Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kesedihan akan sakit hati


__ADS_3

Tangan sudah mengepal. Ada sejuta emosi mulai bersemayam dalam hati. Rasanya ingin memukul orang, tapi siapakah yang mau gratis dipukul.


Prang ... preng ... prang, semua barang dalam kamar kubuang semua.


"Apa ini yang kamu inginkan, Karin? Apa kau puas menyakitiku? Apa kekuranganku, sehingga kamu begitu tega melepaskan, hah!" tanyaku pada diri sendiri saat bercermin.



"Apa kau sangat bahagia diatas penderitaanku. Kemana cintamu yang pernah engkau berikan untukku, kemana ... kemana, hah!" erangku penuh emosi jiwa.


Semua barang-barang sudah kulempar tak tentu arah. Ada yang melayang disudut ruangan dan ada yang mendarat diatas pembaringan. Semua terlempar begitu saja.


Brak ... brak ... brak ... klonteng.


"Aah ... akhhhgk," Kemarahanku menjambak rambut.


Tangan berkali-kali kupukulan dicemin, sehingga pecahan kacanya kini berserakan dilantai.


Tok .. tok, kamar telah diketuk.


"Chris ... chris, buka ... buka, Nak. Ada apa denganmu!" panggil Mama khawatir.


Tok ... brok ... brok, pintu digebrak Mama mencoba ingin masuk.


Tak kupedulikan panggilan beliau, sebab yang terpenting hanya memikirkan perasaan terluka.


Perlahan-lahan tangan sudah mengalirkan darah segar. Lagi-lagi tidak peduli atas rasa sakit pada tangan, karena rasa sakit pada hati itu lebih penting.


Akibat tak kuat untuk menopang tubuh sendiri, akupun terduduk dilantai dengan kondisi yang kacau. Tatapan mulai kosong, dengan lelehan airmata terus saja mengalir.


"Kenapa kau jahat padaku, Karin? Apa aku kurang memberikan cinta untukmu?" tanya dalam hati.

__ADS_1


Aku yang terdiam tidak mengamuk lagi, membuat Mama diam juga tidak mengetuk pintu lagi.


Cinta tak pernah sesakit ini


Cinta tak pernah seperih ini.


Yang aku minta, hanyalah tulus hatimu


Bukan untuk mencurangi aku.


Rasa yang ada didalam hati


Telah hancur lebur tak tersisa.


Rasa sakit yang begitu dalam


Terus membuat tangis saat kusendiri


Kisah saat-saat dulu bersamamu


Kau yang telah memilih aku


Kini kau juga yang sudah sakiti aku.


Mungkinkah semua orang akan tahu


Saat hati ini terluka akibat darimu.


Kamu pergi, bahagia dengan kisah baru


Dan semuanya kusimpan dalam ketulusan hati.

__ADS_1


Keputusan yang membuatku semakin terpukul. Dari awal ingin mempertahankan, namun pada kenyaataanya hanya sia-sia.


Inilah yang dikatakan sebagai pria bodoh yang terlalu berharap pada cinta, sehingga aku sendiri yang terbakar oleh api cinta itu sendiri.


Air laut yang tenang kini jadi bayangan. Aku telah berdiri ditengah-tengahnya. Mau melewati akan takut tenggelam, jika tidak melewati seumur hidup akan terjebak hidup sendirian ditengah laut. Begitulah dengan hatiku, ingin keluar dari rasa cinta namun aku terluka, tapi jika tidak keluar dari cinta itu akan terus tersiksa akan rasa sakit itu.


*****


Udara pagi telah menyosong datang, namun aku masih enggan bangun, dari tergolek tidur diubin keramik. Darah ditangan mulai mengering. Rasanya tidak ingin kembali membuka mata, agar semua bisa terlupakan kenangan pahit itu.


"Ternyata aku masih hidup. Tapi aku tidak menginginkannya, saat kenangan itu hadir kembali. Kenapa ... kenapa aku harus bangun lagi? Semua telah hancur, buat apa aku hidup lagi," guman hati yang putus asa.


Klek ... klek, terdengar pintu kamar sudah dibuka dengan kunci.



"Astagfirullah, Chris. Ada apa dengan kamu?Keterkejutan Mama melihat keadaanku.


Kamar sudah seperti kapal pecah. Semua barang telah berserakan dimana-mana. Pecahan kacapun tak luput berantakan, untuk ikut andil membuat kotor kamar. Mungkin Mama membuka pintu, telah menggunakan kunci cadangan.


"Bangun ... bangun, Nak. Apa yang terjadi padamu? Ayo bangunlah!" pinta Mama yang sudah mengelus pelan pipi.


Sentuhan tangan beliau begitu nyaman, hingga tanpa terasa aku sudah mengeluarkan airmata. Rasa malu sudah hilang, saat sebagai pria aku menangis. Yang terpenting hati yang terluka bisa plong, saat tadi malam menahannya.


"Jangan begini, Chris. Mama jadi ikutan sedih, jika kamu menangis. Katakan, siapa yang telah membuat anak kesayangan Mama ini menangis. Ayo bangun ... bangun, Nak!" pinta beliau yang sekarang ikutan menangis juga.


"Maaf ... maaf, Ma. Jika membuat Mama khawatir. Chris rasanya tidak bisa bangkit lagi, hanya sekedar menatap dunia ini. Kenapa hati sakit sekali. Bagaimana aku bisa mengobatinya?" tanyaku sudah tersedu-sedu.


"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Ayo sekarang bangkit dulu. Ceritakan pada Mama, agar semuanya bisa terselesaikan," bujuk beliau.


"Lihat, tanganmu terluka. Darahnya sudah mengering. Kamu ceroboh sekali, apa tidak takut jika nanti akan infeksi. Sebentar, Mama akan ambilkan obat," imbuh beliau, sambil mengusap pelan tetesan embun dari pipi.

__ADS_1


Mama sudah berlari keluar kamar. Aku yang tergolek, mencoba bangkit terduduk. Tatapam masih kosong, mencerna semua kejadian yang sudah terjadi.


__ADS_2