
Susana jadi hening. Tatapan tak Percaya sedang terjadi. Rasanya ini hari sungguh memuakkan.
"Mas Adit?" sapaku terkejut.
"Wah ... wah, memang takdir selalu saja tak terhindarkan. Selalu saja bertemu dengan kamu, atau jangan-jangan kamu sudah membuntuti kami?" tuduh Salwa tak senang atas pertemuan kami.
"Jaga mulutmu itu!" hardikku marah.
Rasanya kesal dengan pertemuan ini.
"Ayo Edo, kita pergi saja dari sini. Malas sekali untuk meladeni mereka," ajakku menyuruh.
"Baiklah Ana, ayo!" sahut Edo setuju.
"Tunggu!" cegah Mas Adit sudah mencekal tanganku.
"Lepaskan tanganku!" balasku tak senang.
"Oh, maaf ... maaf!" jawabnya sambil melepaskan cekalan tanganku seperti orang yang sedang jijik.
Tangannya terangkat ke atas.
"Ada apa? Kita sudah tidak asa urusan." suruhku tak sabar.
"Jaga intonasi bicara kamu," keluh orang yang kusayangi.
"Cepetan ngomongnya! Aku tidak punya waktu banyak, untuk melayani orang yang tidak penting seperti kalian," desakku tak sabar.
"Gak ada yang terlalu penting, sih. Cuma ada pertanyaan untukmu!" ucapnya ambigu.
"Lha iya. Katakan sekarang, jangan banyak membual."
"Sudah makin membesar saja perut kamu, memang sudah berapa bulan?" tanya Mas Adit penasaran.
"Apa urusanmu! Kamu ngak perlu tahu tentang anakku," ketus sambil memelengoskan wajah ke arah lain.
"Kamu?" sela Salwa sebab tak suka atas jawabanku.
"Sabar Salwa," cegah Mas Adit.
Tangan suami sudah menghadang Salwa agar tidak maju ingin marah padaku.
__ADS_1
"Aku benar-benar serius nanya sama kamu!" desaknya supaya aku menjawab.
"Ciiih, aku sudah bilang tidak perlu tahu, ya! Dan lebih penting lagi, tidak usah usil dan pengen tahu. Lagian bukankah tidak ada gunanya juga kamu bertanya begitu? Lagian aku sudah lama menganggap ayah anak ini telah mati, jika dia hidupun selamanya takkan pernah kumaafkan dia," sindirku kejam akibat sudah dihampiri rasa kesal.
"Apa? Berarti kamu mendoakan aku mati?" sahutnya sedikit agak emosi.
"Iya, kenapa? Kamu tidak suka?" geramku tak hormat lagi padanya.
"Bukan gitu."
"Aah, sudahlah. Kalau kamu ngak suka biarkan kami pergi. Dasar manusia-manusia yang tak berguna," imbuhku yang ingin melenggang pergi.
"Tunggu! Aku belum selesai ngomong sama kamu," Untuk yang kedua kalinya Mas Adit berusaha menghentikan langkahku.
Dia mencegah dengan berdiri tepat didepanku agar langkah ini terhenti sejenak.
"Ya ampun, apa lagi ini? Kamu itu sudah gila apa?" gerutuku sudah benar-benar kesal.
Mas Adit masih saja tidak mau menyingkir, dia bersikukuh tetap ada hal yang ingin dibicarakan.
"Bagiku kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan masalah surat perceraian kamu tenang saja, pasti secepatnya akan segera kutandatangani, jadi nanti-nantinya kalau bisa jangan pernah mengangguku lagi," tekanku penuh kemarahan.
"Ok ... ok, aku paham yang kamu maksud. Hanya satu saja pertanyaanku, dan aku janji ini yang terakhir, dan setelah itu kamu boleh pergi," ucapnya.
"Apa cepetan katakan?" ungkapku tak sabar.
"Siapakah laki-laki disampingmu ini? Kelihatannya kalian akrab banget, dan dimana-mana ada kamu pasti selalu juga ada dia," ucapnya merasa aneh kedekatanku sama Edo.
"Kamu tiaak perlu tahu tentang dia, yang terpenting dia selalu saja ada untukku. Bukan seperti kamu ini, yaitu seorang suami tapi pencundang, dan tak mau bertanggung jawab pada istri sendiri " ejekku dengan berusaha mengeluarkan gondok dihati.
"Aah, ternyata mulut kamu bisa kelewatan juga," Tak sukanya Mas Adit atas hinaanku.
"Iya benar Adit, ternyata mulutnya bisa juga ngatain orang," sela Salwa membenarkan perkataan mas Adit.
"Diam kamu, gak usah ikut campur!" bentakku marah pada Salwa.
"Apakah dia ayah dari anak yang kamu kandung? Dan kamu beralibi bahwa aku adalah ayahnya, sehingga kamu bisa menguasai hartaku," tuduhannya yang kejam.
Plaaaak, tamparan kuat sudah melayang di wajah mas Adit.
"Kamu?" ucap Salwa.
Kakinya sudah maju ingin membalasku, tapi sayang mas Adit mencekal tangannya supaya terhenti.
__ADS_1
"Kamu bicara apa Adit, hah? Kamu benar-benar sudah tak waras dan gilakah?" cecarku menghinanya.
"Dasar mulutmu ternyata lebih ember dan sadis melebihi perempuan, laki-laki macam apa kamu ini!" hina Edo ikut-ikutan.
"Jangan asal ngomong mulut kamu itu. Asal kamu tahu saja. Aku takkan pernah hamil begini kalau tidak terjadi cinta diantara kita," ucapku yang masih menahan lelehan yang ingin menyeruak di sudut pelupuk mata.
Mas Adit hanya diam membisu saat emosiku kian meledak-ledak.
"Apa kamu ingat, kita dulu menikah memang dijodohkan, dan kamu ternyata telah selingkuh dibelakangku dengan Salwa, dan setelah itu aku kabur atas sikapmu yang sudah gila itu! Tapi Allah telah berkehendak lain mempertemukan kita, dan setelah itu mengembalikan cintaku yang sempat hilang untukmu." Penjelasanku yang mencoba mengingatkannya akan kenangan-kenangan kami.
Tidak tahan lagi tiba-tiba embun telah keluar dengan derasnya.
"Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, termasuk harta yang kamu miliki, sebab sejak awal aku telah jatuh cintai padamu. Dan kini aku tak butuh lagi kamu mencintaiku, yang kubutuh sekarang adalah tanggung jawabmu pada anakku," imbuh menjelaskan.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Yang ada sekarang wajahnya mengeksperesikan kebingungan.
"Diriku memang dari kalangan orang yang tak punya, tapi bukan tak berarti kamu bisa menghinaku seenaknya. Apakah selama ini aku pernah minta uang pada kamu? Apakah aku mengambil barang-barang dari rumahmu? Apakah dengan perceraian nanti aku minta harta gono gini padamu? Enggak 'kan? Sebab aku tahu dari harta kamu itu semuanya takkan ada artinya, sebab yang kubutuh bukan harta tapi kasih sayangmu padaku dan anakku saja. Dan selama aku masih bernafas dan bernyawa, aku masih bisa menghidupi anakku walau tanpa kamu, jadi aku tak membutuhkan dan sudi memiliki harta yang penting sekali buatmu itu," cerocosku dengan amarah sudah di ubun-ubun.
Salwa hanya bisa diam.
"Maafkan aku jika selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik dan berbakti padamu!" ucapku dengan tangisan yang sudah pecah tersedu-sedu.
"Ayo kita pergi!" ajakku dengan cepat menarik tangan Edo.
"Tunggu Ana!" Edo coba menghentikanku.
"Ada apa lagi, Edo."
"Tunggu sebentar."
Edo berbalik arah dan kini menghampiri dua insan yang keji.
Bhuuuugh, Edo memukul wajah mas Adit secara tiba-tiba dengan kuatnya, sehingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai.
"Itu adalah pukulan yang harus kamu bayar, sebab mulutmu yang tak tahu aturan itu, dasar pria yang tak berguna," hina Edo yang juga ikut emosi.
"Adit kamu gak pa-pa?" Salwa berusaha membantu mas Adit.
"Ayo Ana!" ajak Edo saat aku hanya terdiam menyaksikannya.
Aku sudah melenggang pergi menjauhi mas Adit, yang sudah terluka di wajah dan termenung tak bersuara lagi, yang mana tadi telah kubantah semua perkataannya.
Sekarang hati rasanya sudah plong, sebab uneg-uneg yang tersimpan dihati, kini telah tercurahkan semuanya walau harus berbicara dengan keemosian.
__ADS_1