Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Mengikutinya Diam-diam


__ADS_3

Terlihat kak Nola sudah tergesa-gesa berjalan, sambil wajah tak henti-hentinya menengok ke kanan kiri, mungkin sudah takut kalau ada orang yang mengikutinya.


Tak berselang lama dia berhenti, yang ternyata dia tidak langsung pergi keluar dari perusahaanku, tapi seperti menuju ke ruang pegawai pemasokan barang. Terlihat dia sibuk dengan gawai, yang sepertinya sedang menelpon seseorang yang penting, dan pikiranku menebak kalau dia menelpon pria kemarin, yang terpukul akibat kepergok menukar barang.



[Rudi, kamu panggil dan hadang pria yang menukar barang kemarin, jalankan misinya sekarang! Sepertinya kak Nola sedang menelpon, untuk bertemu dengan pria itu]


[Baik, bos]


Mata terus saja fokus melihat Kak Nola, dengan tingkah seperti khawatir diiringi oleh wajah anehnya. Benar saja atas dugaanku, bahwa kak Nola benar-benar bertemu dengan pria itu, yang terlihat kepala pria itu hanya menundukkan kepala berkali-kali, seperti setuju atas menjawab perkataaan Kak Nola. Akupun sedikit kecewa karena tidak dapat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan, sebab diriku sedang mengawasi dari kejauhan. Kelihatan Kak Nola memerintahkan sesuatu pada pria itu, yang terlihat dia sudah memberikan sebuah amplop coklat, yang isinya kemungkinan adalah uang.



"Aku harus tahu, apa yang diperintahkan Kak Nola pada pria itu?" guman hati berbicara.


Setelah dirasa cukup, terlihat Kak Nola sudah melenggang pergi, dengan kaki melangkah lebar-lebar seperti sedang dikejar hantu.

__ADS_1


"Tunggu!" perintahku pada pria itu.


"Bos!" Keterjutannya langsung menundukkan kepala.


"Berikan amplop coklat itu," suruhku.


"Tapi, Bos."


"Gak ada tapi-tapian, CEPAT! Kalau kamu ingin selamat dan tidak aku laporkan sama polisi" Bentakku melengkingkan suara.


"Ii-iii-iya, Bos!" Kekagetannya kikuk yang langsung memberikan amplop itu.


"Pekerjaan apalagi yang disuruh Nola untukmu? Sehingga dia telah memberikan imbalan uang ini?" tanyaku penasaran.


"Dia menyuruh menghentikan sementara penukaran barang itu, biar tidak diketahui bahwa dialah pelakunya," jelasnya bermuka pucat.


"Ada lagi selain itu?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Gak ada, Bos. Cuma dia menyuruh berhati-hati, katanya dalam perusahaan bos sudah ada yang komplain tentang kain," terangnya sambil menundukkan kepala.


"Gak ada yang lain lagi, informasi yang lebih penting?."


"Gak ada, Bos."


"Ya sudah kalau begitu kamu boleh pergi sekarang. Tapi ingat, kamu harus tetap berpihak pada kami, dan pastinya gaji akan kunaikkan 3x lipat dari yang Nola berikan. Jika semua kelicikan mereka terbongkar, maka kamu tidak akan kulibatkan. Asalkan tetap bisa diajak kerja sama dan masih tetap setia memberi semua informasi pada kami," jelasku memberi keringanan.


"Terima kasih bos, atas semua kebaikanmu. Anda telah memaafkanku, walau engkau tahu bahwa diri ini sudah banyak melakukan kesalahan dan terlalu merugikan," jawabnya tak enak hati.


"Aku memaklumi keadaanmu, mungkin kamu melakukan semua ini karena ekonomi keluarga."


"Iya Bos, bener."


"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang."


"Iya, permisi."

__ADS_1


Pria yang menjadi sekongkolku telah pergi, dan otakpun kembali dibuat pusing untuk mencari seribu cara, sebab kak Nola sudah agak ketakutan jika ketahuan, sehingga sedikit menyulitkan untuk segera membuka kesalahannya.


Mobil sudah melaju cepat, agar sampai ke rumah sakit untuk menjenguk Ana yang masih dirawat.


__ADS_2