentang-mentang perusahaanku besar, dikiranya aku takkan tahu masalah sekecil ini. Jika nanti ketemu pelakunya pasti langsung kuhajar, dan terjebloskan ke penjara dengan tuduhan penipuan. Gimana, Kak?" tanyaku.
Wajah kak Nola sudah memerah seperti takut, dengan meneteskan peluh dikeningnya yang sebesar biji jagung.
"Eeh ... eeh, aku ngak tahu Adit. Itu terserah sama perusahaan kamu saja. Ooh ya, aku mau permisi pamit pulang dulu, ada yang ingin kukerjakan sekarang," ucapnya yang sudah berdiri, seperti cepat-cepat ingin pergi.
"Yah, kak Nola gak seru nih kamu! Aku belum selesai ngobrol sama kamu," keluhku dalam pura-pura.
"Lain kali saja ya Adit, aku benar-benar harus pergi. Maaf ya, bye ... bye!" pamitnya yang sudah tergesa-gesa melangkah ingin keluar.
"Kak, tunggu ... tunggu!" panggilku pura-pura.
__ADS_1
"Maaf ... maaf Adit, jebret!" ucapnya yang langsung menutup pintu kuat.
Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengikutinya, dan gawai yang sedang tergeletak dimeja, langsung saja kusambar untuk dibawa