
Selain kehampaan yang mulai terasa, kini aku takut sekali akan datangnya rasa kehilangan, seperti yang terjadi dihari-hari kemarin.
Mentari pagi membawa kesunyian tersendiri, dalam menemani hari-hariku yang sudah mulai sepi.
Burung-burungpun masih merdu berkicau diatas dedaunan yang layu akibat sedang berguguran, dan kini mulai tergantikan dengan daun segar. Seperti kisah hatiku sekarang ini, disaat ucapan-ucapan mas Adit sedang menghinaku, perasaan hati terancam mulai layu sakit hati lagi, tapi semua terasa hilang segar begitu saja setelah tidur nyenyak membawanya.
Mata kini terus saja menyapu pemandangan dari kaca apartemen, yang sedang mengarah ke pinggir jalan yang masih tampak sepi. Pikiran terasa mulai kalut lagi, apa yang harus kulakukan agar suami kembali dan percaya pada semua kata-kataku, tapi rasanya semua akan terasa sulit sebab Salwa kini sedang berada didekatnya.
Ting ... tong, bel apartemen dengan keras telah dibunyikan.
Ceklek, pintu kubuka secepatnya.
"Mas Adit?" Keterkejutanku.
"Kamu?" ucapnya merasa lebih terkejut lagi.
"Mas, sudah sembuh, ya?"
"Tidak usah banyak tanya. Ngapain kamu disini?" tanya mas Adit sambil melangkah ke dalam rumah.
"Ini rumahku juga, Mas!" jawabku.
"Ini adalah rumahku bukan rumahmu," ketus ucapan mas Adit.
"Aku pantas berada disini, sebab aku memang istrimu," jawabku lirih.
"Kamu jangan mulai mengada-ada lagi," ujarnya masih tak percaya.
"Lihatlah disekeliling tembok rumahmu, semua dinding sudah terpasang oleh foto-foto pernikahan kita, dan semuanya kamu sendiri yang memasangnya," tunjukku antusias gembira mengarah ke beberapa foto.
"Apa yang kamu bilang?" sahut Salwa yang tiba-tiba muncul dibalik pintu.
__ADS_1
"Ini pasti cuma akal-akalan dia saja, Adit. Pasti semuanya ini adalah foto rekayasa dan editan," Salwa berjalan ke arah foto, yang mulai mencuci otak mas Adit lagi, mungkin agar percaya padanya.
"Benarkah itu?"
Buuk ... prang. Klutakk ... prang, Salwa mengambil foto satu persatu dan tanpa diduga semua dibuangnya ke lantai.
"HENTIKAN, Salwa! Apa yang telah kamu lakukan," lantang suaraku mencoba menghentikannya.
"Diam kamu."
Buuk ... prang, Salwa masih sibuk saja untuk terus memecahkan foto pernikahan kami. Entah sudah berapa bingkai yang dibuang. Semua nampak berserakan. Kaca terpecah kecil-kecil terpelanting ke sembarangan arah.
"Jangan lakukan itu. Hentikan, aku mohon."
"Diam kamu! Ngak usah menghalangi apa yang dilakukan Salwa," pekik mas Adit membentak dengan amarahnya.
"Bener kata Salwa, ini semua pasti rekayasa kamu, sebab ingin menguasai hartaku," pembelaan mas Adit berucap.
"Tidak ... tidak, dia yang sudah berbohong. Hentikan dia, Mas. Aku mohon, hentikan dia."
Tangan sudah bergelayut ditangan suami. Posisi sudah bersimpuh agar dia mau mendengarkan ucapanku.
"Jangan hancurkan semuanya, ini adalah foto-foto kenangan kita, aku mohon ... aku mohon," Air mata menentes deras. Permohonan yang sudah bersimpuh di kakinya, tapi sedikitpun dia tak mengubrisku.
Mas Adit malah memberi semangat agar Salwa tidak menghentikan aksinya. Pilu yang mengiris tepat sasaran mengenai hati, saat dia begitu membela orang lain daripad istri sendiri.
"Mas, hentikan. Aku mohon!" pinta sekali lagi.
"Diam kamu! Ayo ikut aku sekarang," pekik mas Adit marah, dengan mencengkram tanganku supaya segera mengikuti langkahnya.
Rasanya cekraman begitu kuat, hingga mau tak mau mengikuti ucapannya sebab harus pasrah atas rasa sakit yang mulai terasam
__ADS_1
Bhuuuugh, tubuhku dibanting Mas Adit ke sembarang arah, sehingga tak terhindarkan akupun sudah tersungkur terduduk.
"Apa yang kamu lakukan padaku, Mas?" tangisanku kian pecah saat suami sudah berlaku kasar.
"Diam kamu. Jangan banyak bicara dan mengeluh," ujarnya masih dalam kemarahan.
"Ini semua adalah peringatan untukmu."
Uraian airmata makin manganak sungai sampai jatuh diubin keramik. Mimik mukanya tidak ada belas kasihan sama sekali. Yang ada padanya hanya bias-bias tidak senang dan emosi. Siapapun yang memandang akan ketakutan.
"Apa maksudnya, Mas?"
"Sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi, dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Pergi kamu dari sini sekarang juga!" teriaknya sudah mengusirku.
"Apa, Mas? Jangan ... jangan lakukan ini! Aku adalah istri kamu, aku mohon maafkan kesalahanku. Tolong jangan suruh aku pergi dari sini," pemohonan agar dia berubah pikiran.
"Jangan banyak drama. Airmatamu tidak akan merubah apapun itu."
"Kamu ngak pa-pa tidak mengakui aku sebagai istrimu, tapi tolong izinkan aku tinggal bersamamu, aku mohon." Pintaku bersimpuh dikakinya untuk yang kedua kali, supaya dia terbuka hati mau berbelas kasih.
Tangan tidak lupa bertangkup. Benar-benar kehilangan harga diri, tapi demi mempertahankan rumah tangga aku rela melakukannya.
"Aaah, kamu itu benar-benar wanita j*l*ng, yang tak tahu diri," hinanya yang semakin kasar.
"Cepetan kamu pergi dari sini, jangan pernah menemuiku lagi. Sungguh aku tak sudi lagi melihat wajahmu itu, cam 'kan itu! " suara mas Adit kembali marah-marah.
"Jangan ... jangan, Mas."
"Cepat. Enyahlah segera dari sini. Tidak sudi melihat mukamu yang banyak drama."
Braaak, suara pintu sudah dibanting kasar oleh mas Adit.
Tangisanku pecah dengan tersedu-sedunya, diiringi dengan aksi memukul-mukul dada, akibat sesak yang tak kuat lagi atas hinaan dan pengusiran ini. Sikap masih membungkuk dilantai layaknya orang yang sedang sujud.
__ADS_1