Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang>> Bayangan Yang Kurindukan


__ADS_3

Setelah perbincangan pada Rudi tadi, kami segera berangkat meeting dengan klien disebuah restaurant seefood xxx, tentunya dengan karyawan dan desighner baju perusahaan yang handal kebangaan kami.


"Apa berkas-berkas sudah siap semua?" tanyaku pada Rudi dan semua karyawan, dimana kami sedang menaiki lif untuk menuruni gedung menuju lantai dasar.


"Sudah, Pak!" jawab semua orang kompak.


"Bagus kalau begitu."


Akhirnya kami sampai juga ke lantai dasar, setelah beberapa menit memakai lif. Saat sedang melangkah berjalan menuju pintu keluar, dapat kulihat dari kejauhan seseorang perempuan memakai masker dengan berseragam kebersihan perusahaanku. Sepertinya wanita yang ada dibalkon atap tadi.


Wanita itu berjalan perlahan-lahan, sambil membawa troli kebersihan ke arah kami, dari bentuk postur tubuhnya sepertinya aku sangat mengenal.


"Seperti aku kenal dengan wanita itu? Tapi siapa?" Keraguanku dalam hati.


Wanita itu mengingatkanku terhadap bayangan seseorang yang kini kurindukan yaitu istriku, yang sudah enam tahun menghilang karena kebodohanku sendiri.


Istriku Ana hilang entah kemana, dengan membawa luka yang telah kutorehkan kepadanya. Sudah beberapa anak buah kukerahkan untuk mencari kemana-mana, tapi tetap nihil tidak ada kabar Ana ditemukan. Dia sudah menghilang bagaikan ditelan bumi.


Perlahan-lahan wanita pegawai kebersihan itu mendekati rombongan karyawanku yang akan meeting keluar, yang mana kami mau melangkah keluar dan wanita itu akan melangkah masuk.


Dan akhirnya ...


Sheeeet ... di persimpangan langkah kami, aku melirik dia dan dia melirikku, sehingga mata kami sempat saling beradu, tapi dapat terlihat dia langsung menundukkan pandangan, ketika diri ini memperhatikan seksama netranya tadi.


Dan baru dua langkah berjalan, kucium aroma parfum yang kukenal, yaitu sebuah parfum dengan keharuman buah strawberry, ciri khas kesukaan seseorang yang selama ini dicari yaitu Ana.


"Ana? Itukah kau?" gumanku dalam hati akibat terkejut.


Langkah kaki yang tadinya mau melangkah keluar, sekarang langsung berbelok arah menuju pegawai kebersihan itu.


"Tunggu!" perintahku pada perempuan itu.


"Hei ... kamu tunggu!" panggilku sekali lagi.


Terlihat sekali perempuan itu mempercepat langkah, seperti ingin menghindari panggilanku.


"Tunggu, hei kamu!"


Tak mau kalah telak, langsung saja aku mengejar dan akhirnya berhasil menghentikan troli kebersihannya dengan cara menghadang langkah dia. Sekarang akupun sudah berdiri tepat didepannya.


"Berhenti dulu, ada yang ingin aku tanyakan padamu?" ucapku, sambil menatap penuh selidik wanita didepanku sekarang, yaitu dari bawah sampai ke atas dengan terperinci.



"Ada apa ya, Pak bos?" jawab pegawai itu, dengan menundukkan kepala tidak berani menatapku.


"Dia ini benar-benar mirip, Ana! Tapi, kok--?" gumanku dalam hati.


Dengan tatapan serius masih melihat seksama inci demi inci, wanita yang berada didepanku sekarang. Dari postur tubuhnya sama persis dengan Ana. Walau sudah enam tahun lamanya tidak bertemu Ana, tapi aku masih ingat betul bagaimana bentuk tubuh dan ciri-cirinya.


"Kenapa kamu tadi sepertinya menghindar?" tanyaku yang sudah melihat dia ada tingkah kegusaran.

__ADS_1


"Oh ... itu ... anu ... Pak. Maaf, ada pekerjaan yang harus kukerjakan secepatnya," jawab dia tak lancar, dalam suara yang sengau-sengau akibat sedang memakai masker.



"Ana? Ini--? Kamu ini benar Ana 'kan?" tanyaku yang penuh harapan, semoga perempuan yang ada dihadapanku sekarang benar-benar Ana.


"Maaf Pak bos, aku Mila bukan Ana! Anda sudah salah mengenali orang," jawabnya dengan muka memerah seperti grogi akut.


Ada sedikit keraguan yang sudah bersemayan dalam diriku. Dikarenakan masih ada rasa penasaran untuk mencari lebih dalam lagi tentang sosok wanita yang berbicara padaku sekarang, masih mencoba ingin bertanya-tanya terus.


"Apakah yang dikatakan perempuan ini benar? Bahwa yang kulihat salah orang, dia bukan Ana tapi orang lain," Hati terus saja bertanya-tanya.


"Ada apa, Bos?" Rudi menyusulku, yang ikutan penasaran.



"Gak ada apa-apa, Rudi. Hanya ingin tahu saja siapa dia."


"Ooh."


Aku belum juga beranjak pergi, sebab masih penasaran dengan sosok dihadapanku. Rudi ikutan menatap ke arah Mila, dengan sorotan mata penuh selidik juga.


"Hei ... kamu! Bos besar sedang berbicara kepadamu, angkat kepalamu! Tidak sopan banget sih!" perintah Rudi dengan nada tegas sebagai atasan.


"Iii-iyyy-a, Pak, Bos. Maaf!" Suaranya terdengar grogi.


"Hmm!" Rudi tak banyak bicara.


Sekarang pegawai itu menuruti saja perintah Rudi, dengan mengangkat kepalanya malu-malu ingin menatap kami. Walau wajahnya masih bertutupkan masker, dapat terlihat ada guratan kegelisahan dari gerak-geriknya. Dari bahasa anggota tubuhnya terlihat sekali dia sedang tidak nyaman berhadapan dengan kami berdua. Kedua tangannya saling mengenggam erat satu sama lainnya, seperti *******-***** diantara jari-jari.


"Tapi Pak bos, aa ... ku ... ti ... tidak bisa membukanya," jawabnya secara terbata-bata.


"Kenapa?" tanyaku masih terasa penasaran pada perempuan ini.


"Ma--ma-maaf, Bos."


"Hei, kenapa kamu tidak bisa membukanya, ini perintah Bos besar! Kamu sudah berani sekali membatah perintah Bosmu," ujar Rudi marah melengkingkan suara. Kini dia sudah sedikit maju melangkah ingin mendekati perempuan itu, karena telah berani menolak ucapanku.


"Tenang Rudi! Jangan emosi," tanganku menahan Rudi untuk bersabar, agar tidak menakuti dan memarahi pegawai.


"Buka maskermu cepat!" suruh Rudi tegas.


"Uhuk ... uhuk ... haciing ... uhhuk ... hacing," berulang-ulang wanita dihadapanku mengulangi tingkahnya bersin dan batuk.


"Iihhh, bilang dari tadi kalau kamu sedang sakit!" Rudi berbicara sambil menjauh-jauh agak menghindar, mungkin sudah takut jika tertular penyakit.


"Maafkan aku, Bos! Maaf ... maaf banget, ini tadi ngak sengaja kelepasan bersin. Ini 'lah alasanku tidak mau membuka masker," ucapnya tak enak hati.


"Iya gak pa-pa. Sekarang kamu boleh pergi, lakukan pekerjaan kamu selanjutnya. Maaf sudah menganggu dan banyak tanya," perintahku padanya.


"Iya, Bos. Tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi. Maaf!" jawabnya sebelum undur diri.

__ADS_1


"Ok, silahkan."


Dia terlihat terburu-buru sekali melangkah, seperti benar-benar takut melihatku. Hati ini masih terus saja bertanya-tanya akan dirinya.


Sebenarnya apakah aku benar-benar salah sangka, tapi dari ciri-ciri sungguh meyakinkanku bahwa dia itu mirip sekali dengan istriku.


"Hei kamu tunggu?" panggilku lagi, padahal baru saja beberapa langkah kami pergi, disaat saling berlainan arah jalan.


"Eeh, iya. Ada apa lagi, Pak bos?" jawabnya berbalik badan, yang masih berkelakuan menunduk lagi, saat diriku mulai mendekati langkahnya.


"Gak ada apa-apa, sih. Aku cuma mau mengingatkan saja. Kalau kamu sakit, periksa ke dokter perusahaan, kamu akan ditangani mereka secara gratis. Kalau sakitnya parah nanti bisa menularkan pada pegawai lain, jadi kamu harus sembuh dan jaga kesehatan, oke!" Pesanku dalam memberinya beberapa nasehat.


"Oh ... iya Pak bos. Terima kasih atas nasehat dan perhatiannya," jawaban yang masih ada guratan kegugupan.


"Kamu gak pa-pa 'kan? Kok dari tadi kamu kelihatan gugup dan gelisah begitu?" imbuh tanyaku gamblang.


"Aku gak pa-pa kok, Pak bos. Hanya ... hanya, takut telat sama pekerjaan saja, kok."


"Ya, sudah kalau gitu. Beneran lho, ya! Kalau kamu lagi tidak enak badan, berhenti dulu kerjanya dan kalau bisa istirahat sejenak! Periksalah ke dokter," titahku berucap lagi.


"Iya, Bos.


"Ekhem ... heem," deheram Rudi memecah perbincangan kami, mungkin sedang memberi peringatan padaku.


"Kalau begitu, aku permisi dulu, Bos! Ada pekerjaan penting yang harus kukerjakan sekarang," ucapnya meminta izin.


"Oh, iya. Kamu boleh pergi sekarang!" suaraku menyetujui.


Akhirnya wanita yang kucurigai, mulai melangkah pergi dan menghilang dari pandanganku.


"Awas kebablasan naksir, lho!" candaan Rudi padaku.


"Apaan sih kamu!" gerutuku atas tuduhannya.


"Tumben perhatian sekali sama karyawan seperti dia?" Rudi penasaran.


"Aku tuh bukan perhatian, cuma tadi sempat mengira bahwa dia itu istriku Ana, tapi ternyata aku salah orang. Tapi--! seperti dari ciri-cirinya dia adalah Ana, tapi dia sempat bilang tadi bukan Ana. Rasanya kok aku jadi penasaran sekali terhadapnya," penjelasanku pada Rudi.


"Mungkin bos sudah terlalu lama berpisah pada istri, jadi matanya jelalatan mengira sembarang. Sehingga dikira kamu itu, semua perempuan persis seperti istri kamu," celoteh Rudi mengejekku.


"Ciiiih, bukannya seperti kamu! Kalau lihat cewek yang bening selalu jelalatan saja itu mata. Langsung hijau semua pengen memilikinya," balas ucapku mengejek.


"Ha ... ha ... ha, bos tahu saja seleraku itu, hahaha." Gelak tawa Rudi puas, sebab ada benarnya apa yang kukatakan.


"Diih, dasar playboy."


"Biarin 'lah. Yang penting bisa happy."


"Hmm ... hmm."


"Ayo kita pergi meeting, terlambat juga nanti sampai disana!" perintahku, dengan merangkul pundaknya.

__ADS_1


"Sipp 'lah."


Rudi selalu saja usil dan mengodaku, akibat sudah enam tahun diriku masih sendirian tak mau berpindah ke lain hati, dikarenakan aku masih berharap sekali untuk kembali pada istri yang terluka, tapi bagaimana aku akan mendapatkannya kembali jika kabarnya saja belum ditemukan.


__ADS_2