
Sudah tiga hari berlalu, mas Adit masih saja enggan untuk membuka matanya. Baktiku tak surut begitu saja untuk merawatnya, baik untuk mengelap badannya maupun mengganti pakaiannya.
"E'eehhh ... ma ... mama?" Suara pelan mas Adit memanggil.
"Mas ... Mas. Kamu sudah sadar," ucapku bertanya, saat mata Mas Adit sayu-sayu mulai mengerjap membuka mata.
"Ma ... ma. Mama?" panggilnya lagi.
"Mas ini aku."
"Aaah, kamu minggir. Aaa .. .aaa," Suara kesakitan dengan memegang kepalanya.
"Kamu baik-baik saja 'kan, Mas?"
"Diam kamu. Panggil mama sekarang!" teriaknya memerintah.
"Iy-ii-iya, Mas."
"Sekarang!" Bentaknya lagi.
"Bb-baik. Aku akan memanggil mama sekarang!" kegugupanku datang sebab takut atas bentakkannya.
Dengan terpaksa kuturuti keinginan mas Adit, untuk menyuruh mertua datang ke rumah sakit.
[Ma, sekarang mas Adit sudah siuman. Jadi mama bisa ngak secepatnya datang ke sini, sebab mas Adit tadi nyariian mama terus]
Dengan gemetaran menelpon. Sebisa mungkin menetralkan suara agar beliau tidak curiga.
__ADS_1
[Ooh, iya Ana. Mama akan segera meluncur ke sana]
[Terima kasih, ma]
[Iya, nak]
Atas bentakkan mas Adit tadi, hatiku kini terasa sudah gelisah sekali, sebab tak menyangka atas tindakannya barusan. Keanehan sudah menghampiri sebab aku ini adalah istrinya yang sudah berada didepannya, tapi kenapa juga harus memanggil mama.
"Mas kamu gak pa-pa? Adakah keluhan yang masih sakit?" tanyaku yang sudah kembali habis menelpon mertua.
"Kamu siapa? Sudah minggir sana, tidak usah dekat-dekat denganku," pekiknya marah-marah lagi.
"Maksud kamu apa, Mas! Ini aku Ana istri kamu," terangku.
"Apa? Istri? Sejak kapan aku menikah denganmu? Jangan mengada-ada kamu. Dasar perempuan ngak tahu diri, main ngaku-ngaku sembarangn saja," ucapnya mengejek tak suka.
"Adit. Anak Mama yang tersayang!" pekik Mama mertua sudah datang.
Beliau langsung memeluk ringan. Nampak bahagia sekali, ketika anaknya sudah bangun dari tidur panjang beberapa hari.
"Iya, Ma! Adit masih di sini kok."
"Kamu ngak pa-pa, Nak?" tanya Mama dengan wajah sumringah.
"Mas Adit ngak pa-pa. Alhamdulillah dia baik," sahutku menjawab.
"Hei kamu! Dasar perempuan tidak tahu diri, bisa ngak kamu itu diam. Mama sedang bertanya padaku bukan sama kamu," celoteh mas Adit lagi, seperti sedang tidak suka padaku.
"Adit! Apa yang barusan kamu katakan? Kamu kok berkata begitu sama Ana," bentak Mama tiba-tiba.
__ADS_1
"Dia itu perempuan tidak tahu diri, Ma. Berani-beraninya dia tadi main memegang tubuh Adit dan sekarang berada disini tanpa ada malu. Lebih mengesalkan lagi tadi sudah ngaku-ngaku tidak jelas lagi," ucap suami dengan pedas.
"Kamu itu bicara apaan, Nak! Dia itu Ana istri kamu," pembelaan Mama mencoba menjelaskan.
"Hah ... hah. Mama jangan bercanda. Aku belum menikah dan cintaku hanya pada Salwa seorang, jadi mama jangan ikut mengada-ada pula," tolaknya berkata masih tidak percaya.
"Apa yang kamu bilang tadi, Salwa?" Keterkejutan Mama bertanya.
"Iya Salwa. Bukankah mama sudah tahu, dari dulu Salwa adalah pacarku, dan hati ini hanya untuknya saja," ujar yang semakin membuat kami binggung.
Mata mama dan diriku sudah saling pandang. Semakin dibuat heran dan aneh saja.
"Kamu jangan mengada-ada, Adit. Kamu sudah lama putus dengannya, dan perempuan didepan kamu sekarang adalah istri yang sah," Mama masih bersikukuh membelaku.
"Mama yang sedang mengada-ada. Aku masih berhubungan baik dengan Salwa. Aku punya bukti. Aahhh, dimana handphoneku," Ngototnya ucapan mas Adit sambil memasang wajah clingak-clinguk.
"Sudah Adit, cukup. Hentikan sandiwara kamu, dan hormatilah wanita yang ada didepan kamu sekarang," Kemarahan Mama yang memuncak.
"Sabar, Ma. Kita coba tanyakan pada dokter saja, sebab kemungkinan besar ada diagnosa salah yang berhubungan dengan kecelakaan kemarin, " Legowonya diriku berkata.
"Baik'lah. Ayo!" ajak beliau gerak cepat setuju.
"Iya, Ma."
"Mama ada urusan sebentar sama dokter. Kamu jangan kemana-mana, paham!"
"Hmm."
Akhirnya aku dan Mama menemui dokter yang menanggani mas Adit. Betapa terkejutnya kami berdua, saat dokter sudah mendiagnosa mas Adit kena Amnesia, yaitu akibat benturan keras dikepalanya, diwaktu kecelakaan kemarin. Sungguh hati sangat sedih bagaikan tersambar petir di siang bolong, aku begitu syok dan tak percaya dengan berita yang baru kudengar.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini! Cinta yang baru kemarin sempat terajut. Kini hari-hariku akan dimulai lagi kisah kemuraman, untuk merasakan cinta yang penuh perjuangan," keluh kesahku didalam hati begitu cemas.
__ADS_1
"Ya Allah kuatkan dan sabarkan dalam menghadapi tingkahnya nanti," imbuku berdoa.