Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Mencoba Memata-matai


__ADS_3

Rasa pusing akibat tak kunjungnya menemukan Ana, membuat pikiran kalut tak bisa berpikir jernih lagi. Kepala rasanya sudah berdetak nyut-nyutan dalam kamar Ana, saat diriku sedang menemani Aliya tidur dengan lelapnya. Rasanya hidup sudah tak bergairah lagi, tanpa ada kabar pujaan hati.


Tok .. .tok, suara pintu kamar diketuk seseorang.


"Masuk saja tidak dikunci," teriakku.


Ceklek, pintu telah dibuka, dan ternyata adalah bapak mertua.


"Ada apa, Pak?" tanyaku.


"Ada Edo yang ingin bertemu denganmu!" Memberitahu.



"Baik, Pak. Aku akan segera kesana. Sebentar."


Setelah merapikan selimut yang dipakai Aliya, tak berselang lama langsung saja diriku menemui Edo.


"Gimana, Adit?" tanya Edo sambil meminum teh buatan bapak.


"Entahlah Edo, sekarang aku tidak bisa berkata apa-apa lagi mengenai Ana?" posisi duduk tepat didepannya.


"Apakah ada yang kamu curigai? Teman atau saudara Ana mungkin? Eem, rasa-rasanya kejadian ini ada sesuatu amarah dan dendam pada keluarga kalian. Aneh rasanya kalau Ana benar-benar hilang begitu saja. Apalagi ini sudah lama hampir semingguan," ungkap Edo menebak.



"Dendam? Amarah? Kok, ucapan kamu ada benarnya, ya!" sahutku merasa kaget.


"Iya. Sepertinya ada bau-bau dendam terhadap keluarga kalian. Gak mungkin Ana akan diculik tanpa ada jejak sama sekali, dan sepertinya ini adalah orang-orang terdekat kalian, sebab tahu seluk beluk keluarga kalian, sehingga dia dengan mudahnya melancarkan aksinya," urai Edo merasa curiga.


"Bener juga katamu Edo," responku membenarkan.


"Ooh ya, ada satu orang yang menjadi kecurigaanku sekarang yaitu pada Salwa, sebab gelagatnya akhir-akhir ini sangat aneh sekali. Rasa-rasanya dia terlihat gencar mendekatiku terus, tanpa ada rasa iba dan khawatir sedikitpun pada Ana," jelasku menjawab.


"Kalau begitu kita mata-matai saja dia," Edo memberi usulan.


"Bener juga katamu, Edo. Kenapa aku gak kepikiran sampai situ!" sahutku kesal sebab sudah merasa tidak berpikir dengan cermat.



"Bagaimana ya kita mau memata-matai, dan bisa masuk ke dalam rumahnya?" ucapku dengan mimik muka sedang berpikir keras.


"Rumah Salwa jarang dibuka dan menerima tamu sembarangan, kecuali keluarga terdekatnya saja. Pasti kita akan kesusahan untuk memasukinya," uraiku menjelaskan.


"Bukankah kamu mengenalnya lebih jauh sebelum Ana? Pasti ada satu titik kelemahannya, yang memungkinkan kita bisa mudah masuk ke dalam rumahnya," sahut Edo.


"Emm," jawabku sedang memutar otak.


"Coba kamu beli barang-barang kesukaannya, atau hal-hal yang berbau koleksi yang dia gemari? Lalu kita berpura-pura bertamu saja kerumahnya, pasti dia akan senang dan menerima kamu dengan baik. Bukankah dia sangat mencintaimu juga!" ide cemerlang Edo yang datang.



"Bener juga katamu Edo. Baiklah sekarang juga kita akan berangkat, tapi kita harus membeli barang-barang untuknya dulu sebelum bertandang ke rumahnya," cakapku mengajak.


"Siip, Ayo."

__ADS_1


Walau kamu awalnya bermusuhan, namun Edo masih legowo mau berteman denganku. Sempat kutendang dari perusahaan. Masih salut dia tidak menyimpan dendam, malah kami menjadi teman baik.


"Pak ... Pak, kami ingin keluar dulu. Tolong jagain Aliya sebentar." teriakku ingin pamitan.


"Iya, kalian hati-hati. Tentu saja, Adit. Bapak akan jaga cucu dengan baik," Jawab beliau.


"Terima kasih, Pak."


"Iya, Nak. Memang mau kemana?" tanya Bapak melepas celemek habis memasak.


"Kami ingin mencari tahu keberadaan Ana, pak!" jawab Edo.


"Ooh, baiklah. Kalian hati-hati dan jaga diri dari bahayaayang bisa mengancam sewaktu-waktu," pesan beliau.


"Baik, Pak." jawaban yang bersamaan dengan Edo, yang tak lupa menyalami tangan punggung beliau.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku dan Edo secepatnya meluncur ingin ke rumah Salwa. Tapi ditengah perjalanan mobilku sudah terhenti, untuk membeli oleh-oleh untuk Salwa, yaitu beberapa potong pakaian, kue, serta camilan-camilan yang berbau cokelat persis seperti kesukaan Salwa.


"Adit, nanti kamu masuk sedirian bertamu ke dalam rumah Salwa. Sementara aku akan pergi ke arah lain, sebab siapa tahu nanti ada tempat-tempat yang khusus untuk menyembunyikan Ana," perintah Edo memberi saran.


"Baik, Edo."



"Kalau bisa nanti kamu alihkan perhatiannya terus, biar diriku bisa lebih leluasa mencari dalam sekitar rumahnya," imbuh Edo.


"Siip."


Mata terus saja fokus ke arah jalanan, dengan tangan sebelah mengemudikan, dan yang satunya jari-jari tangan kuketuk dikemudi stang mobil, niat hati ingin menghilangkan ketegangan dan kegusaran yang menerpaku sekarang. Pikiran begitu penasaran sekali, apakah Ana ada tidaknya dirumah Salwa nanti. Hati sungguh yakin dan merasa bahwa dia ada disana.


Ting ... tong ... ting, kini aku berdiri memencet rumah Salwa.


Ceklek, pintu sudah dibuka.


"Wah, Adit. Kamu?" sambutan Salwa terlihat sumringah bahagia.


"Hmm. Kejutan."


"Tumben kamu kesini?" tanyanya penasaran.



"Aku kangen sama kamu 'lah. Memang tidak boleh 'kah? Kalau tidak diterima apa lebih baik aku pulang lagi saja."


"Eehhh, jangan. Aku cuma penasaran saja kok tadi. Masak sudah capek datang kesini, aku malah tidak menerima kamu. 'kan nanti dianggap kejam."


"Lagian sudah lama tak mengunjungi rumahmu, jadi sekali-kali boleh 'kan aku datang berkunjung ke sini?," ujarku merayunyadengan tujuan mengalihkan perhatian Salwa.


"Ooh, tentu ... tentu saja. Yang pastinya boleh dong! Aku juga sangat-sangat merindukanmu, lho!" Kegembiraannya berkata.


"Wah, benarkah itu? Apa benar kamu rindu?"


"Iya, Adit. Sudah lama kamu tidak main ke sini setelah kamu menikah, dan pastinya semua itu gara-gara Ana. Sehingga kamu melupakankanku!" ucap nada Salwa kecewa, tapi setelah itu tersenyum kembali.


Deg, dugaan benar kalau Salwa masih menyimpan perasaan itu. Tahu betul, kalau akan susah menghilangkan rasa cinta itu, tapi bukankah takdir sudah nyata kami tidak bisa bersama. Mungkin disini terdengar kalau Salwa masih belum ikhlas melepaskan dan merelakan saja.

__ADS_1


"Aku gak diizikan masuk 'kah?" ujarku.


"Oh, iya ... ya. Maaf, sampai kelupaan. Kamu sih ngajak ngobrol, sampai kelupaaan menyuruh masuk. Ayo mari masuk!" tawarnya mempersilahkan.


Edo yang sedang berancang-ancang bersembunyi, yaitu disebalik pohon mangga taman rumah Salwa. Kini kuberi aba-aba dengan mengayunkan tangan yang sebelah kanan, untuk memberitahu Edo secepatnya keluar dari persembunyian. Dan terlihat Edo sudah berlari terbirit- birit ke arah samping rumah Salwa. Sedangkan tangan kiriku masih sibuk merengkuh bahu Salwa, untuk mengajaknya tetap fokus masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo Adit duduk!" tawarnya.


"Baiklah," balasku.


Mata terus saja fokus menatap sekeliling rumah, mencoba melihat-lihat apakah ada tanda-tanda keberadaan Ana.


"Bik ... bik, ambilkan minum!" Teriak suara Salwa dengan melengkingnya


"Baik, Non. Sebentar, bibi buatkan," sahutan pembantunya dari dalam dapur.


"Ada apa, Adit?" tanya Salwa yang sudah menatapku agak curiga.


"Eh, ngak ada apa-apa kok, Salwa. Cuma melihat keadaan sekeliling rumah kamu, yang ternyata masih saja sama seperti dulu gak ada yang berubah sama sekali. Cuma ... cuma, itu?" tunjukku ke arah dinding, yang ada sebuah foto tergantung dengan ukuran super jumbo.


"Ooh, yang itu."


"Bukanlah itu fotoku dan kamu waktu kuliah dulu?" tanyaku yang kembali terkenang masa lalu.


"Yaap, Adit. Kamu benar," Suara kemanjaan Salwa.


"Kenapa kamu masih menyimpannya? Bukankah aku sekarang sudah menjadi milik orang lain," tanyaku mencoba memancingnya sebab penasaran.


"Walau kamu milik orang lain, tapi aku 'kan masih mencintaimu," ujar Salwa mendekatiku, dan kemudian mencoba merangkul bahuku tetapi secara lembut aku tepis tangannya.


"Maafkan aku Salwa," responku menolak.


"Oh ... oh, gak pa-pa." Aku paham, kok.,"


Kami sama-sama terdiam sejenak, yang mana pikiran masing-masing sedang melayang-layang.


"Ini Non, minumannya." Pembantu menyuguhkan minuman sirup rasa jeruk, dan beberapa kue yang sudah tertata rapi dalam toples.


"Terima kasih, Bik." Sahutku memberi senyuman.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Non, tuan!" pamit pembantu Salwa.


"Iih, ke belakang ... belakang aja, gak usah pamit-pamit segala," celetuk Salwa marah.


"Astagfirullahaladzim, biginikah sifat asli kamu selama ini, Salwa? Padahal pembantu cuma pamit, tapi kamu malah bentak-bentak. Ternyata sifat egois dan pemarah kamu, gak ada yang berubah dari dulu-dulu," hati terus saja berguman, akibat tak senang sifat Salwa yang menurutku sudah keterlaluan kasar.


"Maafkan aku ya Adit! Ini gara-gara pembantu kampungan itu, jadinya aku agak emosi sedikit," tutur Salwa.


"Eeem, gak pa-pa." Senyuman kecut tapi masih ramah telah kuberikan padanya.


Kecurigaanku sekarang bertambah kuat, ternyata sifat kasarnya selama ini masih melekat pada dirinya. Dia bilang masih mencintaiku, jadi selama ini dia hanya berpura-pura mengikhlaskan aku pada Ana, benar-benar Salwa ini sungguh keterlaluan.


Diri inipun sudah sibuk berkeliling berjalan mencari tahu dirumahnya, dengan mata sudah selidik melihat sana-sini.


Kini langkah sedang sibuk mencari dari sudut ke sudut. Tanpa ada kecurigaan Salwa, diri ini masih sibuk mengintip dari kamar ke kamar, dengan alasan kangen pada rumahnya juga.

__ADS_1


__ADS_2