Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Bayangan yang kutemukan


__ADS_3

Lagi-lagi aku menyempatkan waktu untuk ketemu sama si imut Aya. Tangan sudah bertenger membawa es krim yang dia sukai. Walaupun ini masih agak awal saat ingin menemuinya, namun tak membuat diri ini untuk mundur ingin melihat dia.


Waktu masih menunjukkan jam setengah sembilan. Karena kerjaan dikantor agak lenggang, makanya aku menyempatkan waktu menemui Aya saja, daripada di perusahaan suntuk dan pening melihat tumpukan kertas.


Bhug, dengan pelan pintu mobil kututup, dan kini berusaha ingin masuk ke sekolahan Aya. Mata sedang menatap heran, saat semua teman Aya telah bergandengan tangan pada orangtua, yang sepertinya menjemput pulang sekolah.


"Kok aneh? Kenapa semua anak-anak kelihatan sudah pulang sekolah?" Kebingungan hati bertanya.


Aku yang heran, langsung ingin mencari Aya saat semua murid sudah dijemput orangtua masing-masing.


"Aya, sini ... sini?" panggilku saat dia keluar dari ruang kelas, sedang mencium tangan punggung para guru.


"Om ganteng," jawabnya yang kini sudah berlarian menghampiriku.


"Sini, sayang. Kok semua orang sudah pulang? Memang ada apa ini?" tanyaku penasaran saat netra melihat para orang tua sibuk mengandeng anaknya.


"Semua guru sedang ada acara, jadi murid-murid dibubarkan lebih awal. Heeh, Aya takut nih, om. Gimana pulangnya? Sedangkan bunda lagi kerja, dan nenek pasti pagi-pagi sudah berangkat kerja disawah," terang Aya sedih.


"Sudah, kamu tidak usah sedih. Biar om saja antar kamu pulang, gimana?" tawarku.


"Benarkah, om?" tanyanya antusias.


"Iya, sayang!" jawabku yang sudah mengelus rambutnya pelan.


"Terima kasih, om."


"Emm, sama-sama."


Karena kasihan, akhirnya diriku jadi juga mengantarkan Aya untuk pulang kerumah dia.



"Wah, nyaman sekali mobil kamu, om. Dingin lagi," celotehnya yang merasa kagum atas mobil mewahku.


"Benarkah? Memang kamu tidak pernah naik mobil seperti ini?" tanyaku ketika tangan telah sibuk menyetir mobil.


"Belum om. Bunda dan nenek saja selama ini hanya menggunakan sepeda, sebagai alat kendaaran untuk berpergian kemana-mana," jelas Aya.


"Berarti panas, dong!."


"Iya, panas om. Tapi juga terasa sejuk sambil melihat pemandangan jalanan."


"Benar juga, sih."


Dert ... dert, tiba-tiba gawai telah bergetar dan nampak ada sebuah panggilan dari Bayu sekertaris sekaligus teman SMA dan kuliah dulu.


Klik, langsung kugeser layar mengunakan jari, yang diiringi sibuk sedang menyetir juga. Earphone 'pun telah bertengger ditelinga, agar tak terjadi kecelakaan saat menelpon.


[Heem, ada apa?]


[Bos, lagi dimana sih?]


[Aku lagi diluar, memang ada apa?]


[Cepetan keperusahaan kita, sebab orang yang kita ajak kerjasama sekarang mau lihat-lihat perusahaan, dan ingin memastikan perjanjian kesepakatan atas apa yang ingin kita buat]

__ADS_1


[Tapi, aku lagi sibuk diluar. Kamu saja yang urus dan menemui. Lihat seksama perjanjjan itu baik-baik]


[Tidak bisa , bos Adrian. Mereka adalah tamu penting kamu, jadi ayolah sekarang kekantor sebentar saja]


[Heeh, ok ... ok. Aku akan datang kesana sekarang. Bilang saja pada tamumya, aku akan segera datang namun sedikit terlambat karena lagi dijalan]


[Ok, akan kami tunggu. Ngak pakai lama tapi]


[Iya ... iya, bawel]


Perusahaan milik orangtua adalah dibidang pabrik mainan, pakaian dan beberapa aplikasi game. Jadi banyak sekali perusahaan dari luar mengajak kerja sama, dan mencoba melihat keadaan pabrik kami.


"Oh ya, Aya. Kamu ikut om sebentar mau ngak? Sebab om sekarang ada kerjaan mendadak sebentar, nanti kalau sudah selesai pasti om akan antar kamu pulang, gimana?" tanyaku.


"Iya, om. Ngak pa-pa."


"Baiklah, kita segera ketempat perusahaan om."


Dengan laju kendaraan yang sudah nekat cepat, kini diri ini buru-buru agar bisa cepat sampai, sebab tak mau mengecewakan klien yang sudah mau diajak kerjasama.


Karena tergesa-gesa mau masuk perusahaan, kini Aya terpaksa kugendong didepan, sebab jalannya nanti pasti lelet dan bisa menghambat pertemuan.



"Wah ... wah, kok rumahnya besar sekali, om? Menjulang tinggi pulak atapnya?" Kepolosan Aya merasa kagum.


"Ini tuh bukan rumah, sayang. Melainkan namanya perusahaan," jawabku yang mulai lelah akibat mengendong Aya.


"Oh, perusahaan. Aku pikir rumah!" tuturnya yang masih menatap heran dengan wajah tak-hentinya merasa kagum.


"Maafkan saya jika terlambat," ucapku yang kini menurunkan Aya, dan mencoba menjabat tangan tamu.


"Iya, ngak pa-pa. Kami sangat pahami, sebab anda adalah CEO diperusahaan besar ini, jadi biasalah orang yang paling super sibuk diantara karyawannya," Kelegowoan tamu berbicara.


"Aah, anda bisa saja. Mari silahkan duduk," ucapku mempersilahkan.


"Iya, terima kasih," jawab beliau ramah, yang kini diiringi pegawai beliau yang ikut duduk.


Mata kami semua sudah fokus terhadap kertas yang menjadi perjanjian kami, dengan beberapa penjelasan yang diterangkan oleh Bayu.


"Om ... om, aku mau ke kamar mandi," pinta Aya berbisik ke telingaku.


"Iya. Biar pengawai om saja yang mengantar kamu, gimana?" balasku menjawab berbisik pelan.


"Okeh, om."


Tangan dengan perlahan sudah mengetuk meja, memanggil pegawai perempuan disampingku untuk segera mengantar Aya yang kelihatannya sudah tak tahan. Sebab ini adalah rapat penting, maka dari itu suara sedikitpun tak boleh keluar, kecuali penjelasan dari masing-masing sekertaris perusahaan.


Aya lama sekali dikamar mandi, mungkin kini sudah santai bermain-main sama pegawai yang kusuruh, sebab tadi sempat bilang ajak si bocah kecil itu main sebentar, biar Aya tidak jenuh mendengarkan percakapan rapat yang nampak membosankan.


Kini netra kami semua sudah disibukkan kelayar monitor besar, untuk melihat detail sudut demi sudut setiap perusahaan dan pabrik yang ada dibelakang gedung kantorku ini. Semua orang sudah fokus dengan wajah terlihat terkagum-kagum. Sampai pada akhirnya netra dikejutkan oleh sebuah pemandangan seseorang yang sepertinya kukenal.


"Stop ... stop. Ulangi pemandangan dilantai dua," suruhku.


"Tapi pak, kita lagi memutar kameranya diarea pabrik yang penting," bantahan anak buahku.

__ADS_1


"Cepat, putar-putar!" bentakku marah tak sabar.


"Baik ... baik, pak!" jawab anak buah ketakutan.


Semua orang telihat menatapku aneh, saat diri ini kelihatan emosi penuh penegasan.


Netra terus fokus memperhatikan penuh ketelitian. Berulang kali gambar kini diputar kebelakang, dan sekarang benar-benar menampakkan seorang wanita sedang berjalan santai diiringi kerumunan banyak orang yang berjalan juga.


"Aah, apakah itu kamu? Benar ... benar itu adalah kamu," guman hati yang yakin.


"Suruh semua akses di perusahaan untuk ditutup sekarang, cepat ... cepat ...cepat! Bilang pada satpam, suruh semua orang jangan ada yang sampai keluar" pekikku marah-marah.


"Baik, bos."


"Hei bos Adrian ... hei mau kemana kamu?" panggil Bayu teriak-teriak saat aku sudah melenggang pergi.


Kaki sudah berlari sekuat tenaga untuk menuju lift.



Tek ... tek, untuk kesekian kali tombol lift kutekan kasar agar pintunya cepat terbuka, namun pada kenyataannya pintu itu masih tertutup rapat. Karena tak sabar, kini kaki sudah berlari dengan cepat menuruni anak tangga, agar sampai kelantai dua.


"Aku yakin sekali kalau itu kamu, Karin. Ayo ... ayo kaki, berlarilah secepat mungkin untuk sampai ketempat tujuan," guman hati sudah mantap.


Nafas sudah tersengal-sengal kehabisan nafas, sebab akhirnya sampai juga kelantai dua, namun setelah netra mencoba berkeliling mencari, tak adapun sosok orang yang tadi ingin kucari.


"Apa dia sudah turun kelantai satu? Ya, mungkin dia sedang ada disana. Aku harus kesana segera untuk memastikan bahwa dia adalah Karin," rancau hati yang menerka-nerka.


Kini laju kaki kulanjutkan untuk memakai lift. Tak butuh waktu lama agar sampai, hingga tanpa membuang waktu diri ini berlari kelantai dasar perusahaan, yang kini sudah ramai orang ingin melewati pintu utama, namun karena arahanku untuk menutup semua akses pintu, akhirnya semua orang tertahan tak bisa keluar.



Satu persatu orang yang sedang berkerumunan kutarik lengannya, dan mencoba melihat wajah mereka apakah Karin atau bukan, yang terutama adalah perempuan.


"Karin ... Karin, dimana kamu?" teriak-teriakku memanggil.


Semua orang sudah menatapku aneh, namun tak memperdulikan itu semua. Sudah sekian wanita kulihat dari ujung sudut kesudut, namun wanita yang barusan kusangka Karin ternyata tak ada dalam kerumunan.


"Haaaiiist. Aaah, sial ... sial!" umpatku marah.


Dengan kasar kuusap wajah, untuk mencoba meredakan kekesalan yang melanda.


"Ada apa, bos Adrian?" tanya Bayu yang menyusul dengan berlari sudah menghampiriku.


"Aku tadi lihat, Karin!" jawabku ketus.


"Karin?" tanya Bayu tak percaya.


"Kamu jangan mengada-ngada, bos Adrian. Mana mungkin Karin ada disini? Mungkin kamu salah lihat kali," imbuh ucap Bayu masih tak percaya.


"Beneran dia tadi ada, kalau tidak salah. Aaah, sial ... sial. Sudahlah, aku mau lihat layar monitor tadi, untuk memastikan bahwa tadi beneran adalah Karin atau bukan," ucapku yang kini sudah berlari kembali kelantai atas tempat rapat tadi.


"Hei tunggu ... tungggu, bos Adrian aku ikut," panggil Bayu.


Tak kuperdulikan teriakkan Bayu, yang jelas aku sudah berlari untuk kesekian kalinya, supaya secepatnya bisa memastikan bahwa yang kulihat adalah beneran Karin.

__ADS_1


__ADS_2