
Walau aku mempunyai suami kaya, tapi aku tidak pernah sedikitpun untuk membanggakan kekayaannya, sebab tahu persis dari mana asalku berada.
Mas Adit adalah CEO dari perusahaannya, dengan segudang harta yang melimpah ruah. Dia maupun mertua sering kali menawarkan pakaian, perhiasan yang terbilang mewah dan branded, tapi aku hanya kalangan bawah dari orang-orang miskin, yang tak terbiasa dengan itu semua. Pasti orang tak menyangka bahwa aku adalah seorang istri dari kolongmerat, bagiku kecantikan tak diukur dari rupa maupun kekayaan, tapi mengukur dari hati yang kaya akan kebaikan ataupun kasih sayang pada semua antar sesama.
"Alhamdulillah gaji sudah berada di tangan, tak sia-sia aku bekerja keras selama ini, walaupun kamu ikut juga andil tentang gaji."
"Terima kasih, Mas. Kamu telah berhasil mengertikan diriku. Kamu tidak mengunggul-unggulkan kekayaanmu. Ini semua real hasil keringatku sendiri. Walau aku tahu betul, kamu cukup lebih bisa membayarku lebih dari gaji yang berada ditanganku sekarang ini," guman hati berbicara sendiri, yang sedang melangkah untuk pulang ke rumah.
"Duuuuar, bbbaaa!" Suara Mas Adit mengagetkan, yang datang secara tiba-tiba.
"Astagfirullah, Mas! Ngak bisa apa, enggak ngagetin. Untung saja aku tidak ada riwayat penyakit jantungan," keluhku marah sambil tangan mengelus-elus dada.
"He ... he ... he, maaf. Sebab dari tadi melamun saja! Gak nyadar apa, aku sudah lama berjalan mengikutimu dari belakang. Memang apaan sih yang lagi dipikirkan?" tanyanya.
"Gak ada sih, Mas! Cuma binggung mau beli apa? Maklum baru menerima gaji," jawabku.
"Traktir aku saja!."
"Mas Adit orang kaya, masak gajiku yang gak ada seperempatnya dari kamu mau minta ditraktir. Ceritanya mau memerasku 'kah?."
"Memang sih aku orang yang kaya, tapi itukan gaji pertama kamu, sekali-kali mencicipi hasil kerja kerasmu, boleh 'kan?" bujuknya.
"Boleh sih, tapi uangku mana cukup, untuk membeli makanan yang selama ini Mas Adit biasa makan!" alasanku.
"Yah ... yah, gak jadi nih makan-makannya!" kekecewaannya berucap.
"Bukan gitu, tapi ini beneran tidak cukup."
"Gimana kalau kamu masak saja! Kita beli bahan makanannya makai uang kamu," idenya muncul.
"Masak!" ucapku sedikit berpikir.
Kami berdua tengah berjalan ingin keluar dari perusahaan, saat sudah jam waktu pulang.
__ADS_1
"Aku saja yang masakin kamu, gimana?" tawarnya bertanya dengan jalan mundur-mundur menatapku.
"Memang bisa?."
"Bisa dong! Selama kamu ngak ada, aku mulai belajar masak sendiri. Pasti terjamin enak lho!" Kesombongannya.
"Masak sih! Bukannya Mas Adit selama ini makan dari memesan saja," Kubongkar ucapannya.
"Hi ... hi ... hi, kok tahu! Jangan bongkar-bongkar rahasia, tapi sedikit-sedikit bisalah! Pokoknya ayo kita belanja dulu, pasti kujamin kamu akan puas dengan layananku," ajaknya ingin segera berbelanja.
"Eeeh, iya ... iya. Jangan tarik begini," Tangan sudah digandeng agar mengikuti langkahnya.
"Ayo cepetan. Sudah tidak sabar, nih."
"Iya."
Kami berdua sudah sepakat untuk jadi memasak.
Akhirnya hampir satu jam lebih diperjalanan dan berbelanja, kini tangan kiri kanan sudah penuh oleh belanjaan bahan dapur dan makanan ringan.
"Beneran Mas, gak mau dibantu?" tanyaku saat menghampiri didapur.
"Ok 'lah. Kalau itu memang keinginan kamu."
Ada sedikit keraguan yang menghampiri atas tingkahnya hari ini, sebab selama ini tidak pernah melihatnya memasak. Kalau tidak memesan makanan, paling-paling juga makan dengan mie instan.
Didalam rumahnya, tubuh sudah mulai kuguyur dengan air shower. Rasanya begitu nyaman dan segar sekali. Lelah dan semua rasa pegal-pegal badan akibat pekerjaan seketika terasa menghilang.
Braaaak ... klongtang, suara benda besi jatuh.
"Aa ... aaa," teriak suara Mas Adit tiba-tiba.
"Ya ampun, apa yang terjadi pada, Mas Adit?" gumanku dalam hati yang secepatnya harus menyudahi aktifitas mandi.
Secepat kilat langsung kukenakan baju dan berlari menuju dapur, ketempat suami yang sedang ngotot ingin masak sendirian.
__ADS_1
"Ya Allah, Mas! Astagfirullah, apa yang terjadi?" ucapku menghampirinya.
Terlihat Mas Adit sudah terduduk dilantai, mengengam erat kedua telapak tangannya. Minyak goreng nampak sudah menyembur berserakan di sembarang arah.
"Aa ... aa, Ana. Tolongin sakit nih!" Telapak tangannya sudah memerah ditunjukkan padaku.
"Ya Ampun, Mas! Ceroboh sekali kamu. Tadi sudah dibilang biar aku saja yang memasak, degil amat sih! Ini akibatnya kalau tidak mau mendengarkan ucapanku," ocehan menyalahkan dia.
Dengan segera mencoba menyiramkan air dingin yang mengalir ke telapak tangannya.
"Iya ... iya, aku minta maaf," balas ucapnya.
Setelah kurasa cukup menguyur air, dengan telaten kuberi salep dan kain kasa untuk membalut luka bakarnya.
"Nah, sudah selesai mengobatinya. Sekarang aku akan pergi ke dapur, untuk melanjutkan memasak!" ucapku berpamitan.
"Eitth, tunggu! Kamu gnak usah masak, kita pesan saja. Kamu temenin aku disini!" perintahnya.
"Tapi, Mas! 'Kan mubazir, sayuran dan lauk sudah beli banyak begitu!" tolakku.
"Gak ada tapi-tapian, kamu rapi'in saja dalam kulkas sayur-sayur tadi. Lain kali saja memasaknya," suruh.
Diriku lagi-lagi tida bisa menolak. Langsung kuturuti saja perintah mas Adit, dengan memesan makanan siap saji. Katanya dia takut jika aku akan terluka seperti yang terjadi padanya barusan.
Ting ... tong ... ting ... tong, bel apartemen berbunyi.
Ceklek, pintu kubuka.
"Mbak, ini pesanan yang barusan dipesan!" ucap Masnya mengantarkan makanan.
"Ooh ... iya, Mas. Terima kasih!" jawabku sambil tanda tangan dan membayar bon.
Akhirnya dengan terpaksa, kami memakan-makanan saji yang telah dipesan. Begitu tak tanggung-tanggungnya Mas Adit memesan. Mentang-mentang orang kaya dan banyak uang, banyak sekali makanan yang dipesan. Kini mejapun penuh oleh makanan, sampai-sampai binggung mau makan yang mana duluan.
"Ana, kamu gak usah pulang dulu, ya! Please ... please. Kamu tahu 'kan tangan masih sakit, masak kamu tega meninggalkan aku sendirian dirumah. Kalau ada sesuatu yang ingin kulakukan, contohnya mengambil barang berat gimana? 'Kan gak bisa, tanpa ada bantuan dari orang lain. Ya ... ya, nginep kali ini aja, please!" permintaannya yang manja.
"Tapi 'kan, Mas! Takut Bapak marah dan nyariin nanti," ucapku binggung.
__ADS_1
"Ayolah, Ana. Bapak pasti negertiin, kok! Rengeknya lagi.
"Iya ... iya," jawabanku yang terpaksa.