
Saat mama mertua mengantarku pulang ke apartemen, tanpa terasa bulir-bulir airmata kini telah menetes dipipi.
"Kamu harus sabar dulu Ana, Mama pasti akan selalu mendukungmu, jadi kamu jangan terlalu bersedih dan diambil hati," tutur beliau sambil mengelus-elus pundakku.
"Iya ma, Ana tahu. Ini benar-benar akan menguji kesabaran Ana dalam menghadapi sikap mas Adit," timpal balik.
"Ooh ya, Mama akan membantu kamu mencari cara supaya Adit kembali padamu secepatnya," dorongan memberi semangat.
"Terima kasih, Ma. Kamu adalah orang tua keduaku yang paling mengertikan hatiku," imbuhku berkata.
"Sama-sama, Nak. Jangan terlalu dipikirkan masalah Adit, yang terpenting sekarang adalah jaga kondisi kesehatanmu, biar cucu mama bisa tumbuh dengan sehat," pesan beliau.
"Baik, Ma."
Sore hari mulai merangkak memekatkan warna hitamnya, tanda malam hari sudah datang menyambut.
"Mama ngak mau mampir, untuk minum teh dulu," tawarku bertanya.
"Gak usah, Ana. Terima kasih, lain kali saja Mama mampir. Mama mau buru-buru pulang dikarenakan papa Adit sudah sampai dari perjalanan bisnis," Penjelasan.
__ADS_1
"Oh, ya sudah kalau begitu."
"Kamu beneran baik-baik saja dirumah sendirian 'kan?" imbuh beliau.
"Ana baik-baik saja kok, Ma."
"Mama rasanya kok ngak tega jika kamu dirumah sendirian. Emm, atau kamu hari ini nginep saja dirumah kami," tawar beliau dalam kekhawatiran.
"Terima kasih, Ma. Tapi Ana baik-baik saja tinggal sendirian."
Jawaban hanya datar. Semangat sedikit demi sedikit mulai terberai.
"Iya, ma. Pasti itu."
"Ya sudah mama pulang dulu. Kamu hati-hati dirumah. Bye ... bye, Assalamualaikum," pamit beliau ketika ingin pergi.
"Walaikumsalam, bye ... bye."
Duniaku terasa sudah begitu runtuh, dengan tubuh sudah merosot dibalik pintu apartemen.
__ADS_1
Hening rasanya suasana rumah, dan aku hanya bisa tertegun sejenak, yaitu disaat bayang-bayang wajah mas Adit tiba-tiba berseliweran muncul. Pikiran kembali teringat saat wajahnya selalu saja tersenyum lebar, disaat aku sedang menyambutnya pulang, dan dia selalu saja membalasku dengan memberikan ciuman sayang bertubi-tubi dipipi. Aku hanya bisa pasrah dan menghela nafas panjang, yang mana kini hari-hariku akan dimulai dengan rasa sepi dan hampa, seperti sedia kala dahulu.
Airmata kesedihan sudah tak tertahan lagi, untuk menyeruak keluar dari pelupuk mata.
"Aaahhhkkhh, kenapa ini harus terjadi?" teriakku menangis tersedu-sedu, dengan memukul-mukul dada.
Apa yang terjadi padaku sekarang, benar-benar membuatku jatuh tak berdaya.
Tubuh mulai terasa lemah tak ada kekuatan lagi, yang diiringi dengan tangan memegang kepala untuk kupijit-pijit, akibat pusing yang berdenyut hebat tak karuan lagi rasanya.
Sekarang langkah sudah terseret dengan lesunya, yaitu untuk menuju kamar tidur mas Adit. Sesampainya di dalam langsung menghempaskan tubuh begitu saja dikasur.
Mata sudah berusaha untuk kupejamkan, namun rasanya susah sekali. Dan kini wajah sudah termenung menatap langit-langit atap plafon kamar, akibat bayangan ucapan demi ucapan mas Adit dirumah sakit tadi, yang sekarang begitu menganggu pikiran.
Otak sedang buntu tak tahu lagi cara apa yang harus kuperbuat, sebab mas Adit sekarang benar-benar sudah tidak mengenaliku lagi.
"Ya Allah, apa yang harus kuperbuat. Berilah petunjuk dan jalanMu supaya mas Adit tetap menjadi milikku. Dan jauhkanlah wanita yang bernama Salwa itu, biar aku bisa lebih mudah meraih tangan mas Adit kembali," Doaku dalam hati dengan tetesan embun yang mulai terjun lagi.
"Kamu harus kuat, Ana. Kau adalah orang pilihan yang mampu melewati ini semua. Jangan menyerah begitu saja. Adit adalah suami kamu, maka kamu berhak merebutnya kembali, jika Salwa ingin mengambilnya seperti diwaktu dulu."
__ADS_1
Tetesan embun telah kuusap kasar. Semangat empat lima telah bangkit. Berkobar bagaikan api yang siap melahap apa saja jika ada yang menghalangi, termasuk lawan bebuyutan seperti Salwa.
Hati begitu sakit sekali bagaikan teriris perih oleh sembilu, tapi aku tadi masih tetap berusaha tersenyum dihadapannya, sebab ingin menunjukkan bahwa aku adalah wanita kuat dan tidak cengeng, biar nantinya dia tak berterusan menghina dan menginjak-injakku.