Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang=Berkunjung Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Aku orangnya tak suka memakai gaun-gaun seperti perempuan lain, yang selalu kelihatan sexy. Pakaian yang selalu kugunakan, hanya celana levis dengan kaos oblong maupun baju biasa, dan untung saja mas Adit tak mempermasalahkan itu. Semua pakaian gaun yang dibelikan mamapun banyak yang mengangur dan terjejer rapi dikamar, rasanya risih saja memakai gaun-gaun diatas lutut, seperti mempersilahkan keelokan tubuh dilihat orang. Walaupun pakaian seperti perempuan tomboy, yang terpenting itu semua nyaman-nyaman saja melekat dibadan.


Karena tak bisa menyetir mobil, apa-apa ketika akan berpergian terpaksa harus menggunakan taxi, dan kalaupun mas Adit ada waktu luang pasti dialah yang akan antar, sebab dia selalu sibuk kerja, jadi kendaraan taxilah menjadi solusiku untuk berpergian kemana-mana.


Ting ... tong ... ting ... tong, tangan berkali-kali sudah memencet bel rumah mertua.


Ceklek, pintu dibuka bibi pembantu.


"Silahkan masuk, Non!" perintah bibi pembantu.


"Iya, terima kasih, bik!" jawabku.


Langkah langsung nyelonong masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kmar. Seketika menyalami tangan punggung Mama yang sedang berada dikamar Aliya.


"Gimana aksi kamu tadi diperusahaan? Lancar-lancar saja 'kan?" tanya Mama mertua.



"Alhamdulillah, lancar semua."


"Syukurlah."


Senang rasanya ada teman berbagi keluh kesah. Mertua tidak mempermasalahkan apapun itu, yang terpenting saling sama-sama mencurahkan isi hati.

__ADS_1


"Akupun sudah terpaksa meminta bantuan sama sekertaris Rudi, dan ternyata dia mau juga kumintai pertolongan," jelasku.


"Oh Rudi, dia memang teman sekaligus bawahan yang dari dulu selalu setia menemani Adit. Dikala Adit terpurukpun, Rudi selalu bersama dan menghibur anak Mama itu. Sungguh suatu keberuntungan Adit dapat teman seperti dia, walau kadang dia mata duitan," celoteh Mama membicarakan sekertaris Rudi.


"Eeh ... eeh, bener itu, Ma! Aku minta tolong ini saja, dia minta bonus. 'Kan kalau benar-benar tulus menolong tidak seperti itu. Tapi tak apalah, yang terpenting semua keinginan bisa tercapai tanpa kendala," jawabku membenarkan.


"Gak pa-pa, Ana. Kasih saja bonus itu, mungkin dia lagi butuh uang untuk tabungan masa depannya. Walau sifatnya yang suka sama bonus, tapi orangnya baik sekali yang kadang tanpa pamrih mau menolong kita," tutur beliau menasehati.


"Baik, Ma. Pasti akan kukasih bonus yang sepantasnya untuk dia, dan kali inipun aku juga harus merepotkan dia lagi untuk mencari informasi," balasku menjawab.


"Informasi apa memangnya?"


Beliau duduk didekatku cuma beberapa centi. Tangan sibuk mengoyang-goyang ranjang tidur Aliya.


"Wah ... Adit kok mau, ya! Bener-bener Nola itu. Apa tidak malu mengajak suami orang, Mama yang dengar dari penuturan kamu saja, kok kayaknya ikut emosi juga."


Ternyata mertua ikut-ikutan geram juga. Pasti setiap wanita kesal jika seorang suami akan pergi berduaan sama wanita lain. Walau dikatakan ada bisnis sekalipun, seharusnya jangan melakukan itu. Mencengah lebih baik dari pada melakukan tidakan yang tak dipikirkan dulu, sehingga bisa-bisa terjadi fitnah dari orang yang tidak bertanggung jawab.


"Heeem ... nah itu dia, Ma."


"Kamu benar-benar harus mengawasi pergerakan Nola, biar tidak mendekati Adit lebih jauh lagi," pesan beliau.


"Pasti itu, Ma."

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Bisa brabe jika Nola bisa merampasa Adit."


"Betul, Ma. Semoga saja itu semua tidak terjadi dan aku gagalkan. Ooh ... ya, Ma! Besok minta bantuan lagi untuk menjaga Aliya, sebab aku mau menjalankan misi pengintaian lagi," pintaku.


"Siip, Ana. Mama akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Ma."


"Iya."


Setelah puas berbincang-bincang dengan mertua, akhirnya kamipun makan malam bertiga, dengan Papa mertua yang sudah pulang dari bisnis.


"Adit belum pulang, Ana?" tanya Papa mertua.



"Belum, Pa. Mungkin masih banyak kerjaan dikantornya," jawabku dengan sopan.


"Ya sudah. Kamu makanlah kenyang-kenyang, tanpa kita harus menunggu Adit lagi, pasti dia nanti diluaran sana sudah makan," ujar mertua laki-laki.


"Iya, Pa."


Kami bertiga sudah selesai makan, dengan beberapa hidangan serba pedas seperti ayam geprek, telur balado, dan ikan panggang sambal tomat. Perut sudah kenyang dan semua bekas makan sudah bersih, dan kini tinggal menidurkan Aliya dikamarnya.

__ADS_1


__ADS_2