
Perasaan semakin tak enak, saat perusahaan suami ada yang ingin menguncangkan suasana yang kini tenang dan sukses.
"Oh ya, Ana. Gimana menurutmu tentang pakaian tadi?" tanya Mama saat kami didalam mobil.
Kami sudah menyudahi berbelanja, akibat terkejut atas kejadian pelanggan yang marah-marah, atas bahan yang kualitasnya sangat rendah.
"Ana merasa ada yang aneh dan janggal, aja, Ma! Ngak mungkin perusahaan Mas Adit yang dari dulu selalu memberikan yang terbaik untuk pelanggan, sekarang asal-asalan menjual kain yang jelek. Ana merasa ada yang ingin menjatuhkan perusahaan mas Adit, dengan cara memperjelek keadaan kain," jawabku merasa heran.
Aliya sibuk memainkan topinya sendiri. Anaknya aktif, hingga kadang tidak bisa diam walau sudah dikasih mainan kesukaan.
"Pemikiran kamu kok sama dengan Mama. Benar apa katamu, dari dulu perusahaan yang Adit kelola tidak pernah begini, jadi sekarang aneh betul rasanya," ucap mertua yang merasa janggal juga.
"Apa Ana harus membantu mas Adit, Ma! Perasaan Ana begitu tak enak, dan akupun terasa khawatir sekali. Jika mas Adit sudah tahu tentang ini semua, pasti dia akan kewalahan sebab perusahaannya besar, jadi pasti mas Adit akan kesusahan mengatasi sendiri. Perusahaan banyak, jadi mencari sudut permasalahannya dimana akan kesusahanan," usulanku berkata.
"Bener juga atas pemikiranmu itu. Baiklah kalau begitu, Mama akan membantu juga, tapi kita antar Aliya pulang ke rumah dulu, biar suster yang menjaga dan merawatnya," respon beliau.
"Iya, Ma. Bener."
Akhirnya setelah mengantar Aliya ke rumah mertua, aku dan Mama langsung meluncur ke perusahan mas Adit, untuk memberitahukan kejadian di mall tadi.
Setelah mobil terparkir di perusahan, kami segera menuju ke ruangan mas Adit.
Tok ... tok, pintu ruangannya kuketuk.
Ceklek, pintu ternyata sudah dibuka sekertaris Rudi.
Akupun terkejut, ternyata diruangan suami sudah ada sekitar enam orang perempuan dan laki-laki, yang sepertinya mereka ada urusan penting. Terlihat tamu dan mas Adit ada perdebatan sedikit.
"Ada apa ini sekertaris, Rudi?" tanya Mama berbisik-bisik.
"Ada toko yang komplain tentang masalah baju," jawab sekertaris Rudi.
__ADS_1
"Ohh."
Kami bertiga langsung menghampiri tamu itu dan Mas Adit. Terlihat tamu itu kelihatan marah atas kejadian yang menimpa tokonya.
"Ada apa ini?" tanya Mama mertua.
"Ini, Ma. Ada yang komplain tentang baju, yang berada ditoko mereka."
Wajahnya mulai gelisah. Masalah sepertinya akan melibatkan semua orang dan lebih bekerja keras lagi.
"Gimanan tidak komplain. Harga bajunya selangit, tapi kain yang diberikan gak sesuai dengan kwalitas baju, seperti sengaja ingin merugikan dan mencemarkan nama baik toko kami, dan kami tak suka itu. Kami ingin menuntut ganti rugi atas semua yang telah terjadi," ucap pemilik toko mulai emosi, yang sudah merasa dirugikan.
"Bapak sama ibu-ibu, tenang dulu. Kita akan menyelesaikannya dengan kepala dingin, dan akan mencari solusi atas kerugian toko yang kalian punya," ucap Mama memberikan jalan tengah.
"Nah,kalau begini 'kan enak," jawab pemilik toko.
"Iya bener ... bener," simbatan yang lain kompak.
"Kalau begitu terima kasih atas penyelesaian ini. Semoga tidak akan ada lagi kasus yang akan terjadi di kemudian hari seperti ini!" ucap pemilik toko yang tadi sempat emosi.
"Iya, sama-sama. Kami juga meminta maaf atas kelalaian kami, dalam memproduksi kain yang salah. Saya ingin meminta maaf sekali lagi, atas kejadian di toko anda," ujar Mama mertua dengan lemah lembut.
"Iya, gak pa-pa. Kalau begitu kami semua permisi dulu," ucap pemilik toko ingin izin pergi.
"Iya ... iya, terima kasih!" jawab kami semua, dengan cara menjabat tangan para tamu-tamu itu.
Tamu yang komplainpun telah pergi, dan kini tinggal kami berempat ingin membahas masalah yang sedang terjadi.
"Kamu itu gimana sih, Adit? Perusahaan kamu kok bisa kecolongan memberikan produk buruk? Dan kalau bisa kamu itu harus sabar, apabila menyelesaikan masalah dengan pemilik toko, jangan pakai emosi! Nanti bisa mencemarkan perusahaan kamu, dan akhirnya perusahan yang selama ini kamu besarkan akan hilang begitu saja," tutur mertua menasehati suami.
"Bukan begitu, Ma! Adit berusaha sabar dan mau menyelesaikan masalah itu. Tapi aku tidak percaya begitu saja apa yang barusan terjadi, sebab selama bertahun-tahun memegang perusahaan ini, tidak pernah ada kasus seperti ini, dan baru kali ini terjadi. Jadi rasanya syok dan tak percaya saja," ucap mas Adit mengeluarkan uneg-uneg.
"Mama paham. Seharusnya kamu lihat buktinya dulu, sebelum marah pada mereka tadi. Sini Ana! Berikan baju yang kita temukan di mall tadi," suruh Mama.
__ADS_1
Paper bag berisikan pakaian yang warnanya luntur, dan jelek kualitas kain, kini kusodorkan pada Mas Adit, biar dia percaya bahwa yang dikatakan para pemilik toko tadi adalah benar.
Setelah dibuka, ekspresi Mas Adit menampakkan wajah terkejut, dan tak percaya apa yang dia lihat sekarang.
"Lihat! Kamu percaya 'kan sekarang? Kain itu seperti kain murah, mudah kusut, bahan dasarnya panas, serta tak lupa diujung
warnanya sudah luntur. Kamu lihatlah!" Mama mertua menjelaskan.
"Duh, kok kayak gini sih?"
Sekertaris Rudi merebut baju itu, sepertinya dia juga tidak percaya atas kemelut sekarang.
"Sekarang kamu percaya 'kan, apa yang mereka katakan?" imbuh Mama.
"Astagfirullah, iya Ma."
"Duh, siapa yang berulah ini Bos.
"Kita harus cari tahu."
"Gimana pendapatmu?" Mama masih ingin tahu rencana baiknya.
"Wah, ini benar-benar keterlaluan. Aku tidak menyangka jika kejadian bahan kain memang benar adanya. Aku harus memeriksa bagian produksi, desighner, dan pabrik penjahitan baju," ujar Mas Adit sudah mulai emosi.
"Kumpulkan semua orang untuk rapat Rudi, secepatnya, paham!" Memasang wajah bringas akibat sudah tersulut emosi.
"I ... iya ... ya, Bos." Jawab sekertaris Rudi gugup.
Akhirnya sekertaris Rudi telah melenggang pergi dengan cepat, untuk melakukan pemanggilan semua atasan bagian personalia, dalam sidang rapat darurat.
"Kamu sabar Adit, jangan pakai emosi. Bisa-bisa kita tidak akan mendapatkan solusi atas semua ini jika pakai amarah," tutur Mama menasehati.
"Iya, Ma. Hhhhhh."
__ADS_1
Aku hanya bisa diam menjadi penonton saja, sebab sekarang tak ada yang bisa kulakukan untuk membantunya.