Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang=Rencana Misi Mengikuti Suami


__ADS_3

Suster untuk merawat Aliyapun sudah ada, dan itu semua mama mertua yang merencanakan dan membiyai, jadi Aliya kini bisa tidur aman dengan sang suster.


"Gimana suster? Apakah dia sudah tidur?" tanyaku yang sudah masuk dalam kamar.


"Matanya sudah terpejam, tapi tidur belum nyanyak sekali," jawabnya.


"Sudah, biarkan aku saja gantian yang menidurkan. Kalau kamu ingin makan, atau mengerjakan hal-hal lain, boleh pergi sekarang! Dan aku akan menjaganya sampai dia tidur nyenyak."


Jangan biarkan orang lain kelaparan, walaupun pembantu masih sibuk sekalipun tentang pekerjaan. Bagiku kalau sampai tidak ada tenaga akibat kelaparan, ya bakalan menyusahkan kami juga.


"Iya, Non. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi, mau kedapur makan dulu," pamitnya.


"Iya, gak pa-pa, pergilah!."


Lama sekali tangan bergerak mengoyang-goyangkan keranjang tidur Aliya, dan rasanya mata begitu ngantuk sekali mau tidur.


"Non ... Non?" panggil suster Aliya.


"Heh, ee'eh. Ada apa?" tersentak kebangun, yang langsung membuka mata.


"Biar saya saja yang nunggu Aliya. Kalau Non ngantuk, boleh pergi kekamar sekarang," ucapnya.


"Ooh ... iya, Sus. Kamu tunggu dia tidur disini, aku mau ke kamar dulu. Huuuuah ... ngantuk banget nih rasanya," jawabku sambil menguap.


"Iya, Non."


Langsung saja kaki yang gontai, berusaha secepatnya agar sampai kekamar untuk tidur.


Tubuh sudah kubanting kesembarang arah, sebab sudah tak tahan ngantuk, diiringi badan terasa capek sekali. Mas Aditpun tak kuberitahu bahwa aku menginap dirumah mertua, dan biarkan saja dia mencari-cari di apartemen, sebab inilah hukuman baginya gara-gara menerima permintaan si janda bahenol.


Entah berapa lama mata ini terpejam, yang jelas perut sekarang terasa ada sebuah tangan yang mulai mengrayahi seperti memeluk, sehingga membuat matapun terbelalak bangun. Badanpun sudah berbalik arah, untuk melihat siapa gerangan yang sudah berani main memeluk, dan tenyata oh ternyata adalah suami sendiri, yang hari ini sudah membuat hatiku dongkol kesal.


"Mas, kamu?" ucapku tak suka, dengan mata melotot.


"Kenapa ... kenapa?" balik ucapnya tak suka.



"Apaan sih?" ujarku yang sudah berbalik, membelakanginya lagi.


Tidur kembali, dengan menarik kuat selimut agar dia tidak ikutan.


"Kamu kenapa sih? Seperti sedang marah saja?" ucapnya curiga.


"Enggak!"


"Bohong."


"Aku lagi ngak marah," jawabku ketus.


"Kamu itu ngak usah bohong, tak pandai lho kamu itu berbohong!" Kecurigaan mas Adit lagi.

__ADS_1


"Masak, sih!"


"Iya, sayang. Ayolah kamu itu kenapa, sih!" rayunya yang mengeratkan pelukan, diiringi kepala mas Adit ditaruh diatas kepalaku.


"Beneran, Mas! Tidak ada," jawabku masih membelakanginya.


"Kamu tidak menghubungi Mas bahwa menginap dirumah mama, kalau itu namanya tidak marah, terus apaan lagi? ujarnya masih curiga.


"Aku lagi capek dan pegal-pegal badan, akibat mengasuh Aliya yang kini mulai aktif, jadi tadi tak sempat menghubungi Mas, sebab mata tiba-tiba sudah tertidur ya jadinya kelupaan," alasanku yang berbohong.


"Iyakah?" ujarnya yang masih tak percaya.


"Aaaah ... selalu saja susah kalau ngomong sama Mas Adit ini," Kepura-puraanku ngambek.


"Iya ... ya, Mas percaya sekarang, kamu jangan marah lagi. Cuuuup," bujuknya sambil mencium pipiku.


"Mas laper banget nih! Boleh 'kan minta tolong buatin makanan," permintaannya.


"Memang Mas tadi belum makan?"



Seketika menoleh ke arahnya.


"Jam empat sore tadi sudah makan, rasanya sih tadi sudah kenyang, tapi entah mengapa malam-malam begini perut Mas jadi laper banget," Menjelaskan penuh keseriusan.


"Heeeh ... hhh, baiklah. Aku akan menyiapkan makanan," jawabku yang sudah langsung bangkit dari tidur.


"Mas Adit tunggu disini saja, aku akan kedapur untuk memasak. Kalau semua sudah siap, nanti akan kupanggil."


Tangan sudah sibuk membuka kulkas, untuk mencari bahan-bahan yang bisa dimasak, dan ternyata hanya ada telur, sosis, wortel, sawi, dan kemungkinan bibi pembantu belum berbelanja, yang terlihat dari kulkas yang agak kosong. Mas Adit tak suka makanan yang sudah dingin, ataupun sisa makanan, jadi harus fress yang baru dimasak baru dia akan mau makan.


Wortel, sawi, sosis sudah kupotong-potong untuk campuran nasi goreng, sedangkan telur hanya kuceplok berbentuk mata sapi saja.


Klonteng ... klonteng, suara wajan sudah berbunyi, akibat benturan spatulla untuk mengaduk nasi.


"Kamu sedang masak apa, sayang!" tanya Mas Adit yang sudah datang, dan kini sudah memelukku dari belakang.


"Masak nasi goreng, mas! Apa kamu gak lihat ini?" sewotku menjawab.


"Eeeit ... sedang marah lagi 'kah?" jawabnya yang curiga lagi.


"Heeeh ... enggak, Mas."


"Kamu duduk saja dulu, aku susah tahu untuk memasak. Lagian ngak malu apa nanti dilihat orang rumah, yang sudah main peluk-peluk segala," ketus nada bicaraku.


Tidak bisa leluasa bergerak.


"Iya ... iya, jangan marah lagi kenapa. Oke deh! Mas akan duduk manis sekarang, menunggu kamu selesai masak," jawabnya yang penurut.


"Nah gitu dong, 'kan enak akunya."

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk tangan mengaduk-ngaduk nasi, dan kini hidangan itu sudah tersedia dimeja, untuk siap disantap oleh mas Adit.


"Enak ngak?" tanyaku yang melihat Mas Adit sudah lahap makan.


Hanya acungan jempol yang dapat diberikannya untuk menjawab pertanyaanku.


Makan malam Mas Adit telah selesai juga, dan pada akhirnya kamipun tertidur pulas, yang sama-sama saling berpelukan.


Mentari pagi telah bersinar terang, yang seakan-akan memanggil penghuni bumi untuk menyuruh melakukan aktifitas sehari-hari, yang tak terkecuali dengan Mas Adit yang kini sudah pergi ke perusahaannya untuk bekerja. Akupun berselang setengah jam suami berangkat, langsung saja berangkat kerja juga, dengan cara diam-diam tanpa suami mengetahui.


Hal pertama ketika datang ke tempat bekerja, adalah ingin bertemu dengan sekertaris Rudi, sebab ingin tahu kabar baik apa yang dia dapatkan, dari menyelidiki tempat pesta si janda Nola nanti malam.


Lama sekali aku menunggu, tapi batang hidung sekertaris Rudi tak nampak-nampak bahwa dia akan datang.


"Shhuuuiit ... suuuh," panggilku seperti bersiul tapi tak mengeluarkan suara.



Sekertaris Rudipun telah menghampiriku, dan pada akhirnya kami berbicara menepi, ke tempat yang lebih aman dari orang-orang.


"Gimana penyelidikanmu?" tanyaku penasaran.


"Beres semua," jawabnya santai.


"Maksudnya?" ujarku masih penasaran.


"Kamu bisa masuk ke pesta itu, tapi dengan cara menyamar sebagai pegawai pelayan disana," penjelasan sekertaris Rudi.


"Ooh. Apa ngak ada cara lain, seperti menyamar siapa gitu? ucapku menawar.


"Gak ada. Kalaupun kamu menyamar menjadi orang lain, pasti bos Adit akan tahu. Itupun berkat ada teman yang kukenal, sehingga kamu bisa mudah menyamar sebagai pelayan disana," jelasnya.


"Heeeh, baiklah kalau begitu. Nasib ... nasib, beginilah kalau jadi orang kalangan bawah, menyamarpun harus menjadi pelayan," keluhku.


"Tapi kamu dapat alamatnya betul 'kan?."


"Terjamin 100 persen benar."



"Oh ya, kamu disana ngak bisa menyamar sebagai pegawai perempuan, tapi pelayan cowok," jelasnya lagi.


"What?" Kekagetanku.


Tangan terbentang ke atas, seperti Rudi memberitahu jika tidak ada pilihan lain


"Aah ... sekertaris Rudi, apakah tidak ada cara lain untuk penyamaran. Kenapa harus jadi pelayan cowok," keluhku tak suka.


"Gak pa-pa, Ana. Itupun sangat kuat sekali mirip dengan karakter kamu. Lagian disana tidak boleh memakai masker, harus bersih dan higenies semua hidangan. Sebab nanti kalau kamu memakai masker, para tamu akan mengira kamu sedang sakit, dan pastinya mereka tidak akan suka, yang lebih tepatnya kamu gak akan bisa menjalankan aksi memata-matai," penjelasan sekertaris Rudi yang masuk akal.


"Heeeh ... hhh, ok deh! Semua harus terjalani, demi menyelamatkan suami dari si janda itu," ucapku semangat empat lima.

__ADS_1


Dengan terpaksa diri ini harus menuruti rencana Sekertaris Rudi, sebab aku tak mau gagal dalam menghalangi si janda bahenol itu menggoda mas Adit.


"Aku harus tahan semuanya, demi suami tercinta," bathin yang pasrah.


__ADS_2