
Kamar terbuka. Langsung masuk. Orang yang dulu aku sayangi kini tengah menatap seksama ke buah hati kami. Kain bedong yang membungkus tubuh di kecil semakin membuat dia nyenyak tidurnya.
"Mas Adit sebenarnya mau ngapain sih kesini? Sampai rela bela-belain sibuk kerja datang ke mari? Tidak salah 'kan datang ke sini? Takutnya malah ada yang marah. Aku tidak mau lho ya cari gara-gara sama orang lain," sindir penasaran.
"Tadi aku sudah bilang, aku mau ketemu sama kamu, dan yang lebih utama aku lagi merindukan Aliya anak kamu. Tidak akan ada yang marah, kok. Semua tunduk pada Aditya Pratama, jadi jangan khawatir," ungkapnya menjelaskan.
"Benarkah itu? Pasti disebalik itu semua ada maksud lain? Tapi baguslah tidak ada yang marah, sebab pasti akan menyulitkanku juga," Sedikit gembira atas keterangannya.
"Masak kamu ngak percaya, sih?"
Dengan tiba-tiba mas Adit sudah menghadang langkahku, yang ingin menaruh pakaian Aliya dikeranjang pakaian.
Suasana begitu terasa canggung sekali, dimana situasi ini membuatku semakin gugup, tapi disisi lain merasa begitu benci penuh kerinduan. Mencoba menyembunyikan getaran hati yang seringkali dulu terpesona. Sekarang beda sebab ada jarak yang berusaha memisahkan.
"Minggir, Mas? Kamu mau apa? Aku sibuk mau menata baju Aliya," suruhku.
"Aku akan pergi minggir, kalau kamu percaya padaku," imbuhnya berkata.
"Iya ... iya, aku percaya!" ucapku yang langsung melewati tubuhnya, yang sudah lengah lengah menghadangku.
__ADS_1
Tangan sibuk dikeranjang. Kusendirikan baju, celana, kaos kaki, biar nanti mudah mengambilnya. Kalau sedang repot kadang salah ambil.
Habis menata, melangkah lagi ingin mengkemas beberapa pakaian yang belum sempat terapikan. Diatas pembaringan kutumpuk begitu saja tadi. Saat anak sedang menangis kuat, ya terpaksa kerjaan yang ingin melipat kutinggalkan.
"Tunggu dulu. Aku belum selesai," cegahnya.
Sekali tarik dengan kuat oleh tangan mas Adit, kini membuat tubuhku sudah langsung memutar badan, dan tak sengaja menubruk tubuh kekarnya.
"Uuups, maaf, Mas! Tidak sengaja," ucapku yang tak enak hati.
"Gak pa-pa, sebab ini yang kuinginkan," jawabnya yang sudah memelukku.
"Apa?" Kekagetanku berkata.
"Ngapain juga harus malu, bukankah kita ini adalah suami istri!" sahutnya santai.
"Iya, suami istri yang sudah mau bercerai," balasku yang mencoba melepaskan diri.
"Memang kamu benar-benar ingin bercerai dariku? Apa tidak salah atas keputusan kamu itu?" tanyanya lirih sambil melepaskan pelukan.
"Iya, memang kenapa?" jawabku gamblang seperti orang tanpa beban.
"Tapi Ana, aku tidak mau melakukan itu, dan diri ini terus berharap bahwa hubungan kita akan bersatu kembali. Jangan lakukan itu, ok! Please," jawabnya penuh harapan.
__ADS_1
"Itu sih terserah Mas Adit, maunya apa! Yang terpenting sekarang, aku sudah melakukan apa yang menjadi keinginan kamu kemarin. Bukankah janji harus ditepati? Aku tidak ingin berhutang dan mengacaukan hubungan orang lagi. Cukup sudah aku dihina dan rendahkan," balas mengingatkan.
"Aku sudah mengakui salah, tapi bukan 'kah semua kesalahan bisa diperbaiki! Aku terlalu khilaf atas kejadian kemarin. Efek amnesia membuat frustasi. Tidak ada celah untuk mengingat kamu, jadi maafkan aku kemarin ya ... ya!" ujarnya pelan.
"Memperbaiki keadaan dan kesalahan bisa-bisa saja, tapi rasa-rasannya sulit sekali bagiku untuk menerima kembali. Aku paham Mas sedang tidak ingat, tapi apakah tidak bisa sedikit saja mengontrol penghinaan, " suaraku bergetar akibat menyimpan kekecewaan.
"Kalau begitu, terus gimana mau kamu? Untuk memperbaiki keadaan rumah tangga kita? Mau terus kamu lanjutkan atau memang terhenti? Jangan mengantung terus begini, yang tak ada kemajuan! Banyak harapan yang ingin kugapai bersama kamu. Jangan gara-gara emosi kamu salah melangkah untuk meninggalkanku," jawabnya serak.
"Entahlah mas, akupun juga sudah merasa binggung." sahutku lesu.
Pembicaraan semakin tegang dan mengarah pada keseriusan.
"Sudahlah, kita tidak usah membicarakan itu lagi. Yang terpenting kita jalani dulu kisah kita seperti air yang mengalir, dan pasrahkan semuanya pada sang pemberi kehidupan. Jika kita ditakdirkan untuk bersatu, pasti Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik," ucapku sambil melempar senyum padanya.
"Baiklah Ana, aku mengerti." jawab mas Adit menyetujuinya.
"Sekarang kita keluar dulu, biarkanlah Aliya tidur. Bukankah tujuan mas Adit kesini mau makan masakan bapak? Mari aku layani dan temanin kamu makan," ujarku menyuruh.
"Baiklah Ana, terima kasih."
Jantung di dada terasa nyaman sekali, sebab tidak ada kata-kata yang menyakitkan lagi yang meluncur dari mulut mas Adit.
Ada tatapan kebingungan saat dia terus saja memandangku, serta nampak sekali tersirat ada berjuta tanya dimata lembutnya. Sedangkan diriku tidak mampu banyak berucap sepatah katapun, sebab semakin aku meladeninya pasti akan terjadi perdebatan, dan lebih baik aku banyak-banyak mengalah dan membisu.
__ADS_1
Rasanya diri ini tak punya tenaga untuk berbasa-basi dan sekedar bertanya. Aku masih saja bersikap lemah lembut dan bersabar menghadapinya. Menentang pembicaraannya akan menimbulkan gejolak rasa sakit di dalam dada lagi, dan akan semakin membuat hubungan kami semakin runyam dan terasa kaku.