Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Menerima uang itu


__ADS_3

Aku sudah berpikir seribu kali, dan jawabannya adalah harus menerima ikhlas keputusan mama untuk memberikan diriku uang, sebab tak mungkin dan tega melihat penderitaan anak Karin jika keadaannya semakin memburuk. Biarkanlah hati tersakiti, asalkan Karin akan tetap bahagia bersama anaknya, itupun sudah menjadi kebahagiaanku tersendiri.


Ret ... ret, sebuah tanda tangan perjanjian kulakukan pada mama, dengan maksud dan tujuan agar diriku tak mengingkarinya.



"Bagus ... bagus, nak. Akhirnya kamu luluh juga dengan mudah, hanya demi sebuah uang," puji ledek mama.


Aku hanya terdiam saat bahu ditepuk pelan mama dengan nada mengejek. Rasanya sungguh sakit sekali hati ini, saat orang yang sudah melahirkan kini mengekangku dengan rantai perjanjian yang gila.


"Kamu jangan pernah mengingkari penjanjian ini, sebab jika tidak maka mama akan melenyapkan Karin dan anaknya, ingatlah itu," ancam mama yang terdengar memuakkan.


"Mama, sungguh kejam sekali terhadap Karin dan anakmu ini," keluhku tak senang.


"Sebab hanya ini satu-satunya jalan, agar kamu bisa kembali pada kami. Huff, mama seharusnya mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Karin itu, karena berkat dia dan anaknya kamu kembali dengan mudah, tanpa harus memaksa dan melukai kamu dulu," ucap mamaku yang kian banyak drama menjijikkan.


"Terserah apa yang kamu lakukan selanjutnya, ma. Yang jelas jika kamu ingin menemui Karin, jangan pernah menghina lagi dan melukainya, sebab jika ujung rambut sampai mata kakinya ada yang terluka, maka aku duluan yang akan melakukan tindakan yang tak pernah terbayangkan oleh mama," balik ancamku yang tak mau mengalah.


"Wow ... wow, ternyata kamu sekarang jago mengancam dan membalikkan situasi juga. Ok, mama tak akan melukai Karin lagi, sebab rasa-rasanya mama takut sekali sama ancaman kamu itu, hahahaha. Dasar bocah, mama yang pintar ini kok mau dilawan. Tapi ingat Chris, kamu harus tepati janji kamu ini, paham!" Kekhawatiran beliau mengingatkan.


"Pasti itu, ma. Sebab Chris tak pernah jadi orang yang selalu mengikari janji dari dulu-dulu. Ok! Perjanjian kita telah disepakati, jadi aku akan melaksanakan janji itu setelah melihat anak Karin sembuh," jelasku.


"It's ok. Tak masalah, yang penting kamu bisa menjaga omongan kamu dengan benar," jawab beliau sepakat.


Setelah mengambil cek yang berisikan uang yang kupinta, akhirnya dengan secepatnya kulajukan mobil agar segera datang kerumah sakit, untuk membayar segala tagihan dan biaya perawatan sampai beberapa bulan kedepan dan biaya operasi.


"Bagaimna keadaan Baby Naya?" tanyaku menghampiri bu Fatimah dan Karin, saat tengah santai duduk diruang tunggu.


"Alhamdulillah dia baik dan sekarang sedang tidur," jawab Karin santai.



"Oh ya, semua biaya perawatan dan operasi anak kamu kedepannya telah kulunasi semua, jadi kamu sekarang tak payah susah hati dan khawatir atas biaya itu," jelasku memberitahu .


"Benarkah? Wah, terima kasih Chris," jawab Karin tersenyum sumringah penuh ekspresi kebahagiaan.


"Iya, Karin."


"Ibu sangat senang mendengar kabar ini, yang akhirnya cucu ibu bisa sehat kembali dan akan segera dilakukan penyembuhan," saut jawab bu Fatimah.


"Iya, bu. Chris juga senang atas semua ini, yang akhirnya baby Naya bisa diselamatkan tanpa ada halangan lagi," balik jawabku ramah.


"Oh ya, Chris. Kalau boleh tahu, bagaimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu, bukankah kamu ... kamu sekarang lagi---?" Suara tertahan Karin.


"Kamu tidak payah tahu darimana," simbatku dengan cepat pertanyaan Karin agar tak curiga.


"Tapi--?."


"Sudahlah, sayang. Kamu tak perlu tahu biaya itu, yang jelas pikirkan saja baby Naya yang kini bisa sembuh total dan berkumpul sama kamu lagi," jawabku mengalihkan pembicaraan.


"Hemm, Iya. Kalau begitu hanya ucapan terima kasih yang bisa aku ucapkan."

__ADS_1


"Iya."


Karin telah mengekpresikan wajah aneh dan kecurigaan, atas dari mana asal usul uang itu. Untuk saat diriku tak bisa bercerita, sebab beban pikirannya sudah banyak, aku tak mau menambahkan dengan pikiran yang aneh-aneh.


"Ya Allah, apakah aku bisa menjalani semua ini? Saat hatiku ini terpaut hanya untuknya, dan mulai sayang-sanyangnya pada diri Karin. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan saat sebentar lagi kami akan berpisah? Apakah nanti dia bisa menerima atas cobaan perpisahan kami? Oh Tuhan, rasanya aku sungguh tak sanggup saat hatiku baru mulai mencintainya, kini telah terpisahkan akibat keadaan. Apa yang harus kulakukan Karin, agar cinta kita tetap abadi untuk bersama? Maaf ... maafkan aku Karin, jika dihari-hari kedepannya tak bisa menjaga kamu dengan baik," ucapku dalam hati tanpa terasa menitikkan airmata, saat Karin kini telah tidur menyandarkan kepalanya dibahuku.


Saat hati gundah galana, hanya bisa menyimpannya dalam hati, tanpa ada orang yang tahu apa yang telah kurasakan dalam diriku kini sekarang. Sungguh, rasanya aku ingin berteriak keras sekali, ketika hati meronta-ronta ingin berontak tapi tak bisa, saat keadaan telah memborgol diri ini untuk menerima kehidupan yang sudah dikekang orangtua. Menurutku perlakuan orangtua sangatlah kejam, namun aku bisa memahami dan mengerti mereka melakukan semua itu hanya demi kebaikan anak semata wayang mereka.


Kepala terasa sangat berdetak ingin pecah, bagai paku telah menancap keras bersarang dikepala, hingga rasa sakitnya mulai membuat dunia terasa berputar-putar tak bisa kurasakan tenang lagi.


"Apakah ini efek diriku terlalu kuatnya memikirkan masalah yang bertubi-tubi, saat mulai menghadang kehidupanku? Aah, kepala kenapa kamu begitu sakit sekali menyerangku? Aku harus banyak waktu menemani Karin dirumah sakit, kenapa kamu malah membuatku terbaring kesakitan dirumahku sendiri begini?" rancau hati pada diri sendiri, saat koyok sudah menempel dikening sebelah kiri kanan.


"Hei, bos. Kamu kenapa bermalas-malasan dikamar begini?" tanya Rohmat yang tiba-tiba main nyelonong masuk dalam kamarku.


"Siapa yang bermalas-malasan? Apa kamu ngak lihat ada apa dikeningku ini?" Nyolot suaraku marah, sambil menunjukkan benda yang sudah menempel dikening.


"He ... he ... he, maaf bos!" Cegegesan jawabnya.


"Kamu mau ngapain disini? Bukannya jaga toko roti dengan baik, malah bermalas-malasan disini juga?" tanyaku berbalik meledeknya.


"Aku hanya ingin memberikan bon setor uang hasil penjualan saja," jawabnya sambil memberikan sebuah kertas barang bukti.


"Ooh."


"Sini ... sini, duduk Rohmat. Ada hal penting yang ingin kubicarakan sama kamu," pintaku sambil menepuk pelan-pelan kasur.


"Ada apa sih, bos. Kayak penting banget, yang ingin dibicarakan" jawabnya sudah merasa aneh.


"Maksud kamu, bos?" tanya Rohmat kebingungan.


"Kamu janji dulu, jangan bilang ini pada siapapun tentang ini, paham!."


"Paham-paham, ok."


"Aku akan tak akan tinggal di Indonesia lagi, jadi---?."


"Apa? Tak tinggal lagi di Indonesia lagi?" Keterkejutan Rohmat bertanya.


"Kamu itu diam dulu, kenapa? Aku belum selesai ngomong, nih."


"Heehehe, iya bos. Maaf."


"Kamu tahu sendiri bahwa Karin anaknya lagi dirumah sakit, akan menjalani operasi dan itu butuh biaya besar, jadi kemarin aku meminta bantuan pada orangtua mengenai uang itu, tapi ada jaminannya bahwa aku harus segera meninggalkan Karin. Huufff, aku minta kamu jaga baik-baik Karin dan baby Naya selama aku pergi dan tak ada disini sebab tak bisa menjaga dan mengawasinya nanti, dan hanya kamulah teman yang bisa kuandalkan," terangku pilu.


"Bos, kok tega amat meninggalkan kami," ucap Rohmat sudah menangis.


"Idiih, kamu kok lebay banget mewek gitu, apa ngak nyadar kalau kamu itu cowok," keluhku tak suka.


"Habisnya aku sedih baget mau ditinggal kamu, bos. Aku tak reka kamu pergi setelah beberapa tahun kita bersama. Orangtua kamu begitu kejam sekali, memisahkan kamu dan Karin hanya gara-gara masalah uang saja. Cinta kalian sekarang apakah benar-benar putus dijalan? Aku sedih banget nih bos," tutur melow Rohmat kian menderaikan airmata yang nampak membanjir.


"Kamu jangan cengeng begitu, kawan. Apa boleh buat atas yang kulakukan sekarang. Aku mau berontak tak bisa, sebab uang itu benar-benar aku butuhkan untuk pengobatan. Jadi aku benar-benar ingin kamu jaga Karin dan anaknya selama aku tidak ada dengan sebaik-baiknya," pintaku memperjelas lagi.

__ADS_1


"Iya, bos. Aku pasti akan menjaganya dengan baik, dan pastinya sudah kuanggap dia sebagai adik sendiri," jawab pilu Rohmat.


"Bagus, kawan. Terima kasih."


"Iya, bos."


Sungguh sesak dada ini, yang terus teringat akan rencana yang akan pergi jauh tanpa ada teman yang menemani. Semua rasa akan kutinggalkan di negara kelahiran, dengan membawa kepahitan luka dinegeri orang yang akan baru pertama kalinya kupijaki.


********


Tangan sudah membawa beberapa makanan nasi bungkus, untuk makan siang ibu dan Karin yang telah menunggu dan menjaga baby Naya. Pemeriksaaan sudah keluar dan menyatakan bahwa baby Naya akan menjalani operasi tahap pertama segera, dan sementara itu aku harus berada disamping Karin terus, saat kondisinya rapuh dan tak tega melihat buah hati menderita kesakitan.


Bhugh, tiba-tiba tubuh telah bertubrukan dengan seseorang, saat aku keluar dari warung makanan nasi padang, sedangkan yang menabrak akan masuk kedalam.


"Oh, maaf ... maafkan saya," cakapnya tak enak hati.


"Ngak pa-pa, mungkin aku tadi juga tak sengaja," balikku tak enak hati.


"Chris, kamu?" cakapnya yang kenal.


"Eeh, kamu bos?" Kekagetanku saat mengetahui siapa yang barusan kutabrak.


"Wah, tak menyangka jika saya akan bertemu kamu tak sengaja disini. Bagaimana kabar kamu?" tanyanya ramah berbasa-basi.


"Alhamdulillah aku baik."


"Syukurlah kalau kamu baik. Oh ya, bisa kita berbicara sebentar, sebab ada hal penting yang ingin kubicarakan. Apakah bisa?" izin tanyanya.


"Oh, tentu bos. Bisa-bisa!" jawabku menyetujui yang kini kami sama-sama suduk dimeja makan.


"Ada apa, bos?" tanyaku heran pada mantan bos pemotretan.


"Sebelumnya, maafkan aku Chris. Kemarin hari telah membatalkan pekerjaan kamu secara tiba-tiba, sebab aku sedang dilanda kebingungan antara memilih kamu atau perusahaan yang baru saja kurilis," terangnya tak kumengerti.


"Maksud kamu apa, bos?" tanyaku bingung.


"Aku kemarin telah diancam mama kamu, sebab jika tak membatalkan pekerjaan kamu, maka dia akan menghancurkan perusahaanku. Maaf ... maafkan aku Chris," jelas bos yang bikin diriku tak mempercayainya.


Deg, hati sungguh tak percaya atas apa yang barusan dikatakan mantan bos, bahwa dibalik semua pekerjaan yang telah dibatalkan kemarin ternyata adalah ulah orangtua sendiri.


"Apa benar apa yang kamu katakan?" tanyaku masih tak percaya.


"Iya, Chris. Itu benar, maafkan aku," Sesal ucapnya.


"Iya, ngak pa-pa. Aku sudah memaafkan, malah aku berterima kasih, sebab kamu mau jujur memberitahukan ini semua. Terima kasih, maaf aku harus pergi sekarang dan tak bisa berlama-lama menemani," cakapku yang sudah ingin cepat-cepat pergi.


"Iya, sama-sama. Hati-hati, Chris!" cakapnya saat aku sudah mulai melenggang pergi.


"Iya."


Ketergesaanku melangkah pergi, sebab saat terkejut mendegar penjelasan semuanya, kini otak sedang berpikir untuk mencari jawaban kebenaran, agar bisa menanyai semua bos yang sempat mengajak kerja tapi membatalkan semuanya.

__ADS_1


"Aku harus mencari bukti apa yang baru dikatakan bos itu tadi, benar apa tidak? Jika benar, awas kamu ma. Aku sungguh tak menyangka jika kamu telah menghancurkan pekerjaanku secara kotor seperti ini? Apa maksud dari ini semua, ma? Kenapa kamu begitu tega padaku?" guman hati sudah marah dengan menginjak pedal gas kuat-kuat, agar secepatnya sampai ke tujuan.


__ADS_2