Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Pulang Honeymoon


__ADS_3

Dert .... dert ... kling, suara gawai telah berbunyi dipagi hari.


"Hhhh, siapa sih pagi-lagi menelpon?" desahku saat mendengar handphone berbunyi.


Langsung saja aku bangkit untuk mengambil gawai, dan ternyata layar sudah tertera nama mertua. Dan secepatnya baju yang terlepas tadi malam segera kupakai.


Klik, gawai kutekan tombol hijau, untuk segera mengangkatnya.


[Assalamualaikum, ma. Ada apa?]


[Walaikumsalam, Ana. Gak ada apa-apa kok sayang.]


Cuuup, tiba-tiba dari belakang mas Adit sudah memeluk dan mengecup pipi, dengan kepalanya sudah disandarkan dibahuku.


[Kalian bisa pulang cepat ngak? Sebab Aliya badannya sedang panas banget nih, jadi dia rewel terus mungkin sudah rindu sama kamu, Ana]


[Apa, ma?]


Mas Adit langsung merebut gawai yang kupegang, dan berusaha bercakap-cakap dengan mertua, mungkin sudah khawatir akibat mertua mengkabarkan sesuatu yang tak baik.


[Gak usah panik, Adit! Aliya hanya demam sedikit dan tadi sudah diperiksa dirumah sakit, tapi dia rewel sekali mungkin sudah merindukan mamanya]


[Kami akan pulang hari ini]


Mas Adit sudah begitu mantap menjawab, agar menghilangkan kegelisahan mamanya.


[Baiklah, kalau begitu. Tapi kalian ngak usah terburu-buru dan panik, sebab demam Aliya masih bisa mama atasi, cuma dia sering kali menangis tak diam-diam]


[Iya, ma. Kami pokoknya hari ini akan pulang ke Indonesia]


[Baiklah, kalian hati-hati dalam perjalanan nanti]


[Baik, ma]


Akhirnya setelah kami membersihkan diri untuk mandi besar, semua barang-barang dan baju, sudah kami tata rapi untuk segera masuk ke dalam koper. Dan tak membuang-buang waktu lagi, kami segera pergi ke bandara, yang mana tiket sudah dipesan mas Adit terlebih dahulu.


Hampir lima jam lebih, kami dalam perjalanan dari Singapura ke Indonesia, dan pada akhirnya kami sampai juga dirumah dengan selamat. Kaki dengan tergesa-gesa ingin langsung masuk ke rumah, sebab perasaan hati sudah dilanda kekhawatiran yang sangat amat gelisah, atas keadaan anak yang demam.


"Assalamualaikum," salam kami kompak.


"Walaikumsalam," jawab seseorang dalam rumah.


Ceklek, pintu rumah mertua telah terbuka.


Tangan punggung beliau langsung kucium, dengan diiringi secepatnya mengambil Aliya, yang sedang digendong mertua.


"Gimana perjalanan kalian, tidak ada kendala 'kan tadi?" tanya Papa mertua, yang sudah ikut menyambut kedatangan kami.


"Alhamdulillah, lancar-lancar saja, Pa!" jawab mas Adit.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja," Mertua menimpali.

__ADS_1


Kami akhirnya berjalan menuju ruang tamu, yang mana aku masih sibuk mengendong Aliya, dan tak henti-hentinya kuciumi terus pipinya, sebab rasa rindu begitu mengebu tak tertahan.


"Badannya gak terlalu panas, Ma!"


Tangan telah menyentuh kening anak.


"Iya, Ana. Dia sudah tidak panas lagi, sebab mama sudah berikan obat yang diberikan dokter.



"Syukurlah kalau begitu."


"Mama itu tadi begitu binggung ketika Aliya itu menangis terus, dan tak tahu apa yang menjadi keinginannya," ujar Mama terlihat tertekan.


"Mungkin dia itu sudah merindukan kalian," imbuh ucap mama.


"Mungkin saja itu, Ma!" jawab mas Adit.


Berkali-kali mas Adit mencium kening Aliya, dengan tangannya sibuk mengusap-usap lembut kepala. Akupun tak menyiakan-nyiakan waktu untuk menemani dan merawat Aliya. Bagiku segala waktu lebih berarti saat anak sakit, dan kehadiranku untuk merawatnya mungkin sangat berarti untuknya.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Mas Adit saat kutidurkan Aliya dikeranjang tidurnya.


"Sudah, Mas!" jawabku sambil mengoyang-goyang keranjang bayi.



"Gimana keadaannya?" imbuh tanyanya.


"Ya sudah, Mas akan ke kantor dulu, sebab sudah beberapa hari tidak kerja. Takutnya Rudi akan kewalahan mengurusi semua pekerjaan," tuturnya ingin pamit.


"Baiklah, akan kubantu menyiapkan pakaian, dan perlengkapan kamu ke kantor."


"Ayo!" ajaknya.


Lansung saja kami menuju ke kamar Mas Adit, dan meninggalkan Aliya sendirian, sebab kepergian Mas Adit untuk kerja lebih penting sekarang.


Tidak lama menyiapkan keperluan suami. Kini sudah mengantarnya untuk berangkat ngantor.


"Jaga Aliya baik-baik, Mas akan berangkat sekarang," ucapnya yang sudah menyodorkan tangan untuk kucium.


"Baik, sayang!" jawabku manja.


"Sayang? Tumben kamu mengucap begitu? Tidak biasa-biasanya, lho!" Mas Adit mulai merasa aneh atas sikapku.


"Ya iyalah, biar suamiku tercinta ini semangat kerjanya," jawabku sambil merapikan dasinya yang terlihat longgar.



"Kata-kata itu sungguh tak cukup. Ini ... nih! Yang bisa membuat Mas bekerja lebih giat," cakapnya yang sudah menunjuk-nunjuk dipipi.


"Ciih, maunya!" ucapku tak suka.

__ADS_1


"Ayo ... cepetan! Nanti akunya keburu telat lho," suruhnya yang terus menunjuk pipi.


"Iya ... ya. Cuuup," kudaratkan kecupan dipipi kiri dan kanannya.


"Terima kasih, sayang."


"Heem."


Tak berselang lama setelah kepergian Mas Adit, kini langkahku menuju ke kamar Aliya lagi, untuk menemaninya tidur. Entah berapa lama aku terpejam, sebab tidur rasanya sudah nyenyak sekali, dikarenakan badan terasa capek dan pegal-pegal.


Jam terlihat sudah menunjukkan waktu 10.30, dan ini pasti waktunya mas Adit akan makan siang. Dan tanpa berpikir banyak lagi, langkah kaki langsung menuju dapur, untuk melihat apa menu makan siang nanti.


"Masak apaan Bik, Ma!" tanyaku pada mereka berdua, sebab terlihat tengah sibuk sekali didapur.


"Eeh ... Ana, Mama sama Biibi lagi masak rendang, jamur kuah pedas, tempe goreng, sama telur dibumbu balado."


"Banyak 'kah itu, Ma?" tanyaku.


"Memang kenapa?" tanya beliau.


"Enggak, Ma! Kalau Mama masaknya banyak, aku ingin mengirimkannya pada mas Adit. Sebab pagi tadi dia belum sarapan, dikarenakan kami cepat-cepat ingin segera pulang ke Indonesia, jadi rencana Ana sekarang mau mengirimkan makanan," jelasku.


"Ooh, gak pa-pa, Ana. Silahkan! Mama sama bibi masak banyak kok!"


Beliau ramah dan selalu mempersilahkan.


"Makasih ya, Ma."


"Iya, sayang."


Kini aku sudah bersiap- siap dengan celana jins, yang bagian atas sudah memakai baju berlengan setengah siku, yang berwarna merah. Bekal makanan sudah kutata rapi, dan sekarang sudah naik mobil yang diantarkan oleh sopir pegawai mertua.


Tak butuh waktu lama diri ini sampai kekantor mas Adit . Berkali-kali nafas kuhela panjang, sebab sudah lama tidak menginjakkan di kantor yang menjadi saksi bisu kenangan pertemuanku dengan suami, setelah enam ahun lamanya kami berpisah.


Semua orang telah menundukkan kepala, mungkin dengan maksud tujuan menyapa diriku sebagai istri CEO di perusahaan ini. Rasanya malu juga, mereka yang pernah kukenal jadi teman, kini telah menyapaku dengan sopan.


Ceklek, pintu ruangan Mas Adit kubuka tanpa mengetuknya.


"Mas ini kubawa-?" Suaraku tertahan saat masuk keruangannya.


Akupun dikejutkan dengan Si janda Nola, yang sudah bertenger duduk santai diruangan Mas Adit, bersama Rudi sang sekertaris.


"Ya ampun, kenapa lagi sama si janda itu? Kok sudah sampai berada disini? Apakah dia mengikuti kami? Sehingga dia juga sudah berada di Indonesia?" gumanku dalam hati, yang mencoba melangkah kaki berjalan ingin menghampiri mereka.


"Ya sudah Adit, kita lanjutkan pertemuan kita nanti, sebab kamu sepertinya ada tamu penting," ucap si janda bahenol menatapku sinis.



Dia seketika bangkit dari duduk, dan kini berjalan ke arahku. Dan tiba-tiba entah mengapa saat dia bejalan keluar, telah sengaja sudah menyenghol bahuku, seperti orang sedang dendam. Dan karena kaget, diri inipun sedikit oleng melangkah mundur ke belakang sedikit.


"Astagfirullah," ucapku dalam hati kaget, dengan mata si Nola sudah menatapku tajam seperti tak suka.

__ADS_1


Aku begitu khawatir apa yang dia lakukan padaku sekarang, sebab terasa mencium bau-bau bakalan ada sebuah marabahaya terhadap kami.


__ADS_2