
Hari-hari tiada lagi terasa ada kemuraman, sebab senang telah berhasil menculik Ana, dendam terasa tak tertekan lagi seperti hari kemarin-kemarin. Aku melakukan ini semua biar Ana merasakan akibatnya, yang mana telah berani-beraninya melawan dan berurusan denganku.
"La lala lala. Heem ... hem, lalalaa," Suaraku bernyanyi penuh kegembiraan.
Tok ... tok ... tok, pintu kamar diketuk.
"Non Salwa, sarapannya sudah siap." Ucap pembantu memanggil, saat diri ini sedang bermalas-malasan berbaring di kasur.
Karena sudah mandi dan berias diri, kini kerjaanku tinggal sarapan saja, sebab hari ini berencana mau menemui kekasih hati yaitu Adit.
Dengan anggun berlengak-lenggok menuruni anak tangga. Mulai makan yang telah disediakan pembantu.
"Non, itu ... itu ... anu," ucap pembantu terbata-bata.
"Ada apaan, sih? Ngomong yang bener kalau berbicara itu! Jangan ita itu begitu," gerutu tak senang.
"Itu, Non. Digudang saya mendengar seseorang didalamnya. Apakah ada orang disana?" tanyanya tiba-tiba.
"Diam kamu. Mana ada gudang pengap dan sunyi gitu ada orang. Kalau ngomong suka sembarangan kamu," bentak melengkingkan suara.
Tubuh seketika langsung berdiri dari kursi makan, akibat kaget lontaran ucapan pembantu.
"Tapi, Non! Saya masih tidak tuli, dan beneran kayak ada orang," kekuh masih ingin mengetahui.
"Gak udah ikut campur kamu, urus saja pekerjaanmu. Baru jadi pembantu aja belagu sangat, dan sok-sok 'an ingin tahu aja?" protesku tak suka, yang duduk lagi ingin melanjutkan sarapan pagi.
"Iya non, saya minta maaf. Kalau begitu saya mau pamit ke belakang dulu," Jawabnya dengan menundukkan kepala.
"Hmm. Oh ya, siapkan nasi beserta lauk. Ada peliharaan yang harus kuberi makan," kasarnya mulut berkata.
"Peliharaan? Maksudnya apa, Non? Kok peliharaan memakai makanan, bukankah Non Salwa sedang tidak memelihara binatang?" tanya pembantu penasaran lagi.
"Alaah, banyak omong sekali mulut kamu itu. Pembantu saja sok mau tahu dan kepo amat!" bentakku dengan emosi.
"Ma-mm-mafkan saya, Non! Kalau sudah lancang," jawabnya lagi.
"Sudah jangan banyak omong lagi kamu! Cepat siapkan, sebelum kau kepecat akibat kerjaan lelet," Melengkingkan suara yang memerintahnya.
"Ba-bbba-ik, Non."
Pagi-pagi pembantu dirumah sudah mau ngajak ribut. Emosi yang sudah sempat menurun akibat mau ketemu Adit, kini mood mulai hilang dan amarah mulai naik lagi.
"Sungguh pembantu si*l*n, pagi-pagi sudah buat ulah saja," umpatku yang sudah kesal.
"In-iinn-i, Non!" Pembantu berjalan tergopoh-gopoh.
__ADS_1
Kelihatannya dia sangat takut kalau aku murka, nampak saat memberikan apa yang kuminta tangannya gemetaran.
"Sudah kamu pergi ke pekerjaan kamu, sana! Eneg sekali rasanya melihat wajahmu itu," Berbicara ketus.
"Baik, Non. Permisi."
Makanan kini sudah tersedia berada ditanganku, untuk segera memberi Ana makanan. Diri ini masih berbaik hati, karena biar dia tidak mati dengan cepat, sebab aku masih ingin bermain-main lebih dengannya.
Perut akhirnya kenyang. Tidak banyak yang kumakan. Lauk banyak yang mubazir tidak termakan. Setelah selesai, ingin berjalan ke gudang. Wajah mengawasi ke kanan kiri, takut jika ada yang memergokki apalagi si pembantu. Tangan menenteng piring berisikan makanan.
"Hallo Ana sayang, where are you?" sapaku yang mulai memasuki gudang, yang berjalan secara perlahan-lahan.
"Eem ... emm," jawabnya dalam keadaan masih terikat, dan mulut terbekap.
"Wah ... wah, sekarang kamu pasti baik-baik saja 'kan? Setelah kuhajar habis-habisan kemarin. Atau jangan-jangan sakit semua. Duh, kasihan banget nasib kamu, Ana!" tanyaku basa-basi.
"Eem," Suaranya yang tidak bisa menjawab.
"Hahahaha, gimana rasanya disekap dan diculik? Emm, pasti rasanya menegangkan dan takut, ya?" cakapku yang mendekatkan wajah untuk menatapnya lamat-lamat.
"Kamu pantas menerimanya, sebab kamu memang perempuan pelac*r, yang mana telah berani-beraninya dan tega merebut calon pengantinku, plaaaak!" kemarahanku sambil menghina dan menamparnya.
"Sekarang makanlah," ucapku dengan membuka bekapannya.
Terlihat Ana menolak. Sorot mata tajam ada amarah namun wajah berubah memelas.
"Sampai kapan? Kamu tanya sampai kapan?" balik tanyaku yang sudah mencengkram pipinya.
"Jangan begini, Salwa. Lepaskan aku."
"Sampai aku benar-benar puas bermain-main denganmu," ujarku yang langsung membanting wajahnya.
"Jangan lakukan itu Salwa, aku tidak mau kamu dalam masalah, jadi tolong ... tolong banget lepaskanlah diriku. Pasti kamu tidak akan kena masalah jika membiarkan diri ini pergi," ujarnya penuh permohonan.
"Aku tidak peduli dengan semua itu! Yang terpenting sekarang diriku bisa balas dendam dan bermain-main secara puas terhadapmu, hahahaha," Kegembiraan dalam mengancamnya.
"Kamu jangan gila Salwa, sebab kamu akan menerima segala akibatnya dari semua ini, jika tindakanmu terus-menerus begini dan tidak mau berhenti terhadapku," ceramahnya.
Wajahnya sudah acak-acakan seperti gembel. Tidak ada kata cantik yang selama ini dibanggakan orang.
"Dan pastinya mas Adit tak akan tinggal diam. Pasti dia akan mencariku sampai dapat," imbuh cakapnya yang sudah membuatku kesal.
"Akibat? Masalah? Adit akan mencari? Aku tidak takut dengan semua itu, sebab yang kuinginkan sekarang adalah mencelakaimu, dan apabila diperlukan pastinya akan membunuhmu, hahahaha. Dasar wanita bod*h. Sok mau menakut-nakuti," cakap yang tak menyerah.
"Apa?" Mukanya menunjukkan kekagetan.
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak omong kamu sekarang! Cepatlah makan," suruhku kasar.
Sikap sudah lemah lembut untuk segera memaksa makan Ana. Tangannya yang masih terikat sehingga akupun terpaksa menyuapinya, sebab tak ingin dia kabur begitu saja.
"Makan. Cepat, makan 'lah! Dasar lelet. Patut dulu Adit mau saja selingkuh denganku," Memaksa dengan menjejalkan nasi ke mulutnya.
"Bruuuusss!" Wajahku sudah terkena semburan nasi dilakukan oleh Ana.
"Iiich dasar, ternyata bisa kurang aj*r juga ukamu," kekesalanku yang sedang membuang nasi dari wajah.
Plak ... plak ... plak ... plak, bertubi-tubi tamparan telah kulayangkan dipipi Ana disebelah kiri dan kanan, sehingga membuat ujung bibirnya sedikit pecah, dan mengeluarkan darah disudut mulutnya.
"Dasar wanita sial*n."
"Kamu sudah berani-beraninya melawanku!" pekikku yang sudah naik pitam.
Braaak ... praaang, kaki sudah menendang piring nasi yang sempat kuberikan pada Ana.
Nasi beserta lauk sudah berserakan kesembarang arah yang berada dilantai. Biarlah Ana mati kelaparan. Tidak peduli lagi atas rasa kemanusiaan.
Akibat amarah yang sudah tersulut, kaki kini melangkah mencoba mengambil balok kayu, yang sedang tergeletak berada disudut ruangan.
Bhuuugh ... bhuug, sekarang tanganku berkali-kali melayangkan pukulan ke badan Ana.
"Aaaa. Aww, bhughh. Hentikan Salwa. Aku mohon. Aaaa'aa," Suaranya yang terus mengerang kesakitan.
"Aku tidak akan berhenti. Bhuugh, dasar perempuan j*lang. Bhuug ... bhugh, ini akibatnya kalau kamu berani melawanku," bentakku yang terus saja bertubi-tubi memukulnya.
"Maafkan aku, Salwa. Aaaaa, maaf!" Permohonannya yang sudah menangis kesakitan.
"Dasar perempuan br*ngs*k. Aaaaaah!" kekesalanku yang sudah berteriak.
Heehhhh. Suaraku ngos-ngosan akibat kelelahan sendiri, efek terlalu kuat memukul Ana.
Braang ... kluntaang, balok kayu yang kupakai memukul sudah kubuang ke sembarang arah. Terlihat Ana hanya meringkuk. Tanpa ada lagi suara yang keluar.
"Inilah akibatnya jika kamu telah menentangku, jadi kamu itu hanya boleh diam dan mengikuti permainanku, oke! Kalau kamu tidak menjadi orang yang penurut, diri ini pasti akan melakukan sesuatu yang lebih dari pada ini! Cam kan itu," ancamku yang masih kesal yang langsung menyumpal mulut Ana lagi.
Wajah Ana sudah pucat dan lesu. Kepalanya lemah lunglai. Tenaga mulai tak berdaya. Tidak ada rasa iba sedikitpun, sebab diriku sudah kerasukan oleh api kemarahan.
"Sekarang kamu baik-baik disini, dan jangan kabur, mengerti! Sebab aku ingin segera menemui calon pengantinku, hahahahha," gelak tawaku puas, yang telah memamerkan pertemuanku bersama Adit suaminya nanti.
"Semoga saja dengan kamu menghilang, dia akan kembali padaku, plok ... plok." Kutampar pelan pipi Ana.
"Eemmm," Suaranya tertahan dengan badan sedikit meronta, mungkin tak setuju akan tindakanku yang ingin bertemu Adit.
__ADS_1
Braaak, pintu kututup secara kasar, mengkuncinya dari luar, dan meninggalkan Ana sendirian, yang sedang meringkuk lemah tak berdaya sama sekali. Tak kupedulikan lagi rasa sakit ditubuh Ana yang telah habis-habisan kupukul barusan, yang terpenting sekarang rasa sakit hati ini sudah puas terbalaskan dengan cara menyiksanya.
Keterangan : Mungkin Beberapa part akan ada yang sama dengan kisah Adrian dan Karin, dikarenakan author malas nyari bahan tulisan lain🏃🏃