Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Ketenangan dalam pelukan


__ADS_3

*Sedikit review part 3**6*


Tubuhku terasa begitu lemah sekali, dengan kaki sudah terasa pegal ngilu berdenyut. Kepalapun mulai pusing begitu hebat, dengan dada rasanya mulai sesak susah sekali menghirup udara dengan benar.


Bhugh, tuan Chris sudah menutup pintu mobilnya.


"Ayo bawa ini ... Ini, biar yang lainnya aku bawa saja," suruhnya.


Suaranya yang selalu banyak bicara tak lagi kudengar baik lagi dipendengaranku, sebab rasa-rasanya bunyi itu bagaikan dengungan lebah yang terus saja bersuara memekak dalam telinga. Padanganku kini kian lama kian kabur tak bisa melihat jelas tubuh tuan Chris. Pusing yang melanda telah membuat tubuh ini bagai tak bisa menahan tubuh sendiri, hingga angin yang menerpapun seakan-akan ingin menghempaskan tubuhku segera supaya aku bisa oleng.


Bhuugh, tiba-tiba tubuhku sekarang benar-benar tak seimbang jatuh, hingga tanpa terasa telah terjerembab ke belakang.


"Hei Karin ... hei, bagunlah! Kamu kenapa, hei?" Suara panggil tuan Chris yang terdengar khawatir.


Aku yang tak sadarkan diri, membuat mulut ini seakan terasa tergembok tak bisa langsung membuka mulut untuk menjawab. Sekarang diiringi mata terasa kuat sekali terpejam, hingga hanya indra pendengaranlah yan kini berfungsi jelas bisa mendengarkan, atas suara yang terus saja memanggil namaku.


Tubuh kini terasa sudah melayang diudara, yang aku pikir tuan Chris sudah mengendong dan mengangkatku. Hingga tanpa terasa kini tubuh seakan-akan terasa tergolekkan disebuah empuknya kapas, hingga tempat itu membuat tubuh nyaman sekali untuk aku tempati.


Sudah sekian menit lamanya dan entah berapa lama aku terpejam, hingga akhirnya ada benda dingin menyentuh sekitaran dadaku dan ada tangan halus sedikit meraba memicit pelan bagian perutku. Karena aku tak ingin ada orang lain berbuat sesuatu yang tak diinginkan, mata kucoba paksakan untuk sayu-sayu mulai terbuka.


"Kamu sudah sadar? Alhamdulilllah," Suara seorang perempuan mengucap syukur.


"Apakah kepala kamu masih pusing? Atau ada bagian tubuh yang lain sedang merasakan sakit?" tanya perempuan cantik berbaju khas putih yang sepertinya adalah dokter.


"Tidak ada, dok. Kini aku baik-baik saja," jawabku lemah.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu harus jaga kesehatan dan bayi yang kamu kandung dengan hati-hati, sebab kondisi kamu begitu lemah," Nasehat dokter perempuan yang habis memeriksaku.


"Iya, dok. Terima kasih."


Setelah selesai memeriksa, akhinya dokter keluar kamar tuan Chris, dengan membantu merapikan selimutku terlebih dahulu. Terdengar suara tuan Chris sedang riuh bersama penjelasan dokter, setelah habis memeriksa keadaanku barusan.


"Huufff, apa yang harus kulakukan pada tuan Chris? Gimana aku akan menjelaskan semua ini padanya? Pasti dokter akan memberitahu kehamilanku ini? Apa aku akan dipecat nanti, seandainya tuan Chris tahu kebenarannya?" guman hati yang sedikit khawatir.


Tok ... tok, pintu diketuk perlahan.

__ADS_1


Ceklek, pintu kini sudah terbuka tanpa aku menjawabnya dulu.


"Gimana keadaan kamu, Karin?" tanya tuan Chris nampak khawatir.



"Aku baik-baik saja, tuan!" jawabku yang berusaha bangkit dari kasurnya.


"Kamu tak payah turun. Istirahatlah dikamarku untuk malam ini dan kamu tak payah pulang hari ini," suruh tuan Chris baik hati.


Tuan Chris kini pelan-pelan duduk dipembaringannya sendiri, dengan cara menghadapku.


"Tapi tuan, aku tak mau ibu nanti khawatir," tolakku memberikan alasan.


"Biar aku yang menelpon mereka nanti, kamu pulihkan keadaan kamu dulu. Dokter bilang kamu dan bayimu lemah sekali, jadi butuh banyak-banyak istirahat," ucap ramah tuan Chris.


"Jadi tuan sudah tahu atas keadaanku yang berbadan dua ini? Maafkan aku tuan, yang telah menyembunyikan semua ini darimu. Tak ada maksud lain dari semua ini, hanya saja aku tidak mau merepot maupun membebankan orang lain lagi," jawabku lesu.


"Tidak apa-apa, Karin. Mungkin kamu ada alasan yang tak bisa kamu ceritakan, jadi aku memaklumi itu. Oh ya, kalau boleh tahu apakah keadaan kamu sudah diketahui oleh bu Fatimah dan suaminya?" tanya tuan Chris penasaran.


"Aku tak akan memecat kamu, asalkan mau menjawab semua pertanyaanku. Maafkan aku jika lancang atas pertanyaanku ini. Aku tahu kalau bu Fatimah tak memiliki anak, jadi siapakah kamu ini sebenarnya?" imbuh tanyanya.


"Tidak apa-apa tuan. Sebelumnya terima kasih sebanyak-banyaknya, sebab masih mau menerimaku untuk kerja disini. Aku memang bukanlah keluarga mereka dan tak ada hubungan darah sama sekali pada keluarga bu Fatimah. Mereka adalah orang tua sambungku yang kedua. Sebenarnya aku hanyalah anak dari panti asuhan yang pernah diadopsi orang. Keluarga kami bahagia pada awalnya, tapi semua hancur atas kecorobohan anak mereka yang telah menodaiku hingga hamil. Ketika tak kuat atas cobaan itu, kemarin diriku berusaha untuk bunuh diri dan suami bu Fatimahlah yang sudah menolongku, hingga sampai akhirnya aku dianggap anak sendiri oleh bu Fatimah dan suaminya," jelasku pilu sambil terisak pelan menangis.


"Maafkan aku, jika pertanyaanku tadi telah membuat kamu mengenang kesedihan itu. Sungguh malang nasibmu, Karin. Apakah kamu tak ingin meminta pertanggung jawaban, sama anak keluarga angkat kamu yang pertama itu?" tanya tuan Chris lagi.



"Aku tak bisa, tuan. Sebab tak ingin menghancurkan keluarga yang sudah mendidik, marawat, dan menyayangiku sepenuh hati. Lagian anak mereka yang sudah menodaiku telah memiliki tunangan dan mereka akan menikah. Bukan aku tak punya kekuatan untuk menuntut keadilan, tapi aku tak mau berbalas kebaikan mereka dengan sebuah penghinaan ataupun pencemaran nama baik keluargaku itu. Lagian selagi aku ini orang hina dan tak mampu, maka selamanya tetap akan seperti itu, makanya aku lebih baik menghindar dengan pergi jauh saja," jelasku masih menitikkan airmata.


"Kamu yang sabar, Karin. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan, hanya saja waktu yang berjalan lambat seakan-akan belum mendukungmu sekarang ini. Tapi yakinlah suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan lagi, tanpa adanya beban hidup yang rumit ini. Kamu memang wanita baik dan sabar. Disaat hati kamu telah terluka, tapi masih saja mementingkan keadaan orang lain dan mengikhlaskan orang yang berbuat jahat padamu bahagia" ucap tuan Chris yang tiba-tiba memelukku dengan tangannya mengelus pelan bahuku.


"Sabar ... sabar ... sabar," imbuh ucapnya berusaha menenangkanku.


"Iya, tuan!" jawabku yang kian menjadi-jadi dalam menitikkan airmata.

__ADS_1


Aku terus saja terhanyut menumpahkan segala sesak didada, dengan cara terus menangis dalam pelukan majikan.


"Menangislah sepuasnya, jika itu membuat kamu bisa tenang dan bahagia," tuturnya lembut masih membujukku agar tak menangis.


"Makasih tuan."


Tangisan kian lama kian banjir deras, seperti air terjun yang mengalir tanpa henti. Sesegukan dalam menyampaikan kesedihan, sampai melupakan diri ini yang tengah lama sekali dipeluk tuan Chris. Rasanya sungguh nyaman sekali ada kehangatan pelukan, saat diri ini benar-benar dalam kesedihan lagi.


"Eghekmm ... heeeem," Suara seseorang tiba-tiba masuk sambil berdehem.


Ternyata asisten Rohmat telah memergokki kami, disaat tak tepat yang sedang lengket berpelukan.


"Maafkan aku, tuan. Telah meminjam bahu kamu, hingga bajupun sampai basah oleh titikan airmataku," tutur kata tak enak hati, saat melihat baju majikan sudah sedikit basah.


"Tak apa, Karin. Selama kamu nyaman-nyaman saja bisa menumpahkan segalanya, aku baik-baik saja atas semua itu," jawab majikan santai.


"Kalian sedang drama apa'an sih? Kenapa kamu sedih begitu, Karin? Tapi, kalian kayak mesra banget? Ikut dong peluk-pelukkan, aku 'kan juga pengen," Suara manja Rohmat.


"Haiist, dasar asisten yang usil. Kami bukan lagi drama, tapi memang kenyataan aku lagi menenagkan Karin yang lagi sedih. Lagian kamu ini main nyelonong masuk tak sopan saja, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," keluh tuan Chris tak suka.


"Hehehehe, maaf bos. Habisnya kalian berdua lama banget didalam kamar ini tadi, aku 'kan jadi kepo," jelas Rohmat santai.


"Sudah ... sudah, biarkan Karin istirahat saja sekarang. Kita keluar dulu, sebab Karin harus banyak-banyak istirahat untuk memulihkan tubuhnya," ajak tuan Chris pada asistennya.


"Yaaah, padahal aku baru ingin melihat keadaan Karin. Nanti dulu saja bos, sebentar saja. Izinkan aku ngobrol sebentar," tolak pinta Rohmat.


"Hiiist, besok saja 'kan bisa. Karin ngak akan kemana-mana, sebab akan bermalam dirumah ini," jelasku.


"Benarkah? Baguslah itu. Kamu baik-baik istirahat disini ya, Karin. Aku sama bos mau bobok dikamar sebelah, bye ... bye," pamit manja Rohmat.


"Iya, kak. Terima kasih."


"Ayo cepetan, Rohmat. Kami keluar dulu Karin. Bye ... Bye, istirahatlah yang nyenyak," pamit tuan Chris juga.


"Iya, tuan.

__ADS_1


Rasanya hati begitu lega kembali, dengan perasaan diliputi hati yang plong, saat ada pria yang mengetahui kondisiku yang tak baik ini. Semoga saja tuan Chris bisa kuandalkan sebagai teman, saat aku dalam kesusahan menerima kehamilan ini.


__ADS_2