
Tanpa dia ketahui, siasatku ternyata dengan mudahnya sudah terlaksanakan. Semua nampak sempurna tanpa kendala.
Karin kelihatan tidak bisa apa-apa, dibekap dengan sapu tangan yang sudah dibubuhi obat bius oleh orang suruhanku.
Hanya bisa mngawasi dari kejauhan dalam mobil. Karin terlihat berusaha meronta dan memukul lengan orang suruhan dengan memakai tangannya.
Tidak butuh waktu lama, kini dia sudah terkulai lemas tak berdaya. Akibat kuat pengaruh obat bius, sehingga membuatnya sekarang pingsan. Orang suruhan sudah mengotong pelan tubuh Karin memasuki mobil mereka.
"Semoga saja tidak yang melihat aksi orang suruhanku tadi. Bisa gawat kalau ada yang mengetahui," guman hati sedikit takut.
Mobil mereka sudah berjalan duluan, aku hanya bisa mengikuti mereka dari belakang dengan laju sekencang-kencangnya, sebab rasa grogipun sudah menghampiri dikarenakan baru pertama kali ini aku melakukan penculikan.
******
Tanpa ada orang yang mengetahuinya termasuk pembantuku, kini tubuh Karin yang masih pingsan sudah dipapah anak buah, dengan posisi kaki telah menyeret tanah sebab masih tidak sadarkan diri. Sesuai perintah, menyuruh mereka membawanya ke gudang belakang rumah, yang sudah lama tidak terpakai lagi.
"Gimana, Bos? Kamu pasti senang sebab kami telah berhasil?" tanya mereka.
"Emm, tentu saja aku senang. Akhirnya wanita si*lan ini telah terlumpuhkan juga," jawabku sudah tersenyum sinis sambil mringis.
"Terus kita apakan dia sekarang?" imbuh salah satu orang suruhan.
"Entah. Aku belum ada rencana selanjutnya. Yang jelas, aku ingin bermain-main dengannya dulu, seperti dia telah membuat hatiku dipermaikan oleh orang yang kucintai," geramku sudah mengepalkan tangan, akibat muak melihat wajah Karin yang kepalanya masih terkulai lemah belum sadarkan diri.
"Terima kasih atas bantuan kalian. Upah akan kutransfer segera ke rekening kalian," imbuhku.
"Seharusnya kamilah yang berterima kasih, sebab melakukan pekerjaan mudah tapi bayarannya tinggi."
"Ok Bos, kami akan tunggu uang itu masuk," ucap salah satu dari mereka.
"Emm."
"Oh, ya kami pergi dulu. Kalau butuh bantuan panggil kami saja. Siap siaga akan datang membantu kamu lagi." Pemberitahuan mereka yang antusias.
"Sipp, pokoknya kalian harus bisa dipercaya. Jangan sampai ada yang tahu mengenai ini, sebab bonus untuk kalian akan selalu datang jika bisa menuruti semua perkataanku," cakap memberi iming-iming.
"Wah, benarkah itu? Sipp, pokoknya kami akan selalu jadi anak buah yang setia."
"Emm, ok. Sekarang kalian pergi dengan hati-hati keluar dari sini. Jangan sampai ada orang yang tahu."
"Ok, Bos. Terima kasih."
"Hmm."
Kuikat erat kedua pergelangan tangan Karin mengarah ke belakang tubuhnya, yaitu menggunakan lakban perekat hitam memutar berulang-ulang kali, dan kakinya kuikat dengan tali secara kuat.
__ADS_1
Sekarang aksiku tak berhenti sampai disitu, tubuhnya kini sudah kuseret-seret ke pojok gudang rumah. Kugeletakkan tubuh perempuan si*lan ini dengan cara menghempaskannya kuat-kuat, serta tak lupa jua mulutnya sudah kusumpal dengan kain.
Rasa amarah yang berapi-api ingin sekali memberi pelajaran. Rasanya asap api sudah sampai ke ubun-ubun kepala, tidak tahan ingin meluapkan semuanya.
Netra sudah melihat ke kanan kiri sekitaran gudang, untuk mencari benda yang bisa memuaskan perasaanku.
Kuambil potongan balok kayu jati yang tergeletak dalam gudang, dan sekarang kuarahkan kayu itu ke tubuh Karin untuk dipakai menghajarnya.
"Bhuuugh ... bhug ... bhuuugh," Suara tubuh Karin kuhajar dengan bertubi-tubi dan bengisnya.
Dengan kuat dan sekencang-kencangnya, kini kupukulkan kayu balok itu disembarang arah tubuh Karin. Tak hanya cuma sekali kayu itu menimpa kepala Karin, tapi bagian tubuh yang lainpun berkali-kali kupukulkan kayu dengan sekenanya saja.
Amarah sudah tidak bisa dikendalikan, akibat kebencian padanya yang terus saja menumpuk dan terpendam. Terdengar dia mulai mengerang kesakitan dengan lirihnya, serta darahpun mulai mengalir keluar dari pelipisnya, bahkan sudah ada yang menetes di ubin keramik.
"Eeh ... emm," Suara lemah Karin, dengan sedikit meliuk-liukkan badan.
Hatiku sudah dingin, bahkan mungkin sudah membeku bagai kerasnya batu, akibat sakit hati yang dibuat perempuan si*lan ini. Hari ini akan kubuat dia merasakan akibatnya, sebab telah merebut Adrian dariku.
Dengan tubuh masih terikat, kulihat wajah Karin sudah mulai pucat dengan tubuh masih terkulai lemas. Matanya sudah mulai terbuka. Tubuhnya sudah mulai kuat meronta-ronta.
"Eemm ... eemm." Sepertinya Karin ingin berbicara.
Namun kuacuhkan saja permintaannya, kini kerjaanku hanya menatap kegirangan, saat wajah Karin mulai sendu akibat penyiksaanku.
Langkah kaki kini sudah menghampiri Karin lebih dekat lagi, dengan cara duduk berjongkok. Matanya menatap sayu, seperti sedang memohon untuk minta dilepaskan.
Darah merahpun sudah mulai agak mengering, yang tadinya sempat mengalir diwajahnya, dan itu membuatku semakin gembira bukan kepalang.
"Eeem ... emmm." Untuk kesekian kalinya Karin meronta, untuk minta dibuka bekapan.
Karena penasaran langsung kutarik paksa dan kasar sumpalan kain, yang masih sempat menutup mulut wanita yang menurutku br*ngs*k tersebut.
"Bukakan ikatanku, Yona?" pintanya memohon.
"Cuuuuih, dasar manusia tak tahu diri dan malu, kamu benar-benar wanita si*lan," umpatku marah-marah padanya dengan meludah di lantai.
"Ayolah Yona, lepaskan aku! Aku mohon dengan sangat ... sangat, untuk segera melepaskanku," ujarnya yang mulai menangis.
"Jangan harap," mataku menatap geram padanya, sambil tangan terus mengepal.
Rasa sakit yang kemarin-kemarin selalu tertahan, kini sudah mencapai batas maksimalnya.
"Ampuni aku, Yona. Maaf ... maafkan diriku," ujarnya memelas lagi, yang masih berderaian airmata.
"Kenapa kamu begitu kejam padaku?" tanyanya kian tersedu-sedu.
__ADS_1
"B*ls*t. Kamu jangan tidak tahu dalam kepura-puraan yang bodoh itu. Dasar wanita tak tahu malu," cakapku sudah menjambak kuat dan kasar rambutnya.
"Aaaaa. Ampuni aku. Janji tidak akan mengatakan pada siapapun, jika kamu melepaskanku. Dan yang terpenting semua keinginanmu akan kupenuhi semuanya," ujarnya yang kian menitikkan airmata pilu.
"Tidak bisa!" bentakku.
"Memang kamu itu pantas menyandang wanita tak tahu malu. Dulu kamu telah merebut Adrian, tapi itu bisa kumaafkan sebab kamu menjauhinya. Sekarang ketika kami sudah dekat menjalin hubungan, lagi-lagi dengan kejamnya kamu merebut dia kembali, dan kali ini betul-betul tidak bisa dengan gampangnya kumaafkan, mengerti!" ucapku menjelaskan.
Plak, sekali pukulan kuat pipi Karin sudah kugampar.
"Sekarang akan kubuat semuanya berakhir, dan yang pastinya kamu akan merasakan yang namanya tersiksa, seperti sakitnya hatiku yang sudah tersiksa akibat ulahmu," bentakku sambil terus menatapnya tajam, seperti cepat-cepat ingin menghabisinya.
"Maafkan aku Yona," Permohonannya lagi.
"Maaf ... maaf, bagiku semua itu sudah terlambat. Dan amarahku sekarang tak bisa turun lagi, sebelum benar-benar membuatmu tersiksa dan menderita," jelasku penuh amarah dendam.
"Bukakan ikatanku dulu, aku benar-benar akan mengabulkan permintaanmu. Apapun itu, jadi kumohon lepaskan aku, ya ... ya!" tawarnya berusaha bernegosisasi lagi.
"Dengan apa kamu bisa mengabulkan permintaanku, sedangkan Adrian sudah menjauhiku dan mencintaimu," terangku merasa bersedih, yang sekarang gantian diriku yang menitikkan airmata.
"Aku bisa meminta kak Adrian untuk mencintaimu dan masalah penculikan ini tidak akan kubilang pada siapapun," ungkapnya memberi solusi.
"Itu mustahil terjadi, sebab Adrian tidak akan bisa melakukan itu dengan mudahnya, karena hatinya selalu ada dirimu. Aku bukan wanita bod*h. Pasti Adrian tidak akan tinggal diam dan akan mencari sebab musabab kamu bisa mendadak meminta itu," penjelasanku dengan mengusap airmata.
"Tapi beneran, Yona. Aku akan mengabulkan semua permintaan kamu, tapi dengan syarat lepaskan aku dulu," kekuhnya yang masih terus berbicara.
"Aaaah ... perset*n dengan itu semua. Aku tidak mau semua itu."
"Apakah selama ini kamu pernah berpikir, kalau cintaku lebih besar dari pada kamu, tapi karena ulahmu Adrian menjauhiku. Yang terpenting sekarang adalah aku akan terus bermain-main denganmu, ha ... hahaha," gelak tawaku puas.
"Jadi persiapkanlah tubuhmu ini! Hahaha, siap-siaplah apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aduuh ... duh, ck ... ck, kasiannya." kegiranganku yang terus saja merasa senang.
Entah mengapa rasanya aku sudah tidak punya rasa iba lagi, hatiku terasa perih dan sakit seperti pisau telah menusuk dan menghujamnya, ditambah garam telah mengoles sehinggga pedihlah hati ini.
Lagian Adrian sudah kembali atas rasa sukanya pada Karin, saat aku kendengar calonnya telah membatalkan pernikahan. Rasa sakit itu berubah menjelma menjadi kekuatan dendam, yang kini kian hari menjadi bertambah membara.
"Apakah lebih baik kuhabisi saja nyawanya sekarang?" hati sudah berbisik-bisik, untuk melakukan sesuatu yang lebih.
"Aah, kupikir memang keinginanku selama ini, yaitu menyingkirkan Karin. Hmm, apakah aku harus membunuhnya?" Kepala terus saja berputar-putar berpikir, saat melihat Karin masih melemah.
Rasa iba rasanya sudah mati dalam hati, dan semuanya sudah terkubur didalam jiwa. Mulut Karin kusumpal lagi dengan kain. Kubiarkan dia sendirian dalam kegelapan gudang, dengan sejuta nyamuk yang kemungkinan akan mengerubungnya nanti.
****
Apakah Karin akan benar-benar dibunuh? Lalu bagaimana dengan Adrian dan Chris yang sedang mencari?
Siapakah yang akan mendapatkan cinta sesungguhnya dari Karin?
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya😊Maafkan author🙏jarang update, sebab dunia nyata lebih penting, tapi akan tetap up sampai tamat. Terima kasih yang sudah mampir🙏🙏🙏