Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Tak kuasa melihatnya lamaran(Bagian 1)


__ADS_3

Flashback bagian 1 sebelum lamaran Karin


Desas-desus atas niat Chris untuk melamar Karin, kian terus menganggu pikiranku. Malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, sebab kekasih hati akan jadi milik orang lain begitu menganggu pikiran. Posisi terenak kemanapun, masih saja membuatku tak bisa tidur.


"Aaahkghhhh, kenapa aku tak bisa memejamkan mata sama sekali. Kenapa nama Karin selalu saja membuat pikiranku tak tenang? Kenapa wajahnya terus saja membuatku tak nyenyak tidur? Dan kali ini berita mengenai pernikahannya yang sebentar lagi akan dilangsungkan, menambah pikiran stres tak bisa berpikir apa-apa lagi," guman hati yang kesal.


Karena masih saja tak bisa memejamkan mata, kini gorden jendela kubuka lebar-lebar, hingga menampakkan rembulan kini bersinar tak begitu terang, seakan-akan menatapku sinis dibalik kabut awan yang kelam, mungkin sang rembulan sedang tertawa saat aku kini begitu kesakitan, atas kehidupan cinta yang sudah kacau balau.



"Oh rembulan, apakah aku harus meratapi diri, sebab tak bisa mendapatkan pujaan hati? Kenapa kisahku begitu pilu, hingga untuk memikulnya saja aku tak kuat lagi? Takdir sekarang tak berpihak padaku, apakah aku wajib menyalahkan ini semua? Tapi garis takdir sudah ditentukan oleh Sang pecipta alam semesta ini, hingga mungkin aku harus lebih belajar tabah lagi, dan tak boleh meronta atas takdir yang sudah terjadi," rancau hati pilu saat menatap sang bulan.


Bayangan saat kami berdua menjalani sekolah bersama, begitu tergiang berjalan berkelebatan dalam pikiran, hingga terasa hari-hari itu sangat kurindukan. Andai saja waktu bisa berputar, mungkin lebih baik aku tak meminta orangtua untuk mencarikan aku adek. Kenyataan atas semua yang sudah terjadi, membuatku semakin tercambuk atas ketepurukan, ketika dirinya yang tak bisa kupeluk erat seperti dulu.


*******


Rasanya malas sekali untuk bangun, saat hari ini adalah hari H, ketika Karin akan benar-benar melepaskan dan melupakanku.


Kini kau putuskan untuk memilikinya.


Aku tak habis pikir apakah kekuranganku selama ini.

__ADS_1


Semua imajinasiku menjadi buyar tak tersisa lagi.


Hingga rasa tusukan itu begitu terasa menyesakkan dada.


Padahal aku sangat mencintai dan memilih kamu.


Namun semua hanya angan-angan belaka.


Kini tak kuasa menatap wajahmu lagi.


Saat senyuman itu hanya kau tujukan pada seorang yang kau cintai.


"Kamu kok belum siap-siap, Adrian?" tanya Mama saat masuk dalam kamarku.


"Malas, Ma!" jawabku berat.


"Ini adalah acara yang penting. Dia adalah adekmu," ucap Mama.


"Penting apaan? Nanti jika melihatnya malah bikin sakit hati saja. Dia memang adekku sekaligus wanita yang aku cintai, jadi Adrian begitu tak sanggup jika melihatnya nanti," jawabku sendu.


"Mama tahu, Nak. Kamu patah hati, sakit, kecewa, marah, tak suka, bahkan tak rela, tapi apakah kamu tak bisa sejenak berpikir tenang mengenai ini? Kamu sudah sekuat tenaga untuk mendapatkan Karin, namun takdir masih saja tak berpihak padamu. Mama tak bisa berkata apa-apa lagi, saat semua sudah diatur sama yang diatas. Mama setiap malam tiap detik, terus saja bersujud memanjatkan doa untuk kebahagiaan kalian berdua, namun kenyataan kini tak berpihak kepada kalian, jadi Mama sekarang hanya bisa melihat lakon kehidupan kalian saja, tanpa harus meronta berlebihan yang sudah digariskan," ucap sendu Mama sudah menitikkan airmata, sebab sedih atas jalinan asmara kami tak sesuai keinginan beliau.

__ADS_1


"Iya, Ma. Maafkan Adrian yang selalu membuat Mama menangis terus," cakapku sudah menghapus airmata yang menitik dipipi.


"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Ikhlaskan dia dan lanjutkan kehidupanmu kedepan nanti, sebab Naya adalah wanita yang jadi tanggung jawabmu berikutnya," ujar beliau mengingatkan.


"Iya, Ma. Adrian pasti tak akan melupakan kewajiban itu," jawabku santai.


"Ya, sudah. Kamu mandi, ganti baju, nanti Mama sama Papa akan tunggu dibawah. Kasihan kalau Naya akan menyaksikan ini, walau sebenarnya dia masih belum mengerti," perintah beliau.


"Iya, Ma. Adrian akan mencoba kuat hari ini, semoga saja bisa."


"Iya, Nak. Bagus itu. Doakan saja Karin bahagia, yaitu bersama pasangan barunya."


"Iya, Ma!" jawab kepasrahanku.


Kini aku bersiap-siap untuk menuruti permintaan Mama. Walau berat, namun benar atas ucapan Mama, untuk aku belajar menegarkan hati, saat lebih tak kuat lagi jika melihat Naya nampak sedih nanti.


Mobil sudah melesat kencang menuju kediaman Karin. Hati begitu deg-degkan, saat takut tak kuasa melihat acara nanti.


"Mungkin akulah sekarang yang harus pergi, jika dia adalah pilihan hatimu. Mungkin cukup saja diriku yang kau sakiti didalam hidupmu, agar kau tetap bahagia," guman hati yang terus merancau, saat sibuk menyetir kemudi.


Sudah sampai juga dirumah Karin, namun keadaan masih sepi saja, yang belum ada tanda-tanda calon sang pria bersama keluarganya datang. Mama dan Papa sudah turun, namun aku enggan sekali untuk turun. Berulang kali Mama membujuk, namun beliau pasrah dan mengalah, yang seakan tahu jika ini berat sekali untukku. Kerjaanku hanya duduk termenung dalam mobil dekat tetangga, sambil menatap orang-orang yang wara-wiri sibuk dalam menata keadaan rumah Karin maupun bertamu.

__ADS_1


__ADS_2