
Aku sekarang hanya bisa menyaksikan saja. Kasihan sama mas Adit yang begitu repotnya keluar masuk perusahaan, untuk mengatasi masalah pelik ini.
Tok ... tok, pintu ruangan sekertaris Rudi kuketuk.
"Masuk saja, tidak dikunci!" Suara sekertaris Rudi ramah.
"Eeh, kamu Ana. Masuklah!" suruhnya.
"Emm, makasih."
"Silahkan duduk."
"Maaf menganggu pekerjaan kamu."
"Tidak apa-apa. Santai saja. Aku tinggal sambil mengerjakan berkas ini, ya. Memang ada apa?" tanyanya sambil mata fokus, pada berkas-berkas yang dia pegang.
"Oke. Ada hal penting yang ingin kubicarain sama kamu," ujarku.
"Bicaralah! Aku akan mendengarkan. Tapi .aaf ya, tidak bisa santai ngobrol sama kamu, sebab kamu lihat sendiri 'kan, kalau aku harus memeriksa berkas-berkas ini, untuk menghitung daftar toko-toko yang harus diganti rugi," jawabnya yang sibuk.
"Gak pa-pa, aku paham sekali."
"Terima kasih atas pengertiannya."
"Yang kuucapkan sekarang adalah berkaitan dengan kemelut perusahaan mas Adit. Entah mengapa aku tadi ada ide, untuk memeriksa langsung bagian produksi pakaian. Disana sebagian kain adalah memang merk mahal, dan sebagian lagi adalah kain yang dikeluhkan pelanggan. Dan kain yang jelek itu, kata bagian personalia, bahwa itu disetor bersamaan dengan selesainya perjanjian dengan si janda Nola kemarin," peneranganku.
Mata sekertaris Rudi yang awalnya fokus ke berkas, sekarang menatap tajam ke arahku, yang mana aku sedang duduk didepannya, mungkin dia sudah kaget atas penuturan barusan.
"Hei sekertaris Rudi, kenapa?" tanyaku heran sambil mengoyang-goyang telapak tangan, saat sekertaris Rudi lama menatapku.
"Nggak ada pa-pa. Jangan bilang pikiranmu sekarang sama, yang sedang aku pikirkan! Bahwa semua ini, bermula dari perjanjian itu?" tanyanya merasa curiga juga pada Nola.
__ADS_1
"Aku belum tahu juga sekertaris Rudi, makanya aku curhat sama kamu, sebab hanya kamulah yang bisa membantuku sekarang! Karena mas Adit pasti tidak akan percaya dengan ucapanku."
"Oh, aku paham ... aku paham sekali. Baiklah nanti kita akan menyelidikinya. Semoga dugaanmu benar, dan bisa cepat-cepat menyelesaikan masalah ini," jawab sekertaris Rudi menyetujui membantu.
"Amin. Thanks atas bantuannya."
"Sama-sama. Eehh .. itu, gimana ceritanya tadi malam? Kok bisa ketahuan sama bos Adit? Patut aku cari-cari kamu ngak ada, dan tahu-tahu bos Adit sudah menceritakan pagi tadi, kalau kamu ketahuan sedang mengikutinya," cecar sekertaris Rudi.
"Ooh itu. Awalnya aku juga tidak tahu, kenapa mas Adit bisa tahu bahwa itu adalah aku. Yang jelas waktu itu rambut palsuku jatuh, sehingga membuat rambut asli tergerai," jawabku sedang menahan geli ingin tertawa.
"Terus kelanjutannya si Nola tadi malam gimana? Pasti dia semalam malu bener mukanya itu, hahahaha," imbuhku berkata sambil mengeluarkan tawa.
"Ha ... ha ... ha, benar-benar lucu dia tadi malam. Sudah basah kuyup, kain yang terbakar dibelakang kelihatan lucu sekali, sebab kain itu terbakar hampir dekat sama pant*tnya, dan sedikit lagi itu sangat kelihatan, untung saja dia pakai stoking. Semua orang tertawa ngakak melihat kejadian itu, sungguh dia semalam benar-benar malu akibat kejahilanmu," terang sekertaris Rudi.
"Benarkah itu? Wah ... kalau aku tak ketahuan sama mas Adit, pasti tujuh hari tujuh malam bakalan ngak akan bisa diam tertawa."
"Bener ... bener itu, aku saja yang masih teringat kadang tertawa sendiri kayak orang gila."
"Hahahaha, sungguh lucu. Haduh, hahahah" imbuh tawa lepas.
"Kalian tadi malam gak bertengkar 'kan, atas kejadian itu?" tanya sekertaris Rudi.
"Syukurlah kalau begitu, aku sempat khawatir sama kamu, takutnya jika Adit akan marah besar."
"Tenang saja, semua aman terkendali."
Akhirnya obrolanku sama sekertaris Rudi mendapat kesepakatan, untuk menyelidiki kasus kain bersama.
**********
Karena kejadian kain, kini membuat mas Adit harus sibuk mengurusi perusahaan, dan sudah empat hari suami tercinta pulang larut malam terus.
"Kamu pasti capek sekali, Mas. Tiap hari harus lembur dan pulang larut malam," celotehku saat tidur dalam pelukannya.
__ADS_1
Tangannya yang panjang sudah kubuat bantal, sebab rasanya nyaman sekali dengan posisi ini.
"Mas memang begitu lelah, tapi masalah yang terjadi diperusahaan harus segera teratasi dengan cepat, sebab aku tak mau perusahaan yang sudah mas dirikan bertahun-tahun, akan hancur begitu saja," sahutnya.
"Aku tahu, Mas. Tapi kamu jangan terlalu capek-capek, aku tidak mau gara-gara ini kamu nanti bisa sakit-sakitan," Kekhawatiranku sedang mencemaskan keadaannya.
"Doakan yang baik-baik saja, sayang. Insyallah atas dukungan dan doa semua orang, pasti semua masalah ini akan terselesaikan dengan cepat, sehingga tidak akan membuat Mas sakit, cuuup!" ciumnya dikeningku agar aku merasa tenang.
"Amiin, iya Mas. Semoga saja."
"Sudah kita tidur saja, sebab Mas akan berangkat pagi-pagi besok," suruhnya.
"Baik, Mas."
Mata suami sudah terpejam, namun tak elak jua untukku, sebab pikiran sudah melayang-layang, untuk mencari cara bagaimana membantu perusahaan suami.
"Aku harus mencari tahu, siapa sebenarnya si janda Nola itu?" gumanku dalam hati.
Perasaan yang tak tenang, membuatku terus curiga pada si Nola, dan entah mengapa diri ini begitu yakin sekali pasti semua yang terjadi ada kaitannya dengan dia. Perlahan namun pasti, aku berusaha bangkit dari tempat tidur, dan kini berusaha duduk diruang kerja mas Adit, untuk membuka lap topnya agar bisa mencari tahu tentang Nola.
Tangan tak henti-hentinya mencari nama si Nola, untuk mencari tahu tentang kehidupan pribadinya. Lama sekali tangan mengotak-atik lap top, dan pada akhirnya kutemukan akun pribadinya. Ternyata dia selalu bercerita dan menulis, tentang kehidupannya sebelum bercerai.
"Ooh, selama ini dia itu sudah bercerai karena belum punya anak dan selalu dianiaya. Tapi kenapa suami baik betul, memberikan harta yang dibagi sama rata pasca perceraian, aneh betul? Apakah ini semua hanya tipu daya saja? Aah ... kenapa otakku su'uzhon terus sama dia," Hati yang terus merancau bertanya.
"Ayo ... ayo, mana petunjuk lagi."
Tangan terus saja mengeser-geser mencari tahu apa saja yang ditulis Nola, dan betapa ngerinya mataku melihat pemandangan wajah si Nola, yang membengkak dan membiru atas kejamnya penyiksaan.
"Iiih ... sungguh kejam dan tragis sekali yang dialami dia, tapi kelihatannya dia happy-happy saja sekarang. Lihat saja sekarang! Wajahnya sudah dipoles sexy dan bahenol sekali, untuk bisa menarik dan mengoda para pria."
"Hhhhhh, aduh!" hembusan nafasku panjang, akibat tak mendapat sesuatu petunjuk apapun lagi.
"Aaah, sial. Tidak ada lagi data tentang si Nola itu."
__ADS_1
"Huuuah ... huaaah," Suaraku yang sudah menguap berkali-kali.
Langkah sudah berjalan menuju pembaringan lagi, sebab mata sudah ngatuk sekali ingin terpejam.