Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kedekatan Kami ( SEASON 2)


__ADS_3

Kedekatan kami kian akrab. Rara kayaknya makin lengket tidak mau berpisah saja. Setiap hari kalau ada waktu luang maupun sepulang sekolah, selalu saja menyempatkan waktu untuk berkunjung.


"Tante Karin, pasti capek ya?" celotehnya yang kini mengelap keningku dengan tisu ketika mengalirkan peluh.


Rara sudah duduk santai ditepian meja, yang dibuat mengaduk tepung untuk dijadikan bahan kue. Wajahnya kelihatan penasaran, dengan segudang tatapan kelucuan kearahku.



"Enggak juga, sayang. Tante biasa kerja kayak gini," jawaban sambil melempar senyuman.


Kepala Rara hanya mangut-mangut, seperti tanda mengerti saja, tapi namanya juga anak kecil, jawaban iya sebenarnya tidak mengerti yang seolah-olah memang paham.


"Rara kangen sama mama," cakapnya bermuka sedih.


Tangan yang tadi sempat sibuk sekarang seketika berhenti, saat mendengar keanehan dari penuturan anak kecil itu.


"Emm, emang mama Rara dimana?" Kekepoan ingin tahu.


"Mama sudah meninggal waktu Rara masih bayi," Kepolosan jawaban.


"Astagfirullah. Apakah benar yang kamu katakan, sayang?" Rasanya tidak percaya saja anak kecil seperti Rara sudah menjadi yatim.


Lagi-lagi kepalanya sudah mengangguk pelan.


Pekerjaan yang sibuk segera kusudahi. Kaki mulai menyusuri jalanan untuk menuju tempat kran air. Jari-jari yang kotor segera kutengadahkan dikran air biar segera bersih. Tetesan air yang menempel ditelapak tangan segera kukibas-kibaskan pelan agar bisa secepatnya berkurang. Dilap dikain sangat mujarab juga cepat kering.


Tubuh anak kecil yang masih terbengong melihat kearahku, langsung saja kuangkat tubuh mungilnya agar bisa kupangku diatas paha.


"Rara beneran kangen sama, mama?" Ulang perkataan.


"Iya, Tante. Rara sangat merindukan mama. Tiap hari Rara tidak bisa memeluk tubuh mama, tapi hanya foto yang terpajang didalam bingkai selalu terpeluk," terang bocah yang wajahnya kini tertempel dipipiku.


"Ya Allah, pasti sakit sekali hatinya. Ingin memeluk sang mama tapi tidak bisa," Kepiluan hati menatap sedih kearah wajah polos itu.


"Yang sabar ya, sayang. Kamu tidak usah sedih, cukup doakan mama akan tenang disana. Mungkin itu memang takdir yang sudah ditentukan untuk kamu, tapi yakinlah suatu saat nanti pasti kamu akan bisa memeluk kehangatan seseorang sebagai penganti mama kamu," ucapan mencoba menenangkan dan memberi pengertian.


"Iya, Tante. Rara mengerti, tapi Rara pengen banget dan kalau bisa sekali saja bisa memeluk tubuh mama," Permintaan yang kadang mustahil.


"Berdoa banyak-banyak untuk mama, siapa tahu ada keajaiban dan itu bisa terjadi jika Allah sang pencipta alam semesta ini telah berkehendak."


Anggukan kepala perlahan telah ada. Beban yang ada dalam pikirannya, kini telah lemah bersandar didadaku. Rara nampak manja, ketika keinginannya itu kini begitu mengebu. Tangan hanya bisa mengelus pelan rambut berwarna hitam pekat agar dia bisa tenang.

__ADS_1


Percakapan tentang keluarga Rara terus dia ceritakan. Bocah cantik dan mengemeskan terus saja berceloteh lucu, ketika dengan detail membicarakan kejadian dalam rumahnya.


Entah sudah berapa lama Rara berada disini, yang jelas sudah hampir menjelang sore belum ada tanda-tanda dia akan dijemput seseorang. Walau tidak merepotkan dalam toko, tapi jadi khawatir saja saat senja yang kemerahan mulai nampak.


Selama sibuk ditoko membuat pesanan pelanggan, alhamdulillah Rara tidak rewel maupun menyusahkan, ditambah lagi kemungkinan akibat lelah dia sekarang tidur.



"Kamu antarkan pesanan ke alamat yang tertera dikertas itu," suruhku pada pegawai saat memberikan beberapa kotak kue.


"Sipp, Mbak."


Kue segera kuoper ketangan pegawai. Hanya ada sekitar dua kardus dan didalamnya ada sekitar 50 biji kue. Kusuruh dua pegawai mengantarnya, sebab memakai motor maka yang dibonceng belakang nanti bisa mudah memegang kotak itu.


"Permisi!" sapa suara seorang pria.


Ketika sibuk melayani pegawai yang siap mengantar, badan berbalik kilat untuk melihat siapa gerangan yang memanggil.


Sebuah lambaian tangan lemah telah tertuju padaku. Pelakunya tidak lain adalah papa Rara yaitu Chandra. Tak henti-hentinya senyuman itu membuat jantung melemah ingin menghindarinya saja.


"Kamu?" jawabku kaget.



"Hah, darimana orang ini telah tahu namaku?" guman hati kebingungan.


"Hai juga. Tidak menganggu, kok." Alasan biar dia tidak tersingung.


"Kalau menganggupun lanjutkan saja pekerjaan kamu, sebab aku kesini hanya ingin jemput Rara saja," jelasnya.


"Owwwwwh, Rara."


"Kenapa aku bisa lupa akan Rara. Kamu terlalu keger'an dan salah menduga kalau Chandra datang untukmu," guman hati salah berharap.


"Iya, Rara." Wajahnya nampak heran melihatku yang ternganga.


"Oh, iya ... iya. Maaf aku sedang tidak fokus sebab banyak kerjaan," alasan yang berbohong.



"Enggak pa-pa, aku memahami itu. Bisakah aku membawa Rara sakarang?" cakapnya tidak sabar.

__ADS_1


"Oh, tentu saja. Rara sedang tidur tadi. Mari akan aku antar sekarang," jawab dalam keadaan gugup.


"Baiklah. Makasih sudah jagain Rara."


"Iya, sama-sama."


Kali ini aku mengikuti jejak tapak kakinya dari belakang. Sepertinya Chandra sudah hafal dimana ruangan Rara terlelap.


Pintu telah terbuka. Rara masih saja meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Chadra langsung menghampiri. Tangannya kini sibuk masuk diantara leher dan kaki untuk segera mengendong didepan.


"Terima kasih sudah jagain, Rara. Maaf telah merepotkanmu atas sikap dia," ucap Chandra merasa tidak enak.


"Tidak ada, kok. Biasa saja. Lagian aku senang dia berada disini, sebab ada teman untuk mengobrol."


"Iya, saya tahu. Tapi kayaknya Rara sangat menyayangi kamu, sehingga dia sekarang sering mengunjungi."


"Benarkah itu? Aku kok baru tahu. Tapi itu semua wajar jika terjadi sama anak kecil. Mungkin saja Rara nyaman berteman denganku, makanya dia sering kesini."


"Pastinya dia akan menyanyangi dan lengket sama seseorang, jika membuat hari-harinya terasa indah. Mungkin itu yang telah kamu lakukan, sebab selama beberapa tahun ini Rara hanya sebagai anak pemurung," jelas Chandra yang masih sibuk mengendong tubuh mungil itu.


"Benarkah itu? Berarti Rara sangat beruntung bertemu denganku."


"Iya, terima kasih untuk semuanya, Karin."


"Emm, apakah mungkin kemurungan Rara akibat dia terlalu merindukan dan ingin bertemu dengan ibunya," tebak mulut yang tak terkontrol.


"Bisa jadi itu alasan utama, sebab waktu masih bayi Rara tidak bisa melihat wajah ibunya sampai sedewasa ini, akibat sebuah penyakit yang diderita sehingga kini sudah tidak berada ditengah kami." Chandra menundukkan kepala, napak raut wajahnya sekarang menyimpan kesedihan.


"Maafkan aku, yang sudah mengungkit masa lalu kamu."


"Tidak apa-apa. Mungkin kamu berhak tahu, sebab Rara kini dekat dan ingin terus bermain dengan kamu."


"Hmm, semoga saja dia beneran bahagia bisa berada didekatku."


"Amin. Terima aksih atas pengertiannya. Ya sudah, kalau begitu saya permisi mau membawa pulang Rara dulu."


"Oh, iya ... iya. Mari saya antar."


"Makasih."


Percakapan yang singkat namun sangat berarti, sebab berhasil mengetahui semua yang ada dihati malaikat kecil bernama Rara itu. Kerinduan yang mendalam pada sang ibu pasti sangat menyiksanya, sehingga sekarang merasa nyaman dan berkunjung terus ketempatku. Chandra kuantar sampai kedepan pintu, tubuhnya mulai menghilang bersama mobilnya sendiri yang berwarna hitam.

__ADS_1


__ADS_2