
Hati sudah sesak penuh amarah, sehingga waktu pulangpun kubiarkan mas Adit begitu saja, tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutku, maupun segera berpamitan kepadanya.
Terlihat dari kaca jendela rumah kos, mobil mas Adit perlahan-perlahan kini mulai menghilang dari pandanganku.
Kau berada jauh disana
Sehingga aku tidak bisa melihatmu.
Sekalipun aku tidak pernah bermimpi
Seseorang yang sepertimu ada didepanku.
Jangan menyakitiku
Dan jangan pernah mendekati lagi.
Hati ini yang membeku
Takkan mudah untuk dicairkan, untuk menahanku.
Bunga-bunga mulai berjatuhan
Mimpi indah berubah hitam oleh airmata.
Menutupi segala dua netra yang memerah
Menyembunyikan dibalik senyum manis ini.
Seandainya aku bisa memutar waktu
Berharap sekali aku ingin kembali.
Tiada hari indah ketika pertama kala itu
Namun semua berubah menjadi nyeri.
Seperti angin ...
Yang berhembus kencang sekali.
Cinta yang biasa (Like ordinary love)
Akan tetap menutup rapat mata memerah ini.
Mimpi buruk yang seperti biasanya datang
Jatuh ke dalam mimpi yang nyenyak.
Jika aku menghapusmu dan melupakanmu
Maka akan menyisakan kesedihan.
Kita dibawah langit yang sama
Memutari waktu yang sama.
Seberapakah banyak airmata ini?
Jika aku melupakanmu.
Aku tidak bisa berhenti
Bahkan aku tidak bisa bernafas.
__ADS_1
Aku ingin mencintaimu,
Namun hati tidak bisa dipaksakan.
Dihati yang beku
Hanya ada kau seorang.
Jika tangan ini lepas
Maka akan banyak menjejakkan kenangan kesedihan.
"Ana kamu kenapa, Nak? Mata kelihatan sembab begitu?" tanya Bapak yang melihat keadaan mungkin nampak kacau.
"Ana, gak pa-pa, Pak?"
"Jangan bohong, Nak."
"Hhh, iya Pak. Ada sedikit permasalahan. Biasa 'lah Pak, ini tentang mas Adit!" jawabku sambil memijit kening kepala.
"Kamu yang sabar, Ana! Memang tidak mudah bersuamikan orang kaya. Selalu saja banyak halangannya," ujar beliau menasehati.
"Iya Pak, Ana paham! Entah mengapa mas Adit masih saja tidak berubah, masih sama seperti dahulu yaitu menyakiti Ana," penjelasanku.
"Kamu harus sabar dan kuat, kamu tahu sendiri 'kan kalau Adit dari awal-awal tak ada rasa cinta padamu, jadi kamu harus tetap berusaha dan ikhlas menjalani semuanya," 1imbuh beliau berkata.
"Iya, Pak."
Sebelum-sebelumnya sudah ceritakan kepada bapak tentang semua masalahku, sehingga beliaupun paham dengan arah pembicaraanku dengan semua kejadian akhir-akhir ini, yang tak terkecuali dengan tidak pulangnya aku beberapa hari ini.
>>>>>
Tok ... tok, pintu kamarku diketuk.
"Ana, Bapak boleh masuk?" Beliau meminta izin.
"Masuk saja, Pak! Pintu ngak di kunci, kok!" jawabku.
"Iya, Nak."
"Bapak mau berangkat kerja dulu! Kamu jangan lupa makan. Tadi Bapak sudah membuatkan bubur, dan makanlah yang kenyang nanti. Lihat, badan kamu sekarang ini! Terlihat pucat dan lemas sekali," Kekhawatiran beliau saat sedang sakit.
"Iya, Pak! Ana ngak pa-pa. Ini cuma demam biasa saja yang sedang menyerang. Bapak nanti hati-hati berangkat kerjanya," jawabku.
Tangan punggung beliau langsung kucium, yaitu dengan cara masih berbaring di kasur, dikarenakan badan terasa lemah sekali akibat sakit.
Bapak adalah orang yang begitu penyabar. Beliau tidak pernah sedikitpun marah, atas semua kejadian dalam rumah tangga kami. Bapak hanya bisa mendukung dan menasehati, tidak mau mencampuri urusan rumah tanggaku yang dari dulu sudah mendekati kehancuran. Hanya dengan semangat dan selalu merangkulku, bapak tak henti-hentinya memberikan senyuman kehangatan, agar aku bisa bangkit dan tidak terus dalam keterpurukan, akibat sebuah cobaan dan masalah yang menyerang rumah tangga kami.
Walau bapak hanya petugas kebersihan di SMA Negeri, diri ini tak akan pernah malu mempunyai bapak yang bagiku super hebat dan tangguh. Penuh perjuangan dan buah kesabaran saat beliau bisa mengasuh dan menjagaku sampai menuju biduk berumah tangga.
>>>>>
Sudah seminggu berlalu. Tidak ada niatan untuk masuk kerja. Rasanya cukup muak untuk bertemu dengan mas Adit, sebab lama-lamaan sifatnya sudah melewati batas.
[Hallo, Ana?]
"Ya Ampun, apa yang terjadi padanya sekarang!" Hati bertanya-tanya sebab suaranya terdengar sudah kacau.
__ADS_1
[Ada apaan sih, Mas! Emm, nas Adit lagi ngapain, sih? Kok suaranya kacau betul]
[Hehehhe. Ana aku sungguh mencintamu, dan sekarang diriku sangat-sangat begitu merindukanmu]
"Ya ampun, apa sih yang sebenarnya terjadi pada mas Adit?" hati bertanya lagi. Ada kejanggalan suaranya berbicara diiringi teriak-teriak.
[Ana, aku sangat ... sangat mencintamu! Jangan pergi dariku, Ana]
Suaranya terisak.
[Mas Adit sekarang lagi mabok, ya?]
[Ooh, enggak-enggak Ana. Siapa bilang aku mabok, kamu jangan nuduh-nuduh orang sembarangan. Kamu jangan salah sangka dulu. Aku sungguh mencintaimu, dan Salwa itu memang perempuan br*ngs*k, berani-beraninya dia mau menghancurkan hubungan kita. Tunggu ... tunggu saja pembalasanku padanya, biar kita bisa balikan lagi. Kamu jangan percaya sama Salwa, jangan ... jangan! Dia itu perempuan berbisa yang bisa mematok kamu kapan saja, jadi kembalilah bersamaku lagi, aku akan menjagamu, hahahahha. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Ana. Hahaha, aku sungguh mencintai kamu, Ana ]
Rasanya hatiku sekarang menjadi gelisah, dengan rancauan suaranya yang kian menjadi-jadi tidak jelas, seperti orang sedang meminum minuman k*ras.
Mungkinkan yang dikatakan mas Adit adalah kenyataan, bahwa dia tidak salah, dan wanita itulah yang menggoda mas Adit duluan. Hati sekarang sedikit goyah, atas penjelasannya yang berulang kali tetap sama.
Tut ... tut, tiba-tiba sambungan terputus. Mencoba menghubungi lagi akibat terlalu khawatir, namun sekian kali menelpon tidak diangkatnya.
"Ada apa, Ana? Kok wajah kamu ditekuk dan kusut begitu? Ada masalah lagi dengan Adit?" Bapak bertanya padaku yang sedang duduk diruang tamu.
"Gak ada apa-apa sih, Pak! Cuma Ana sedang berpikir. Apakah yang dikatakan mas Adit semuanya barusan adalah sebuah kebenaran, bahwa dia itu tidak salah?" penjelasan.
"Mungkin penjelasan Adit ada benarnya juga, semua kesalahan tak seharusnya dilimpahkan pada dia. Bisa jadi perempuan itu juga yang sudah menggoda Adit. Bapak lihat akhir-akhir ini Adit berusaha dan gencar sekali agar bisa kembali padamu. Jadi pesan Bapak, coba kamu itu memberi ruang dan buka sedikit hati kamu yang sakit itu, untuk memberi kesempatan padanya, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya tempo dulu. Tidak baik juga jika kamu terus-menerus memendam rasa sakit, amarah, dan kekecewaan, bisa-bisa jika itu semua menumpuk, akan menjadikan penyakit hati dan lama-lama akan tumbuh menjadi dendam yang tidak berkesudahan," panjang lebar nasehat beliau.
Otakku sekarang sedang bekerja untuk mencerna perkataan Bapak, bahwa diri ini harus membuka hati dan memaafkan semua kesalahannya.
"Ana tahu, Pak! Tapi rasanya Ana begitu susah untuk melakukan itu semua, sebab hati sudah terlalu dalam akan sebuah rasa sakit hati," Kegudahan yang mulai goyah.
"Bapak tahu sekali Ana, tapi apa salahnya jika kamu mencoba sedikit demi sedikit. Bapak paham sekali rasa sakit hatimu itu bagaimana? Memang tidak mudah untuk melupakan kenangan-kenangan pahit, tapi bukankah Allah Maha Pengampun, jadi berusahalah memaafkan dia, dan seiring berjalannya waktu pasti kamu akan bisa kembali menerimanya lagi. Bapak hanya bisa mendoakan dan mendukungmu, dijalan yang menurutmu bisa benar untuk kamu pilih," keseriusan Bapak berucap.
"Insyaallah, Pak! Ana akan mencoba memaafkan dan membuka pintu hati yang terluka. Terima kasih, Pak. Kamu itu selalu ada untukku, di saat-saat anakmu yang terpuruk ini telah gagal dalam membina rumah tangga untuk bisa harmonis," imbuh ucapan.
"Iya, Nak. Yang lebih utama banyak berdoa dan minta petunjuk padaNya."
"Iya, Pak."
Tubuh beliau kupeluk. Kedua tangan yang selama ini membesarkan diriku sudah menepuk-nepuk pelan rambut.
[Assalamualaikum, Ma!]
[Walaikumsalam, Ana]
[Ada apa ya, Ana?]
Mencoba menghubungi mertua, sebab siapa tahu ada solusi.
[Itu, Ma. Kalau boleh, Ana mau minta tolong sekarang, tapi sebelumnya maaf jika sudah merepotkan]
[Minta tolong apa, Nak? Tidak usah sungkan begitu. Bicaralah]
[Mama bisa mampir tidak ke apartemen Mas Adit? Ana sekarang khawatir sekali padanya, sebab ditelpon tadi suaranya terdengar begitu kacau]
[Lah memang ada apa? Kok bisa begitu?]
[Ana juga kurang tahu, makanya minta tolong untuk melihatnya]
[Baiklah Ana. Mama akan segeta meluncur kesana. Kamu tida usah khawatir. Ada mama disini, oke]
[Iya ma! Terima kasih]
__ADS_1
[Sama-sama, Ana]
Hati sudah didera akan rasa gelisah. Takut jika terjadi sesuatu pada mas Adit, sehingga mertualah yang kumintai bantuan, karena diri ini belum siap untuk bertemu dengannya sekarang