
Jarak antara rumah dan halaman cukup bikin ngos-ngosan juga. Terlihat dari kejauhan bibi pembantu menatap fokus ke arah jalanan. Nafas tersengal-sengal. Udara terasa sempit masuk lewat indra pernafasan.
"Tuan kenapa?" Bibi pembantu sudah menatap keheranan, saat aku membungkukkan badan agar bisa mudah menghirup udara.
"Hhhh ... hhh, aku baik, Bik."
"Tapi kok kelihatan capek banget, habis berlari jauh gitu."
"Tadi lari dalam rumah sampai kesini."
"Oh, patut. Tuan, kayak kelelahan gitu."
"Hhhh, lupakan aku yang kelelahan ini. Sekarang katakan dimana, Karin?" tanyaku to the point, sambil masih sibuk menghirup udara.
"Oh, non Karin. Tadi ada."
"Terus dimana sekarang?"
"Yah, dia baru saja pergi." Tunjuk beliau ke arah jalanan.
"Kenapa tidak bilang dari tadi. 'Kan bikin menyita waktu saja."
"Ya maaf, Tuan. Saya tidak tahu, kalau Tuan ingin menemui non Karin."
"Ke arah mana dia pergi?"
"Tadi sih berjalan lurus keluar dari rumah ini."
"Hmm." Posisi sudah berancang-ancang lagi ingin mengejarnya.
Belum sempat menginjakkan kaki direrumputan halaman rumah, ada suara Mia tiba-tiba memanggil.
"Tunggu ... tunggu, Chris?" Mia berhasil menghentikanku.
"Ada apa, Mia? Aku tidak cukup banyak waktu, nih?" jawaban tidak sabar.
"Kenapa kamu terburu-buru dan ada apa sebenarnya ini?" Mia kelihatan bingung.
"Tadi Karin kesini, tapi sudah pergi dan sekarang aku ingin mengejarnya."
"Hmm, baguslah kalau begitu. Kerjarlah dia dan dapatkan tambatan hati kamu itu sebelum terlambat. Semangat!" Mia sudah mengangkat tangan, yang memberikan dukungan penuh.
"Terima kasih. Maafkan aku jika pertunangan ini tidak bisa berlanjut."
"Iya, santai saja. Cepatlah kejar dia, sebelum jauh dan terlambat."
__ADS_1
"Thanks, atas dukungannya. Sorry!" Badan sudah berbalik ingin berlari lagi.
Belum sampai jauh, badan berbalik lagi.
"Thanks ... thanks," Tangan melambai-lambai ke arah mia yang berdiri tepat disamping bibi pembantu.
Mia membalas dengan lambaian kebahagiaan.
Cukup terharu juga jika Mia mau merelakan dan mengerti akan hati yang begitu galau. Sekuat tenaga terus berlari, takut-takut jika Karin sudah sampai ke jalan besar dan naik kendaraan bis atau angkutan umum.
Tidak peduli akan peluh yang terus mengalir deras dari kening. Power berlari terus kutambahkan, sampai rasanya berkali-kali.ingin terjungkal kedepan. Namun posisi masih bisa menahan, agar bisa menjaga keseimbangan.
"Aaaaaahhhhhh!" Teriakku sudah kelelahan, namun terus menambah kekuatan.
"Tunggu ... tunggu aku, Karin. Ahhhhhh!"
"Aku tidak ingin kehilangan kamu yang ke dua kali, makan jangan pergi dulu Karin. Aku mohon, tunggulah diriku," Hati terus berharap.
Usaha tak sia-sia, saat hampir saja sampai. Didepan mata sudah melihat beberapa kendaraan lewat, walau masih samar-samar dan agak jauh jaraknya.
Sebentar lagi akan mencapai tujuan utama. Semakin lama semakin kutambah energi. Bagaikan punya penyakit asma, aku kini benar-benar kesusahan untuk sekedar menghirup udara.
Dirasa cukup mengembalikan kekuatan, netra mencoba melihat ke sekeliling pinggiran jalanan. Mondar-mandir sambil berlarian kecil mencari sosoknya.
Berbalik arah mencari, namun masih saja belum kudapati dirinya.
"Astagfirullah, dimana kamu, Karin? Apakah aku telah terlambat menemui kamu. Apakah ini benar-benar tanda terlambat atas jalinan asmara kita?" Cukup kecewa saat Karin tidak kutemukan.
Wajah sudah tertuduk. Seutas kekecewaan dan wajah terbesit kesedihan yang mendalam. Sesekali batu kerikil yang tidak bersalah, telah kutendang ingin meluapkan semuanya.
"Kenapa takdir selalu tidak berpihak padaku? Inikah jawabannya, kalau memang tidak ditakdirkan bersama? Oh Karin, maaf kan aku."
Tes, tanpa terasa bulir itu jatuh dipipi. Langsung kuusap, sebab malu jika ada orang lain akan melihatnya. Banyak orang yang sedang berdiri menunggu angkutan atau bis sedang lewat.
Lelah akan situasi. Segera pergi menjauh dari jalan raya.
Kepala sesekali berputar menengok ke belakang. Berharap sekali kalau ada sosok Karin. Kenyataannya tidak ada, malah bikin mulut makin manyun saja. Langkah kaki berjalan lemas, dan terus menendang batu kerikil yang satu atau dua berserakan diaspal yang halus.
Kepala terus tertunduk. Berjalan dipinggir jalanan. Walau kendaraan tidak ramai berlalu lalang, tapi demi keselamatan tetap berjalan ditepi.
"Mungkin kali ini kamu tidak bisa kukejar, tapi hari lain aku masih ingin ada kesempatan untuk menaklukkan hatimu kembali. Tetaplah menungguku, jangan pernah berpindah ke lain hati," Harapan yang masih dibatas angan-angan.
__ADS_1
Jarak rumah sama jalan raya besar cukup jauh. Bikin pernafasan tersendat-sendat. Setelah berlari rasanya lutut cukup pegal juga. Berhenti sejenak, untuk mengoyang-goyangkan lutut yang sedikit ngilu.
Langkah masih lemah, dengan kepala tertunduk terus.
"Chris? Kamu kenapa disini?" Suara sapa seseorang yang terdengar tak asing.
Wajah terangkat, mencoba melihat siapakah yang memanggil dan sepertinya kenal baik.
Wajah membulat kaget berbetuk O. Mungkin kalau banyak lalat mulut sudah kemasukkan hewan yang dianggap bisa pembawa penyakit itu.
"Chris?"
"Kamu baik-baik saja, 'kan."
"Kenapa kamu kaget begitu?" Tanya Karin yang berdiri tegak didepanku.
Tanpa menjawab lagi, langsung berlari menghampirinya. Sekali dekap tubuhnya sudah kepeluk begitu erat.
"Chris? Kamu kenapa?" Karin terus bertanya.
Suaranya terdengar kebingungan.
"Kamu jangan begini. Bicaralah, ada apa dengamu? Apakah kau menangis?" Tangannya sudah mengelus pelan pundak.
Mungkin isak tangisku yang pelan sudah terdengar olehnya.
"Sudah ... sudah. Tidak usah menangis begitu. Lihatlah! Banyak orang sedang melihat ke arah kita," cegah Karin.
"Maafkan aku. Aku menangis bukan sedih tapi ini adalah airmata kebahagiaan."
"Kebahagiaan? Maksudnya?"
"Iya, aku bahagia akhirnya bisa ketemu kamu lagi, setelah sempat kecewa dan berusaha tidak menemukan kamu tadi."
"Emm, sebentar ... sebentar. Kamu tadi dari arah sana! Kamu--! Tidak ke ssii---" Karin mencoba menebak tapi ragu untuk berbicara.
"Iya, aku habis ke jalan besar."
"What? Kamu tidak salah 'kan."
"Iya, tebakkan kamu tidak salah."
"Apa maksudnya kamu habis disana sedang mencariku?" Karin sepertinya masih kebingungan.
"Maafkan aku."
Wajah kembali tersenyum lebar. Ternyata keberuntungan masih berpihak. Sempat menyalahkan takdir, namun aku terlalu naif dan tidak percaya jika itu semua adalah keberkahan tak mau menyerah.
__ADS_1