Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Cobaan datang lagi


__ADS_3

Aku menghela napas berat berulang kali, saat belum keluar-keluar juga dokter memeriksa.


Namun setelah sekian menit menunggu diperiksa, akupun sekarang langsung masuk tergesa-gesa ke ruangan, setelah ada pemanggilan dari suster. Kini aku hanya bisa duduk tepekur di sebuah kursi ruang kerja dokter teman kuliahku dulu. Mata sudah menyipit curiga, yang segera meraih tumpukan kertas yang berisikan sebuah analisis habis pemerikasaan Naya.


"Apa?" Kekagetanku dengan mata terbelalak.


"Apakah pemeriksaan ini benar semua?" tanyaku tak percaya.


"Iya, Adrian. Ini benar, Anak kamu mengalami gangguan jantung yang disebabkan oleh kombinasi empat penyakit jantung bawaan saat lahir. TOF memengaruhi struktur jantung, hingga menyebabkan darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh tidak mengandung cukup oksigen. TOF termasuk kondisi langka dan hanya bisa terdeteksi setelah bayi lahir, dan anakmu pernah mengidap Tof dan kelihatan pernah dioperasi juga," jawab temanku bernama Lisa.


Sebuah berita dahsyat berhasil menghantam dadaku, kala mendengar keterangan awal dari dokter. Rasanya lemas seluruh persediaan dalam tubuhku ini, hingga tenggorokan ini rasanya tercekik seketika pulak, akibat mendengar jawaban-jawaban dokter.


"Bukankah penyakit TOF bisa disembuhkan?" tanyaku saat tahu beberapa mengenai penyakit itu.


"Memang betul, selalu ada peluang untuk menyembuhkan secara total suatu penyakit, begitu juga dengan penyakit jantung bawaan (PJB). Namun kemapuan penyembuhan PJB sebenarnya tergantung pada beberapa hal pada penyakit tersebut. Apakah mampu disembuhkan total atau tidak tergantung atas beberapa hal juga. Yang pertama, kita harus melihat dulu jenis PJB yang dialami anak kamu, apakah itu merupakan tipe ringan atau berat. Kedua, yang mempengaruhi penyembuhan total adalah pada waktu pengobatan dilakukan, yang mana tergantung pada kapan datang memeriksakan kondisinya," jelas panjang lebar teman.


"Aku benar-benar tidak tahu jika anakku telah menderita penyakit ini, sebab sejak lahir aku tak pernah disisinya," ucapku lesu dengan kesenduan.



"Aku tahu Adrian. Walau kamu tak pernah bercerita, namun desas-desus mengenai percintaan kamu dikampus dulu, sangat-sangat menjadi berita hangat," terang Lisa.


"Benarkah itu? Aku kok tidak tahu mengenai ini?" jawabku bingung.


"Mungkin kesibukkanmu mencari ilmu dan ada masalah dikeluarga kamu, hingga waktu hanya sekedar kumpul dengan teman saja, pasti tidak bisa pada waktu itu sebab tersita," tutur jawab Lisa dengan lembut.


"Penangan PJB terbagi menjadi dua hal, yaitu pemberian obat-obatan dan melakukan koneksi pemeriksaan jantung. Pada umumnya harus dikonsumsi oleh anak setiap hari, sehingga saat dilakukan koneksi bisa lancar. Kecakapan institusi atau rumah sakit menjadi tempat penanganan dan pengobatan juga, agar menjadi hal selanjutnya yang dapat mempengaruhi pada bagaimana pengobatan anak tersebut. Fasilitas rumah sakit yang memang memadai serta didukung dengan tenaga medis, baik itu dokter maupun perawat yang sudah cakap dan cukup penaganannya. Tapi kenapa ini bisa terjadi lagi pada anakku Naya?" jelasku yang kembali bertanya.



"Tak serta merta kurang kemampuannya tenaga medis. Mungkin orang terdekatnya telah lalai memberikan sesuatu makanan yang dilarang, hingga penyakit itu kambuh kembali. Contohnya pemberian makanan cepat saji, mergarin dan meyonaise, makanan yang asin dan tinggi gula, gorengan, maupun mie instan," jawan Lisa mengingatkan.


"Benar juga itu. Heeh, kenapa aku bisa lupa dengan pelajaran ini semua. Mungkin ini adalah efek sudah lama tak membuka buku mata pelajaran kedokteran," cakapku mencoba mengingat.

__ADS_1


"Mungkin juga."


"Bagaimana menurut kamu untuk menangani penyakit ini, yang padahal sudah pernah dilakukan operasi?" tanyaku yang khawatir.


"Kita lihat perkembangan tes dan pemeriksaan selanjutnya. Yang penting sekarang, jangan buat anak kamu terlalu kecepek'an atas aktifitasnya sehari-hari dulu," perintah dokter.


"Iya, Lisa. Terima kasih, semuanya kuserahkan padamu. Yang jelas beri perawatan yang terbaik pada buah hatiku Naya," cakapku serius.


"Pasti itu, Adrian."


Ketika orangtua tahu, jika sang buah hati sedang sakit berat, dapat dipastikan akan timbul kekhawatiran dalam benak mereka. Salah satu pertanyaan yang tentu saja akan muncul adalah apakah anak akan bisa sembuh total selamanya?.


Penjelasan panjang lebar tersebutpun masih belum mampu membuatku tenang. Saat kenapa bisa sampai terjadi hal mengerikan begini?.


Kemarin aku sempat tak mampu menghadapi kenyataan mengenai cinta, namun ulu hati sekarang serasa lebih terkoyak menyaksikan anak termanisku, saat sudah dipasangi berbagai selang dan alat-alat medis. Kini aku hanya bisa pasrah dan berdoa siang malam, meminta Allah menyelamatkan putri kecilku dengan cara apa pun.


"Astaghfirullah ... kuatkan aku, ya Allah. Akan kutukar hidupku demi anakku. Aku ikhlas atas semua ini, tapi tolong sembuhkan dia dan kembalikan keceriaan anakku lagi," pintaku dalam hati berdoa.


Masa-masa tersulit dalam percintaan, merupakan nikmat dari Allah yang sangat mengejutkan, namun kini tiada tara lagi atas hantaman cobaan, yaitu saat anak terbaring lemah tak berdaya.


"Belum tahu, namun yang dipastikan ada sedikit kambuh akibat penyakit lamanya," terangku saat diluar ruangan.


"Apa? Apa maksudnya?" imbuh tanya Karin.


"Kamu pasti sudah tahu, kalau Naya telah mengidap TOF. Kenapa kamu tak ada cerita sama sekali padaku? Seharusnya kamu lebih hati-hati lagi mengenai ini," cakapku lesu.


"Iya, kak. Maaf!" Lesunya jawaban Karin.


"Apakah aku sekarang boleh masuk?" imbuh tanyanya.


"Boleh, masuk saja."


Ceklek, dengan perlahan Karin masuk ke ruangan Naya dan diriku hanya mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Astagfirullah, apa yang terjadi padamu lagi, nak? Bunda tak kuasa melihat keadaan kamu yang sakit begini lagi," ucap Karin sendu, saat mendekati pembaringan Naya dirawat.


"Kamu harus kuat, Karin!" ucapku saat mengenggam erat tangannya.


"Terima kasih untuk semuanya, Kak. Termasuk ruangan ini dan segala perawatan Naya sekarang. Namun, menurutku ini agak berlebihan juga," cakapnya tak enak hati.


"Kamu bicara seolah-olah kita ini orang lain. Aku adalah Ayah Naya, jadi sewajarnya jika aku membiayai semuanya dengan memberikan yang terbaik," cakapku memberi pengertian.


"Tapi, kak."


"Sudah tak apa, Karin. Jangan pikirkan mengenai ruangan atau apapun mengenai perawatan Naya, sebab yang jelas kita harus doakan Naya saja, biar secepatnya sembuh," tegasku berbicara.


"Kakak sudah banyak menolong, jangan membuatku makin merasa tak enak hati begini. Emm, tapi mau gimana lagi, selain aku hanya bisa mengucapkan terima kasih saja padamu," ucap Karin tak enak hati.


"Iya, tak apa Karin."


Kini membuat kedua sejoli yang terpisah hubungan, harus ikhlas menerima semuanya. Kebahagiaan atas datangnya kelahiran seorang anak, namun kini sudah merubah jadi tangis penuh kesedihan.


Aku memandang lekat mata penuh kabut itu. Napas telah terhela berat sesaat, kemudian terhembuskan segera atas udara itu. Aku memahami gejolak resah Karin yang berada didada. Tanpa ragu, kuraih kepala Karin untuk terdekap. Wanita yang terbiasa tegar itu kini terlihat sedang rapuh. Tangisan sesegukannya sekarang mulai terdengar berat dalam pelukan.



Lama sekali kami saling mendekap, saling menyelami resah yang ada dan saling memberi kekuatan. Aku merasa nyaman dan tenang jika sudah berada dalam rengkuhan wanita yang terlalu kucintai, hingga sering kali membuat dada terus bergetar deg-degkan.


Hari semakin merangkak menjelang sore, sebab urusan kami mengurusi segala keperluan Naya begitu banyak, hingga waktu telah lupa berjalan dengan cepatnya.


"Istirahatlah! Biarkan aku yang menunggu Naya disini. Wajahmu nampak kusut. Wajah bunda Naya tak boleh berwajah muram dan sedih begini. Tabah, itulah yang harus kau lakukan. Mungkin ini nikmat cobaan yang sedang diberikan oleh Allah untuk kita. Janganlah lupa untuk selalu bersyukur," ucapku mencoba menguatkan Karin.


"Iya, kak. Terima kasih! Maaf jika merepotkanmu lagi," jawab Karin tersenyum manis namun nampak berat.


"Iya."


Aku hanya tersenyum haru, menatap semringah yang menawan. Bibir Karin yang menawan terlihat jelas ada kalanya tersenyum itu sangat memesona. Bulatan hitam netra itu tampak bersinar penuh optimis. Tatapan tajamnya menyiratkan sebuah ketabahan, sekaligus semangat hidup tinggi. Semua yang ada pada diri Karin terasa lebih tegar dalam menjalani hidup. Kekuatan cinta kasih pada anak mungkin memanglah sedahyat itu.

__ADS_1


Segala keindahan ragawi seorang wanita ada pada Karin. Tiap inchi-nya terbingkai indah, pada si empu pemilik raut wajah manis bergurat ketenangan. Apa pun tentang Karin, telah terpahat manis di sanubari dalam hati ini.


"Maafkan aku, Karin. Bagiku, kau adalah anugerah. Tapi, mungkin bagimu ... aku justru malah beban di hidupmu. Maafkan aku. Semoga saja kita bisa melalui cobaan ini. Semoga anak kita akan kembali sehat seperti sedia kala," gumamku dalam hati menyesali diri.


__ADS_2