
Hari rasanya sudah dipenuhi oleh warna kegembiraan, yang sudah tak terkira lagi rasanya. Setelah sekian lama dalam perjuangan, akhirnya Ana bisa luluh juga kudapatkan.
Hari ini dia tengah disibukkan dengan urusan dapur, dan tanpa rasa ragu lagi kupeluk dia dari belakang.
"Ada apa, Mas?" Kemesraannya bertanya.
"Kamu lagi masak apa?" tanyaku melekatkan dagu dipundaknya.
"Ini, Mas! Masak telur balado, sayur sop, ayam goreng," Penjelasannya.
"Wah ... wah. Mas beruntung sekali bisa mendapatkan istri seperti kamu, selain cantik ternyata lihai juga dalam memasak!" pujianku.
"Ya ... iyalah. Siapa dulu, Ana gitu loh! Sekarang Mas Adit duduk saja, Aku tidak bisa konsentrasi memasak kalau kamu memelukku begini terus," keluhnya dengan menyuruh.
"Gak mau, Ana! Aku ingin memeluk kamu seperti ini terus. Diriku sudah sangat-sangat merindukanmu, jadi jangan sekali-kali menyuruhku untuk pergi," tolak manja.
"Iya, aku tahu. Tapi kalau begini terus, kapan kita akan makan."
"Hhh. Iya deh, sayank."
Dengan terpaksa kuturuti perkataan Ana, sebab dia sudah terlihat kesusahan memasak.
Peluh mulai mengalir di pelipisnya. Aku tidak mau ketinggalan moment romantis, yaitu dengan memunculkan jurus-jurus andalan untuk segera mengelap peluhnya, dengan baju kemeja yang berlengan panjang.
"Terima kasih, Mas!" ucapnya dengan memberi senyuman paling termanis.
__ADS_1
"Hemmm, sama-sama." balasan senyumku.
Duduk menunggu tanpa berbuat apa-apa.
Teng ... teng ... teng, piring kuketuk dengan sendok. Rasa tidak sabar saat perut keroncongan
"Ya ampuuun. Sabar kenapa?" gerutunya tak suka.
"Hehehe, habisnya laper banget, nih! Cepat-cepat ingin merasakan masakanmu," ucapku tak sabar.
"Mas Adit sendiri 'kan tadi yang gangguin, jadinya agak lama masaknya."
"Iya ... iya, aku yang salah. Habisnya tidak ingin berjauhan. Entah mengapa ingin terus saja didekat kamu," pengakuan.
"Masak, sih?" Ana nampak tidak percaya.
"Iya. Apa kelihatan wajah ini ada guratan kebohongan. Enggak 'kan?"
"Tambah gede? Bukankah sekarang aku memang sudah besar, contohnya saja sudah ngerti cinta-cintaan," penjelasanku.
"Hihihihi, bukan itu maksudku, Mas. Maksudnya tingkah laku kamu, yang seringkali seperti kekanak-kanakkan," jawabnya menghina.
"Aaaah, masak sih!" jawabku dengan bibir monyong ke depan.
"Betul itu," simbatannya tidak mau mengalah.
"Kan melakukan itu tanda kalau ingin dimanja saja, sih."
"Boleh saja, tapi jangan merengek kayak anak kecil saja nanti."
__ADS_1
"Rembes. Ooh ya, Ana. Kamu malam ini nginep saja disini, ya ... ya!" pintaku.
"Tapi Mas, apa nanti bapak tidak akan marah jika aku tidak pulang," tolaknya bicara.
"Enggak mungkin marah, nanti aku akan bicara pada beliau," Ngototnya berucap.
"Baiklah, kalau Mas Adit memaksa," Kepasrahannya.
"Oh yes ... yes, akhirnya malam ini aku bisa bebas untuk berduaan dengannya," Kegiranganku dalam hati.
"Oh ya, Ana. Ada satu lagi yang ingin aku katakan."
"Apa itu, mas?" Ana sibuk memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Kamu sama bapak boleh tinggal di sini bersamaku, dan tidak usah repot untuk ngekos lagi," tawarku.
"Tapi aku tidak mau merepotkan kamu, Mas."
"Aku tidak merasa direpotkan. Memang sudah menjadi tugas dan kewajibanku menjaga kamu dan bapak," terangku.
"Heeem, terserah mas Adit 'lah, yang terpenting kamu bisa bahagia aku pasti juga akan bahagia," imbuh ucapnya.
"Terima kasih, Ana."
"Iya."
Cinta memang indah dan manis, jika setiap pasangan saling terbuka atas kepercayaan dan kesetiaan yang terjaga. Aroma tubuh yang selalu wangi akan parfum khasnya, membuatku tidak bisa lepas dari rasa candu dan rindu, sehingga membuatku sangat menyukainya melebihi apapun yang ada di dunia ini.
Sikapnya yang selalu sederhana, membuatku terus merasa nyaman jika berada di sisinya, sehingga tidak terhindarkan lagi rasa cinta itu sudah terlanjur menabur ke dalam hati yang terdalam. Seluas apapun hasratku, dan sedalam apapun rasa itu, diri ini akan terus memberikan cahaya hatiku untuknya, meskipun dalam kegelapan yang tak menampakan warna sekalipun.
__ADS_1
Janjiku adalah akan terus mengapai cinta yang dia berikan, agar tetap terjaga untuk dijadikan milikku selamanya, yaitu sampai maut menjemput dan memisahkan cinta kita.