
Sudah hampir setengah jam menunggu, tapi belum ada juga tanda-tanda dari Ana untuk memberi kabar, sehingga diruang rapatpun pikiran kini sedang melamun dan tidak fokus.
"Kita akan meluncurkan produk pakaian baru, dengan tema couple remaja yang telah dimodifikasi pakaiannya seperti jas dan jaket. Kita akan terus gencarkan memproduksi pakaiannya banyak-banyak, sebab sekarang lagi musim-musimnya para remaja memburu pakaian itu. Kalian mengerti!" ceramah Rudi sekertarisku.
"Mengerti, Pak!" Suara para karyawan yang sedang rapat telah menjawab serempak.
"Di bagian produksi kalau kurang tenaga kerja harus bilang, jadi nanti biar kami seleksi pegawai magang agar turut membantu," imbuh Rudi berucap.
"Iya, Pak."
"Untuk Bos Adit, apakah ada yang mau ditambahin?" ucap Rudi padaku yang sedang melamun.
"Bos ... bos!" panggil Rudi pelan-pelan karena tidak ada responku.
"Eeeh, oh ... oh, ada apa?" Kekagetanku saat Rudi membuyarkan lamunan.
"Ada yang mau ditambahin ngak? Ngelamun saja dari tadi!" ketus Rudi tak suka.
"Ooh maaf semuanya, tidak ada yang ingin aku tambahkan, semua tadi sudah diterangkan oleh Rudi, jadi kalian mulai sekarang harus benar-benar semangat bekerja biar bisa memajukan perusahaan, kalian mengerti?" imbuhku berucap.
"Mengerti, Pak." Jawab semua orang kompak.
"Oh, oke. Baiklah kalau begitu, untuk kalian cukup sekian dulu rapatnya, dan kalian boleh balik ke perkerjaan masing-masing," imbuh Rudi berucap.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak. Permisi, Bos!" pamit semua orang dengan membungkuk badan dan menundukkan kepala.
"Iya ... iya," jawabku sama Rudi membalas anggukan mereka.
Semua nampak mulai antri berjalan didekat pintu keluar. Keadaan menjadi sepi, hanya ada aku dan Rudi yang tersisa.
"Ada apaan sih, Bos. Dari tadi sepertinya tidak fokus sama sekali dalam rapat," tanya Rudi penasaran.
"Iya bener, nih! Aku sekarang lagi memikirkan Ana yang sedang sakit," jawabku menjelaskan.
"Memang sakit apaan? Sampai-sampai ngak fokus dengan pikiran melayang-layang begitu!" imbuh tanya Rudi.
"Sakit pusing dan mual."
"Ya elah dasar lebay, cuma sakit begitu saja. Paling-paling juga masuk angin."
"Ya elah, walau begitu aku sebagai suami tetap khawatir, makanya nikah sono! Biar tahu rasanya punya istri sakit itu khawatirnya kayak gimana!" balasanku untuk mematahkan omongannya.
__ADS_1
"Hmm, patut diacungi jempol."
Klunting, gawaiku tiba-tiba berbunyi, yang tertera nama Ana.
Kliik, kubuka telephone yang sudah menampakkan gambar dua garis merah. Hanya memicingkan mata, sebab tidak mengerti apa yang dikirimkan Ana, dan gambar itu baru pertama kali melihat bentuknya.
Klunting, untuk kedua kalinya gawaiku berbunyi.
[Mas, ternyata gejala mual dan pusing tadi ternyata disebabkan oleh aku hamil]
"What?" Kekagetanku yang seketika membelalakkan mata.
Kukirim pesan untuk mengetahui kebenarannya.
[Benarkah itu? Sayank]
[Iya, mas]
"Hahahha, asyik. Hahaha, hore!" Kegiranganku dengan memeluk Rudi.
"Uhuk ... uhuk, Bos ... Bos."
"Lepaskan aku dulu. Uuhuk ... uhuk, sesak banget nih. Uhhuk, mau membunuhku 'kah?" pinta Rudi
"Maaf ... maaf. Hhehhe," Cegegesanku yang seketika melepaskan.
"Ada apaan, sih. Uhuk ... uhuk. Kamu sudah gila apa! Sampai memeluk erat begitu. Sampai-sampai aku tidak bisa bernafas sama sekali," kekesalan Rudi berkata.
"Mau kabar baik apa kabar buruk dulu yang kamu ingin dengarkan?" tanyaku.
"Eeem, yang pastinya kabar baik dulu kalau bisa."
"Kabar baiknya, sebentar lagi kamu akan punya keponakan, dan aku akan menjadi ayah," Kegiranganku berucap.
"Benarkah itu! Wah selamat ya, Bos!" Antusiasnya Rudi ikut gembira.
"Terima kasih."
"Terus kabar buruknya?" imbuh tanya Rudi.
"Kabar buruknya adalah semua pekerjaan hari ini kamu yang ngurus! Dan semua temu janji dengan klien untuk rapat kamu yang pimpin, oke!."
"Yah ... yah, mentang-mentang lagi bahagia, masak semua aku yang mengerjakan," ucap Rudi protes.
"Sekali-kali bantu bosmu yang lagi gembira, kenapa! Nanti bonus akan kuberikan padamu," janjiku.
"Benarkah itu? Terima kasih ya bos."
"Sama-sama. Sudah ... sudah, aku mau menemui Ana dulu, kamu jangan buat klien kabur semua, awas!" Peringatanku sambil menepuk bahunya.
__ADS_1
"Siaap banget deh, Bos."
Akhirnya tanpa basa-basi, aku langsung ingin meluncur ke restaurant bapak. Tapi sebelumnya aku mau mampir ke toko bunga dan kue dulu, untuk memberikan hadiah dan kejutan kepada Ana.
Betapa senangnya hati ini sekarang, ketika mendengar kabar yang selama ini dinanti-nanti, dan aku tidak menyiakan-nyikan kesempatan serta moment langka ini, untuk membahagiakannya dengan memberi 100 kelopak bunga mawar merah dan kue coklat kesukaan Ana.
[Hallo, sayang]
[Iya mas, ada apa?]
[Sekarang aku sudah meluncur ke tempat kamu, jadi kamu tunggu disana, oke! Jangan sampai pergi ke mana-mana]
[Bai---?]
Weeesss ... sleot, kekagetanku saat ada motor yang tiba-tiba menyalip mobilku berada didepan.
Bhug, gawaikupun terlepas ditangan, saat terkejut ada motor tadi.
[Hallo ... Hallo, mas?]
Panggil Ana berkali-kali, saat aku belum sempat mengambil gawai yang jatuh. Sebab tidak sabar ingin menjawabnya, kini tangan berusaha meraih gawai. Sikap terbagi, ketika tangan sibuk mencari keberadaan telephone dan mata telah sibuk fokus pada mobil.
[Maaa-?]
Belum sempat ngomong, diriku dikejutkan oleh sebuah bus yang berlain arah tepat didepanku.
"Aaaaaaaa," Teriakku sekencang-kencang dengan kuat, dimana mobil tanpa terelakkan sudah tepat ingin bertabrakan.
Briiiiakkkk ... bruuuuk, gleduk ... gleduk ... gleduk, mobil benar-benar tepat menabrak bis, diiringi suara mobilku yang sudah berguling-guling terbalik.
"Aww, Aahhhhhh!!" suaraku kesakitan saat kaki terasa terjepit, dengan kepala mulai perih saat ada luka yang sudah mengucurkan darah merah segar.
[Hallo ... hallo, mas ... mas Adit. Hallo, tolong jawab mas! Jangan buatku khawatir. Hallo?]
Suara Ana berkali-kali memanggil.
Badan kini sudah terasa pedih semua, dan darahpun ternyata sudah muncrat ke sembarang arah tak terkecuali dibajuku.
Nafaspun kian lama kian tercekat tiak bisa bernafas dengan lancar, diiringi mata mulai sayu-sayu tak kuat ingin terpejam.
"Pak, buka pintunya, pak! Brok ... brook ... brook," Gedoran orang-orang yang mencoba ingin menyelamatkanku.
Namun bagiku suara-suara orang memanggil, hanya terdengar seperti dengungan lebah saja. Tidak bisa segera melakukan apa yang mereka inginkan, karena masih memikirkan badan yang tidak tentu rasa seluruhnya.
Disaat kepala mulai berdetak nyut-nyutan, sampai parahnya begitu terasa sakit sekali membuat badan kian melemah saja.
Sekarang tidak luput juga badanpun mulai bercucuran keringat tercampurkan darah, akibat berusaha menarik kaki.
__ADS_1
Matapun mulai berkunang-kunang tidak tertahan dan mulai mengaburkan pandangan. Diri inipun sekarang benar-benar tidak sadarkan diri apa yang telah terjadi selanjutnya