
Sudah bebapa hari aku tidak bertemu dengan Ana, kerjaan sekarang hanyalah mengurung diri di dalam apartemen. Semua pekerjaan untuk sementara kuserahkan pada Rudi sekertaris perusahaan.
Entah bagaimana lagi bentuk apartemen ini sekarang. Pasti orang yang melihatnya akan jijik sekali, sebab sudah bagai kapal pecah, dimana-mana berserakan botol, kaleng, dan bungkus makanan yang sudah berantakan di seluruh ruang tamu.
Ting ... tong ... ting ... tong.
"Adit, buka? Hei Nak, buka!" panggil suara mama.
Tidak kuhiraukan permintaan beliau.
Tit ... tit ... tit, bunyi kode rumah ditekan.
"Astagfirullah, Adit!" Keterkejutan Mama saat melihatku.
"Kenapa kamu jadi begini!" ucap Mama mendekatiku yang tergolek di lantai.
Bau minuman Akh*lpun mungkin sudah menyeruak tercium oleh beliau, yang entah sudah berapa botol kuminum beberapa hari ini.
"Adit, hei Adit! Bangun kamu ... bangun sekarang! Adit, cepetan bangun sekarang, mama bilang bangun, Adit!" suruh beliau berusaha mengajakku bangkit, ketika diri ini masih tergolek lemas di lantai.
Diriku tak menghiraukan lagi suara beliau. Rasanya hidup tak bersemangat lagi, bagaikan dunia rasanya sudah runtuh, dan cuma Analah sekarang yang dapat membangkitkan semangat hidupku. Tapi sekarang Ana begitu membenci sekali diriku, dan mengucapkan bahwa dia tidak bisa lagi melanjutkan rumah tangga kami, dan rasa-rasanya dia akan pergi meninggalkanku untuk selamanya lagi.
"Adit bangun ... Adit bangun, sampai kapan kamu akan seperti ini? Bukankah kamu mencintai, Ana? Kalau kamu tidak ingin Ana segera pergi dari hidupmu, maka kerjalah dia dan dapatkan dia kembali. Bukannya malah terpuruk begini" Beliau mencoba memberi dukungan dan semangat.
"Tapi, Ma! Ana sekarang sudah membenci Adit, dan Ana tidak mau menerima permintaan maaf Adit. Aku sudah berkali-kali menyakitinya, kesalahan Adit benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi," Penyesalanku sedang curhat kepada mama diiringi tetesan airmata.
"Kamu jangan menyerah Adit. Memang memaafkan kesalahan itu mudah, tapi melupakan kesalahan itu sulit sekali, apalagi sakit hati itu sudah terlalu dalam pada diri Ana," ujar mama.
Tidak peduli apa kata dunia jika melihat diriku yang cool telah menitikkan airmata, yang jelas bisa menumpahkan segala sesak didada bisa plong dengan cara cengeng sekalipun.
"Bukankah semua kesalahan itu bisa diperbaiki! Kamu dulu tidak pernah mencintai Ana, dan sekarang cobalah mulai belajar mencintainya, yaitu dari hati kamu yang terdalam. Rebut hatinya dan obatilah sakit hatinya. Mama yakin Ana akan bisa memaafkan kamu, sebab hati Ana sangatlah lembut dan baik. Dan jangan lupa genggam erat tangannya lagi, buatlah dia bahagia, jangan tinggalkan dia, dan tetaplah terus berada disisinya, walau suatu saat badai menghadang rumah tangga kalian lagi, tetaplah bersama-sama mencari solusi atas rintangan yang berada di depan mata," panjang lebar nasehat mama, sehingga membuatku semakin menangis tersedu-sedu.
"Kamu benar, Ma! Aku harus mengobati luka Ana, yang sudah tertoreh akibat kebodohanku. Adit janji pasti akan mendapatkan cintanya lagi, sampai titik darah penghabisanpun aku takkan menyerah untuk membuatnya kembali," Rasa semangat kembali pulih, akibat mendengar nasehat mama.
"Bagus, Nak. Inilah anak mama yang tidak mau menyerah."
"Iya, Ma. Terima kasih."
"Hmm, bersiap-siaplah untuk merebut hati yang hilang."
"Baiklah, Ma!" Degan tegas berkata sambil menghapus lelehan yang masih tersisa basah dipipi.
"Bagus. Ini Baru Adit yang semangat."
__ADS_1
Sekarang berkali-kali badan kugeser ke kanan dan kiri, untuk mengaca dikaca rias, apakah diri ini sudah cocok dan tampan, memakai pakaian kaos putih dilpidi jaket. Di pagi yang cerah ini, semua orang sedang sibuk untuk berangkat kerja, tapi lain sekali denganku yang kini disibukkan untuk segera pergi meluncur ke rumah Ana.
>>>>>
Kegugupan dan kekhawatiran kini datang mendera, dan sungguh sangat menyulitkanku untuk segera turun dari mobil, dan berkali-kali tulunjuk jari terus saja kuketuk disetir mobil. Add
Diri ini sekarang benar-benar dilanda kegelisahan, sebab takut-takut kalau Ana tidak mau menemui apalagi memaafkan, dan rasanya tubuh mulai bergetar ada kecemasan akut. Cukup lama sekali aku dalam mobil, yang tak ingin segera beranjak turun menuju rumah kos kecil, dimana bunga sedang bermekaran indah penuh warna di halaman rumahnya, mungkin saja Ana sendirilah yang menanamnya.
"Bismillah, semoga berhasil!" Kemantapan ingin segera menemuinya..
Apapun hasilnya nanti yang penting mencoba dulu. Kalaupun gagal, untuk berusaha kembali mendapatkannya.
"Jangan menyerah kamu, Adit. Ayo semangat mendapatkan, Ana!" guman hati menyemangati diri sendiri.
Tok ... tok, pintu rumahnya kuketuk. Sudah sekuat tenaga mengumpulkan keberanian, setelah satu jam lebih dari tadi tidak turun dari mobil.
Ceklek, pintu telah dibuka.
"Mas Adit?" Keterkejutan Ana.
Wajahnya terlihat terkejut saat aku telah berani datang. Seminggu lebih kami tidak bertemu dan saling menyapa, setelah kejadian tak terduga kecelakaan ciuman. Rasa kebingungan terpancar diwajahnya, mungkin tidak ingin melihatku, tapi dikarenakan sedang bertamu kemungkinan saja dia tak enak hati untuk menolak datang kerumahnya.
"Ada apa?" ketusnya.
"Bolehkah aku masuk sebentar, untuk mampir ke dalam rumahmu!" pintaku meminta izin.
Takut sekali jika ditolak mentah-mentah.
"Ooh, silahkan ... silahkan masuk," Keramahan Ana menerimaku bertamu.
"Terima kasih sudah diizinkan."
"Iya. Silahkan duduk."
"Alhamdulillah, terima kasih, Ana. Disaat kamu sedang marah tap masih ramah mau merimaku," Kelegaan hati.
Disaat ingin duduk, mata kini sudah melihat ke sekeliling ruangan rumah kosnnya, yang batapa tragisnya kehidupan Ana dan bapak mertua sekarang. Di kos yang kecil dan sempit ini, tidak ada perabotan yang mewah dalam ruangannya, hanya ada tempat duduk anyaman bambu yang kini sedang kududukki.
"Astagfirullah, aku sungguh berdosa sekali membuat Ana sakit hati ditambah membiarkan dia hidup tidak layak begini. Aku memang tidak pantas disebut suami untukknya," Kasedihan hati melihat istri hidup ngenes.
"Ana, kedatanganku ke sini ada maksud dan tujuan tertentu, yang ingin kusampaikan padamu. Pertama-tama adalah meminta maaf kepadamu, dan maafkanlah kesalahanku yang kemarin-kemarin yang terus saja menyakitimu," ucapanku dengan kepala tertunduk tak berani menatapnya.
__ADS_1
"Aku sudah melupakan kejadian yang kemarin, dan masalah permintaan maaf insyaallah aku sudah memaafkan mas Adit. Tapi-!" Suara Ana tertahan.
"Tapi apa Ana?" tanyaku penasaran.
"Tapi untuk masalah rumah tangga kita, aku belum bisa sepenuhnya bisa kembali bersama kamu, sebab sakit hati yang Mas Adit lakukan rasanya masih begitu membekas, dan aku belum bisa menghapus sepenuhnya untuk segera hilang dari dalam hatiku," jawab Ana secara halus.
Dia berusaha menolak baik-baik apa yang menjadi keinginanku sekarang.
"Aku mengerti, Ana! Aku tidak ingin lebih meminta apapun dari kamu, aku memang orang yang tidak pantas mendapatkan cinta, dan perminta maaf 'an yang besar darimu. Bagiku kamu bisa memaafkan kesalahan kemarin saja, bisa membuatku cukup merasa lega dan senang," cakap berusaha memahaminya.
"Dan sekarang ada satu lagi permintaanku padamu, yaitu kembalilah bekerja diperusahaan lagi, dan pasti kamu sangat membutuhkan pekerjaan itu 'kan!" pintaku.
"Baiklah jika itu permintaan Mas Adit. Lagian aku sekarang memang sedang menganggur dan butuh pekerjaan. Insyaallah, besok akan kembali bekerja, tapi akupun ada syarat khusus untuk Mas Adit juga, jika memang benar-benar ingin diriku kembali bekerja!" ucapnya.
"Syarat?" jawabku binggung.
"Iya syarat."
"Apa itu? Katakanlah."
"Syaratnya adalah bahwa Mas Adit dalam perusahaan tidak boleh mengenalku. Kita sama-sama harus menganggap sebagai orang asing."
"Apa?" keterkejutanku.
"Iya. Anggap saja kita tidak pernah kenal sama sekali.
"Tapi, Ana!" imbuhku yang ada keraguan atas idenya.
"Iya itu syaratnya, mau gak? Kalau gak mau, ya terpaksa aku tidak mau kembali bekerja" ucapnya berusaha tawar menawar.
"Tapi-, gimana ya Ana! Masak menganggap orang asing, sih! Gak boleh menyapa lagi. Apa itu tidak terlalu berlebihan," keluhku yang bertujuan menolak keinginanya.
"Gak ada yang berlebihan, kok!."
"Tapi aneh 'lah rasanya."
"Itu sih kalau Mas Adit mau. Kalau ngak mau juga gak pa-pa," Kata-kata masih berusaha memberi penawaran.
"Emm, baiklah kalau itu kemauanmu."
"Janji."
"Yah, baiklah! Aku janji, pasti aku akan menepati janji, yaitu tidak akan pernah menganggumu lagi, dan akan kuanggap bahwa kita benar-benar tak saling mengenal, tapi kamu beneran 'kan akan kembali bekerja?" jawabku bertanya.
.
"Tentu saja, Mas! aku takkan pernah mengingkari janji yang selalu kuucapkan," jawabnya.
"Yees ... yes. Akhirnya ada kesempatan untukku mendekati kamu, Ana." Hati bersorak gembira.
Berarti ini semua adalah langkah awal untuk mendapatkan Ana lagi, ketika sudah mulai terkikis hilang rasa cinta dia padaku. Di sisi lain ada perasaan sedih terhadap diri ini, sebab harus berpura-pura tak mengenalnya.
__ADS_1
Mulai sekarang selamanya diri ini sudah berjanji tidak akan pernah menyakiti apalagi menceraikannya, walau sebenarnya dia sering kali bersikukuh minta diceraikan. Tapi bagiku itu mustahil sekali dapat terlakukan, karena benih-benih cinta untuknya mulai bersemi mengebu-gebu tumbuh dalam hati ini, yaitu untuk memulai kembali menumbuhkan rasa cintanya hanya untukku seorang.