Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kedatangam Di Tempat bermain ( SEASON 2)


__ADS_3

Tok ... tok, pintu kamar anak telah kuketuk.


Ceklek, tanpa bertanya lagi langsung kubuka kamarnya.


"Bolehkah, Bunda masuk?" tanya sambil menyembulkan kepala kedalam, menyusuri dan melihat keadaan dalam kamar.


"Ehh, ada Bunda. Masuk saja," jawabnya.


Naya sedang bersantai duduk diatas kasur, sambil tangannya sibuk sedang mengunting beberapa kertas berwarna-warni.



"Lagi ngapain, sayang!" Sikap sudah mendekatinya.


"Ini, Naya lagi ada tugas dari sekolah, Bunda."


"Ooh, Bunda ganggu ngak, nih!."


"Enggak 'lah, Bunda. Hanya tugas biasa saja. Naya bisa menyelesaikan dengan cepat dan mudah."



"Baguslah. Anak Bunda sekarang memang pintar bisa mandiri," Tangan langsung mengacak rambut anak.


"Oh ya, Bunda ada permintaan nih sama kamu, tapi tidak tahu setuju apa tidak!" Keraguan takut ditolak.


"Permintaan apa, Bunda?" Naya masih saja sibuk dengan tugasnya, tapi mulut bisa santai menjawab.


"Ada teman Bunda yang ingin mengajak kita jalan-jalan, tapi Bunda tidak tega ninggalin kamu sendirian, sebab ingin menghabiskan waktu cuti ini bersama kamu," terangku.


"Wah, benarkah? Bukannya itu bagus. Bunda terima saja, Naya pasti akan ikut."


"Benarkah apa yang kamu katakan barusan?" Kekagetan sebab tidak percaya.


"Iya, Bunda. Tidak enak kalau menolak ajakan seseorang, apalagi itu adalah teman Bunda sendiri. Lagian kita sudah lama tidak jalan-jalan bersama sebab Bunda selalu sibuk kerja," ungkapnya menyayat hati.


"Maafkan Bunda, sayang. Setelah dewasa nanti, kamu akan tahu alasannya mengapa Bunda melakukan ini. Kamu jangan sedih begini, sebab Bunda tidak ingin melihat anak Bunda menitikkan airmata lagi," Tangan yang mulai kasar, sudah menghapus pelan titikan embun yang jatuh diwajahnya.


Tubuhnya langsung saja kupeluk. Rasanya cukup bersalah juga melepaskan tangan anak, agar dia bisa hidup nyaman bersama nenek dan kakeknya. Rasa bersalah yang mendalam begitu menyiksa, dan mungkin inilah jalan satu-satunya untuk mengantikan kehadiran kak Adrian ditengah keluarga mereka, yaitu dengan mengorbankan Naya ikut hidup dalam rumah ini.


Sebab Naya sudah setuju untuk ikut, maka kami berdua sekarang sudah siap dengan pakaian rapi. Sebelum kami ingin pergi, Chandra kuberitahu dulu. Untungnya Mama kak Adrian setuju dan tidak mempermasalahkan usulanku mengajak keluar.


"Kami pergi dulu, Ma!" pamit ingin berangkat.


Tangan punggung beliau langsung kami cium takzim.

__ADS_1


"Iya, Nak. Hati-hati dijalan. Jaga Naya dengan baik."


"Iya, Ma. Pasti itu. Bye ... bye."


"Iya, bye ... bye."


Saling melambaikan tangan telah terjadi. Kami berdua sudah memasukki mobil peninggalan kak Adrian, dengan sopir pribadi sudah mengantar.


Sekian menit dan detik telah berlalu. Setelah sekian jam berkutat dengan jalanan, akhirnya tempat tujuan telah sampai juga. Sopir kusuruh menunggu, sebab tidak tahu apakah kami akan bermain cepat atau lama di wahana, takutnya kalau sopir lambat datang malah merepotkan Chandra saja nanti.


"Ayo, nak!" ajakku pada Naya, yang sudah mengandeng tangannya.


"Iya, Bunda."



Kami berjalan beriringan. Tapak kaki agak pelan, sebab berusaha mengimbangi langkah anak yang kecil-kecil. Raut wajah Naya kelihatan sumringah gembira sekali. Mungkin sudah lama tidak diajak keluar, walau hanya sekedar menghirup udara segar.


"Apakah kamu senang, Nak?" tanya penasaran.


"Iya, Bunda. Naya senang banget."


Raut wajah sudah menyapu ke kanan kiri, namun tidak kunjung jua menemukan sosok Chandra. Terpaksa gawai terkeluarkan dari bag tangan, untuk mengetahui posisi Chandra sekarang dimana.


[Oh, kamu sudah datang. Aku sama Rara sudah berada diposisi agak masuk didalam taman permainan ini. Kalian jalan lurus saja, nanti akan kelihatan posisiku]


[Oh gitu. Ya, sudah aku menyusul saja kesana, karena posisiku masih jauh yaitu didekat pintu utama]


[Ok 'lah, aku tunggu]


[Emm]


Tut ... tut, panggilan akhirnya tersudahi. Langkah langsung saja menuju sesuai petunjuk Chandra barusan.


Karena banyak pengunjung yang datang, maka mata harus jeli mencari sosok pria tampan bernama Chandra. Banyak orang yang berlalu lalang menghalangi pemandangan, sehingga dengan terpaksa sedikit memberi dorongan pada orang-orang itu agar mereka mau sedikit menyingkir, dan aku bisa leluasa tahu dimana Chandra menunggu kami sekarang.


"Hey ... hey, Karin! Sini ... sini," Suara Chandra memanggil.


Sebuah lambaian tangan untuk kesana mulai kelihatan, sehingga tanpa membuang waktu merespon balik lambaian itu.



"Maaf jika terlambat datang!" ucapku saat sudah didekat Chandra.


"Iya, tidak apa-apa. Aku baru saja datang juga, kok."

__ADS_1


Keanehan mulai terjadi ketika Naya begitu kuatnya mengenggam tanganku.


"Ini anak yang kamu bilang ditelepon tadi?" tanya Chandra dengan terlunjuk mengarah ke arah Naya yang berdiri disampingku.


"Iya, ini anakku."


"Cantik juga seperti kamu."


"Hmm."


"Hai, cantik. Bolehkah Om kenalan sama kamu," Chandra sudah berjongkok mensejajarkan tubuh agar tingginya sama dengan Naya.


Lagi-lagi sikap Naya begitu aneh seperti orang ketakutan. Sampai pada akhirnya Naya bersembunyi dibelakangku. Chandra seketika menatap ke arah wajah ini dengan tatapan penuh kebingungan.


"Kamu kenapa, sayang? Om Chandra, mau kenalan sama kamu itu," tanya sudah heran.


Tangan mungilnya begitu mencengkram kuat bajuku. Dengan wajah mulai dibenamkan diantara kain.


"Astagfirullah, apa Naya sekarang beneran ketakutan," guman hati ketika teringat sesuatu.


Tak berselang lama sebuah isak tangis mulai pilu terdengar. Pada akhirnya aku yang berdiri, sekarang ikutan berjongkok mensejajarkan pada tubuh Naya juga.


"Ada apa, sayang?" Tangan sudah menghapus airmatanya.


"Itu ... itu Ayah, Bunda!" tangisnya kian pecah.


Mata mencoba melihat ke arah Chandra dan pandangan kamipun sama-sama saling bertemu.


"Oh, Bunda paham."


"Jangan sedih lagi. Bunda, tahu apa yang kamu maksud. Sekarang hapus airmata kamu, tidak enak Naya sudah besar dan cantik begini menangis, nanti bisa-bisa diejek sama orang lain," cakap berusaha menenangkan anak.


Anggukan kecil telah hadir. Tubuhnya langsung kupeluk erat, seakan-akan dada ini mulai sesak saja, saat Naya menyangka bahwa Chandra adalah ayah yang selama ini pernah dekat sekali dengannya.


"Ada apa, Karin? Apakah ada hal yang tidak berkenan dihati anakmu, sehingga membuat dia sedih dan ketakutan kayak gitu?" Chandra sudah kepo.


"Nanti akan aku jelaskan, tapi lebih baik kita sama-sama menepi dulu. Banyak orang berlalu lalang melewati kita, nih! Takutnya kita malah tertabrak nanti," usulku.


"Ok 'lah, kalau begitu. Kita akan menepi semua, sambil melihat-lihat wahana apa yang cocok untuk kita naikki nanti," jawab setujunya dia.


"Baiklah, kalau begitu."


Kami berempat sudah sama-sama saling menepi, mengandeng tangan anak-anak kami sendiri. Ekspresi wajah Chandra nampak heran dan kebingungan, tapi dia memahami saat mulut ini masih tertutup rapat.


Begitu berat rasanya ingin menjelaskan kalau wajahnya mirip sekali dengan mantan orang yang mengisi ruang hati ini, tapi semua harus dijelaskam agar tidak ada kesalahpahaman nanti.

__ADS_1


__ADS_2