Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Penantian


__ADS_3

Bulan berganti tahun terus berjalan, hingga sudah lima tahun lamanya diri ini kehilangan jejak dan tak tahu lagi bagaimana keadaan dan kabar Karin. Hati sungguh rindu ingin melihatnya, namun takdir yang belum berpihak membuat diri ini hanya menahan segala rasa.


Temukan dia untukku.


Pulangkan dia padaku.


Tunjukkan jalan padanya.


Bahwa kutetap disini untuknya.


Berharap dia kembali pulang, untukku.


Penantian ini teramatlah panjang.


Coba kau rasakan sayang.


Letihku diujung jalan.


Dia menghilang membawa semua kenangan.


Terindah yang kurasakan.


Saat bersamanya, sayang.


Hatiku pilu sepilu pilunya.


***Lagu : By Armada (Penantian***)

__ADS_1


Airmata terus saja mengalir jika mengingat wajah dan senyum Karin yang telah menghiasai hari-hariku dulu. Cukup sudah genap lima tahun diri ini terus mencari dan mencari keberadaannya, hingga kini perubahan diriku yang kian dewasa dan matang sampai tak tersadari.


Kehadiran sosoknya yang selalu kurindu, tak pernah lekang oleh waktu untuk melupakan, namun semakin tak menemukan keberadaannya, semakin membuat diri ini tersiksa untuk bertemu dengan Karin dan berharap kembali pulang untuk semua keluarga.


"Apa yang harus kulakukan padamu, Karin? Kemana dan darimana aku harus mencari kamu? Apakah engkau masih hidup atau sudah meninggal, hingga jejak keberadaan kamu sampai sedikitpun tak ada petunjuk? Ya Allah, temukan dia untukku dan pertemukanlah kami segera, sebab kerinduanku begitu mengebu, ingin sekali membelai maupun menatap wajahnya," guman hati sedih terlena, disaat kesedihan yang terulang kembali terekam.



Lelah, ya itulah kata-kata yang bisa tersemat pada diriku sekarang. Diri ini lelah merindu, mencari, berharap, dan terutama berangan ingin kembali berkumpul padanya.


"Seandainya kita bertemu? Apakah kesalahanku akan kamu maafkan, Karin? Diri ini begitu penuh dosa dan terus dibayangi rasa bersalah padamu, apakah bisa kamu memaafkan kesalahan terbesarku itu? Aah, semoga saja kita bisa secepatnya bertemu, dan diriku bisa menebus segala kesalahan itu," rancau hati yang menatap seksama laju kendaraan, yang telah berlalu lalang dari gedung perusahaan papa.


Tok ... tok, pintu ruangan tiba-tiba diketuk.


"Masuk," suruhku yang masih sibuk menatap arah jalanan.


"Maaf pak, menganggu. Ada tamu yang sedang ingin bertemu," Permintaan izin pegawaiku.


"Baik, pak."


Keindahan pemandangan yang terlihat dari atas gedung begitu menangkan jiwa, hingga kerap kali diri ini sering menatap panorama itu disebalik kaca tempat kerja. Awan yang perlahan-lahan berjalan menambah keindahan tersendiri, yang seakan-akan telah berhasil menghibur lara hati yang lagi kesepian.


"Adrian, bolehkan aku bertamu?" tanya suara seorang perempuan.


Aku yang awalnya melamun seketika menoleh ke sumber itu, sebab suara terdengar seperti orang yang sangat kukenal sekali.


"Yona, kamu? Ada apa datang kesini?" tanyaku ketus.

__ADS_1



"Bukannya disambut hangat, malah ketus amat kata-katamu itu. Aku hanya ingin menemui kamu, sebab rindu setelah setahun belakangan ini kita tak bertemu," jawabnya santai sambil melangkah mendekati diri ini yang berdiri dekat kaca tembus pandang.


"Lha, terus apa sekarang? Kita sudah ketemu, jadi sudah puas 'kan rasa rindumu padaku. Hari ini aku banyak kerjaan, jadi kamu boleh pergi sekarang," usirku bernada halus.


"Kamu kok gitu sih, Adrian? Aku sudah bela-belain baru sampai dari luar negeri untuk ketemu kamu lagi, tapi sikap dan jawaban kamu sangat mengecewakan. Kamu tak ada rasa rindu 'kah padaku?" Pertanyaan konyol Yona.


"Rindu? Apa yang kamu bilang, rindu? Apa kamu tak salah yang barusan kamu ucapkan? Dari dulu, aku sangat menegaskan bahwa diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dan jangan sampai ada kata yang romantis lagi, termasuk yang kamu tanyakan itu tadi yaitu rindu. Maaf ... maaf, saja Yona. Hatiku rasanya sudah mati untuk mempercayai maupun berbaikan lagi padamu, sebab bagiku kamu itu hanyalah seorang hama yang patutnya disingkirkan, paham!" jelasku menekankan pada dia.


"Kamu kok tega amat padaku, Adrian. Aku benar-benar tulus mencintai kamu, tapi kenapa kau selalu saja tega berkata kasar dan menghina begitu? Apakah ini masih berhubungan dengan si Karin itu? Bukankah selama lima tahun lamanya kau tak pernah lagi menemukan dia, bahkan kamu tak tahu dia itu masih hidup apa tidak, jadi buat apa kau terlalu berharap padanya yang sudah tak ada dihadapan kamu. Boleh jadi dia tak muncul lagi, sebab dia sudah terbujur kaku jadi mayat" balik jawab Yona bertutur kata secara kasar, yang tak mau mengalah atas perkataanku.


Braaak, dengan kuat diri ini mengebrak meja, akibat emosi yang tak terima atas perkataan Yona barusan. Diapun sempat begitu tersentak kaget, yang langsung menundukkan kepala tak berani menatap wajahku lagi.


"Kau itu jangan pernah lagi mengatakan Karin itu mati. Walau dia sudah terbujur kaku jadi mayatpun, ingatlah ini! Bahwa hatiku tak akan pernah selamanya mati untuk terus mencintai dan mencoba mencarinya. Aku yakin sekali dia masih hidup, karena hati kami selalu terhubung untuk tetap semangat dalam menjalani hidup. Seharusnya kamu itu malu pada diri sendiri, karena sudah beberapa kali diriku menolak mentah-mentah cintamu, tapi masih saja seperti orang bodoh berharap lebih. Ingatlah, kesalahan terbesar kamu masih terekam jelas dalam otakku, hingga tak mudah rasanya memaafkan apalagi balik sopan bertutur kata padamu, paham!" jelas panjang lebarku dengan diriingi nada sedikit emosi.


"Tapi, Adrian. Aku masih berharap sekali padamu, sebab sekarang tiada wanita yang sangat mencintai kamu selain diriku. Walau bodoh-bodoh begini, tapi tak saparah kebodohan kamu yang berharap pada orang yang tak pasti masih bernyawa apa tidak," ucap kepedean Yona sambil membalik omongan.


"Kamu? Ciiih, dasar tak tahu malu. Apa kamu pikir wajahku ini jelek, sampai tak laku oleh pikatan wanita. Asal kamu tahu saja, kalau aku mau dalam sekejap bisa mendapatkan seratus wanita sekaligus untuk kugaet, jadi jangan terlalu kepedean begitu, dasar aneh!" hinaku tak mau mengalah.


"Iya ... ya, maafkan ... maafkan aku, Adrian. Atas kesalahan masa lalu maupun sekarang, jadi tolong ... tolong perbaikilah hubungan kita yang sempat putus ditengah jalan ini, sebab aku tak mau kehilangan kamu," ucap Yona yang ngotot tak mau menjauh dan selalu berharap.


"Alaaahhh, sudahlah Yona. Aku rasanya muak sekali mendengarkan ocehan kau yang selalu penuh drama itu. Sekarang kamu harus pergi dari sini dengan sendiri, atau secara paksa akan kupanggilkan satpam," ancamku mengusirnya.


"Aaah, Adrian. Kamu memang kejam sekali, awas saja! Aku pasti akan menaklukan kamu lagi, walau berkali-kali kau tolak. Permisi kalau begitu, tak payah pakai memanggil satpam segala, karena diriku masih ingat jalan keluar dan tak mau dipemalukan," ucap Yona yang akhirnya kini mau pergi sendiri.


Setelah beberapa tahun sempat melupakan kemarahan diri ini pada Yona, kini telah kembali menganga mengebu-gebu emosi lagi, akibat dia mengingatkanku kejadian masa silam hingga semua orang terluka.

__ADS_1


Karena mama sakit-sakitan akibat terlalu dalam memikirkan keberadaan Karin, hingga papa sekarang pensiun mendadak mengurusi perusahaannya dan kini digantikan oleh diriku. Awalnya aku telah mengambil kuliah jurusan kedokteran karena aku suka sekali dengan bidang itu, karena nanti bisa membantu orang-orang yang selalu membutuhkan untuk kembali sehat. Keadaan mama kandung yang kian lama kian memburuk, hingga dengan terpaksa perusahaan kini terambil alih ke tanganku.


Pada awalnya aku tak setuju atas jabatan yang tiba-tiba beralih padaku, namun karena memikirkan demi kebaikan semua orang, jadi harus merelakan cita-cita ingin menjadi seorang dokter.


__ADS_2