Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kegalauan


__ADS_3

Syok, iya aku begitu terkejut saat semuanya satu-persatu mulai terungkap, namun yang menjadi kesedihanku sekarang adalah hati Karin yang ternyata tak menginginkanku. Diri ini sangat paham dan tahu sekali atas kepemilikan hati sudah tersambar pada orang lain, tapi dilubuk hati yang terdalam rasanya begitu tak menginginkan jika Karin dekat dengan siapapun.


Tuhan, perubahannya semakin terlihat dimataku.


Kutahu diriku sangat bersalah, hingga nampak sekali dia semakin jauh.


Mungkinkah rasa sayangku tak berarti untuknya.


Padahal aku sangat menyayanginya.


Aku disini 'kan selalu menunggu, sampai kapanpun ku 'kan tetap menunggu.


Walau hati ini sudah kau sakiti, namun yang kuinginkan hanya kamu.


Aku berharap kau bisa kembali padaku, mengenang kisah kita yang sempat berhenti.


"Apakah aku harus merelakan Karin begitu saja pada orang lain? Tapi bagaimana dengan Naya, jika kami tak bisa hidup bersama sebagai ayah dan ibunya? Tapi ini masalah hati yang sudah tertambat pada orang lain, jika aku merebutnya nanti akan banyak gosip bahwa diriku adalah pria yang tak punya malu merebut pacar orang, tapi---? Aaah, tahu ah. Aku sangat bingung atas masalah ini. Apa aku harus benar-benar merebut hati Karin demi anakmu Naya? Ya, aku tak boleh menyerah begitu saja, sebab selama janur kuning belum melengkung, masalah hati bisa diobrak-abrik agar Karin hanya bisa menatapku seorang," guman hati yang bingung dan ingin merebut Karin.


Ini langkah pertama yang harus kulakukan untuk menjalankan kelancaran aksiku, yaitu dengan mendekati dan menyayangi lebih dalam lagi pada Naya. Mata sudah menatap nanar penuh seksama kearah pintu utama kelas, mencoba memperhatikan si buah hati yang cantik pulang sekolah.


Hampir setengah jam lamanya, aku masih setia menungguh bocah manis dan imut itu keluar, hingga kesabaran hati yang menunggu kini telah terbayar saat semua murid-murid sudah mulai berhamburan keluar kelas. Akupun yang dari tadi lama menanti-nanti, kini mencoba melangkah lebih dekat lagi ke kelas Naya.



"Hay, sayang. Apa kabarnya?" tanyaku berbasa-basi


"Alhamdulillah baik, Om."


"Syukurlah kalau baik. Oh ya, kamu sekarang mau ikut Om tidak?" tanyaku yang sudah bersimpuh ditanah, mencoba mesejajarkan tubuhku dengan Naya.


"Kemana, Om? Tidak jauh 'kan? Aya takut sama bunda dan nenek, jika nanti tahu kalau sembarangan ikut orang," jawabnya polos khas anak kecil.


"Takut kenapa? Om 'kan orangnya baik dan tidak jahat. Nanti Om akan telephone bunda, gimana?" imbuh tanyaku.

__ADS_1


"Emm," jawabnya yang sedang berpikir.


"Om tidak akan membawa kamu ke mana-mana, cuma akan membawa ke tempat yang pastinya akan kamu suka," bujukku.


"Benarkah? Kalau begitu baiklah, tapi janji pada Naya untuk kasih tahu bunda, yaitu benar-benar Om ganteng kasih tahu," celotehnya.


"Sipp, sayang!" jawabku yang kini sudah mengendongnya.


Sekarang aku sudah berhasil membujuk Naya untuk ikut, dan dialah kunci utama untuk lebih dekat dengan Karin. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, namun setelah berjumpa malah menerima kepahitan hati, saat wanita yang diidamkan telah terjerat oleh hati pria lain.


Tut ... tut, gawai kuusahakan bersambung dengan gawai Karin, dengan earphone sudah terpasang ditelinga agar mudah melihat jalanan ketika menyetir.


[Hemm, hallo. Ada apa?]


[Hallo juga. Ketus amat jawaban kamu. Aku cuma mau bilang jika Naya sekarang sedang bersamaku, jadi bilang sama bu Fatimah agar tidak usah menjemput ke sekolah]


[Apa? Wah, kau sekarang mulai berani-beraninya membawa Naya tanpa seizinku]


[Aku paham, kak Adrian. Tapi cara kamu itu sungguh tak sopan sekali, tanpa memberitahuku dulu]


[Sudahlah, aku tak mau memperpanjang masalah ini. Sekarang aku ingin lebih mengenal anakku sendiri, jadi kamu tak payah terlalu mengekang begitu, sebab aku ada hak juga, ok]


Tut ... tut, karena ada sedikit emosi atas jawaban Karin, tiba-tiba tanpa sopan langsung saja kumatikan gawai. Nayapun kini sudah tertidur pulas, yang untung saja mulai tak mendengar pada perdebatan kami, sebab aku tak mau Naya tahu bahwa orangtua sudah kejam menyiksa bathinnya, akibat perpisahan sebuah kecelakaan kelam masa lalu.


Akhirnya mobil berhenti juga sampai dirumah orangtua. Rasa syukur berulang kali kuucapkan, saat mama kian hari kian membaik atas kondisinya. Mungkin dengan membawa Naya sekarang, akan menambah semakin membaik beliau atas sakit guncangan tak rela ditinggal Karin kemarin akibat ulahku.



"Hei, Ma!" sapaku pada beliau dan papa yang sedang santai duduk sofa ruang tamu.


"Hei juga, Nak."


Saat menjawab dan menoleh kearahku, tatapan mama sudah nampak ada sebuah heran dan kebingungan.

__ADS_1


"Siapa dia, Adrian?" tanya Papa.


"Menurut Papa siapa dia?" balik tanyaku.


"Kurang tahu juga. Kira-kira? Emm, apakah--? Apa dia, jangan-jangan dia itu?" jawab beliau tak bisa meneruskan kata-katanya lagi.


"Jangan bilang dia ... dia adalah cucu Mama, yang setiap hari dalam hati ini berdoa ingin Mama lihat dan ketemu?" jawab Mama ada kebuncahan sinar kegembiraan.


"Iya, Ma. Dia adalah anak Adrian yang selama ini telah berpisah," jawabku yang sudah mengendong Naya didepan yang sedang tertidur.


"Subhanallah, benarkah ini Adrian? Mama sedang tidak mimpi 'kan?" imbuh tanya beliau.


"Iya, Ma. Ini nyata dan bukan mimpi."


Dengan senyuman yang sumringah bahagia mama sudah menghampiriku, yang langsung melihat wajah Naya, yang kemudian mengelus pelan rambut yang tergerai indah memanjang hitam pekat. Setelah puas pertemuan yang mengembirakan, kini tubuh Naya kugolekkan dikamarku.


"Kamu sudah menemukan apa yang kamu inginkan setelah bertahun-tahun? Lalu tindakan apa yang akan kamu lakukan, Adrian?" tanya Papa.


"Iya, Adrian. Karin dan anaknya sudah kamu temukan, apakah kamu akan segera menyatukan hati pada Karin?" saut jawab Mama.


"Entahlah, pa. Aku ingin sekali memiliki Karin seutuhnya dan berusaha menyembuhkan luka itu, tapi sekarang Adrian harus dibingungkan oleh perasaan Karin yang ternyata sudah tertambat pada orang lain," jelasku.


"Apa? Benarkah itu?" Kekagetan Mama menjawab.


"Iya, Ma. Adrian benar-benar dibingungkan mengenai mesalah ini, dan harus bagaimana sekarang agar bisa meluluhkan hati Karin, sedangkan dia kekuh tak mau kembali atas lukanya kemarin," jawabku lesu.


"Kamu yang sabar, Adrian. Memang luka yang sudah bertahun-tahun terpendam, tak akan semudah itu bisa memaafkan, seperti mudahnya membalik telepak tangan untuk bisa memaafkan. Selain itu kamu harus tetap semangat untuk perlahan-lahan meluluhkan hati Karin agar dia mau kembali padamu, sebab jika Karin jadi milik orang lain itu akan sangat berdampak buruk sekali pada buah hatimu itu," nasehat Papa.


"Iya, pa. Benar apa kata kamu."


"Kamu tidak usah khawatir, Nak. Sebab mama akan membantu kamu juga, agar mengembalikan Karin ditengah-tengah keluarga kita lagi," jawab Mama mengelus pelan bahuku, saat kami semua sibuk menatap Naya tertidur.


Orang tua adalah penyemangat pertama yang akan maju duluan, saat anaknya ada masalah yang sedang dihadapi, walaupun masalah itu begitu pelik tak bisa terpecahkan sama sekali. Orangtua wajib diperlakukan dengan baik, walaupun pernah ada kelewatan yang menyinggung perasaan kita, mungkin orangtua pasti ada sebab melakukan itu dan demi kebaikan anak.

__ADS_1


__ADS_2