Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Membujuk Penculikan


__ADS_3

Suara orang-orang yang sedang berbicara, terdengar mengalun keras sekali. Dan setelah itu ada suara keras orang yang memukul pintu, seperti sedang ingin dibuka paksa.


Hatipun berdesir dan deg-degkan, siapakah gerangan orang-orang yang ingin menyelamatkanku? Sebab Salwa sudah kelihatan begitu ketakutan, yang mana dia sudah membawaku secara panik dan tergesa-gesa bersembunyi dibalik lemari.


Braaak, pintu telah dibuka.


Rasa gembira bukan kepalang kini menghampiriku, saat mengintip mas Adit dan Edo akhirnya berhasil ingin menyelamatkanku.


"Salwa? Ana? Dimana kalian?" teriak suami.


"Mas Adit, tolong, Mas ... tolong!" balik teriakku pilu dengan lelehan airmata.


"Aaah, kurang asem. Kenapa kau berteriak!" Salwa membungkam paksa mulut.


"Apa yang kamu lakukan pada Ana, Salwa?"


Wajah suami tersontak kaget. Ada kemungkinan dia tidak percaya jika aku sekarang benar-benar kacau.


"Diam kamu!" cegah Salwa,


yang kini berdiri tepat dibelakangku.



"Tolong aku, Mas." Wajah memelas.


"Iya Ana. Tenang ... tenang, oke!" ujar mas Adit.


Tangan suami sudah berayun pelan-pelan keatas bawah.


"Kalian jangan maju, atau aku akan membunuh Ana," ancam Salwa pada Edo dan mas Adit, yang sudah menaruh pisau dileherku.


"Jangan ... jangan lakukan itu, oke!" ketakutan mas Adit.


"Hahahaa, ternyata kamu begitu takut sekali, bila aku benar-benar membunuh istrimu ini!" cakap Salwa.


"Jangan, Salwa. Itu sangat berbahaya."


"Berbahaya apanya? Kamu jangan harap bisa memilikinya, Adit! hahahaha," Kegilaan Salwa yang mulai muncul lagi.


"Apa maksudmu?" tanya mas Adit bingung.


"Apa maksudku? Kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu, tapi mengapa kamu tidak sedikitpun melirikku kembali, hah? Apakah aku tidak terlalu baik dan cantik lagi untukmu? Sudah lama kita menjalin asmara, tapi kenapa kamu bisa melupakanku begiti saja, Adit? Bahkan kenangan indah kita kamu buang begitu saja," Sjara serak Salwa pilu dengan sedihnya.


"Maafkan aku Salwa. Ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah, bahwa ternyata kamu bukanlah jodohku," jawab mas Adit terlihat begitu cemas, saat pisau masih bertengger pada panca indra menelan makanan.



Sedikit nyeri saat ujung pisai itu menancap. Salwa semakin menekan mata pisau sehingga akupun tidak bisa bernafas lega. Sekujur tubuh begetar, takut jika Salwa tidak main-main sama ancamannya.


"Takdir? Jodoh? Bukankah itu semua bisa dirubah, jika hatimu juga ikut berubah, hah! Apa kau tidak bisa merasakan rasa sakit dihatiku? Hh, sungguh nelangsa diriku yang mengemis cinta padamu, dan sekarang aku ingin kau juga berbalik rasakan mengemis cinta pada Ana. Jika dia mati, pasti rasanya akan terpuruk ditinggal oleh orang yang dicinta itu gimana," ucap Salwa marah-marah dengan menambah tekanan pada leherku.


"Jangan ... jangan, jangan lakukan itu, Salwa! Kita bisa bicarakan ini semua dengan baik-baik, oke!" Mas Adit berbicara selembut-lembutnya, biar Salwa bisa diajak bernegosiasi.


"Bulsit dengan kata-katamu itu. Jangan mendekat. Atau aku akan segera melakukan hal gila yang kuinginkan."


Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa, dikarenakan ketakutanpun sedang melanda dalam diriku juga, takut-takut jika Salwa benar-benar akan mengores leherku.


"Benar, Salwa! Kamu jangan lakukan ini, pasti nanti semuanya bisa membahayakan kamu juga, jadi letakkanlah pisau itu, oke!" Edo kini ikut-ikutan membujuk Salwa.


__ADS_1


"Diam kalian!" Salwa mengancam.


Wuueees, pisau sudah terayun mengarah ke mas Adit dan Edo, disaat mereka berdua ingin sekali mendekati kami. Untung saja mereka dengan sigap dan secara kilat bisa menghindar, dengan cara melompat kebelakang mencoba menjauhkan diri.


"Kalian diam semua, gak usah ikut campur urusanku," gertak Salwa, yang kini semakin berani meletakkan ujung pisau tepat didekat dagu.


"Minggir."


Semakin menegangkan saja. Tangan kanan sibuk memegang pisau dan sekaramg yang kiri berusaha membuka kunci jendela kaca. Pembatas pagar kamarnya tidak terlalu tinggi. Kalau diukur hanya sebatas lutut. Dipenuhi hiasan bunga yang berjejer dipinggiran. Mas Adit dan Edo mengikuti sampai ke tempat Salwa yang masih bertahan.


"Jangan ... jangan Salwa! Apa yang kamu inginkan akan kupenuhi, tapi tolong ... tolong banget lepaskan Ana, oke!" bujuk mas Adit, dengan langkah pelan-pelan mulai maju.


"Aku tidak menginginkan apa-apa, Adit! Hanya cintamulah yang kuinginkan sekarang," pinta Salwa dengan suaranya yang sudah sendu.


"Tapi, iii-tuu-?"


"Apa kamu bisa mewujudkannya, hah! Tidak bisa 'kan," pekik Salwa emosi.


Hanya diamlah yang mas Adit berikan, sebab mungkin berat untuk mengatakan dikarekan ada diriku dihadapannya.


Hanya geleng-geleng kepala kuberikan pada Mas Adit, untuk membantu menjawab pertanyaan Salwa, agar tak segera menuruti keinginan Salwa, yang menurutku kegilaaannya semakin muncul tidak terkontrol.


"Kenapa kamu diam? Pasti kamu diam dikarenakan tak sanggup mengabulkan permintaanku, sebab kamu terlalu mencintai wanita br*ngs*k ini!" ungkap Salwa terdengar sudah geram.


Ujung pisau yang lancip terus saja ditaruh dileherku, dan kini sudah mulai terasa sakit bagai sudah tertembus dikulit. Leher sekarang terasa ada aliran air yang mengalir lurus kebawah, mungkin itu adalah darah akibat Salwa terlalu kuat menekan pisau.


Banyak sekali tertera ekspresi di wajah mas Adit, seperti binggung, takut, dan paling kelihatan adalah khawatir, mungkin dia sedang susah untuk memutuskan sesuatu yang mustahil dia akan penuhi.


"Jawab, Adit!" teriak Salwa merasa muak.


"Baiklah Salwa. Aku akan menuruti perkataanmu, dan berusaha mencintaimu," Suara mas Adit berat mengatakan diiringi dengan kepala tertunduk.


"Benarkah itu?" jawab Salwa dengan penuh kegembiraan.


"Iya benar. Tapi tolong lepaskan Ana dulu!" perintah mas Adit.


"Apakah benar yang kamu katakan barusan? Atau jangan-jangan kamu hanya mengelabui, dengan cara berbohong menyanggupi permintaanku, tapi setelah itu kamu akan mencampakkan dan meninggalkan. Jadi aku tak akan terhayut dengan bualanmu itu!" keluh Salwa yang tak mau di ajak kompromi.


"Aku janji Salwa, diri ini akan berusaha mencintaimu lagi, kalau perlu kita bisa menikah. Tapi tolong lepaskan Ana dulu, oke!" kelanjutan mas Adit masih membujuk.


"Bohong. Aku tidak percaya."


"Aku berjanji akan meninggalkannya. Kamu tahu sendiri bahwa aku tidak pernah berbohong, jadi tolonglah percayai diriku sekarang," tambah mas Adit berkata.


"Baiklah aku percaya dan akan melepaskan Ana, tapi janji setelah ini kamu akan menikah denganku," Akhirnya hati Salwa yang beku bisa diluluhkan.


Pisau yang tadi dileher, kini sudah tersisih tak mengores lagi.


Wiu ... wiu, suara sirine mobil polisi telah datang.


"Apa yang kamu lakukan Adit, hah!" kemarahan Salwa dengan melototkan mata.


"Kamu ternyata telah menelpon polisi!" geram Salwa terdengar memuncakkan emosi lagi.


"Jangan salah paham, oke."


"Dasar b*ngs*t."


"Tidak ... tidak, Salwa. Polisi itu hanya ingin menyelamatkan Ana, jika kamu tadi tidak mau melepaskannya. Jadi karena kamu sudah melepaskan Ana, sekarang juga aku akan menyuruh polisi itu pergi. Kamu tidak perlu takut, ok! Bila pihak kepolisian itu kesini," Kegugupan mas Adit yang takut Salwa akan melukaiku lagi.


Lagi-lagi pisau yang menyilaukan dan membuat bergindik ngeri yang meilhatnya, kembali ditaruh leher.

__ADS_1


"Bohong kamu!" bentak Salwa marah.


"Pergi kalian. Pergi, kubilangg pergi!" ancam Salwa.


Bhug ... bhug, suara deru langkah begitu ramai akan datang ke kamar, dan benar saja sekitar enam polisi kini sudah ditempat kejadian perkara.


"Aaaakhgh ... aaakh," kekesalan mas Adit menjambak rambut.


Terlihat Edo menepuk bahu mas Adit, mungkin niat hati ingin menenangkannya.


"Bagaimana, Pak?" sapa pihak kepolisian sudah datang.


"Lihat, Pak! Dia tidak mau melepaskan istri saya," keluh mas Adit merasa frustasi.


"Biar kami yang atasi. Kamu menepi dulu, siapa tahu kami bisa membujuknya."


"Baiklah."


Dua polisi sudah maju mendekati posisi kami.


"Lepaskan dia Nona, maka kamu akan aman, dan tak akan dapat hukuman yang berat, jadi tolong lepaskan korban sekarang!" bujuk salah satu pihak kepolisian.


"Aku tidak mau," tolak Salwa.


"Oke. Apakah kita bisa bicara baik-baik?"


"Tidak mau. Kalau kalian nekat, maka aku akan membunuhnya," ancam Salwa.


Leher terasa tercekik. Menahan nafas ketika merasa tegang. Salwa mundur-mundur menghindar.


"Pergi kalian dari sini!" gertak Salwa dengan mata melotot memerah seperti orang kusurupan.


Langkah terpaksa mengikuti jalan Salwa, yang lama-lama terus mundur ke belakang, dan kini dipinggir pembatas luar kamar yang bisa-bisa tanpa kesembangan bisa mulunjur terjun jatuh ke bawah.


Pistol pihak kepolisian, kini sudah mengarah kepadaku dan Salwa.


"Lepaskan korban! Atau kami akan melukai anda," ancam polisi menodongkan pistol.


"Aku tidak mau. Aaaaaah, aku tidak mau," pekik Salwa dengan kerasnya.


"Jangan gegabah. Kami hanya ingin mengajak negosiasi, jadi lepaskan korban."


Kulihat polisi sudah ancang-ancang, seperti ingin segera meluncurkan pelurunya.


"Jangan harap. Jika kalian nekat maka kami harus mati bersama," Salwa tidak mau menyerah.


Tersontak kaget jika Salwa nekat. Mata berkaca-kaca melihat ketampanan Mas Adit yang khawatir akut.


"Apakah ini akan jadi akhir bagi kita, Mas. Jaga anak kita. Aku mencintaimu," rancau hati yang tidak karuan lagi rasanya.



"Jangan salahkan kami, Nona."


Duuuuuar, sebuah tembakan kini terlepas, yang mana peluru sudah menembus bahu Salwa sebelah kanan.


"Aaaaahhh," Suara Salwa tertahan akibat kesakitan.


Jleeeeb, sebuah pisau yang tadi untuk mengancam, kini sudah terhunus di belakang pinggangku, yang dilakukan oleh Salwa menggunakan tangan kirinya.


"Aaaaa," erangku tertahan akibat sakit kena tusukan.

__ADS_1


__ADS_2