
>>>> Review kejadian Chris
Tubuh benar-benar lemah, bagai lemak ditubuh sudah terkuliti dan terasa sudah bercerai dari badan.
Sudah seminggu lebih Yona menyiksa dan mengurungku. Sungguh kejam sekali perlakuannya itu. Wajahnya yang cantik dan kelihatan lembut, ternyata tak sebanding dengan kelakuannya yang sadis, kejam, dan tak berperikemanusiaan.
Hanya menangis ... menangis yang dapat kulakukan sekarang. Entah sudah berapa baskom airmata ini jatuh, yang terasa sekarang hanyalah mata begitu pedih dan sudah membengkak.
Tubuh yang tak ada tenaga lagi, sekarang kupaksakan untuk bergairah bangkit agar bisa duduk.
Samar-samar telinga kini dapat mendengarkan suara seorang laki-laki dan perempuan sedang berbincang-bincang, dan akupun tak melewatkan kesempatan itu untuk segera meminta pertolongan.
Sekarang tubuh berusaha duduk dengan tegak, kemudian secepatnya berusaha untuk ngesot, agar bisa menghampiri kursi yang sudah buruk tapi bertumpuk. Lamat-lamat kudengarkan suara laki-laki itu, yang sepertinya aku sudah sangat mengenalinya.
"Aah, apakah itu suara, Chris?" tanyaku dalam hati mendengarkan.
"Eem ... emm," Suaraku tertahan yang ingin berteriak meminta tolong, namun apalah daya tetap tidak bisa akibat bekapan dimulut.
Dengan tergesa-gesa langsung saja aku ngesot ke arah tujuanku. Tubuh yang lemah terus saja berusaha agar cepat sampai, dan pada akhirnya secara kuat bahu sudah kutubrukkan mengenai tumpukan kursi itu.
Bruuuakk, dengan kerasnya benda-benda tumpukan itu jatuh.
"Alhamdulillah, akhirnya usahaku berhasil juga. Ayo Chris, ayo kemari. Tolong dan selamatkanlah diriku segera," pinta dalam hati memohon, dengan tangan dan kaki yang masih sama yaitu terikat.
Tapi kelihatannya lama sekali Chris akan menyelamatkanku. Kali ini aku benar-benar sudah tidak sabar sekali, ingin terlepas dari jeratan penculikan ini.
"Maling ... maling!" Suara seorang perempuan berteriak.
"Aah, apakah Chris akan benar-benar gagal menyelamatkanku, sebab telah dipergokki sebagai maling?" ucapku dalam hati, yang terus saja mengeluarkan aliran tetesan embun disudut pelupuk mata.
Hati cukup merasa kecewa, saat Chris adalah harapanku satu-satunya, dan kini telah pergi menjauh ketika detik-detik hampir saja bisa menyelamatkanku.
"Ya Allah, apakah aku tidak pantas untuk diselamatkan? Kenapa harapan satu-satunya orang yang ingin menyelamatkan telah pergi?" guman hati yang putus asa.
*******
Suara nyaring dengungan nyamuk, kini telah mengerubungi tubuh ingin mengisap darah dari kulit. Tidak bisa mengusir dengan segera dan hanya membiarkan mereka sampai puas sekenyang-kenyangnya.
Braaaak, kerasnya suara pintu sudah terbuka, yang ternyata dibuka secara kasar oleh Yona.
"Hei, kamu ke sini ... sini!" ujar Yona kelihatan emosi.
__ADS_1
"Sini cepat ... sini kamu! Sekarang juga kamu harus ikut," hardik Yona memaksa.
"Eem ... emm," jawabku dengan mengeleng-gelengkan kepala, berusaha ingin menolak permintaannya
Aku berusaha menolak sebab aku tahu persis, bahwa Yona akan berbuat lebih padaku contohnya menyiksa lagi.
Rasa gemetaran akan rasa takut semakin menciutkan perasaanku, agar tak melawan padanya lagi. Terlihat wajah Yona sudah menyeringai marah, dan kini Yona sudah mencengkram pipiku dengan kuat, lalu mendorongku hingga terjatuh tergolek dilantai lagi.
Perlahan-lahan Yona mulai mendekatiku yang tergolek. Karena panik dan entah dari mana pikiran gilaku datang, kutubruk saja badannya dengan kuat, sehingga membuat Yona oleng tak seimbang, dan membuat tubuhnya seketika terjerembab turguling ke lantai. Tapi dia langsung saja bergegas untuk bangkit, serta mulai mendekatiku lagi.
"Dasar perempuan j*l*ng yang tak tahu diri. Berani-beraninya kamu mulai melawan, hah! Plaaak ... plaaak," Pipi lagi-lagi sudah terkena tamparan.
"Wanita yang ngak tahu diuntung, plaak ... plaak." Bertubi-tubi Yona tidak mau berhenti menampar, sambil menghinaku dengan mulutnya yang kasar.
"Inilah akibat kamu berani melawanku," hardik Yona dengan jarinya memantul-mantulkan kepalaku.
Hanya diam yang kulakukan sekarang, mulut rasanya sudah sedikit mengeluarkan darah, akibat terlalu kerasnya Yona menampar. Dan akibat tamparan yang kuat sumpalan kainpun sampai terjatuh, sehingga membuat pipipun terasa sudah panas berdenyut sakit sekali.
"Kamu itu jangan sok suci dan merasa wanita yang paling dicintai Adrian, sebab diriku akan segera menghancurkan semua mimpimu itu, dengan melakukan sesuatu yang lebih sadis lagi," gertak Yona yang sudah tersulutnya emosi lagi.
"Ayo ikut aku sekarang, ayo! Ternyata Adrian itu pintar juga, ketika sudah berani-beraninya melacak agar bisa menemukan keberadaanmu," ajaknya menjelaskan sambil marah-marah lagi.
Tak banyak bicara yang kulakukan sekarang, yaitu untuk tetap menuruti apa yang diperintah Yona. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, yaitu hanya ada kepasrahan tanpa perlawanan dariku.
"Ayo cepat ... ayo cepat! Lembek banget jalannya. Wanita s*al*n seperti kamu itu jalannya harus cepat, jangan lelet seperti siput begitu," pekiknya marah sambil terus mendorong-dorong tubuhku, agar terus menuruti perintahnya.
Diri ini memang lemah tidak bisa cepat, karena keseringan tidak dikasih makanan yang cukup oleh Yona. Tapi disebalik itu semua, tubuh lemah akibat terlalu seringnya disiksa oleh Yona diseluruh sekujur tubuhku, sehingga kini rasanya bagai mati rasa tak ada kekuatan lagi.
Aku begitu terpuruk kecewa, saat diriku tak kunjung jua diselamatkan, dan lepas dari penyiksaan ini. Sekarang Yona sudah mengajakku menaiki mobilnya yang berwarna silver, yang tak tahu lagi entah kemana dia akan membawaku pindah.
"Cepat ... cepat, masuk sekarang!" suruh Yona.
Secara kasar Yona mendorong tubuh untuk segera duduk dikursi mobil.
Wees ... weees, mobil Yona terus saja melaju dengan kecepatan tinggi.
Tin ... tin ... tiiiin, terlihat ada mobil hitam di samping mobil Yona, yang terus saja sibuk membunyikan klaksonnya.
Tin ... tin ... tin, bunyi bel mobil itu terus saja berbunyi, mungkin dengan maksud dan tujuan supaya menyuruh mobil Yona berhenti segera.
"Sial, siapakah itu?" umpat Yona marah.
__ADS_1
"Emm, bukankah itu mobil, Adrian!" tebak Yona.
"Aakh, sial betul. Kenapa Adrian bisa mengikutiku, akgh ... aaah." Kekesalan Yona dengan mengebrak kemudi mobil.
"Yona, berhenti kamu sekarang ... berhenti!" ucap kak Adrian berteriak, yang sudah berbicara lewat kaca mobil yang terbuka.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja Adrian, sebab diriku akan melakukan sesuatu yang lebih pada wanitamu ini, hahaha." Kegilaan Yona yang muncul lagi dengan tertawa puas.
"Yona, berhenti kamu ... berhenti!" pekik kak Adrian lagi, mencoba menghentikan mobil yang ditumpangi kami.
"Yona, hentikan ... hentikan mobilnya!" Ketakutanku saat Yona mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan, akibat ingin berusaha menghindar.
"Diam kamu!" pekiknya marah.
"Hahahah, jangan harap Adrian. Kamu bisa membuat sakit hati padaku, maka aku akan membalas dengan membuat sakit hati padamu juga, dengan cara melukai wanita si*l*n kamu ini, hahahaa." Kegembiraan Yona berucap akibat merasa sudah menang.
Akupun tidak mengerti lagi atas sikap Yona sekarang. Kak Adrian sudah berusaha menyelamatkan dengan cara mengejar mobil Yona, tapi anehnya Yona bukannya menyerah malah terlihat kegirangan tanpa ada ketakutan sama sekali.
Sheeet, suara rem mobil Yona yang tiba-tiba mendadak berhenti, akibat mobil Kak Adrian yang sudah memotong untuk mencoba menghadang, disaat kini sudah berhenti tepat berada didepan mobil Yona.
"Ya Allah, itu beneran kak Adrian ingin menolong. Ayo Kak, cepat ... cepat ke sini dan selamatkanlah aku sekarang," guman dalam hati, saat kak Adrian dan Chris kelihatan sudah turun dari mobil dan sekarang sedang menghampiri mobil Yona.
Brook ... braak ... brook, mobil Yona sudah digebrok dengan kuat oleh Kak Adrian dan Chris dari arah samping kiri dan kanan.
"Buka Yona, buka pintunya!" suruh Kak Adrian.
Klek ... klek, tangan Kak Adrian berusaha membuka pintu mobil, tapi semua itu hanya kesia-siaan saja, sebab Yona telah mengkuncinya dari dalam.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja, Adrian!" ujar Yona yang sudah mulai menstater mobilnya.
Mobil tiba-tiba sudah hidup dan berusaha menghindari mobil kak Adrian, yang berada tepat didepan akibat menghadang kami tadi.
"Brook ... brook. Hei kamu, jangan pergi. brok ... brok, berhenti kamu. Hei tunggu!" kak Adrian berusaha mengejar kami, tapi naasnya Yona sudah terlalu kuat menancap gas, sehingga Kak Adrian tidak bisa menghalangi lagi untuk menyelamatkanku.
"Ya Allah, apakah aku akan benar-benar mati ditangan Yona? Kalaupun aku mati, maka ampunilah semua dosa-dosaku selama ini! Jikalau Engkau masih memberi kesempatan untuk hidup, maka selamatkanlah diri ini," Doaku yang sudah begitu tegang akibat ketakutan, disaat-saat Yona sedang mengemudikan mobil dengan lajunya.
"Hati-hati, Yona?" perintahku.
"Diam kamu!" bentaknya dengan mata melotot.
"Astagfirullah ... astagfirullah ... Allahu akbar," istighfarku menyebut namaNya, saat ketakutan mulai mengusai diriku.
__ADS_1