
Rasanya hati sudah gondok kesal sekali sama mas Adit, entah apa lagi yang ada dalam otaknya sekarang. Yang jelas diriku agak kurang terima, dikarenakan mama memberikan hadiah bulan madu.
"Memang benar-benar keterlaluan, itulah kalau anak mami, sukanya nurut saja sama perintah ibunya," ujarku dalam hati merasa sebal.
"Ambilkan berkas-berkas dimeja kerja, aku mau berangkat sekarang," suruh mas Adit saat diriku tengah sibuk merapikan pakaian Aliya.
"Hemm," jawabku dengan singkat ditambah muka cemberut.
Langkah yang gontai sudah memenuhi apa yang diperintahkan oleh suami, dan tak butuh waktu lama, berkas-berkas berbungkus map hijau kini sudah kupegang, untuk segera diserahkan pada seseorang yang membuatku cukup-cukup kesal hari ini.
"Ini," Kusodorkan map itu.
Matanya hanya bisa memicingkan alis tertarik ke atas, saat tingkahku yang mungkin sudah terasa mulai aneh kepadanya.
"Eeiiitt ... tunggu! Mau kemana," Tariknya secara kuat, dan seketika akupun terduduk di pinggiran kasur disampingnya.
"Ada apa lagi, Mas! Mau nyuruh apa lagi? Masih ada yang perlu dibantu? Ataukah aku salah ambil?" cecarku berkata dengan lembutnya.
"Kamu kenapa sih? Lagi kedatangan tamu 'kah? Kelihatan sangat tak senang dan bad mood gitu?" tanyanya penasaran.
"Aku gak kenapa-napa, lagi malas aja," jawabku menjelaskan.
"Heei, Anaku sayang. Lagi malas kenapa? Mas ada yang salah dimata kamu 'kah?" tanyanya yang kini mengambil daguku, untuk bertatap muka dengan wajahnya.
Mimik muka yang menyebalkan. Seakan-akan wajahnya paling imut sedunia. Bulu mata berkedip-kedip dengan manja. Aneh punya suami yang minta perhatian terus.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, Mas! Cuma-, itu tadi lho! Yang masalah tentang hadiah mama," ucapku dengan lesu.
"Hah, memang kenapandengan hadiah mama?"
Sungguh pria tidak peka. Kalau dipikir mau enaknya saja dia, tanpa memikirkan perasaan orang lain lagi.
"Ana gak suka aja. Masak kita beneran mau berbulan madu, sedangkan anak sudah ada. Lagian itu menghambur-hamburkan uang saja. Bukankah disini juga banyak spot yang indah, kenapa juga harus jauh-jauh ke Singapura," cerocosku berkata.
"Ceritanya ini kamu ngak setuju, nih!" respon mas Adit bertanya.
"Tau ah," ucapku yang sudah ingin berdiri beranjak pergi.
"Tunggu dulu, kenapa!" cegah mas Adit menarik tanganku, sehingga membuatku terduduk lagi.
"Iiishhh, kenapa lagi sih, Mas?"
"Hmm, aku dengarkan. Bicaralah."
"Mama itu bermaksud baik sama kamu, sebab dia sayang pada menantunya ini!" penjelasan mas Adit, dengan mentoel hidung mancungku.
"Baik dari mana, coba?"
"Kenapa Mama memilih tempat yang jauh! Sebab kemungkinan besar maksud mama biar ngak ada yang gangguin. Biar kita bisa berduaan romantis-romantisan. 'Kan enak ngak ada yang ganggu. Apa lagi kalau sudah dalam selimut, 'kan ajib-ajib nyaman gitu. Lagian Mas suka sekali berduaan sama kamu saja, biar bisa lama puas-puasin kamu, bener ngak?" ucap mas Adit yang mulai ngacau, dengan alis dinaik-naikkan tanda ada penggodaan.
"Ciiih, itu melulu yang dalam otak kamu, Mas! Dasar otak mesum, pengennya yang mulus-mulus saja tanpa ada halangan.
Sudah dibikin kesal sekarang tertambah ngawur mau enaknya saja.
__ADS_1
"Hahahaha, memang itu yang kumau. Memang kamu ngak mau apa? 'Kan entar kamu juga yang dapat menikmatinya," Bamblangnya mas Adit berkat tanpa ada rasa malu lagi.
"Haaaiiist, memang susah betul ngomong sama orang yang pikirannya selalu menjurus ke arah mesum, gak akan hilang dan bisa jauh dari pikiran-pikiran kotor itu," celetukku kesal.
Senyum smirknya menjengkelkan.
"Jangan-jangan ini semua adalah rencana mas Adit, bukan mama," tebakkanku.
"Hihihihi, kamu bisa-bisa wae Ana. Ngak kok sayang, ini real hadiah dari mama. Mas ngak membela kamu di ruang makan tadi, sebab benar kata papa bahwa kamu butuh menenangkan diri dan pikiran, akibat kejadian-kejadian yang mengerikan kamarin-kemarin, cuuup." Penerangan mas Adit yang kemudian mencium keningku.
Menarik nafas kasar. Tetap saja kalah ucapan.
"Sudah kamu jangan cemberut dan marah lagi, semuanya sudah jelas to! Sekarang mas akan berangkat kerja, kamu baik-baik dirumah dan jagain Aliya dengan baik," pesan mas Adit menyodorkan tangannya.
"Iya mas," jawabku sambil mencium tangan punggungnya.
"Kamu gak usah pusingin masalah hadiah mama, oke!"
Pelukan mas Adit diberikan padaku, dan sejurus kemudian dilepasnya, kemudian menatap lekat ke arah wajahku.
"Mas minta ini dulu tapi, cuuuup." Secara kilat mas Adit mencuri bibirku untuk diciumnya.
"Iiih, dasaar mesum! Ngak ada akhlak bener tidak minta izin," Kekesalanku saat ingin mengejarnya dengan berlari.
"Hahahaha. Istri sendiri kok minta izin. Itu hukuman kamu sebab pagi-pagi sudah mencuekkanku, bye ... bye." Ucapnya sebelum benar-benar keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelah kekonyolan kami bercanda, sekarang aku mengantar mas Adit didepan rumah, untuk segera pergi ke perusahaannya. Tak lupa Aliya kugendong, untuk ikut berpamitan kepada ayahnya.