Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istri Yang Hilang= Akhirnya Akrab Kembali


__ADS_3

Hembusan angin sepoi-sepoi dipantai membuat kami berdua begitu nyaman. Pelukan hangat terus dia berikan, dan aku tak luput membalasnya dengan mesra. Pipi sama-sama menempel, dengan tubub bergoyang-goyang pelan ikuti irama ombak.



"Krucuk ... krucuk," Suara perut telah berbunyi.


"Aaaaiiit, perut siapa nih?"


Kekagetanku langsung berbalik menatap wajah mas Adit.


"Hehehee,"


Cegegesan mas Adit mengaruk-garuk kepala.


"Kamu lapar, Mas? Kok bunyi melulu," tanyaku.


"Ya iyalah aku lapar, ini semua gara-gara kamu nih!" jawabnya dengan memonyongkan mulut untuk berbicara.


"Kok Ana yang disalahin!" celetukku.


"Memang ini murni salah kamu. Sebab tadi pagi, nasi belum masuk perutku kamu main pergi saja," jelasnya sambil menekan hidungku yang mancung.


"Hihihi, ya maaf, Mas! Habisnya kamu ngeselin sih! Selalu sibuk sama si janda yang bernama kak Nola itu," ucapku keceplosan.


"Oo ... ooo .... ooo," jawab mas Adit menganguk-anggukan kepala.


"Ooo, apaan sih?" tanyaku binggung.


"Jadi ceritanya kamu kemarin-kemarin cemburu,ya!" jawabnya meledek.


"Enggak."


"Cie ... cie, yang sedang cemburu," ujarnya yang semakin meledek, dengan wajah tersenyum-senyum.


__ADS_1


"Enggak, Mas! Siapa juga yang cemburu sama manusia aneh, dan mesum kayak Mas Adit begitu," jawabku menghina untuk mengalihkan tebakkannya.


"Walau aneh dan mesum, tapi kamu suka 'kan? Malah ikut menikmatinya," cakap Mas Adit yang kian tak kumengerti.


"Apaan sih? Sungguh aku benar-benar gagal faham, apa yang mas Adit katakan sekarang," balasku dengan memalingkan wajah sebab tak tahan tersenyum.


Menyembunyikan wajah biar tidak ketahuan kalau sebenarnya aku mengerti.


"Wah ... benar-benar tak peka banget, sudah dipancing juga! Apa mau Mas kasih contoh," tuturnya yang sudah mendekatkan wajah ke wajahku.


"Sudah ... sudah, apaan sih! Ayo kita pergi makan saja, katanya tadi lapar." Kualihkan percakapan, sebab takut mas Adit melakukan sesuatu hal yang lebih, dan itu akan sangat memalukan ditempat umum begini.


"Hei tunggu, sayang! Jangan tinggalin Mas sendirian, kenapa!" ucapnya yang sudah menghampiriku, dan langsung mengandeng tangan.


Mobil sudah melaju mencari tempat makan, tapi anehnya dari tadi tidak behenti-henti juga ini mobil.


"Sebenarnya kita itu mau makan, apa mau berkeliling dijalanan sih, Mas! Dari tadi ngak sampai-sampai juga kita ditempat makan. Dipinggir jalan banyak tuh, kenapa harus muter-muter?" keluhku.


"Sebentar lagi kita akan sampai, sayang! Jadi sabar dulu, oke!" jawabnya.


"Beneran kita akan makan disini, Maas!" tanyaku yang kelihatan takjub atas dekorasi rumah makan, yang kelihatan cukup mahal.


"Iya, ayo kita masuk!" jawabnya.


Mas Adit sudah menarik tanganku untuk segera mengikuti langkahnya, dan diri ini hanya bisa diam saja saat tangan terus saja digelandangnya.


Mata terus saja tertegun melihat ke arah dalamnya. Begitu megahnya rumah makan yang kami datangi, bunga mawar merah telah berhias rapi disetiap sudut-sudut ruangan, dan balon berwarna-warnipun tak luput ikut menghiasi keindahan restoran. Mata hanya bisa terus tertegun, dan takjub manatap semuanya.


Mas Adit sudah membuka kursi, untuk segera kududukki.


"Kok sepi amat sih, Mas?" tanyaku heran dengan wajah melihat kanan kiri.



Bekeliling melihat ada orang apa tidak, dan semakin aneh tidak ada satupun kecuali pelayan saja.

__ADS_1


"Ya memang sepilah, sebab aku membookingnya," Keterangan mas Adit.


"Apa?" Keterkejutanku.


"Kamu gak salah, Mas. Telah membooking restoran mewah ini!" tanyaku terheran-heran.


"Enggak."


"Ya ... ya, kamu memang orang berduit yang tak mempermasalahkan uang," pujiku sambil meledeknya.


"He ... he, kamu tahu aja."


Plok ... plok, tepuk tangan mas Adit berbunyi, seperti sedang menyuruh seseorang. Dan tanpa diduga alunan musik memakai piano dan biola telah berbunyi, dan seketika beberapa pelayan sudah muncul, dengan membawa beberapa makanan. Satu persatu pelayan restoran telah meletakkan makanan di meja makan, dan kini meja sudah penuh oleh aneka bentuk makanan yang tak tahu terbuat dari apa, dan yang terlihat semuanya begitu ditata secara bersih, rapi, cantik, dan mengugah selera.


Mas Adit hanya menatapku tersenyum-senyum, mungkin wajah sudah kelihatan lucu sekali, saat diri ini terkagum-kagum atas makanan, sebab baru kali ini aku merasakan restoran mewah, yang tiada tara kemewahannya. Perut sudah terasa kenyang sekali, saat puas menyantap makanan yang terhidang.


Plok ... plok, untuk yang kesekian kali Mas Adit menepuk tangannya, dan kali ini pelayan muncul, hanya membawa kue coklat kesukaanku.


"Makanlah? Bukankah itu kesukaanmu!" suruh Mas Adit.


"Ya ampun, Mas! Perutku bukannya karet. Makanan tadi saja sudah membuatku kekenyangan, dan sekarang mau menyuruh makan lagi," jawabku tak senang.


"Ya sudah kalau kamu gnak mau makannya."


Mas Adit seketika berdiri, dan kini telah menghampiriku yang sedang duduk, dan dia berputar melangkah berdiri dibelakangku.


"Dan ini hadiah terakhir untukmu, wanita yang kucintai!" bisiknya dalam telinga.


Akupun terkejut saat kalung sudah bertengger, yang dipakaikan dileherku oleh tangan Mas Adit. Airmata terasa ingin sekali meleleh, saat liontin kalung bertuliskan huruf AA yang terlingkari oleh Love.


"Terima kasih, Mas!" langsung kupeluk tubuhnya dengan erat, dengan lelahan airmata tersedu-tersedu.


"Sama-sama, sayank."


*******

__ADS_1


Kakak yang baik hati, bantu tulisan author masuk rak buku, gift, like, komentar, biar semakin semangat nulisnya. Terima kasih bagi pembaca setia, yang sudah memberi dukungan dan menanti karya recehku ini. Semoga kalian selalu sehat dan diberkahi keberuntungan, amiiiiin.


__ADS_2