Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>Doaku Dalam Penculikan


__ADS_3

Aku hanya bisa pasrah, meraung, dan menangis, saat badan sudah kesakitan, akibat Salwa yang tanpa rasa iba memukul dan menyiksaku. Sekarang wajah mungkin sudah pucat pasi, dikarenakan luka yang kian menganga berdenyut terasa sakitnya. Sudah dua hari telah berlalu, diri ini masih saja disekap dan diculik, yang tanpa ampun Salwa masih mengikat dan menyumpal mulutku. Entah mengapa Salwa begitu kejamnya melakukan semua ini, sudah semua usaha kulakukan untuk bernegosiasi dengan Salwa, namun pada kenyataannya hanya kesia-siaan saja, sebab hatinya sudah mati akibat rasa benci dan dendam.


"Ya Allah ya robb, bantulah hambamu yang lemah ini keluar dari penculikan dan penyekapan. Hamba percaya bahwa Engkau maha kuasa diatas segala-galanya, maka sadarkan Salwa segera dan maafkan kesalahan-kesalahan yang ia lakukan padaku. Bukakanlah pintu hatinya, bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, bimbinglah dan berilah jalan padanya, agar dia secepatnya tersadar dari kelalaian atas semua kesalahannya," doaku dalam hati untuk kebaikanku sendiri dan Salwa.



Diriku masih berusaha memaafkan orang yang sudah menyiksaku, dan diri tak mau terperangkap akan namanya dendam, sebab sakit hati akan dibalas dengan dendam tak akan bisa pernah selesai, dan semua itu akan membuat hati kita semakin menganga akan haus kemarahan, sehingga dosapun akan terus mengikuti diri kita. Bukankah ada yang mengatakan "Sakit hati jangan dibalas dengan dendam, tapi doakan orang yang telah menyakiti kita, sebab Allah akan menderajatkan pahala lebih, bagi orang yang mampu memaafkan orang yang telah menyakiti kita". Kata-kata itulah yang kutanamkan dalam diriku sekarang, sebab tiada guna membalas perlakuan Salwa, 'toh biar Allah 'lah yang membalas semuanya.


Netra sedang berselancar mengelilingi ruang gudang yang kelihatan berantakan, dan pandanganku terus lurus ke samping, dengan mata membuka lebar. Kini mencoba kutarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkannya perlahan-lahan.


"Hehhhh ... huuuuff."


Sadar tak akan ada pertolongan lagi, akhirnya aku mencoba bangkit sendiri dari tergoleknya diriku. Entah sudah berapa jam aku tertidur, seingatku setelah Salwa menganiaya mata mulai sayu-sayu terpejam, dan kemungkinan diri ini keblabasan ketiduran akibat sekujur tubuh sudah merasakan pedih.


Perlahan aku mengangkat tubuh memposisikan diri untuk duduk dengan benar, dengan netra terus saja melihat sekeliling ruangan. Tak henti-hentinya diri ini mengatur nafas, dan kini berusaha menyeka air mata yang sempat menetes, menggunakan baju yang melekat diatas bahu, dikarenakan tangan masih terikat.


Pedih, sakit, ngilu, dan rasa-rasanya luka sudah sedikit memar, sehingga detakkan sakitanya tak tertahankan lagi. Matakupun rasanya sayu-sayu terus saja ingin isirahat. Disisi lain dengan memejamkan mata, biar otak tak kepikiran terus akan rasa sakit di sekujur tubuh, dan dengan dibuat tidur mungkin semua rasanya akan hilang.


Mentari pagi sudah menyilaukan sinarnya yang masuk dari celah-celah gudang, sehingga membuat matakupun untuk segera membukanya. Diri ini terus saja berpikir apa lagi yang akan dilakukan Salwa selanjutnya? Yang kutahu dia itu hanya akan terus menyiksaku tanpa ampun, padahal diri ini sudah berkali-kali meminta maaf padanya, namun dia tak mengindahkan ucapanku yang ada pada dirinya hanya dendam...dendam.


Braak ... brook ... braaak, suara orang diluar gudang seperti sedang memukul sesuatu.


"Eeem ... emm," Mulutku yang tak bersuara, berusaha ingin meminta tolong.


Dengan sekuat tenaga, kini aku berjalan ngesot dengan posisi duduk, akibat tangan dan kaki masih saja terikat. Didepan mataku ada sebuah tumpukan kursi plastik yang sudah buruk bentuknya, dan niatku ingin sekali menuju kesitu, biar orang diluar bisa mendengar, dan akhinya nanti bisa menolongku. Perlahan namun pasti, sekuat tanaga diriku ingin segera sampai ke arah kursi itu.


Bruuuk, tubuhku sudah terguling kekanan, akibat kengesotanku yang terlalu cepat.


"Eemmm." Suaraku yang meraung tak ada suara, dengan airmata yang sudah mengalir.


Badan sudah sakit akibat penyiksaan, dan sekarang ditambah jatuh tersungkur. Luka itu bagaikan sedang tersiram air garam, rasanya begitu tak tertahan lagi, sungguh tiada tara lagi denyutannya.


"Ya Allah apakah sesulit ini diriku bisa lepas dari penculikan. Apakah mas Adit sudah menyerah untuk mencariku? Dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda dia menemukanku. Ya Allah apakah dosaku sudah terlalu banyak, sehingga Engkau menyulitkan keadaanku sekarang?" gumanku dalam hati yang sudah merasa putus asa.

__ADS_1


"Astagfirullah hal adzim, maafkan aku ya Allah telah berburuk sangka pada Engkau. Hamba yakin atas kuasaMu lebih besar dari apapun, mungkin ini adalah jalan nasib yang ditakdirkan untukku agar meningkatkan keimanan, Astagfirullah ...astagfirullah. Semoga hari-hari berikutnya Engkau kirimkan pertolongan, untuk mengeluarkan hamba dari sini. Amin ya robal alamin," doaku dalam hati yang tak putus-putusnya memohon pertolongan.



Kerjaanku hanya meringkuk tak berdaya dan tidur saja. Angin malam yang sepoi-sepoi yang sering kali menusuk tulang tak bisa kuhetikan, ditambah lagi segerombolan nyamuk yang selalu hinggap ditubuhku, kubiarkan mereka menghisapnya sampai kenyang, sebab tak ada gunanya menyuruh pergi mereka, dikarenakan tangan tak bisa mengusirnya.


Hanya airmatalah yang kini satu-satunya menjadi hiburanku, disaat-saat diri ini dilanda ketakutan, cemas, dan putus asa.


Tiada lagi kesenangan yang terpancar diwajahku, sebab diri ini benar-benar takut atas tindakan Salwa, yang kian hari kian kejam tak berperasaan. Kadang sehari cuma dikasih makan 1 kali, dan entah kesibukan apa yang dilakukannya, sehingga akupun lupa tak dikasih makan, ataukah ini memang disengajanya biar diriku tambah menderita dalam penjara penyiksaan. Itupun saat dia menyuapi selalu belepotan, sehinnga perutpun tak bisa kenyang. Dia selalu saja menyuapiku dengan penuh emosi dan selalu tegesa-gesa, membuat nasipun selalu mubazir tercecer dilantai.


"Hai Ana perempuan si*l*n, apa kabar?" sapa Salwa tengah malam.


Hanya diam seribu bahasa diri ini balik menyapanya, sebab tak ada gunanya lagi berbicara padanya, dikarenakan hatinya sudah buta dan mati akibat dendam.


"Wah ... wah, ada orang nyapa kok kamu diamkan," geramnya Salwa berbicara.


Tangannya sudah menjambak rambut, sehingga tak terhindarkan kepalakupun mendongak ke atas.


"Ckckckk, aku lupa ... aku lupa. Kalau mulut kamu sedang tersumpal, sehingga tak bisa menyambut perkataanku. Aah, kenapa aku jadi bodoh begini! Tapi bodoh-bodoh begini, pintar juga bisa menyiksamu, mampus kau! hahahahahaha," gelak tawanya yang menurutku sudah gila.


"Oh ya. Ada kabar bagus nih untukmu! Sepertinya Adit sekarang mulai menyerah nih! mencari kamu, Gimana dong?" tanyanya yang aneh dan tidak waras.


Tidak percaya atas bualannya.


"Sudah dua hari lebih kamu tidak ditemukan, dan sepertinya dia sudah menyerah. Dia sekarang kelihatan tenang, tidak panik, maupun gelisah. Apa jangan-jangan dia sudah tidak mencintaimu lagi, sehingga dia melupakan istrinya yang sedang diculik? Emm, mungkin iya kali ya! Wuuih, berarti bagus untukku dong, akhirnya diriku bisa menikah lagi dengannya, hore...hore!" kegembiraannya yang menurutku membual dan terlalu percaya diri.



"Eem'mm," Mulut ingin bersuara, dan minta dibuka bekapan.


"Apa? Ganggu orang lagi membayangkan menikah dengan Adit saja!" pekiknya tak suka.


"Eem ... emm," Kebungkamanku berbicara, dengan netra menunjuk-nujuk kearah sumpalan kain.

__ADS_1


"Eem ... emm," pintaku sekali lagi.


"Aah, kamu ngeselin banget! Mau bicara apaan juga sih?" geramnya Salwa berkata, yang akhirnya membuka sumpalan kain dimulutku juga.


"Cuuuiiih," ludahku tepat mengenai wajahnya.


Plaaak ... plaaak, 2 tamparan lagi-lagi terdarat dipipiku.


"Kamu jangan berharap mas Adit bisa bersamamu. Dia tak akan mau bersama perempuan yang tak waras, gila dan sadis sepertimu," ejekku dengan menyunggingkan bibir atas ke arah sebelah kiri.


"Apa?" Keterkejutannya.


"Tidak laku dan mas Adit tidak mau."


"Apa yang kamu bilang tadi? Aku tak bisa bersama Adit? Hahahaha," ucapnya diwarnai gelak tawa, yang membuatku sudah binggung.


"Kamu kali! Yang terlalu berkhayal bisa bersama Adit."



"Ingat! Semua itu tak akan terjadi padaku, sebab aku akan terus menganggu hubungan kalian sampai kapanpun," ujar Salwa yang sudah mencengkram pipiku.


"Bagiku itu tidak akan pernah mungkin terjadi, sebab cinta mas Adit lebih besar dan kuat hanya padaku seorang. Jadi kamulah yang harus membuang khayalan yang terlalu tinggi itu! Sebab nanti bisa-bisa kamu jatuh, dan mungkin menjadi patah hati, serta ujung-ujungnya bisa bunuh diri pulak!" ucapku melawannya, dengan mulut moncong-moncong ke depan, dikarenakan Salwa masih mencemgkram pipiku.


"Ciiih, aku memang sedang berkhayal tinggi, tapi semua itu sebentar lagi akan terwujud, sebab selama-lamanya diriku akan melenyapkanmu, yang pastinya setelah semua keadaan menjadi tenang!" ancam Salwa sambil membuang mukaku.


"Apa maksudmu?" tanyaku sudah bergindik ngeri atas ancamannya.


"Kamu tak perlu tahu! Itu rahasia?" ujarnya tersenyum tipis penuh kemenangan yang terlukis diwajahnya.


"Ya Tuhan, tolonglah. Selamtakan cepat diriku. Tolong aku keluarkan diriku dari sini," tak henti-hentinya diri ini berdoa dalam hati, setelah kepergian Salwa.


"Beri aku kekuatan ya Allah, kuatkan aku ... aku mohon." Doaku dalam hati dengan aimata yang terus mengalir, dan tak bisa kubendung lagi.

__ADS_1


Badan sudah lemas, tenaga rasanya sudah hilang seketika, akibat ucapan Salwa barusan. Nafas mulai sesak, dikarenakan diri ini kebigungan harus berbuat apa dan tak tahu nak berkata apa lagi?.


__ADS_2