
Aku mendengar suara langkah kaki dari arah pintu, dan ternyata Edo dan bapak yang datang.
"Assalammualaikum," salam Bapak dan Edo kompak.
"Waalaikumsalam," jawab Mama dan aku secara bersamaan.
"Duduk Pak, Edo." Jawabku mempersilahkan.
Edo sudah duduk dikursi restoran. Posisi kami berhadapan dan bapak duduk tepat disampingku. Beliau sudah mengeluarkan sapu tangan yang ada dalam kantong bajunya, dan setelah itu mengelapkan kewajahnya yang sudah ada peluh keringat.
"Bagaimana, Adit? Apakah kamu sudah ada kabar tentang, Ana?" tanya Bapak mertua padaku.
"Belum, Pak. Masih sama hasilnya, tak ada petunjuk," jawabku lesu.
"Kalau Bapak gimana?" balik tanyaku.
"Sama, Adit. Entahlah, aku dan Edo sudah bertanya ke semua tetangga kos rumah kami yang lama, tapi katanya selama kami pindah, Ana tidak pernah mampir ke sana lagi," Nampak Bapak sudah putus asa juga.
"Benar Adit, akupun sudah menanyakan pada semua temannya, tapi tidak ada yang tahu juga," sahut Edo menjawab.
"Hhhh. Mungkin kita harus lebih teliti dan bersabar untuk mencarinya," desahku menjawab.
Kami bertiga diam sejenak, tidak ada percakapan lagi diantara kami. Sedangkan mama sudah pergi ke kamar Ana, untuk menidurkan Aliya anakku.
Pikiran sudah berkecamuk. Semua dirundung kesedihan. Ana baik pada semua orang, jadi kalau tidak ada dia, kami benar-benar merasa kehilangan dan hampa.
"Hei Pak, hei Adit!" sapa Salwa yang tiba-tiba datang.
"Hei juga Salwa," jawabku ramah.
"Iya Salwa," jawab Bapak juga.
__ADS_1
"Mana Aliya?" tanyanya.
"Dibawa mama ke dalam kamar, mau ditidurkan. Kenapa?" jawabku sambil bertanya.
"Ooh, gak pa-pa. Cuma nanya saja."
"Kalian ngobrolah dulu, aku mau pergi ke dapur. Ayo Edo kita makan dulu!" pamit Bapak mertua.
"Iya, Pak! Silahkan," jawab Salwa.
Setelah bapak Dan Edo pergi, wajahku sudah melamun akibat pikiran sudah tak bisa berpikir jernih lagi.
"Wajah kamu kok samakin kacau begitu, Adit?" tanya Salwa yang aneh.
"Kacau gimana?" tanyaku penasaran.
"Ya kacaulah, semakin kelihatan kurus dan tak terurus begitu! Apa kamu tidak dikasih makan dengan baik?" respon Salwa.
"Memang patut aku kacau, sebab pikiran dan hati sedang binggung memikirkan keberadaan Ana. Jangan bilang begitu. Tanpa mereka kasihpun aku bisa membelinya sendiri," penjelasanku.
"Apa maksud kamu?" tanyaku pura-pura penasaran, sebab ada keanehan dari ucapannya.
"Ee'eeh, enggak kok." Jawabnya kikuk.
"Maksud kamu apa, barusan? Kok bicara kamu aneh begitu?" tanyaku masih sedikit curiga.
"Gak kok Adit, maksudku adalah kamu ngak usah memikirkan Ana terlalu dalam begitu, 'kan ada orang lain yang harus kamu pirkirkan, contohnya Aliya anak kamu itu," Penjelasannya dengan senyum kecut seperti sedang tak ikhlas.
"Ooh."
Hatiku kini bertanya-tanya, apakah ini semua ada kaitannya dengan Salwa. Dan lebih anehnya lagi, beberapa hari ini Salwa selalu berkunjung menemuiku, dengan membawa oleh-oleh untuk anakku. Tak mengapa dia datang dan berbaik hati pada Aliya, tapi sikapnya itu agak terlihat aneh sekali. Dari awal aku sudah ada sedikit curiga padanya, sebab tak biasa-biasanya Salwa suka sama anak kecil.
Aku sebenarnya tak mau berburuk sangka terlalu dalam padanya, tapi kecurigaanku begitu kuat, dan ada gelagat-gelagat aneh pada Salwa.
__ADS_1
"Kamu jangan banyak pikiran lagi. Jaga kesahatan. Jangan sakit, 'kan aku jadi khawatir nantinya." Salwa masih saja bergelagat aneh.
"Iya. Terima kasih sudah memberi perhatian lebih. Aku sendiri saja tidak memperhatikan tubuh yang makin kurus, tapi kamu negitu rela datang kesini selalu memperhatikan."
"Sama-sama. Santai saja. Kita 'kan teman baik, apalagi pernah punya hubungan khusus. Ya beginilah, tidak rela saja jika kamu jatuh sakit."
"Ooh, masalah itu. Tenang, aku pasti akan baik-baik saja kok."
"Baguslah, jadi aku tidak berpikiran banyak."
"Ya sudah. Aku pulang dulu."
"Iya. Hati-hati."
Bersikap ramah, mengantarkan Salwa sampai didepan pintu utama restoran.
Dedaunan terus bergoyang akibat tertiup angin. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Berdiri tegak didekat jendela rumah yang terbuka. Awan yang cerah selalu memanjakan mata. Kepala mendongak menatap langit. Banyak awan putih berjalan perlahan-lahan. Pikiran kosong. Dari sudut manapun berpikir masih tidak ada jalan.
"Ada apa, Adit?" Mama bertanya setelah kepergian Salwa.
"Gak ada apa-apa, Ma! Cuma itu, tadi Salwa bertandangkesini. Tapi perasaanku ada yang aneh, menganjal terhadapnya, dan terlebih sedikit curiga padanya," Penjelasanku.
"Kok sama sepikiran kamu dengan Mama ya! Aku begitu curiga juga sama dia. Yang buat mama aneh, bukankah selama ini dia sangat membenci Ana, tapi akhir-akhir ini setelah Ana menghilang dia jadi ramah dan baik. Apalagi sama anak kamu, dia rela-relain membawa oleh-oleh membelikan baju, mainan, dan yang lainnya 'lah," Mama ternyata juga curiga.
"Iya ... ya, Ma! Adit telah lama mengenal Salwa, dia itu kalau benci sama orang, tidak bisa baik lagi pada orang yang dibencinya. Tapi ini kok baik sekali dan ingin berteman, aneh? Atau jangan-jangan-!" ujarku dengan mimik wajah berpikir keras atas keanehan sikap Salwa.
"Kita patut mencurigai dan berhati-hati padanya. Mungkin saja dia akan bisa berbuat kejam, akibat sebuah kekesalan dendam yang terpendam," pesan Mama.
"Iya, Ma. Kita harus berhati-hati padanya. Dan aku akan mencoba menyelidikinya, sebab siapa tahu Ana memang bersamanya."
"Baiklah, Adit. Tidak salah apa yang akan kamu lakukan. Pesan mama kamu harus berhati-hati saja saat pencarian Ana, sebab kita tidak tahu lawan kita siapa? Dan kemungkinan bahaya akan mengancam kita sewaktu-waktu," imbuh beliau.
__ADS_1
"Baik, Ma."
Apa yang dikatakan mama ada benarnya, dan diriku mulai sekarang akan menyelidiki Salwa, dengan cara mengintai rumahnya. Sebab siapa tahu ada petunjuk, dikarekan sudah semua tempat dicari, dan hanya rumah Salwa saja yang belum tersisir.